Pranikah/Pernikahan

Jalan hidup tidak selalu lancar dan lurus. Kadang kita harus siap menghadapi tantangan yang membuat hidup beralih arah. Untuk mengatasi tantangan hidup, kadang suami-istri terpaksa hidup terpisah bukan saja berbulan-bulan tetapi juga bertahun-tahun. Berikut akan dipaparkan beberapa pengamatan dan masukan bagi mereka yang terpaksa harus hidup nikah tetapi terpisah.
Di dalam rencana Tuhan yang baik dan sempurna, Ia mendesain pernikahan sebagai ajang untuk memurnikan kasih. Walaupun kita mengawali pernikahan dengan kasih eros — kepuasan pribadi — pada akhirnya kita mesti menjalankan roda pernikahan dengan kasih agape — penerimaan penuh. Berikut akan dipaparkan proses bagaimanakah Tuhan memurnikan kasih lewat pernikahan.
Adakalanya kita sadar bahwa kita salah dan seharusnyalah kita mengakuinya. Namun seringkali kita tetap bersikeras menganggap pasangan kita yang salah dan harus meminta maaf. Pertanyaannya, mengapa kita sulit mengaku salah?
Sebagaimana tubuh memerlukan darah demikianlah pernikahan memerlukan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan terjalin relasi apalagi relasi pernikahan. Siapapun yang menikah pasti mengakui bahwa tidak mudah menjalin komunikasi. Ada saja pertengkaran yang terjadi akibat salah berkomunikasi. Karena itu, mari kita bahas mengapakah kita sulit berkomunikasi dan bagaimana cara mengatasinya.
Sama seperti membangun rumah, pernikahan pun dibangun satu batu di atas satu batu, satu kayu di atas satu kayu.Ada banyak yang mesti dilakukan namun ada beberapa yang harus dikerjakan sedini mungkin.Kegagalan melakukan hal-hal ini pastilah berdampak buruk pada kondisi pernikahan. Berikut akan dipaparkan beberapa di antaranya.
Ada banyak perbedaan yang mesti diselaraskan dalam pernikahan. Keberhasilan atau kegagalan kita menyelaraskan perbedaan akan menentukan kondisi pernikahan. Penting bagi kita untuk bukan saja mengenali tetapi juga mengatasi perbedaan. Berikut akan dipaparkan beberapa hal yang kerap muncul dalam pernikahan yang menuntut penyelarasan.
Pada umumnya “selamat berbahagia” adalah ucapan yang kita sampaikan kepada pasangan yang menikah.Sesungguhnya ucapan yang lebih tepat adalah “selamat bekerja.”Ya, untuk berbahagia, kita mesti bekerja.Kebahagiaan tidak datang begitu saja; kebahagiaan adalah buah dari kerja keras menyesuaikan dan saling membahagiakan pasangan.Berikut ini akan dipaparkan beberapa tugas penyesuaian yang mesti diselesaikan pada awal pernikahan
Pada umumnya kita masuk ke dalam pernikahan siap dengan kenyataan bahwa untuk mewujudkan pernikahan yang harmonis kita harus bekerja keras. Kita mafhum bahwa dari dalam perbedaan demi perbedaan akan muncul, dan dari luar godaan serta tekanan hidup akan datang. Satu hal yang tidak terlalu siap untuk kita hadapi adalah badai besar yang muncul dengan sekonyong-konyong pada awal pernikahan.Berikut akan dibahas beberapa jenis badai yang berpotensi menerpa pada awal pernikahan dan bagaimanakah mengatasinya.
Pertemuan antara suami dan istri adalah suatu hal yang penuh dengan keunikan. Tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan. Demikian juga pertemuan kita dengan calon pasangan kita adalah dalam rencana dan kehendak Tuhan.
Dalam materi ini kita diajak untuk mengetahui, mengerti dan memahami apa yang seharusnya kita lakukan sebelum kita benar-benar masuk dalam pernikahan. Di antaranya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri untuk dapat hidup bersama dengan harmonis.

Halaman