Masalah Hidup

Kehilangan makna hidup dapat terjadi akibat hilangnya pekerjaan, disilusi dengan hidup (kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan), kesulitan hidup dan hilangnya orang terdekat.seperti pasangan, orang tua, anak dan sahabat. Makna hidup sejati berasal dari Tuhan dan hanya dapat diberikan kepada kita lewat iman dan ketaatan kita kepada-Nya. Apapun yang terjadi, teruskan hidup, tambahkan iman dan pertebal ketaatan. Makna hidup lahir dan bertumbuh dalam ketaatan kepada Tuhan.
Makna hidup diberikan dan dicari. Untuk mengetahui makna hidup kita harus kembali pada Firman Tuhan Sang Pencipta. Dari Firman Tuhan kita dapat mengetahui bahwa Tuhan menciptakan dan menempatkan kita di dunia untuk membawa hormat dan memantulkan kemuliaan Tuhan. Kita ada di dunia untuk untuk kita tapi untuk Tuhan. Apapun yang kita lakukan dan pilih, semua harus membawa rasa hormat dan memantulkan kemuliaan Tuhan.
Mungkin Tuhan pernah memberikan berkat dan kebaikan-Nya kepada kita. Sudah tentu kita senang dan bersyukur. Namun kesenangan kita tidak berlangsung selamanya; pada suatu saat semua berubah, yang manis berubah menjadi pahit. Di saat seperti itulah kita diingatkan bahwa berkat dan kebaikan Tuhan adalah sarana untuk menggenapi rencana Tuhan. Mari kita belajar dari kisah dalam 2 Raja-Raja 4:8-37.
Mengapakah orang jahat bisa berubah baik dan orang baik bisa berubah jahat ? Apakah yang Tuhan perbuat sewaktu orang jahat berubah baik dan orang baik berubah jahat ? Kita menemukan masing-masing contoh perubahan – dan juga kenyataan hidup ini - dalam 2 Raja-Raja 5:1-27
Salah satu krisis iman terbesar dewasa ini bukanlah krisis kehilangan iman bahwa Tuhan itu ada melainkan krisis kehilangan iman bahwa Tuhan itu peduli. Kita akan melihat hal ini pada kehidupan seorang janda, sebagaimana dicatat di 2 Raja-Raja 4:1-7. Almarhum suaminya adalah hamba Tuhan, melayani Tuhan. Namun itu tidak menjamin dia dan keluarganya tidak tertimpa hal yang buruk
Memiliki sekian banyak akun media sosial dan ribuan teman di dunia maya tidak menjamin orang merasa bahagia. Menurut penelitian, justru orang-orang yang terlalu sering bermedia sosial sesungguhnya adalah pribadi yang kesepian. Saatnya kita mawas diri terhadap ancaman ini.
Perkembangan dunia digital membuat setiap individu berpotensi menjadi “pembuat berita” dan “penyebar berita”. Sayangnya ada sekian banyak orang yang tidak bertanggung jawab sehingga membuat berita yang tidak benar (hoax) dan akhirnya menyebar sedemikian cepat dalam jejaring media sosial. Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?
Kebencian adalah emosi umum tiap individu. Namun jika emosi yang menunjukkan ketidaksukaan itu disebarkan ke publik, akan memicu konflik bahkan kejahatan atas kemanusiaan. Seorang ahli psikologi yang bekerja untuk badan investigasi federal Amerikat Serikat, FBI, bernama Jack Schafer Ph.D. membagi tujuh tahap Spiral Kebencian.
Ujaran kebencian (hate speech) makin banyak kita temui di negeri kita. Sekarang apapun yang kita ucapkan bisa dengan cepat menjadi viral, menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, seolah tiap kita adalah penyiar berita. Bagaimana mengatasinya?
Kadang kita harus bertahan dalam penderitaan tanpa dapat melihat sinar di ujung terowong yang gelap. Bila ini yang terjadi, penting untuk terus meyakini Allah mempunyai rencana yang melebihi akal kita. Bagian kita adalah menyerahkan kekuatiran kita kepada-Nya, belajar hidup hari demi hari, dan berterima kasih kepada para penolong yang telah Tuhan sediakan.

Halaman