Skip to main content

Mengajar Anak Berdoa, Aku Punya Adik

Artikel ini dipilih untuk mengenang Bp.Heman Elia, M.Psi., salah seorang narasumber Telaga yang telah pulang ke Rumah Bapa pada tanggal 13 April 2026

Mengajar Anak Berdoa
Aku Punya Adik

Berdoa sesungguhnya perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong, kita mengajak mereka bercakap-cakap, atau juga kita selipkan doa-doa kita sehingga anak-anak meskipun belum mengerti tapi mereka menghayati suasana doa .

Yang perlu kita lakukan untuk mengajar anak berdoa:

  1. Yang pertama, kita perlu perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu. Meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.
  2. Kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anak-anak sudah mulai berkata-kata anak diajak untuk menghafal doa.
  3. Kita ajak anak-anak untuk mendoakan misalnya temannya, mendoakan kakak atau adiknya, mendoakan ayah atau ibunya.
  4. Kita juga bisa mengajarkan doa Bapa Kami, dan kita juga harus membiasakan anak untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan.

Dampak positif dari kita mengajarkan anak berdoa adalah dengan doa, anak selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-masa indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.

I Samuel 1 :27 – 28, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."

Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua itu menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan.

Punya anak lagi itu sering kali merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Tapi apakah ini juga akan terjadi pada anak kita yang akan jadi kakak?

Belum tentu, dan kebanyakan anak akan mengalami stres, meskipun awalnya sebagian anak merasa senang.

Masalah yang banyak dialami orang tua adalah sang kakak menjadi lebih manja, cengeng, rewel, pemarah dan mengalami kemunduran perkembangan.

Perasaan semacam ini sudah hampir pasti akan timbul. Tugas kita adalah memberi pengertian yang justru tidak memerberat masalahnya, melainkan membantu anak melihat dari sudut pandang yang positif, bahwa kita tetap menganggapnya sebagai kekasih kita, sekalipun harus berbagi kasih dengan orang lain.

  1. Siapkan sang kakak menghadapi kelahiran adik.
  2. Ketika adik lahir, orang tua bergantian memberi perhatian pada masing-masing anak.
  3. Utamakan kakak di hadapan para tamu.
  4. Ajak anak Anda untuk membantu Anda.

Satu prinsip di sini adalah kita tidak boleh membuat anak merasa dibanding-bandingkan satu dengan lainnya, baik secara eksplisit maupun implisit. Prinsip lain adalah kita harus membuat anak merasa diperlakukan secara adil. Bukan berarti kita harus memerlakukan semua anak secara sama, melainkan kita perlu menyeimbangkan hak dan kewajiban setiap anak sesuai dengan usia mereka. Dengan demikian kita akan mengurangi problem iri hati antar saudara kandung.

Mazmur 133, "Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya".

Ringkasan T102 A+B
Oleh: Bp. Heman Elia, M.Psi. (Alm.)
Simak judul-judul "Orang Tua dan Anak" lainnya di www.telaga.org

PERTANYAAN :

Bp. Paul Gunadi,
Saya membutuhkan masukan, mudah-mudahan tidak mengganggu dan merepotkan Bapak. Apa nasihat untuk saya, Pak, jika ada salah seorang jemaat saya ingin memutuskan untuk pindah ke negara bagian lain dengan membawa seluruh keluarganya, karena beberapa alasan yang saya tahu (keluarga ini sangat tertutup dengan pendeta, juga dengan keluarga lain dalam gereja):

  • Yang pasti akan tinggal bersama saudara dari istrinya yang suaminya adalah orang Amerika.
  • Alasan pindah, karena istrinya mau sekolah lagi (usia mereka sudah sekitar 40 – 45 tahun, anak-anak mereka 2 orang, sudah ‘junior high’ dan ‘high school’, yang bungsu mau masuk TK), sedangkan selama tinggal disini, istrinya sudah beberapa kali ikut sekolah, tetapi tidak satu pun yang selesai. Sepertinya istrinys senang sekolah.
  • Dua anak mereka sepertinya tidak mau pindah. Salah seorang anaknya memunyai masalah di sekolah (seperti yang pernah saya cerita kepada Bapak).
  • Alasan berikut adalah mau pindah supaya istri dapat sekolah, suami akan mencari pekerjaan dan mereka akan "apply low income". Padahal disini mereka, suami istri memunyai pekerjaan yang bagus dan gaji yang lumayan.
  • Sepertinya keputusan ini diambil, karena suami sudah putus asa dengan istrinya. Istrinya memunyai kemauan yang keras. Akhirnya suami mengatakan lebih baik saya diam, apa saja yang istrinya mau putuskan, silakan. Nanti apabila semuanya sudah berantakan, bisa dia mengetahui dan belajar sendiri. Begitulah kira-kira yang saya tahu, Pak. Semua teman-teman di gereja sepertinya terkejut dengan keputusan yang mereka ambil, tapi semua tidak berani bicara karena memang mereka sangat tertutup. Kita semua tahu dari anak-anak mereka yang berteman dengan anak-anak kami. Apa nasihat dan bagaimana sikap saya, Pak, sebagai hamba Tuhan? Terima kasih, Pak Paul.

Oh, ya, Pak Paul, maaf saya ganggu lagi. Apakah di Telaga ada bahan yang cocok untuk disampaikan di tengah jemaat, khususnya yang berbicara mengenai bagaimana bisa membaca/mengerti kehendak atau pimpinan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting, juga masalah hubungan orang tua dan anak remaja, tapi yang cocok dengan situasi / kondisi / budaya di Amerika ?

Salam : R.L.

 

JAWABAN :

Bapak R.L.,
Mungkin ada hal lain yang menyebabkan mereka ingin pindah, tetapi besar kemungkinan mereka tidak nyaman untuk mengemukakannya. Tugas kita hanyalah mengingatkan mereka untuk :

  1. Memersiapkan semua ini dengan matang, sehingga akan dapat melanjutkan hidup di tempat lain itu secara layak dan
  2. memersiapkan kemungkinan kembali ke Los Angeles kalau rencana ini tidak berjalan sesuai harapan dan
  3. dampaknya pada anak, baik kepindahan ke sana atau jika tidak berjalan baik, pulang kembali ke sini.

Saya kira hanya sejauh itu kita bisa melangkah, Bapak R.L.

Saya pun ingin mengenalkan Bapak R.L. dengan seorang mantan misionaris di Madura, namanya Steve Campodonico. Beliau masih muda dan pernah melayani di Indonesia selama 10 tahun. Pada waktu anak kami melayani setahun di Indonesia, ia melayani bersama Steve juga di sana. Steve bergabung dengan gereja kami mulai bulan ini, melayani di kebaktian bahasa Inggris. Namun saya tidak ingin membatasi pelayanannya; saya ingin ia menjadi berkat untuk masyarakat Indonesia di Los Angeles, terutama untuk membangkitkan kepedulian terhadap misi Kristus di dunia. Jika Bapak R.L. ingin mengundangnya, silakan. Ia berbahasa Indonesia dengan fasih dan berkhotbah dengan baik sekali.

Di dalam buku "Following Jesus without dishonouring your parents", dikutip sebuah hasil survei yang mengungkapkan bahwa 97% orang Asian Americans adalah "unchurched". Dan. 75% American-born Chinese serta 90% Korean-Americans meninggalkan gereja asal mereka (gereja etnik). Saya tidak mengetahui ketepatan hasil riset ini, tetapi saya kira kenyataannya jelas, yaitu sejumlah besar anak-anak kita meninggalkan gereja asalnya. Memang ada yang pindah ke gereja lain, tetapi kita pun tahu bahwa sebagian besar meninggalkan iman mereka, sebagaimana dilakukan oleh anak kami sendiri. "Values" atau nilai-nilai yang berlaku di kalangan mereka bertabrakan dengan nilai-nilai yang kita ajarkan di dalam gereja dan pada akhirnya mereka memilih nilai yang berlaku di luar gereja. Sebagai gembala, kita perlu terus menekankan pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan Yesus secara pribadi. Kita pun perlu mengingatkan bahwa begitu mereka berkuliah, mereka akan dihadapkan dengan teman yang memunyai nilai kehidupan yang berbeda dengan mereka. Dan, itulah saat dimana mereka akan harus memilih manakah yang akan mereka pilih.

Mungkin inilah yang dapat saya bagikan, Bapak R.L.

Salam : Paul Gunadi

JUDUL – JUDUL REKAMAN TELAGA BERSAMA Bp.HEMAN ELIA, M.Psi. sebagai Narasumber dan Penanya
T 081 Rasa Malu dan Rendah Diri / Rasa Malu dan Rasa Bersalah
T 086 Ambisi / Post-Power Syndrome
T 088 Bagaimana Menghadapi Stres? / Bagaimana Membantu Anak Menghadapi Stres?
T 091 Membentuk Kebiasaan Baik / Menang Dari Kebiasaan Buruk
T 095 Kecerdasan dan Test Kecerdasan / Meningkatkan Kecerdasan
T 102 Mengajar Anak Berdoa / Aku Punya Adik
T 105 Membantu Anak Bergaul / Anak dan Temannya
T 106 Anak Nakal / Anak Sulit Belajar
T 109 Rasa Bersalah Orang Tua / Perilaku Manipulatif Anak
T 113 Memuji Anak / Hadiah Buat Anak
T 119 Orang Tua Overprotective / Memberi Kepercayaan Pada Anak
T 120 Menghukum Anak / Mengoreksi Perilaku Anak
T 123 Ironi – Ironi Imam Eli / Orang Tua Otoriter?
T 145 Mengapa Anak Menjadi Agresif? / Menghitung Pengorbanan Orang Tua
T 150 Makna Kematian Buat Anak / Bersahabat dengan Remaja
T 164 Membantu Anak Mengendalikan Diri / Pembelaan Diri dan Pengembangan Diri
T 171 Mengajarkan Kepatuhan / Mengajar Anak Berani Menolak
T 173 Konsep Diri / Membangun Konsep Diri Anak
T 217 Mengendalikan Diri Sejak Dini / Menyatakan Kasih Kepada Anak
T 218 Memelihara Rutinitas dalam Keluarga / Kecanduan Internet
T 219 Pengakuan akan Kelemahan Diri / Seni Memberi
T 447 Mekanisme Pertahanan Diri (A+B+C+D+E+F)

Renungan

PERJUMPAAN PRIBADI DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT:

Ketakutan Terdalam Menjadi Keberanian Untuk Melangkah(Matius 28:1-10)

Oleh: Ev. Lidanial, M.K., M.Pd.

Kita semua pernah merasakan takut, bahkan terkadang karena saking besarnya rasa takut itu, membuat kehidupan banyak orang begitu berat. Itulah yang dirasakan murid-murid Yesus setelah kematian-Nya, termasuk dua perempuan yang datang ke kubur Yesus seperti yang dikisahkan dalam Injil Matius 28:1-10. Mereka telah kehilangan guru yang selama ini mereka ikuti dengan penuh harapan. Seseorang yang menjadi tumpuan hidup mereka. Seseorang yang sekian tahun lamanya menjadi tempat mereka bergantung, berlindung dan merasa aman ketika bersama dengan-Nya. Kini, yang tersisa hanyalah ketakutan, kesedihan, kekecewaan, kehilangan harapan, bahkan rasa bersalah yang begitu besar.

Ketakutan. Setelah Yesus disalibkan dan dikuburkan, para murid masih tetap berkumpul. Tetapi berbeda dengan ketika Yesus masih bersama dengan mereka. Sekarang mereka berkumpul dengan perasaan takut (Yohanes 20:19). Mereka takut kalau siksaan dan penderitaan salib yang begitu mengerikan, yang telah dialami oleh guru mereka, juga menimpa mereka. Bayangan salib itu menghantui mereka. Sebagai orang-orang yang selalu bersama dengan Yesus selama sekitar tiga tahun terakhir, siapa yang dapat memastikan bahwa mereka tidak akan ditangkap dan diperlakukan seperti yang dialami Yesus?

Kesedihan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Dalam Lukas 24:17–21 diceritakan tentang dua murid dalam perjalanan ke Emaus. Pada waktu itu Tuhan Yesus datang mendekati mereka, berjalan bersama mereka dan bercakap-cakap dengan mereka. Tetapi awalnya mereka tidak mengenal Yesus, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Kemungkinan karena kondisi batin mereka yang diliputi kesedihan, kekecewaan dan kebingungan setelah kematian Yesus. Menjawab pertanyaan Yesus tentang apa yang mereka perbincangkan, mereka berkata, "Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel" (ay. 21). Harapan yang pernah menyala itu kini telah padam, masa depan terasa gelap.

Rasa bersalah. Pada malam sebelum Yesus ditangkap, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku" (Matius 26:31). Petrus, dengan begitu beraninya menjawab, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak. … Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." (Matius 26:33-35). Rupanya bukan hanya Petrus yang berani berkata demikian. Dalam Matius 26:35 tertulis: "… Semua murid yang lain pun berkata demikian juga."

Tetapi, apa yang terjadi beberapa jam setelah itu? Ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani, dalam Matius 26:56 dicatat, "…. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." Di mana keberanian yang mereka tunjukkan beberapa jam sebelumnya? Bahkan, Petrus yang dengan begitu lantangnya berkata bahwa dia siap mati, menyangkal Yesus tiga kali ketika dia ditanya oleh orang-orang apakah dia mengenal Yesus. Setelah ayam berkokok, Petrus teringat apa yang telah dikatakan Yesus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali" (Matius 26:34). Dalam Matius 26:75 tertulis: "…. Lalu Petrus pergi dan menangis dengan sedihnya." Sejak saat itu, hati para murid, khususnya hati Petrus terus dihantui rasa bersalah yang begitu dalam. Mereka pernah berjanji setia sampai mati mengikuti Yesus. Tetapi hanya beberapa jam setelah itu, mereka meninggalkan Yesus sendirian dalam penderitaan salib yang begitu mengerikan itu.

Dalam pergolakan batin yang seperti itulah, pada dini hari di hari Minggu itu, Maria Magdalena dan Maria yang lain, yang kemungkinan besar adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf (Matius 27:56), datang ke kubur untuk mengurapi tubuh Yesus dengan rempah-rempah sesuai dengan tradisi Yahudi sebagai ungkapan penghormatan dan kasih mereka. Pada waktu itu terjadi gempa bumi yang hebat, seorang malaikat Tuhan turun dari langit, menggulingkan batu kubur itu, lalu duduk di atasnya (ay. 2).

Para penjaga yang ada di situ dan turut menyaksikan semua itu, merasa gentar ketakutan dan menjadi seperti "orang mati" karena ketakutan yang begitu kuat menguasai mereka (ay. 4). Tetapi yang menarik, dalam ayat 5-6 tertulis: Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut, sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. …." Mengapa para perempuan itu yang disapa, bukan para penjaga? Dapat dipastikan, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf juga mengalami ketakutan yang sama. Tetapi, mengapa hanya mereka yang disapa oleh malaikat itu? Kedua perempuan itu datang dengan hati yang "mencari Tuhan." Mereka datang ke kubur itu untuk menyatakan penghormatan dan kasih mereka kepada Yesus. Berbeda dengan para penjaga. Mereka berada di sana karena ditugaskan untuk menjaga agar kubur itu tetap tertutup, seperti hati mereka yang tetap tertutup. Walaupun kemungkinan besar mereka juga menyaksikan apa yang terjadi ketika Yesus mati di atas kayu salib atau paling tidak mendengar berita yang begitu luar biasa tersebut, yang membuat kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus pada waktu itu sangat ketakutan ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah" (Matius 27:54).

Sapaan malaikat tersebut menyentuh lapisan terdalam dari ketakutan kedua perempuan ini. Sapaan itu bukan hanya untuk menenangkan rasa takut dan panik mereka karena gempa bumi yang hebat tersebut. Tetapi sapaan itu menyentuh inti dari ketakutan mereka setelah kematian Yesus, yang membuat mereka kehilangan harapan dan arah hidup. Tuhan tahu ketakutan yang tersembunyi di dalam hati mereka, bukan hanya yang tampak dari luar. Kejadian ini menunjukkan bahwa Tuhan tahu betul siapa yang sungguh mencari Dia, yang sungguh membutuhkan-Nya dan membuka hati untuk kehadiran-Nya dalam hidup mereka dan pada saat yang tepat, Dia akan datang untuk memberikan penghiburan, penguatan dan pertolongan.

Pengenalan Tuhan atas diri kita adalah sempurna. Artinya, Dia kenal betul siapa kita, Dia tahu betul isi pikiran kita dan pergolakan batin yang sedang kita rasakan. Ketakutan, kebingungan, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, maupun rasa bersalah yang menguasai kita dan segala peristiwa yang melatarbelakanginya. Tuhan tahu setiap lembaran "arsip hidup" kita, termasuk semua pengalaman hidup yang kita alami sejak kita dilahirkan, bahkan sejak kita masih ada di dalam kandungan ibu kita sampai hari ini. Pemazmur Daud menuliskan: "… mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun daripadanya." (Mazmur 139:16). Bahkan, pengenalan Tuhan atas diri kita melampaui pengenalan kita akan diri kita sendiri.

Kondisi seperti yang dialami para murid ini juga dialami oleh banyak orang karena berbagai pengalaman hidup yang sangat berat, berbagai kesulitan hidup yang berulang kali dialami, yang akhirnya membuat mereka bingung, tidak tahu harus berbuat apa dan melangkah ke mana. Pelayanan konseling akan sangat menolong. Proses konseling sering kali digambarkan seperti proses mengurai kumpulan benang kusut yang memenuhi pikiran seseorang. Gulungan benang yang kusut dan sangat sulit dicari ujungnya karena saling melilit merupakan gambaran tentang pikiran kita ketika menghadapi masalah yang sudah begitu lama, bertumpuk-tumpuk dan tak kunjung terlihat ada jalan keluar. Konseling adalah proses membantu mengurai simpul demi simpul, sehingga perlahan benang kusut itu mulai terurai. Ketika simpul-simpul itu diurai, tampak satu helai tali yang berbeda. Inilah gambaran akar masalah yang selama ini tersembunyi di balik kekusutan pikiran itu. Sesungguhnya, sebelum kita sendiri melihat helai tali yang berbeda ini, Tuhan sudah melihatnya dengan jelas. Ia mengenal isi hati dan pikiran kita, Ia tahu akar masalah kita, bahkan sebelum kita mampu mengungkapkannya kepada siapa pun.

Pengalaman pada dini hari itu dipastikan telah mengubah kehidupan dua orang perempuan yang sangat sederhana ini. Sebagai perempuan, di kalangan masyarakat Yahudi, mereka sering dipandang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Suara mereka tidak dianggap sah di pengadilan, peran mereka lebih banyak di rumah dan jarang diberi ruang dalam ranah publik. Manifestasi kuasa Allah yang mereka alami pada waktu itu, gempa bumi yang hebat dan kehadiran malaikat Tuhan yang menyapa mereka, yang menunjukkan kubur yang kosong dan yang memberitakan kebangkitan Kristus, bahkan setelah itu, perjumpaan mereka dengan Kristus yang bangkit (ay. 9-10), telah mengubah ketakutan mereka yang terdalam menjadi keberanian untuk melangkah ke depan. Bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk diutus melayani-Nya dan memberikan kabar kebangkitan itu kepada banyak orang. Ketakutan itu telah berubah menjadi keberanian, walaupun mereka sendiri masih menjalani kehidupan yang sama. Kehidupan yang penuh perjuangan, tantangan dan kesulitan. Mereka telah dianugerahkan keberanian yang sesungguhnya.

Pertama, keberanian yang lahir dari perjumpaan pribadi, bukan sekadar pengetahuan atau informasi. Keberanian Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf tidak lahir karena mereka tahu kubur itu kosong. Keberanian itu lahir karena mereka telah berjumpa dengan Kristus yang hidup. Sapaan-Nya: "Jangan takut," telah menembus lapisan terdalam ketakutan mereka. Perjumpaan pribadi dengan Yesus yang bangkit telah mengubah ketakutan dan kegentaran mereka menjadi damai dan sukacita besar yang mendorong mereka berlari membawa kabar itu kepada para murid. Bahkan, melanjutkan hidup mereka dengan perspektif yang berbeda, yaitu untuk mengerjakan apa yang Tuhan ingin mereka lakukan bagi kemuliaan-Nya.

Kedua, keberanian yang lahir dari pengharapan, bukan dari keadaan. Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf berdiri di depan kubur Yesus dengan keadaan yang sama sekali tidak berpengharapan. Keadaan mereka penuh kebingungan dan duka karena kehilangan. Tetapi ketika kabar kebangkitan disampaikan, keadaan mereka memang tidak berubah seketika, dunia sekitar mereka tetap sama, namun hati mereka dipenuhi pengharapan baru. Dari pengharapan itulah lahir keberanian. Bukan karena keadaan sudah membaik, melainkan karena Kristus yang bangkit memberi kepastian bahwa di dalam Dia, selalu ada harapan karena Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu. Keberanian tidak menunggu keadaan menjadi ideal. Keberanian lahir ketika kita berpegang pada pengharapan yang melampaui keadaan, yaitu di dalam Tuhan Yesus yang telah bangkit, yang membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan di atas segala tuhan, Tuhan yang telah menang atas kuasa iblis, dosa, dan kematian.

Ketiga, keberanian yang lahir dari penyertaan, bukan dari kemampuan diri. Keberanian yang sesungguhnya lahir dari kesadaran bahwa kita tidak akan mampu berjalan dan berjuang dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri. Bukankah berbagai pengalaman hidup kita sudah membuktikan fakta tersebut? Keberanian lahir dari keyakinan bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri dalam menjalani kehidupan ini dan dalam berkarya bagi kemuliaan nama-Nya di sisa perjalanan hidup yang Tuhan masih percayakan kepada kita. Pernyertaan-Nya adalah pasti dan pemeliharaan-Nya adalah sempurna.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mendengar kesaksian yang sangat menguatkan dari seorang bapak tentang kehadiran dan penyertaan Tuhan yang indah dalam hidupnya sebagai orang tua dari seorang anak dengan "down syndrome" (kelainan genetik yang menyebabkan keterlambatan perkembangan fisik dan mental), yang sekarang sudah berusia 30-an tahun. Sejak anak ini lahir, dokter sudah mengatakan bahwa dia juga memiliki kelainan pada jantungnya yang jika sudah memungkinkan, suatu hari kelak harus dioperasi. Bapak ini bercerita tentang beratnya perjalanan membesarkan dan mendampingi anaknya ini. Berulang kali dia dan istrinya mengalami masa-masa yang sangat berat dan sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya sudah ingin menyerah saja. Mereka sudah tidak berani lagi menatap masa depan. Mereka sangat takut untuk membayangkan dan memikirkan apa yang akan terjadi dengan anak mereka beberapa waktu ke depan, beberapa tahun ke depan? Bagaimana kalau mereka sendiri sakit dan tidak mampu untuk mendampingi anak mereka? Begitu banyak pikiran yang membuat mereka berulang kali merasa sangat lelah.

Tetapi yang sangat disyukuri bapak ini, setiap kali dia dan istrinya merasa sudah putus asa, Tuhan menguatkan mereka dengan cara-cara yang tidak pernah mereka pikirkan. Tuhan berbicara dan menguatkan mereka dengan berbagai cara yang sangat unik, yang membuat mereka dikuatkan kembali dan meyakini Tuhan tetap hadir, berjalan bersama mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka berjalan sendirian. Bapak ini menceritakan salah satu pengalamannya yang sangat berkesan bagi saya.

Pada satu waktu mereka bergumul begitu berat dengan kondisi anak mereka. Mereka sudah merasa sangat lelah dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada waktu itu bapak ini dengan anaknya mengikuti Perjamuan Kudus di gereja. Ketika menerima hosti, betapa terharunya bapak ini membaca ayat Alkitab yang tertulis di hosti mereka sama persis, yaitu Ibrani 13:5, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Bagi bapak ini, Tuhan berbicara secara pribadi kepadanya melalui ayat ini. Janji penyertaan Tuhan itu sangat menguatkannya sehingga di mana pun bapak ini mempunyai kesempatan, dia akan bercerita tentang kasih Tuhan yang telah menguatkannya dalam melewati berbagai pergumulan hidupnya, khususnya dalam mendampingi anaknya yang berkebutuhan khusus.

Kebangkitan Kristus bukan hanya jawaban atas ketakutan akan kematian, tetapi juga jawaban atas ketakutan menghadapi kehidupan itu sendiri. Mari teruslah berjalan bersama dengan-Nya. Peganglah janji Tuhan Yesus yang sudah bangkit, yang telah memberikan kita kemenangan atas kuasa dosa, kuasa iblis, dan kuasa maut, yang telah naik ke surga, dan sedang menyiapkan tempat bagi kita di dalam kemuliaan sorga ketika suatu saat nanti kita telah menggenapi tujuan-Nya menghadirkan kita di dunia ini dan kembali ke rumah Bapa yang kekal. Dia berkata, "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:20).

POKOK DOA (April 2026)

Tahun 2026 telah empat bulan kita lewati. Permasalahan silih berganti yang dialami masyarakat di berbagai tempat, baik cuaca, perekonomian, keamanan dan dampak dari peperangan yang terjadi di Timur Tengah, namun penyertaan dan pimpinan TUHAN nyata dan tidak dapat kita ingkari. Beberapa pokok doa syukur dan permohonan adalah sebagai berikut :

  1. Bersyukur ada 15 radio yang telah dikirimi rekaman Telaga pada tahun 2025, yaitu T605A+B dan T606A+B, namun ada 2 radio yang sulit untuk dihubungi untuk menanyakan apakah sudah berhasil mengunduh rekaman yang dikirim, yaitu Radio Bethany AM di Medan dan Radio Karina FM di Pematangsiantar, keduanya ada di Provinsi Sumatera Utara.
  2. Bersyukur rekaman Telaga pada tahun 2025 juga telah dikirim ke Yayasan Lembaga SABDA, beserta transkrip, ringkasan dan abstraknya.
  3. Doakan agar bila Tuhan kehendaki, ada tambahan rekaman dalam triwulan ke-2 tahun 2026 ini.
  4. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  5. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri agar dapat bekerjasama dengan baik.
  6. Bersyukur untuk pimpinan dan pertolongan Tuhan bagi pelayanan di Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo hingga hari ini.
  7. Doakan untuk para konselor, agar Tuhan memberikan hikmat dan pimpinan-NYA dalam melayani setiap klien yang Tuhan kirimkan serta Tuhan menolong dan menuntun mereka.
  8. Doakan untuk tim Telaga Kehidupan agar ada kesatuan hati dalam mengerjakan setiap pelayanan yang Tuhan percayakan.
  9. Bersyukur Tuhan telah membuka jalan dan kesempatan baru bagi Telaga Pengharapan untuk melayani di Gereja Kristus Tuhan jemaat Efrata, Genteng pada tanggal 21 – 24 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ev. Sri Wahyuni akan melayani rangkaian persekutuan, yaitu Komisi Usia Bahagia, Komisi Wanita, Komisi Pasutri serta Ibadah Umum. Doakan untuk :
    • Waktu perkunjungan agar dapat terlaksana tanpa hambatan.
    • Persiapan pelayanan agar Tuhan memberikan hikmat dan kesehatan yang cukup.
    • Kehadiran dan perkenalan Telaga Pengharapan dapat diterima dan terjalin relasi dan kerjasama yang baik. Kiranya Tuhan Yesus menolong dan memberkati seluruh rangkaian pelayanan ini sehingga sehingga menjadi berkat bagi setiap jemaat yang dilayani.

April
Jenis Bahan