Suami/Istri

Ada banyak penyebab mengapa timbul masalah dalam pernikahan. Salah satunya adalah kegagalan suami dan istri berperan sesuai dengan desain yang telah ditetapkan Tuhan. Sebagaimana kita ketahui lewat Firman-Nya di Kejadian 2:18 dan Efesus 5:22-33, Tuhan menghendaki suami bertugas sebagai KEPALA yang memimpin istri dan istri sebagai PENDAMPING yang menolong suami....

Sebagai kepala yang memimpin, suami diminta Tuhan untuk MENGASIHI istri. Sebagai pendamping yang menolong, istri diminta Tuhan untuk TUNDUK kepada suami. Sayangnya tidak selalu suami dan istri berfungsi sesuai peran yang ditetapkan Tuhan. Alhasil muncullah masalah dalam pernikahan. Di sini kita akan melihat bagaimanakah suami memimpin istri dalam kasih dan bagaimanakah selayaknya istri menolong suami dalam ketundukan.
Seharusnyalah para suami berbahagia dengan keberhasilan istri di dalam kariernya namun faktanya tidak semua merasa bahagia. Penyebabnya sudah tentu bukanlah keberhasilan itu sendiri melainkan dampak keberhasilan itu pada dirinya. Itu sebabnya kita perlu melihat hal ini dengan saksama agar kita dapat menghindar dari dampak buruk yang berpotensi merusak pernikahan. Ada 4 hal yang membuat suami tidak menyambut keberhasilan istri dengan gembira dan bagaimana sikap istri dalam menanggapi perilaku suami yang tidak suka dengan keberhasilan istrinya ?
Idealnya kita berbahagia sewaktu melihat pasangan meraih keberhasilan dalam kariernya. Dengan kata lain, seharusnyalah dampak keberhasilan pada pasangan bersifat positif. Namun pada kenyataannya tidak selalu kita berbahagia melihat keberhasilan pasangan. Tidak jarang keberhasilan pasangan malah mengundang masalah dalam pernikahan. Satu hal lain yang menarik adalah ternyata dampak keberhasilan suami dan istri pada pasangan tidaklah sama. Dalam bagian ini akan dibahas dampaknya dan juga bagaimana sikap suami dalam menangani hal semacam ini.

Salah satu kesalahan terbesar yang diperbuat oleh banyak pasangan nikah adalah TERLALU CEPAT MENYERAH. Oleh karena terlalu cepat menyerah, akhirnya kita tidak dapat lagi menikmati relasi nikah yang sehat. Pada masa tua tatkala kita menengok ke belakang hati pun sarat dengan penyesalan. Kita merasa bahwa hidup telah berlalu dengan sia-sia sebab kita kurang memberi usaha terbaik dan menyerah terlalu cepat. Kita cepat menyerah gara-gara kita kecewa, frustrasi, tidak diperhatikan, letih, bermasalah....

Salah satu kesalahan terbesar yang diperbuat oleh banyak pasangan nikah adalah TERLALU CEPAT MENYERAH. Oleh karena terlalu cepat menyerah, akhirnya kita tidak dapat lagi menikmati relasi nikah yang sehat. Pada masa tua tatkala kita menengok ke belakang hati pun sarat dengan penyesalan. Kita merasa bahwa hidup telah berlalu dengan sia-sia sebab kita kurang memberi usaha terbaik dan menyerah terlalu cepat. Kita cepat menyerah gara-gara kita kecewa, frustrasi, tidak diperhatikan, letih, bermasalah....

Kita tahu bahwa kita harus mengasihi istri. Masalahnya adalah tidak selalu kita berhasil melakukannya dengan konsisten. Pada umumnya kita masih merasakan kasih di awal pernikahan, namun seiring dengan berjalannya waktu kita mulai kehilangan kasih. Sebenarnya mengasihi istri tidak harus melakukan hal yang besar untuk istri namun cukup kita melakukan hal-hal yang kecil namun berarti baginya, itu sudah membuat istri kita merasa dikasihi. Bagaimana melakukan hal-hal kecil yang bisa membuat dia senang ?

Tuhan memerintahkan agar suami mengasihi istrinya dan berdasarkan pelukisan kasih yang diberikan dalam Efesus 5:25-30, tersirat satu pesan bahwa mengasihi berarti memerlakukan istri dengan lembut dan penuh respek. Masalahnya adalah dengan berjalannya waktu acap kali kelembutan berubah menjadi kekasaran; respek berubah menjadi hina. Sudah tentu kita akan berkata bahwa perubahan ini terjadi bukan tanpa sebab. Pastilah kita akan menyebut sikap dan perilaku istri yang tidak baik sebagai alasan utama mengapa kita memerlakukannya dengan kasar....

Sebagai istri yang dominan, untuk bisa tunduk kepada suami tidaklah mudah, banyak hal yang kita tidak sukai dari pasangan karena memang kita merasa lebih mampu dibandingkan suami. Ternyata ketundukan itu bukanlah bawaan sejak lahir dan ketundukan itu perlu dipelajari. Kalau kita sadar bahwa kita adalah pribadi yang dominan dan ingin belajar pastilah kita mampu untuk tunduk kendati sulit. Di sini akan dijelaskan bagaimana kita bisa tunduk melalui ajaran firman Tuhan.
Kendati kecil, pernikahan adalah sebuah organisasi. Di dalam organisasi sekurangnya mesti ada dua unsur : struktur dan tugas. Tanpa struktur dan tugas, niscaya organisasi mengalami kekacauan. Di dalam struktur pernikahan Tuhan menetapkan laki-laki atau suami sebagai kepala dan bertugas memimpin istri dan anak-anaknya. Namun di zaman sekarang ini banyak istri yang lebih dominan dibandingkan suaminya, apakah itu Anda ? Dan bagaimana sikap kita, jika kita memang memiliki sifat dominan tersebut ?

Halaman