Pengembangan Diri

Hidup tidak sempurna dan kita jauh dari sempurna. Kadang kita melakukan kesalahan yang berdampak buruk pada hidup orang yang kasihi. Penyesalan datang namun sebagaimana kita ketahui, penyesalan selalu datang terlambat. Apakah yang harus kita perbuat bila di masa lalu kita telah melakukan kesalahan?
Semua orang pasti bisa dan pernah berbuat dosa, sebesar apapun dosa kita pastilah Tuhan sanggup untuk mengampuni dosa kita, karena kasihNya terlebih besar dibanding segala dosa-dosa kita. Namun setiap dosa yang kita lakukan seringkali berbuntut panjang, karena setiap dosa mengandung konsekuensi. Contohnya saja karena seorang ayah yang berdosa dan hidup tidak benar akhirnya anaknya kurang hormat terhadap ayahnya, ini bukanlah hukuman dosa tapi ini adalah konsekuensi dosa, dst. Disini akan dipaparkan beberapa hal yang harus dilakukan untuk bisa mengurangi dampak dari perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Menegur dapat menjadi bagian yang tersulit dalam hubungan kita dengan orang lain. Seringkali kita memandang menegur sesame kita sebagai sebuah pilihan, namun sesungguhnya kita perlu memandang menegur dengan lebih serius seperti dalam Yakobus 5:19-20. Bagaimana langkah-langkah menegur? Bagaimana cara menegur dengan tepat? Apa maksud menegur adalah sebuah seni?
Menegur dapat menjadi bagian yang tersulit dalam hubungan kita dengan orang lain. Seringkali kita memandang menegur sesame kita sebagai sebuah pilihan, namun sesungguhnya kita perlu memandang menegur dengan lebih serius seperti dalam Yakobus 5:19-20. Bagaimana langkah-langkah menegur? Bagaimana cara menegur dengan tepat? Apa maksud menegur adalah sebuah seni?
Menegur dapat menjadi bagian yang tersulit dalam hubungan kita dengan orang lain. Seringkali kita memandang menegur sesame kita sebagai sebuah pilihan, namun sesungguhnya kita perlu memandang menegur dengan lebih serius seperti dalam Yakobus 5:19-20. Bagaimana langkah-langkah menegur? Bagaimana cara menegur dengan tepat? Apa maksud menegur adalah sebuah seni?
Kebiasaan menunda dapat diibaratkan sebagai asam yang menggerogoti mutu kehidupan manusia: menurunkan segala kualitas kehidupan yang dikenainya, mulai dari motivasi hingga penghargaan diri dan kepercayaan diri seseorang. Pengalaman menunda-nunda bagaikan hidup di kereta luncur (roller coaster) emosi. Suasana hati naik turun setiap kali mencoba untuk membuat kemajuan dan cenderung surut setiap kali ingin bergerak ke arah kemajuan. Siklus ini dapat berlarut-larut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dapat pula bergerak dengan begitu cepat dalam suatu momen. Penting untuk mengenali apa saja akar masalahnya dan menangani siklus penundaan ini dengan tepat.
Kebiasaan menunda dapat diibaratkan sebagai asam yang menggerogoti mutu kehidupan manusia: menurunkan segala kualitas kehidupan yang dikenainya, mulai dari motivasi hingga penghargaan diri dan kepercayaan diri seseorang. Pengalaman menunda-nunda bagaikan hidup di kereta luncur (roller coaster) emosi. Suasana hati naik turun setiap kali mencoba untuk membuat kemajuan dan cenderung surut setiap kali ingin bergerak ke arah kemajuan. Siklus ini dapat berlarut-larut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dapat pula bergerak dengan begitu cepat dalam suatu momen. Penting untuk mengenali apa saja akar masalahnya dan menangani siklus penundaan ini dengan tepat.
Kebiasaan menunda dapat diibaratkan sebagai asam yang menggerogoti mutu kehidupan manusia: menurunkan segala kualitas kehidupan yang dikenainya, mulai dari motivasi hingga penghargaan diri dan kepercayaan diri seseorang. Pengalaman menunda-nunda bagaikan hidup di kereta luncur (roller coaster) emosi. Suasana hati naik turun setiap kali mencoba untuk membuat kemajuan dan cenderung surut setiap kali ingin bergerak ke arah kemajuan. Siklus ini dapat berlarut-larut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dapat pula bergerak dengan begitu cepat dalam suatu momen. Penting untuk mengenali apa saja akar masalahnya dan menangani siklus penundaan ini dengan tepat.
Kebiasaan menunda dapat diibaratkan sebagai asam yang menggerogoti mutu kehidupan manusia: menurunkan segala kualitas kehidupan yang dikenainya, mulai dari motivasi hingga penghargaan diri dan kepercayaan diri seseorang. Pengalaman menunda-nunda bagaikan hidup di kereta luncur (roller coaster) emosi. Suasana hati naik turun setiap kali mencoba untuk membuat kemajuan dan cenderung surut setiap kali ingin bergerak ke arah kemajuan. Siklus ini dapat berlarut-larut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dapat pula bergerak dengan begitu cepat dalam suatu momen. Penting untuk mengenali apa saja akar masalahnya dan menangani siklus penundaan ini dengan tepat.
Mampu menerima teguran dengan baik sama pentingnya dengan menegur dengan baik. Firman Allah tampaknya lebih banyak membahas tentang menerima teguran daripada member teguran.Tidaklah terlalu sulit untuk menanggapi dengan baik ketika seseorang menegur kita dengan lembut dan penuh kasih. Namun, ketika kita diserang atau ditegur dengan cara yang tidak tepat, kita tergoda untuk memberitanggapan yang tidak tepat juga. Bagaimana cara kita menghadapi dan menerima teguran dengan baik?

Halaman