Pdt. Dr. Paul Gunadi

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Berpikir Sebelum Berkata

Akibat berkata sebelum berpikir, kita melukai hati orang, menimbulkan masalah baru atau memperparah masalah. Kita sudah tahu hal ini namun terus melakukannya, karena merupakan watak kita, isi hati kita, kebutuhan kita, cara untuk mengurangi stres dalam hidup kita. Beberapa saran adalah memahami mengapa kita sering berkata tanpa berpikir terlebih dahulu, pikirkan dampak perkataan kita pada orang lain, ingatkan diri untuk tidak mengeluarkan perkataan yang nantinya kita sesalkan, biasakan diri meminta maaf bila kita telah berkata salah.

Mengapa Pria Berselingkuh ?

Mengapa pria mudah jatuh ke dalam perzinahan ? Beberapa faktor penyebabnya adalah :
(1) Kebanyakan pria pernah jatuh ke dalam lembah pornografi dan hal ini memudahkannya jatuh ke dalam dosa perzinahan;
(2) Bila relasi nikah tidak memberikan kepuasan hasrat seksual maka desakan untuk mencari pemuasan akan menguat. Ada perselingkuhan yang bersifat pemenuhan dan ada yang bersifat pemuasan hasrat seksual.
(3) Kebutuhan akan penghargaan;
(4) Kebiasaan buruk yang biasa dilakukan pada masa muda.
(5) Khusus pria parobaya, relasi selingkuh mudah terjadi dalam konteks pengayoman.;
(6) Pernikahan, hidup atau kerohanian yang bermasalah memudahkan pria jatuh dalam dosa perzinahan. Tidak ada dosa yang tidak meninggalkan bekas, namun di antara semua dosa, tidak ada yang melebihi perzinahan dalam hal meninggal bekas. Bekas atau akibat dosa perzinahan panjang dan lama bahkan bisa berlangsung beberapa generasi.

Mengapa Wanita Berselingkuh?

Dosa perzinahan tidak hanya menghancurkan hidup pribadi tapi juga keluarga dan pelayanan kita. Berbagai penyebab wanita berselingkuh, yaitu :
(1) kebutuhan akan perhatian,
(2) kebutuhan akan dukungan konkret;
(3) kebutuhan akan rasa aman dan
(4) rasa kesepian. Perselingkuhan adalah dosa yang tersembunyi, tidak ada yang melihatnya namun Tuhan melihatnya. Perzinahan memperburuk masalah yang kita hadapi dan perzinahan adalah jalan buntu, tidak pernah menjadi jalan keluar.

Pasangan yang Menderita Gangguan Jiwa

Sama seperti gangguan fisik, gangguan jiwa pun muncul dalam pelbagai jenis. Gangguan fisik terlihat jelas sedangkan gangguan jiwa tidak selalu tampak, misalnya OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) gejalanya melakukan suatu perbuatan berulang kali. Contoh lainnya, gangguan kepribadian paranoia, depresi. Gangguan jiwa yang mengganggu dan kadang mengancam keselamatan adalah gangguan yang bersifat “ ke luar” dalam pengertian obyek gangguannya adalah orang lain. Gangguan lainnya seperti kepribadian narsistik, borderline, psikopat dan skizofrenia. Bila ada kemampuan finansial tindakan terbaik adalah memasukkannya ke rumah perawatan jiwa

Pasangan yang Sakit

Ada penyakit yang dapat sembuh dengan cepat, ada yang perlu waktu lama dan ada yang tidak dapat sembuh. Apa yang mesti kita perbuat ? Pertama, kita harus menyadari dan menyadari kenyataan bahwa kondisi sudah berubah. Kedua, sedapatnya kita memertahankan aktifitas rutin anak dan menyadarkannya bahwa kita tidak lagi dapat memberi perhatian seperti sebelumnya. Ketiga, jika memungkinkan menggunakan bantuan luar seperti perawat, bukan hanya untuk merawat pasangan yang sakit, tapi kita pun perlu beristirahat dan beraktivitas. Keempat, salah satu beban terberat di masa sakit adalah beban finansial, sedapat mungkin hindari berutang. Kelima, bersama pasangan yang sakit kita datang pada Tuhan mohon pertolongan-Nya.

Pasangan yang Tidak Setia

Yang dimaksud adalah pasangan yang berkali-kali jatuh dalam dosa perzinahan. Penyebabnya karena pada dasarnya adalah penzinah, memiliki kelemahan dalam penguasaan nafsu, haus kasih sayang dan penghargaan. Cara mengatasinya a.l. beri kesempatan untuk bertobat dan menjelaskan mengapa jatuh dalam dosa yang sama berulang kali, mengajaknya membereskan masalah serta memastikan perbuatan ini tidak terulang. Bersedia mendengar keluhannya tentang diri kita. Selanjutnya memberi peringatan dan memperhadapkannya pada dua pilihan. Terpenting menjaga dan jangan pernah meninggalkan kesetiaan.

Pasangan yang Tidak Konsisten secara Moral dan Emosional

Perkataan dan perbuatannya tidak sepadan alias munafik. Kualitas pernikahan menjadi dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu respek dan kepercayaan. Yang mesti dilakukan adalah memberi peneguhan atas kejujurannya dan mengoreksi secara halus. Penerimaan penuh menyebabkan ia lebih berani menjadi dirinya dan tidak lagi bersembunyi di balik perkataan atau perbuatan yang tidak nyata.

Pasangan yang Tidak Bertanggungjawab

Disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti perjudian, narkoba, pelacur atau seks di luar nikah, Yang kedua karena faktor keluarga, tidak pernah diserahi tanggungjawab. Kemudian karena pengaruh lingkungan dank arena ambisi pribadi. Menjadi tugas kita untuk menjaga jangan sampai ia menghabiskan uang yang dipercayakan kepadanya, pertahankan keintiman walau dalam kadar yang rendah dan libatkan keluarga besar untuk memberikan tekanan. Ajaklah berdoa bersama agar ia menyadari bahwa masih ada Tuhan dan ia harus bertanggungjawab kepada Tuhan

Pasangan yang Tidak Aman secara Sosial

Dampak rasa tidak aman secara sosial, kita dituntut memberikan rasa aman terutama di hadapan orang lain. Selain itu ia pun memaksa kita membatasi pergaulan dan aktivitas yang melibatkan orang lain. Yang ketiga ia kerap menuntut kita memberikan pengakuan dan perhatian yang besar. Rasa aman tidak dapat muncul seketika dan perlu dipupuk. Rasa tidak aman adalah aktivitas perasaan dan kita harus dikendalikan oleh akal budi dan pengertian. Jangan biarkan perasaan menguasai kita.

Pasangan yang Mudah Stres

Bila kita menikah dengan pasangan yang mudah stres kita pun akan terpengaruh dan lama kelamaan merasa letih. Kita harus membimbingnya langkah demi langkah agar ia tahu bagaimana caranya menghadapi masalah dari beberapa sudut agar ia pun dapat mencarikan solusinya dari pelbagai sudut. Ingatkan bahwa masih ada Tuhan dalam hidup ini dan Ia berkuasa. Bimbinglah dia untuk berserah dan memercayakan hidup ini kepada Tuhan

Halaman

Berlangganan RSS - Pdt. Dr. Paul Gunadi