Pdt. Dr. Paul Gunadi

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Pasangan yang Menyiksa

Bila kita menikah dengan orang yang gemar menyiksa pasti menderita di tangannya. Hampir dapat dipastikan orang yang senang menyiksa sesamanya adalah orang yang sebenarnya tersiksa. Ia menyiksa karena didalam dirinya tertimbun banyak kemarahan terhadap kekerasan yang dialaminya pada masa kecil. Diharapkan ia menyesali perbuatannya dan menunjukkan pertobatan serta berubah, hal ini biasanya memerlukan waktu yang tidak singkat. Jangan lupa untuk berdoa bersama di pagi dan malam hari serta membaca firman Tuhan serta hafalkan sebuah ayat yang dapat menjadi pemandu hidup untuk hari itu.

Pasangan yang Menuntut Tinggi

Tuntutan yang dimaksud berkisar pada dua hal yaitu WAKTU dan UANG. Orang yang santai dan mengadakan rekreasi dianggap malas dan tidak bertanggungjawab. Jalan terbaik adalah berkompromi, kita berupaya menyesuaikan diri dengan tuntutannya tetapi sebaliknya kita pun memintanya untuk pergi bersama untuk santai dan menikmati hidup. Hal ini bukan lewat perkataan tetapi pengalaman langsung. Tuhan menginginkan kita hidup jujur dan rajin, tetapi Ia pun menghendaki kita menikmati hidup ini.

Pasangan yang Jauh secara Emosional

Orang yang jauh secara emosional adalah orang yang sulit menyelami perasaan sendiri, apalagi orang lain. Corak relasinya “dekat tetapi jauh” sehingga pasangannya akan merasa sepi, seakan-akan hidup sendiri, lajang, tidak menikah. Ada dua reaksi yang umumnya kita berikan yaitu menuntut atau mencarinya di luar. Kondisi jauh secara emosional adalah kondisi yang berpotensi menciptakan masalah yang berat antara lain rawan terhadap perselingkuhan.

Pasangan yang Berfungsi Secara Tidak Efektif

Menghadapi pasangan yang hidup secara tidak efektif memaksa kita untuk hidup bijak dan berhati-hati. Secara finansial, kita harus selalu menyisihkan uang dan mengamankannya, bukan untuk diri sendiri tapi untuk masa depan anak-anak. Berkaitan dengan pergaulan, kita pun terpaksa membatasi ruang geraknya dalam lingkup pergaulan kita karena kita tidak mau ia merusakkan hubungan kita dengan teman atau sanak saudara kita.

Pasangan Beremosi Tinggi

Pada umumnya kita beranggapan bahwa masalah pernikahan disebabkan oleh kedua belah pihak: suami dan istri. Namun kenyataannya lebih banyak masalah pernikahan ditimbulkan oleh satu pihak saja. Acapkali orang yang beremosi tinggi adalah orang yang TIDAK KONSISTEN dan tidak mudah menghadapinya. Bagaimana jalan keluarnya? Ada dua cara yaitu membiarkan dan berusaha menyesuaikan dengan kehendaknya, sampai kita tidak sanggup lagi. Kemudian kita mengatakan bahwa kita sudah terlalu letih dan tidak sanggup lagi.

Keluarga Bahagia, Adakah?

Keluarga bahagia itu ADA! Memang tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi ada banyak keluarga yang bahagia. Kabar baik, bukan? Berikut akan dipaparkan beberapa ciri atau tanda bahagia.

Pengaruh Relasi Anak-Orangtua Pada Pernikahan Anak

Di antara semua relasi, mungkin terpenting adalah relasi anak dan orangtua. Bukan saja relasi ini berdampak pada perkembangan jiwa anak, relasi ini pun berdampak pada relasi anak dan keluarganya kelak. Berikut ini akan dipaparkan dampak relasi anak dan orangtua pada relasi anak dan keluarganya serta saran bagaimana mengurangi dampak negatifnya

Mengapa Anak Enggan Hidup Dekat Dengan Orangtua

Semakin tua semakin kita membutuhkan anak, entah karena kesepian di usia tua atau juga karena penyakit yang kerap melanda orang-orang tua. Namun tidak semua anak mau hidup dekat-dekat orangtuanya. Kenapa?

Ketika Pasangan Mengancam Cerai

Ternyata ada beberapa penyebab mengapa pasangan mengancam bercerai dan setiap penyebab menuntut reaksi yang tepat. Pada dasarnya kita tidak bisa memastikan masa depan pernikahan sebab ibarat dua kaki, pernikahan pun menuntut kerja sama dua kaki untuk berjalan. Kita perlu senantiasa menyandarkan pernikahan kita pada Tuhan.

Ketika Tuhan Belum Mengaruniakan Anak

Tidak semua pasangan langsung memiliki anak setelah mereka menikah, ada yang harus menunggu begitu lama dan mengusahakan banyak cara untuk bisa hamil. Kenyataan ini berat. Walau begitu, kita mesti melihat hidup tanpa anak sebagai rencana tuhan yang utuh, bukan sebagai suatu kesalahan atau kekurangan

Halaman

Berlangganan RSS - Pdt. Dr. Paul Gunadi