Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.

Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.

Menikah Hanya Untuk Orang Dewasa

Pengertian dewasa merupakan seseorang yang utuh dengan dirinya sendiri secara mental dan emosional, bisa mandiri dan mengelola diri sendiri secara sehat. Sehingga pernikahan menjadi sarana untuk saling memberi sumbangsih yang positif, bukan untuk membuat diri sendiri menjadi utuh.

Terampil Bicara dan Mendengarkan

Seringkali kita mendengarkan orang berbicara, tujuannya: untuk berdebat, mencari-cari kesalahan, mengontrol pembicaraan; pula di dalam pernikahan. Oleh karena itu diperlukan sikap saling rendah hati sehingga kita bisa memahami sudut pandang pasangan kita dan melatih diri untuk terampil bicara dan mendengarkan secara mekanis untuk memahami maksud pasangan dengan lebih teknis dan jelas.

Batasan Sehat Berpacaran

Pacaran yang benar harus mengarah ke pernikahan. Berpacaran memerlukan batasan sehat untuk saling melindungi dari: sakit hati yang tidak perlu, perlakuan yang merendahkan martabat dan nilai, perilaku mendominasi, menguasai, menindas dan ketergantungan.

Ketika Batasan Dilanggar

Manusia didesain oleh Allah sebagai makhluk sosial dimana, manusia perlu berelasi, baik dengan Tuhan dan sesama manusia. Namun demikian tanpa adanya relasi dengan batasan yang benar maka kita akan membangun sebuah relasi tidak sehat dengan batasan yang tidak jelas, dengan cara mengikari apa yang menjadi milik kita dan mencoba mengaku-aku apa yang menjadi tanggung jawab orang lain. Oleh karena itu hal yang perlu dipelajari ialah kita perlu berelasi tanpa kehilangan identitas kita dan keunikan kita. Jadi setiap manusia membutuhkan relasi yang dalam, dimana relasi tersebut menerima keunikan dan identitas kita dengan berlandaskan pada kasih karunia.

Batasan yang Sehat

Manusia didesain oleh Allah sebagai makhluk sosial dimana, manusia perlu berelasi, baik dengan Tuhan dan sesama manusia. Namun demikian tanpa adanya relasi dengan batasan yang benar maka kita akan membangun sebuah relasi tidak sehat dengan batasan yang tidak jelas, dengan cara mengikari apa yang menjadi milik kita dan mencoba mengaku-aku apa yang menjadi tanggung jawab orang lain. Oleh karena itu hal yang perlu dipelajari ialah kita perlu berelasi tanpa kehilangan identitas kita dan keunikan kita. Jadi setiap manusia membutuhkan relasi yang dalam, dimana relasi tersebut menerima keunikan dan identitas kita dengan berlandaskan pada kasih karunia.

Ikatan Sehat dalam Berelasi

Manusia didesain oleh Allah sebagai makhluk sosial dimana, manusia perlu berelasi, baik dengan Tuhan dan sesama manusia. Namun demikian tanpa adanya relasi dengan batasan yang benar maka kita akan membangun sebuah relasi tidak sehat dengan batasan yang tidak jelas, dengan cara mengikari apa yang menjadi milik kita dan mencoba mengaku-aku apa yang menjadi tanggung jawab orang lain. Oleh karena itu hal yang perlu dipelajari ialah kita perlu berelasi tanpa kehilangan identitas kita dan keunikan kita. Jadi setiap manusia membutuhkan relasi yang dalam, dimana relasi tersebut menerima keunikan dan identitas kita dengan berlandaskan pada kasih karunia.

Selamat dari Salah Pilih Jurusan( II )

Pengenalan karier adalah bagian dari pengenalan diri. Pengenalan diri merupakan faktor yang besar untuk mengerti tujuan hidup serta panggilan hidup yang diberikan Tuhan kepada masing-masing anak. Sejak dini aktifitas anak yang sehat seperti bermain dan berinteraksi yang sehat akan mengembangkan fondasi diri anak dan akhirnya anak akan menemukan karier yang sesuai dengan panggilan khususnya. Jadi peran orang tua, guru sekolah dan konselor anak dalam masa-masa pencarian pengenal diri ini sangat penting sekali.

Selamat dari Salah Pilih Jurusan ( I )

Dengan menanamkan pengertian kesuksesan dari perspektif kekekalan, maka anak akan menjalani kehidupan mereka sesuai dengan tujuan hidup dan panggilan khusus dari Tuhan. Sebab kehidupan yang dijalani di dunia ini pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Menjadi Mahasiswa Teologia

Ada lima formasi bagi mahasiswa teologia, yaitu formasi spiritualitas (relasi dengan Tuhan), formasi pengetahuan (biblika, sejarah gereja), formasi karakter dan kepribadian (kejujuran, integritas, kesabaran, gambar diri), formasi kepemimpinan (memimpin rapat, berorganisasi), formasi pelayanan (keterampilan menggali Firman, mengajar, menyanyi,menyusun bahan PA, memuridkan). Penting memiliki Kontrak Target Pertumbuhan, memiliki mentor dan teman sejenis KTB.

Panggilan Menjadi Pendeta

Keterpanggilan kita perlu diuji lewat uji pelayanan, uji hidup rohani dan uji karakter. Apakah ketika kita menghadapi krisis pelayanan tetap ingin melayani Tuhan ? Kesukaan melayani tanpa relasi yang dekat dengan Tuhan membuat kita sebatas melakukan aktifitas pelayanan sosial bukan aktifitas pelayanan rohani. Apakah kita memiliki kerendahan hati, kesediaan berkorban, kejujuran, integritas, hati yang sedia dan senang diajar. Sangat strategis bisa memunyai mentor rohani dan Kelompok Pertumbuhan Bersama (KTB).

Halaman

Berlangganan RSS - Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.