Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA
You are herePdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Peran Ayah dalam Mendidik Anak
Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah tofather. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.
Salah satu tugas ayah kristiani ialah "mengajarkannya (perintah Tuhan kepada anak-anakmu dengan membicarakannya......." (
Balok dan Selumbar
Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya. Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak. Di bawah ini akan saya paparkan beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.
Raja dan Hulubalang
Ada sebagian dari kita yang dibesarkan "tanpa orang tua"; mungkin ada orang tua namun mereka terlalu sibuk untuk bisa meluangkan waktu di rumah. Atau, orang tua sangat memanjakan kita sehingga apa pun yang kita inginkan, pasti dituruti. Akibatnya kita bertumbuh besar sendiri tanpa pengawasan dan arahan mereka; bak banteng liar, kita siap menyeruduk siapa dan apa saja yang menghalangi langkah kita. Kita adalah pusat kehidupan dan orang lain hanyalah obyek untuk kita manfaatkan. Kita adalah raja yang dikelilingi oleh hulubalang yang harus siap menjalankan perintah kita.
Bolehkah Menuntut Anak?
Pelajaran pertama dan mungkin terpenting dalam mengendarai sepeda ialah bagaimana menjaga keseimbangan tubuh kita di atas batang-batang besi beroda dua itu. Saya kira membesarkan anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda. Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang: 'terlalu banyak" atau "terlalu sedikit" biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya. Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula tuntutan. Terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.
Guru dan Murid Sekaligus
Pernikahan tidak untuk semua orang. Saya mengamat-amati bahwa ada karakteristik tertentu yang menyulitkan kita untuk hidup dengan orang lain dan sudah tentu, karakteristik seperti ini akan pula menghalangi kita hidup rukun dengan pasangan kita. salah satu karakteristik yang mutlak diperlukan dalam pernikahan ialah sikap fleksibel.
Sikap fleksibel bukan berarti tidak mempunyai pendirian atau menurut saja. sikap fleksibel merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Keluarga yang Berprioritas
Pada masa saya berkuliah dulu, seorang dosen saya pernah bersaksi bahwa sewaktu ia bersekolah di seminari, ia berkomitmen untuk mendahulukan keluarganya di atas tuntutan kuliahnya. Ia berkeyakinan, komitmen itulah yang telah menolong keluarganya lolos dari masa perkuliahannya dengan tidak babak-belur. Nasihat itu saya camkan baik-baik dan saya terapkan tatkala saya menyelesaikan kuliah saya. Selama 6 tahun Santy memberi dukungan kepada saya yang berkuliah, berkeluarga, bekerja penuh waktu dan melayani di gereja. Bukan masa yang mudah namun bisa dilewati dengan pertolongan Tuhan dan adanya prioritas yang benar. Pada akhirnya bukan saja kami sanggup melalui masa yang penuh kesibukan itu, kami pun dapat melihat ke kurun itu sebagai masa yang penuh kenangan indah.
Mengecek Kesehatan Pernikahan
Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudanya. Sesuatu terjadi pada diri saudara - ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Mengatur Suhu Emosi
Salah seorang dosen saya di seminari mengatakan bahwa dosa, hamartia, bukan saja telah merusak relasi manusia dan Tuhan, dosa juga merusak tatanan hidup manusia secara psikologis. Hamartia yang bermakna "tidak mencapai sasaran yang tepat," dapat juga diartikan "kelebihan atau kekurangan"-tidak tepat sasaran. Inilah salah satu persinggungan antara psikologi dan theologi. Nah, dalam kerangka pikir inilah saya berniat membahas masalah pengaturan emosi dalam relasi pernikahan.
Moralitas dan Rasa Hormat
Virginia Satir, seorang pakar terapi keluarga, mengemukakan bahwa suami istri adalah poros keluarga. Dengan kata lain, hubungan suami istri sangat mewarnai kondisi keluarga secara keseluruhan. Salah satu aspek kehidupan suami istri yang berdampak langsung pada keluarga ialah kehidupan moral suami dan istri. Sebagai contoh, keberhasilan orangtua mendisiplin anak sangat terkait dengan kehidupan moral orangtuanya. Apabila anak menghormati kehidupan moral orangtua, anak juga cenderung mematuhi petuah orang tua. Sebaliknya, wibawa orang tua untuk menerapkan disiplin kepada anak mudah merosot jika anak sudah tidak menghormati kehidupan moral orangtuanya lagi.
Menyelaraskan Perbedaan Nilai Moral
Nilai moral mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya; sebaliknya, nilai moral pun merefleksikan siapa diri kita yang seharusnya. Kita tidak selalu berhasil hidup sesuai dengan nilai moral yang kita yakini, kadang kita gagal, namun nilai moral itu sendiri mendemonstrasikan bagian terbaik atau terburuk dari diri kita. Tuhan Yesus pernah berkata, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (
Menolong Suami Menjadi Ayah
Salah satu peranan istri yang penting dalam keluarga (dan sudah tentu, peranan suami pula di pihak sebaliknya) adalah menolong suami menjadi ayah. Kedua peranan ini, yakni sebagai suami dan sebagai ayah, tidaklah secara otomatis dapat dilakonkan oleh semua pria dengan sama baiknya. Sebagian kita, pria, jauh lebih siap menjadi suami ketimbang ayah; sebagian lagi lebih siap menjadi ayah dari pada suami. Pertanyaannya adalah, ayah seperti apakah yang seharusnya menjadi sasaran model setiap pria kristiani? Saya kira pertanyaan ini perlu kita ajukan agar pria bisa memahami bahwa ia bukan sedang "Dibentuk" sesuai selera istrinya belaka, melainkan sedang ditolong untuk menjadi ayah sebagaimana yang Tuhan kehendaki-tugas yang memang tersirat dalam penciptaan Hawa untuk Adam.






