Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs TELAGA
You are herePdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Tiga Tantangan yang dihadapi Guru Sekolah Minggu
Rick dan Kathy Hicks, dalam buku mereka, boomers, Xers, and Other Strangers, menjabarkan keempat generasi yang hidup pada abad 20 ini. Mereka yang lahir dalam kurun 1901-1945 mendapat julukan, builders; yang lahir di antara 1946-1964, baby boomers; yang lahir pada periode 1965-1976, Generation X atau Xers; sedangkan yang lahir dalam masa 1977-1997 disebut Net Generation atau N-Geners. Menurut mereka, ternyata setiap generasi memiliki karakteristiknya masing-masing, termasuk dalam soal pernikahan.
Menyegarkan Rumah
Saya tidak anti-televisi atau film layar lebar. bagi keluarga kami, menonton televisi atau film pada cakram padat merupakan suatu tradisi yang menyenangkan. Hampir setiap dua minggu sekali kami menyewa film anak-anak atau keluarga yang dapat kami tonton bersama. Buat saya dan Istri, kami meminjam drama yang biasanya kami saksikan pada malam hari setelah anak-anak tidur.
Kehidupan Moral Suami Istri
Virginia Satir, seorang pakar terapi keluarga, mengemukakan bahwa suami-istri adalah poros keluarga. Dengan kata lain, hubungan suami-istri sangat mewarnai kondisi keluarga secara keseluruhan. Salah satu aspek kehidupan suami-istri yang berdampak langsung terhadap keluarga ialah kehidupan moral suami dan istri.
Sebagai contoh, keberhasilan orang mendisiplin anak sangat terkait dengan kehidupan moral orangtuanya. Apabila anak menghormati kehidupan moral orangtua, anak juga cenderung mematuhi petuah orangtua. Sebaliknya, wibawa orangtua untuk menerapkan disiplin kepada anak mudah merosot jika anak sudah tidak menghormati kehidupan moral orangtuanya lagi.
Kereta Waktu
Dulu saya berpikir bahwa saya mempunyai sekurang-kurangnya 18 tahun untuk membagi hidup bersama dengan anak-anak kami. Sekarang baru saya menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya memiliki 12 tahun. Dua di antara tiga anak kami sudah menginjak remaja dan mulai menampakkan perilaku remaja, bukan kanak-kanak lagi. Mereka enggan diajak pergi bersama jika tidak ada teman sebaya dan di rumah, telepon telah berubah menjadi alat komunikasi yang SANGAT vital bagi mereka. (begitu vitalnya sehingga saya kesulitan memakainya). Dulu saya dapat memeluk putri kami dengan bebas, sekarang saya perlu berhati-hati memeluknya. Dulu saya bisa bercanda dengan putra saya dan mendapatkan respons apa adanya darinya, namun sekarang tanggapannya seolah-olah berbentuk pertanyaan, ôPapa, mengapa engkau bertingkah laku aneh ?ö
Sarang yang Kosong
Di dalam bukunya, 'Turning Hearts Toward Home' sebuah biografi tentang kehidupan dan pelayanan Dr. James DobsonùRolf Zettersten menuliskan perjumpaannya dengan Dr. Dobson di kantornya pada 1989. Dia menemukan Dr. Dobson sedang terduduk dengan mata merah dan pipi yang basah dengan air mata. Sehari sebelumnya, Dr. Dobson baru saja melepas putra bungsunya, Ryan, untuk pergi berkuliah ke tempat yang jauh, kepergian yang mengawali fase 'sarang yang kosong' di keluarga Dr. Dobson. Di dalam surat yang ditulisnya sendiri untuk melukiskan perasaan kehilangannya itu, Dr.
Cinta pada Pandangan Setengah Baya
Akhirnya saya lulus juga! Kemarin istri saya baru saja memberikan sebuah kartu kepada saya yang melukiskan keadaan pernikahan kami belakangan ini. Dalam satu kata, ia merasa, bahagia. Saya juga!
1 Pria, 1 Wanita
Pernikahan merupakan suatu pengabdian; kita tidak bisa, tidak mungkin, dan tidak boleh mengabdi kepada dua tuan. Ada satu fenomena baru yang sedang menggejala di kalangan orang Kristen, yakni, "beristrikan" lebih dari satu. Sudah tentu fenomena beristrikan lebih dari satu bukanlah sesuatu yang baru; yang baru adalah argumentasi para pria ini yang mengatakan bahwa Alkitab sendiri tidak pernah melarang kita untuk beristrikan lebih dari satu. Di bawah ini saya akan memaparkan argumentasi saya untuk menjawab masalah ini.
Rasa Bersalah
Sebenarnya, rasa bersalah bukanlah gangguan jiwa; rasa bersalah adalah salah satu bahan yang menghasilkan gangguan jiwa. Dari rasa bersalah yang berlebihan muncullah masalah-masalah neurotik seperti gangguan obsesif-kompulsif, depresi, dan kecemasan. Mungkin bagi sebagian dari kita, rasa bersalah tidaklah sampai menciptakan gangguan neurotik tetapi bagi yang lainnya, rasa bersalah cukup mengganggu kehidupan kita. Kita merasa lumpuh, tidak berani bertindak, takut keliru, dan akhirnya tidak memaksimalkan potensi diri.
Seni tidak Menghiraukan
Dr. James Dobson, seorang psikolog Kristen, pernah berkomentar bahwa dalam pernikahan, sekali-sekali kita perlu untuk tidak menghiraukan perbuatan pasangan kita. Ada banyak hikmat dalam komentar yang kedengarannya kurang simpatik tetapi mendarat ini. Setelah 16 tahun menikah, saya harus mengakui kebenaran saran Dr. Dobson itu.
Tidak menghiraukan bukan berarti mengabaikan pasangan kita secara pribadi. Tidak menghiraukan mengacu pada sikap tidak mengacuhkan perbuatan pasangan kita yang mengganggu. Dengan kata lain, walau tidak kita sukai, kita memilih untuk mendiamkan atau memasabodokan tindakannya itu. Dr. Dobson mengimbau agar kita tidak senantiasa mempersoalkan setiap perbuatan pasangan kita yang tidak kita senangi. Akan ada hal yang harus diselesaikan, namun ada yang untuk didiamkan atau ditoleransi saja.
Tragedi
Beberapa minggu terakhir ini saya telah menghadiri tiga upacara kematian. Memandang jenazah yang terbujur kaku tanpa ekspresi menghadirkan pelbagai reaksi dan perasaan dalam hati saya. Kematian baik yang diharapkan atau tidak—mengusik sesuatu dalam sanubari kita yang tidak mudah untuk dijabarkan. Pada umumnya kita berupaya mencerna peristiwa ini dengan mengatakan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan di dunia yang sepatutnyalah diterima tanpa keterkejutan. Namun, seringkali kenyataannya tidaklah demikian. Kematian tetap melahirkan reaksi-reaksi yang bermuara pada keterkejutan atau ketidaksiapan kita. Bagi sebagian kita, kematian adalah tragedi dan kita tidak pernah akan dan mau memasukkan tragedi sebagai bagian yang ramah dalam kehidupan kita.






