"Hidup Sederhana" oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang"Hidup Sederhana". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Memang sudah tentu Alkitab tidak memberikan penjelasan yang rinci tentang hidup yang sederhana seperti apa karena tidak dapat dibayangkan atau dimengerti bahwa konteks kehidupan selalu bereda-beda antara zaman itu dan zaman sekarang, kondisi budaya di sana dengan kondisi di sini tidak sama.
Jadi memang Alkitab tidak memberikan penjelasan secara rinci, namun sudah tentu Alkitab memunyai panduan-panduan yang lebih bersifat umum yang bisa kita gunakan agar kita dapat hidup lebih bijaksana dalam pengertian tidak menghambur-hamburkan uang.PG : Sudah tentu kita harus mengerti bahwa Tuhan tidak anti kekayaan. Tuhan memberkati sebagian orang dengan kekayaan berlimpah, jadi jangan sampai kita juga jatuh ke dalam ekstrem yang keliru ang mengatakan bahwa Tuhan itu anti kekayaan, Tuhan menghendaki kita semua hidup miskin, tidak seperti itu.
Namun sekali lagi mesti ada perspektif atau bingkai yang tepat sehingga kita ini tidak salah, sebab Tuhan menghendaki kita menjadi juru kunci Tuhan yaitu penerima sekaligus pengelola harta dan kekayaan untuk kepentingan yang lebih luas dari pada diri sendiri. Jadi kita tidak bisa hidup hanya meneropong segalanya dari kacamata kita, keperluan kita, keinginan kita, selera kita, tidak seperti itu, tapi Tuhan menginginkan agar kita menjadi penerima berkat-berkat-Nya. Setelah kita menerima berkat-berkat-Nya maka kita harus memikirkan bagaimana mengelolanya supaya berkat-berkat Tuhan ini dapat dengan efektif dicicipi pula oleh orang-orang yang lain. Jadi Tuhan menghendaki agar kita menjadi penyalur dari berkat-berkat Tuhan. Dan saya tadi ingatkan kita juga dapat menjadi dan boleh menjadi penerima berkat Tuhan. Hal itu tidak salah, senantiasa ingat kita juga harus menyalurkannya.PG : Ada beberapa yang akan kita angkat. Yang pertama hidup sederhana berarti hidup secukupnya misalkan kendati kita sanggup membeli kendaraan yang mewah, tapi kita memilih kendaraan yang lebihmurah sebab itu pun sudah memadai untuk kebutuhan kita.
Atau kita putuskan kita tidak membangun rumah yang megah walaupun mampu, tapi sebaliknya kita membangun rumah yang sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan kata lain, waktu kita berhasil menyederhanakan hidup sehingga kita hidup lebih sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan, maka kita dapat juga menjadi penyalur berkat Tuhan dengan lebih efektif untuk yang lainnya, untuk pekerjaan Tuhan dan jangan sampai kita terjerat di dalam sebuah lingkaran yang dewasa ini sedang melilit begitu banyak orang yaitu orang ini seakan-akan berlomba-lomba untuk meningkatkan tingkat kemewahan. Ada orang yang misalnya membeli barang elektronik seperti"BlackBerry" kemudian muncul yang baru dan langsung dijual atau diberikan kepada yang lain dan beli lagi yang baru. Jadi misalkan setiap setahun sekali beli yang baru yang lebih mewah padahalnya dia sendiri tidak menggunakannya karena banyak fitur yang dia sendiri tidak tahu, tapi yang penting adalah dia membeli lagi yang lebih mewah lagi. Dengan mobil juga demikian,"yang ini kurang mewah" maka membeli yang lebih mewah lagi. Jadi untuk meningkatkan kemewahanlah kemudian kita membeli barang-barang itu. Ini sangatl