Skip to main content

Pemberontakan Anak II

Abstrak
Salah satu misteri dalam membesarkan anak adalah, tidak selalu apa yang ingin kita tanamkan, dapat diterima anak dengan BAIK dan TEPAT. Mungkin kita tidak menyampaikannya secara tepat sehingga anak tidak dapat menerima-nya dengan baik. Namun acap kali anak memang sulit untuk menerimanya oleh karena ia sudah memiliki keinginan yang berbeda. Kalau tak terjembatani, tidak bisa tidak, timbullah pemberontakan. Namun ada banyak alasan lain lagi mengapa anak memberontak. Dan pemberontakan anak bisa dilihat dalam beberapa hal, kemudian bagaimana kita sebagai orang tua menghadapi pemberontakan anak?
Transkrip

 

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Dientje Laluyan, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu yaitu tentang "Pemberontakan Anak". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

 

GS : Pak Paul, perbincangan kali ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan yang lampau jadi supaya para pendengar kita bisa mengikutinya secara utuh mungkin Pak Paul bisa menjelaskan secara singkat apa yang dahulu kita bicarakan tentang pemberontakan anak.

PG : Kita pertama-tama menyoroti beberapa penyebab pemberontakan anak, Pak Gunawan, yaitu misalnya pertengkaran orang tua akhirnya anak tidak tahan lagi mendengarkan orang tua bertengkar, menyimpan banyak kemarahan akhirnya dia ledakkan dalam pemberontakan. Ada juga anak-anak yang memberontak karena mereka dijadikan target pelampiasan orang tua, mungkin karena orang tua merasa kesal hidup dengan pasangannya atau mengalami masalah di tempat pekerjaannya atau di antara teman-temannya dan anaklah yang dijadikan target karena anak-anak di pihak yang lemah, tidak bisa melawan dan nanti waktu mereka sudah besar mereka melawan akhirnya memberontak. Yang berikut adalah kalau anak dijadikan trofi dalam konflik karena orang tua ingin merebut anak masing-masing ke pihaknya akhirnya anak tidak tahan dijadikan seperti trofi, nanti ke kiri nanti ke kanan, nanti membela papa dan kemudian membela mama, dia buang semuanya, tidak mau tahu urusan orang tuanya. Ada juga anak yang memberontak karena tuntutan berlebih yang dialami oleh si anak terus-menerus, dia tidak sanggup lagi memenuhi tuntutan orang tua akhirnya dia berontak supaya orang tua tidak bisa lagi mengembankan tuntutan yang sama itu kepada anak-anak. Yang terakhir kita juga bahas kadang-kadang anak memberontak akibat konflik berkepanjangan antara orang tua dan anak itu sendiri. Bermacam-macam penyebabnya misalnya karena gaya hidup anak, karena pilihan-pilihan anak yang dianggap tidak tepat oleh orang tua sehingga orang tua kerap memarahi anak sehingga relasi orang tua dan anak menjadi relasi yang negatif, akhirnya anak marah dan berontak, melepaskan semuanya. Kita simpulkan bahwa pemberontakan anak merupakan pertanda anak tidak lagi tahan dengan kondisi kehidupan yang dihadapi itu, daripada ia terus-menerus tertindih, ia menolak segala jenis tuntutan dan caranya adalah dengan memberontak. Kita juga melihat bahwa pemberontakan merupakan pertanda anak ingin mengubah kondisi keluarganya yang tidak sehat. Sekarang ia sudah besar jadi bisa melihat keluarga-keluarga temannya yang lebih baik, orang tuanya seperti ini dia sudah tidak bisa menerima lagi, dia mau coba mengubahnya supaya keluarganya menjadi lebih baik lagi. Dia berontak, dia marah kepada orang tuanya dan yang berikut adalah anak memang berontak karena mau terpisah hidup dari kita. Mungkin kita juga agak susah memberi mereka kebebasan akhirnya terjadilah ketegangan dan anak-anak cenderung merasa terlalu diikat dia mau lepas dan berontak juga. Yang terakhir pemberontakan anak bisa juga merupakan pertanda bahwa dalam diri anak telah terjadi penyim