Skip to main content

Menjadi Orang Tua Tiri

Abstrak
Harapan semua anak adalah dibesarkan oleh orang tua kandung, tapi dalam faktanya ada anak yang harus dibesarkan atau diasuh oleh orang tua tiri. Penyebabnya pun bermacam-macam, ada yang karena orang tuanya meninggal atau karena perceraian. Untuk itu ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh orang tua yang hendak menikah lagi. Beberapa hal itu bisa dilihat di sini.
Play Audio
Transkrip
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK akan berbincang- bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang Menjadi Orang Tua Tiri. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.



GS : Predikat sebagai orang tua tiri khususnya di kalangan kita masih agak dipandang negatif, entah karena cerita legenda dan sebagainya. Kebanyakan orang menganggap orang tua tiri jahat, kurang bisa mendidik anak padahal pada saat-saat tertentu hal itu tidak bisa dihindarkan. Dan itu bagaimana, Pak Paul ?



PG : Saya kira dari kisah seperti 'snow white', 'cinderela', akhirnya kita memunyai



konsep bahwa ibu tiri adalah figur yang tidak simpatik pada anak. Tapi kita tahu bahwa kenyataannya tidak demikian, ada begitu banyak ayah atau ibu tiri yang sangat baik yang menjaga anak tirinya seperti anak sendiri dan mengasihi mereka sampai mereka dewasa. Jadi yang kita mau soroti kali ini adalah peran orang tua tiri dalam keluarga. Secara khusus kita mau menyoroti tantangan yang kerap dia hadapi dan apa yang dapat dilakukan untuk menjembatani relasi dengan anak tiri. Ada beberapa yang akan kita bahas, yang pertama adalah salah satu faktor yang menentukan mulus tidaknya penyesuaian adalah usia anak tatkala kita hadir dalam keluarga tiri. Maksud saya sewaktu kita menikah dengan pasangan kita, dan misalnya pasangan kita sudah memiliki anak maka umur berapakah anak itu nantinya akan memengaruhi seberapa mulus dan tidak mulusnya penyesuaian kita menjadi seorang tua tiri bagi anak itu. Jadi makin belia usia si anak, makin alamiah transisi yang terjadi, sebaliknya makin besar usia anak makin bertambah tingkat kesulitannya. Sudah tentu yang biasanya lebih sulit adalah kalau anak itu sudah remaja 13,



14, 15 tahun dan kita mau masuk ke keluarga yang baru ini, umumnya akan ada masalah dengan anak-anak remaja tersebut.



GS : Memang tidak bisa dihindari kita harus berhadapan dengan anak-anak, tapi kadang-kadang kita juga membawa anak-anak. Jadi masing-masing punya anak-anak dan ini sering kali menimbulkan masalah.



PG : Betul sekali. Jadi makin belia usia anak-anak dari kedua belah pihak makin lebih mudah karena lebih gampang diatur dan mereka pun bertumbuh bersama lebih memunyai jalinan persaudaraan. Tapi misalnya kedua pihak membawa anak yang usianya di atas 10 tahun itu berarti masing-masing tahu bahwa ini bukan saudara saya, akhirnya lebih mudahlah terjadi pertengkaran. Dan di antara saudara kandung pun juga terjadi pertengkaran, kalau bukan saudara kandung tapi saudara tiri sudah tentu pertengkaran itu bisa lebih serius, bisa lebih marah, bisa lebih benci dan kedua belah pihak orang tua seringkali



akhirnya terseret, sebab yang satu berkata, Kamu ajar anakmu; yang satu juga berkata sama, Kamu ajar anakmu, Kamu membela anakmu yang satunya sama, akhirnya gara-gara soal anak, suami istri menjadi terpengaruh pula.



GS : Selain faktor usia anak, hal apalagi, Pak Paul ?



PG : Hal kedua yang perlu kita sadari adalah bahwa kita tidak bisa menggantikan sosok diri orang tua yang terhilang dalam kehidupan si anak, tetapi kita bisa mengisi kebutuhan emosional si anak akan orang tua, sebagaimana kita ketahui sebagai anak remaja atau bahkan sebagai orang dewasa sekali pun kita masih bisa mendapatkan figur ayah atau ibu yang mengisi kebutuhan kita akan ayah atau ibu. Singkat kata, sumbangsih yang dikaitkan dengan peran ayah atau ibu adalah sesuatu yang bersifat universal sehingga dapat diberikan kepada orang lain selain orang tua kandung. Jadi kita tidak perlu meniru perilaku orang tua yang telah tiada dan kita tidak harus menjadi sosok tersebut, jadilah diri sendiri. Terpenting adalah kita memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak akan ayah atau ibu. Inilah yang harus menjadi fokus utama kita.



GS : Kebutuhan emosional itu contohnya seperti apa, Pak Paul ?



PG : Misalnya seorang anak memerlukan kasih sayang, kasih sayang dapat kita berikan tanpa harus menjadi ayah kandung, kebutuhan untuk mendengarkan atau didengarkan. Kita sebagai orang tua tiri bisa memberikan telinga dan mendengarkan anak, kebutuhan untuk misalnya diantar, dijaga, karena kadang anak-anak perlu diantar atau mau apa, itu bisa kita lakukan dan tidak harus menjadi orang tua kandung baru bisa melakukannya. Jadi ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh kita sebagai orang tua tiri sehingga nanti ini yang akan mengisi kebutuhan si anak, kita tidak mencoba menggantikan ayahnya atau ibunya karena tidak akan sama. Tapi kita bisa mengisi kebutuhan emosional si anak itu.



GS : Walaupun mungkin pada mulanya anak melakukan penolakan terhadap sikap seperti itu, Pak Paul.



PG : Bisa jadi. Awal-awalnya anak tidak suka dengan kita meskipun tidak punya



alasan yang penting karena sekarang ada orang asing dalam rumah jadi akhirnya anak tidak suka, tapi kita terus fokus pada memenuhi kebutuhannya, jadi kita tidak pusingkan reaksi dia justru kita fokus saja dia mau pergi kemana dan kita bertanya, Perlu diantar atau tidak tetap bersikap bersahabat dengan dia meskipun dia tidak begitu suka.



GS : Hal lain yang perlu diperhatikan apa, Pak Paul ?



PG : Hal yang ketiga adalah sebelum kita masuk menjadi bagian dari keluarga itu adalah berupaya menjalin relasi dengan anak tiri. Saya garis bawahi sebelum kita masuk menjadi bagian keluarga itu kita harus berupaya menjalin relasi dengan anak dan jangan sampai kita sebelum menikah dengan orang tuanya kita tidak pusingkan dia sama sekali dan tidak mau menjalin relasi dengan dia dan sudah pasti setelah kita menikah dengan orang tuanya hubungan kita dengan dia tidak baik. Jadi sekali lagi jalinlah relasi dengan dia, sebelumnya kita tidak menjalin relasi dalam kapasitas sebagai orang tua atau pengganti



orang tuanya, sebaliknya kita menjalin relasi dengan mereka sebagai sahabat, sebagai orang yang ingin mengenal dan dikenal oleh mereka. Jadi kita tidak datang dan berkata, Saya ini adalah orang tuamu yang baru, saya mau menjadi orang tuamu... Saya kira kita tidak perlu terlalu muluk tapi yang penting kita membawa diri kita masuk berkenalan dengan dia menjadi seorang sahabat bagi dia, berbicara dengan dia, itulah yang bisa kita lakukan. Yang penting pada masa awal ini kita tidak bersikap berlebihan dalam menunjukkan kebaikan dan perhatian. Ada satu pertanyaan yang bisa kita ajukan yaitu apakah yang kita lakukan sekarang akan terus kita lakukan kemudian, maksud saya begini jika kita tahu kita ini tidak akan selalu melakukannya lebih baik jangan dilakukan dan jangan sampai kita bersikap baik secara berlebihan sebelumnya kita menikah dengan orang tuanya, lebih baik kita menjaga relasi yang konstan. Jadi kalau misalnya dia pergi dan dari dulu biasanya tidak mengantar maka jangan dengan sengaja sebelumnya menikah dengan orang tuanya kita mengantarnya, dan nanti setelah menikah, Kamu berangkat sendiri jangan seperti itu! Tindakan seperti itu membuat anak menarik kesimpulan bahwa kita telah berpura-pura baik pada awalnya, karena ingin menikah dengan orang tuanya. Jadi sekali lagi kuncinya disini adalah kita perlu kekonstanan, jangan sampai tindakan kita itu berubah.



GS : Jadi pada waktu pengenalan atau masa sebelum pernikahan dibutuhkan waktu yang lebih panjang daripada kalau orang itu masih belum punya anak, karena selain mengenal pasangannya juga harus mengenal betul anak-anak dari pasangan itu, Pak Paul ?



PG : Tepat sekali dan kita juga harus sensitif, ada orang tua yang berkata, Anak tidak setuju juga tidak apa-apa dan tetap saya akan menikah. Anak belum tentu selama-lamanya tidak setuju, meskipun anak tidak punya alasan yang baik, dan ketika orang tua berkata, Kenapa kamu tidak setuju? anaknya tidak bisa menjelaskan. Dan memang ujung-ujungnya anak tidak setuju karena anak tidak mau ada orang lain lagi dalam rumahnya. Tapi kalau orang tuanya berkata, Tidak apa-apa kamu tidak setuju, tapi kami tetap akan menikah itu akan sangat melukai hati anak. Jadi saya sarankan kalau anak tidak setuju lebih baik tunda dan katakan bahwa kami akan menunda. Kita tidak mengatakan kalau kita akan membatalkan tapi kita akan menunda karena papa atau mama ingin engkau itu siap. Jadi sementara akan kami tunda. Waktu orang tua menunda, tidak bisa tidak anak akan melihat bahwa dia penting dalam hidup papa atau mamanya. Kalau orang tua tidak menunda maka anak akan berkata, Sekarang saya tidak penting lagi, yang lebih penting adalah si Oom atau si Tante ini, buat apa nanti saya di rumah dan mendengarkan orang tua saya. Jadi sekali lagi kita penting mendengarkan masukan dari si anak juga.



GS : Kalau ada calon orang tua tiri yang memberikan janji-janji kepada calon anak- anaknya juga, seberapa efektifnya janji-janji itu, Pak Paul ?



PG : Yang saya tadi ingatkan jangan membuat janji yang nanti tidak bisa dipenuhi.



Jadi buatlah janji yang kita bisa penuhi dan jangan terlalu muluk dan manis sehingga anak nantinya tidak menarik kesimpulan, Kamu ini hanya baik-baik sebelumnya karena mau menarik hati saya supaya saya memberikan izin,



sekarang setelah menikah sikap kamu seperti ini. Kalau anak melihat kita begitu sudah pasti dia tidak respek lagi dengan kita dan sudah pasti dalam relasi akan terjadi masalah, ia akan membuat ulah dan dia tidak mau mendengarkan kita, karena dia marah dan seolah-olah dia ingin melampiaskan kemarahannya kepada kita.



GS : Sebenarnya lebih mudah mana bagi seorang anak, menerima ibu tiri atau menerima ayah tiri, Pak Paul ?



PG : Tergantung, yang pertama tergantung pada usia. Kalau anak masih kecil ada ibu tiri yang bisa mengasuh memang sangatlah berdampak besar sebab anak- anak kecil perlu diasuh; jadi kalau ada ibu tiri yang mengasuh maka menolong menstabilkan sekali. Kalau anak sudah mulai besar maka sudah tentu figur ayah penting karena ayah adalah figur otoritas yang memberikan disiplin kepada anak. Kalau anak-anak sudah mulai besar tidak ada ayah sama sekali itu biasanya menimbulkan kegoncangan, tapi kalau ada ayah meskipun ayah tiri setidaknya itu bisa memberikan arah kepada anak remaja terutama anak laki-laki.



GS : Hal lain yang perlu diperhatikan apa, Pak Paul ?



PG : Hal keempat yang perlu diperhatikan adalah sama seperti orang tua kandung yaitu hak untuk mendisiplin anak seharusnya diperoleh lewat upaya untuk terlebih dahulu mengasihi anak. Tanpa landasan kasih, disiplin cenderung dirasakan sebagai hukuman yang kejam dan dapat menimbulkan reaksi marah dan dendam pada anak. Jadi limpahkanlah kasih kepada anak sebagai fondasi untuk di kemudian hari mendisiplinnya. Kita orang tua tiri harus ingat baik- baik, tapi sebetulnya untuk orang tua kandung juga sama, fondasi atau landasan disiplin adalah kasih sayang, di atas kasih sayang barulah kita terapkan disiplin dan jangan sampai kita berikan disiplin tapi tidak ada pengekspresian kasih sayang. Jadi terlebih lagi orang tua tiri harus melimpahkan kasih sayang namun waktu anak melanggar aturan, tetap dia harus menarik garis yang jelas dan berkata, Tindakanmu salah dan saya harus berikan hukuman kepadamu. Sudah tentu si anak tiri tidak terima dan kadang anak tiri akan menggunakan manipulasi, kata-kata yang biasa digunakan yaitu Kamu tidak berhak menghukum saya, kamu tidak berhak mendisiplin saya, kamu bukan ayah ibu saya. Kata-kata seperti itu biasanya akan dilontarkan namun kita akan berkata, Apapun saya bagimu, silakan, saya tidak bisa memaksakannya dan kamu yang nanti akan menentukannya siapakah saya bagi kamu, tapi selama kamu dalam rumah ini, saya ini adalah ayah atau ibumu, di mata saya, saya adalah orang tuamu, jadi saya harus memberikan disiplin ini kepadamu.



GS : Justru orang tua tiri itu agak gamang mendisiplin anak tirinya karena khawatir di cap kejam, atau seenaknya, begitu Pak Paul.



PG : Jadi kadang-kadang karena takut nanti anak tirinya marah dan tidak mau berhubungan jadi akhirnya tidak menerapkan disiplin dan saya kira ini keliru. Pada waktu yang lain orang tua tiri bisa menunjukkan kasih sayang maka tunjukkanlah dan waktu memberikan disiplin tetaplah mendisiplin sebab orang



tua tiri yang menerapkan dua-duanya, kasih sayang dan disiplin barulah nanti akan menerima respek dari anak tirinya.



GS : Dan biasanya yang disuruh mendisiplin adalah pasangannya atau orang tua kandungnya, Tolong didisiplin jadi tidak langsung, Pak Paul.



PG : Betul, kadang itu yang dilakukan. Menurut saya kurang tepat sebab kita mau menyatukan orang tua tiri dengan keluarga ini atau dua keluarga ini menjadi satu keluarga. Penyatuan itu disatukan bukan dalam bentuk kemitraan, Baik kamu urus anakmu dan aku urus anakku tidak seperti itu, tapi dua-dua mengurus semua anak dan dua-dua mengasihi semua dan mendisiplin semua, itu yang lebih tepat.



GS : Hal lain yang perlu diperhatikan lagi apa, Pak Paul ?



PG : Hal kelima adalah apabila kita memunyai anak kandung sendiri misalkan sebelumnya kita itu tidak punya anak kandung dan kita hanya ada anak tiri kemudian Tuhan memberikan anak, berhati-hatilah dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak kita di hadapan anak tiri, begitu anak kandung lahir biasanya di dalam diri anak tiri timbullah prasangka bahwa dia tidak lagi berharga dan akan dibedakan, kita tidak perlu berbuat apa-apa biasanya timbullah pemikiran tersebut. Itu sebabnya si anak tiri menjadi sangat peka dengan perlakuan yang dianggapnya tidak sama atau membeda-bedakannya. Secara berkala kita mesti mengatakan kepada semua anak bahwa mereka semua adalah anak dan bahwa semua akan menerima perlakuan yang sama pula. Jadi hati-hati jangan sampai ini kita belikan mainan, tapi yang itu tidak kita berikan mainan, ini kita berikan uang saku besar dan itu kita berikan uang saku kecil; ini salah kita diamkan, tapi itu salah kita hukum, jangan seperti itu! Perlakuan kita harus sama terhadap anak kandung dan anak tiri.



GS : Tapi perbedaan seperti itu bisa terjadi pada anak tiri, pada anak kandung pun bisa terjadi seperti itu, Pak Paul.



PG : Betul. Maka kadang-kadang anak kandung pun menyimpan kemarahan karena merasa papa atau mama lebih sayang kepada adik daripada kepada saya, dia minta ini dibelikan tapi saya minta ini tidak dibelikan. Jadi orang tua harus peka dengan hal seperti ini pula.



GS : Tapi kalau dalam kondisi anak tiri itu lebih tajam lagi rupanya, Pak Paul.



PG : Jauh lebih tajam karena sekali lagi ada prasangka itu, anak tiri akan berkata, Sekarang sudah lahir anak kandung papa mama, jadi saya tidak lagi berharga dan saya hanya anak buangan dan tidak lagi saya mendapatkan perhatian dan justru saya akan katakan kepada anak tiri, Memang adikmu telah lahir dan memang adik adalah anak kandung mama dan papa, tapi kamu adalah anak kami dan tidak akan ada bedanya kamu kami sayangi dan dia juga kami sayangi, kalau sampai kamu melihat saya membedakan maka tolong ingatkan saya sebab saya tidak mau melakukan itu. Jadi kita jalin komunikasi terbuka seperti itu kepada anak tiri.



GS : Karena dalam kenyataannya anak tiri itu tadi sudah lebih dewasa, baru ada anak kandung lagi. Sehingga perbedaan usia juga menimbulkan jarak sukar bagi anak kandung mendekati adik tirinya ini, dia tidak bisa menerima hubungan yang baik dengan ibu tirinya atau ayah tirinya.



PG : Ini memang tidak bisa dicegah 100% karena kita tahu anak kecil lebih butuh perhatian jadi anak yang lebih besar akhirnya kita anggap dia sudah besar sehingga kita tidak perlu perhatikan dia seperti adiknya ini. Misalkan anak tiri itu meminta sesuatu, mungkin kita tidak pikir apa-apa maka kita berkata, Kamu ambil sendiri 'kan sudah besar dia bisa marah, Kalau saya yang meminta tidak diambilkan, kalau si adik yang minta langsung diambilkan karena sudah tersimpan prasangka itu. Kita harus sering-sering mengatakan, Kamu marah ya karena kamu merasa papa dan mama tidak adil, kami ini sayang kamu sama tapi kenapa tadi kami yang minta kamu ambil sendiri karena kamu sudah besar, nanti kalau adikmu usianya sama seperti kamu meminta yang sama maka kami akan berkata yang sama pula kepada dia, Kamu ambil sendiri, kamu sudah besar. Jadi tidak ada perbedaan.



GS : Hal yang lain yang perlu diperhatikan apa, Pak Paul ?



PG : Hal keenam yang harus kita lakukan adalah kita harus menghadapi pemberontakan anak tiri di usia remaja. Memang benar bahwa kebanyakan remaja menunjukkan pemberontakan namun khusus pada anak tiri kecenderungan ini menguat oleh karena adanya keinginan pada dirinya untuk menguji seberapa besar kasih kita kepadanya. Jadi tidak soal seberapa besar kasih kita yang kita limpahkan kepadanya, pada saat dia menginjak remaja dia cenderung mengetes kasih kita kepadanya. Jadi inilah yang cukup sering dihadapi oleh orang tua tiri, begitu anaknya berusia remaja mulailah memberontak padahal sebelumnya baik-baik saja. Sekali lagi karena anak tiri ingin mengetes apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi saya, kalau saya nakal apakah kamu tetap mengasihi saya, apalagi kalau dia melihat yang satunya nakal tetap diterima, tapi kalau saya nakal saya dihukum. Hal-hal seperti itu nanti juga bisa terjadi di usia remaja.



GS : Jadi kenakalannya itu seringkali untuk menarik perhatian dari orang tua tirinya, Pak Paul ?



PG : Sekaligus juga untuk melampiaskan kemarahannya terhadap fakta kehidupan bahwa dia tidak punya papa atau mama. Keadaan itu membuat si anak akhirnya memberontak, marah karena sekali lagi setiap anak mengharapkan ada papa dan mama. Kalau misalkan dia hanya tinggal mama atau papa, kadang-kadang dia marah kenapa Tuhan tidak adil. Di usia remajalah dia akan menunjukkan semuanya itu. Dan ini harus saya ingatkan, mudah sekali anak di usia remaja menuduh orang tua tirinya, Kamu tidak sayang saya padahal sebelumnya anak itu dikasihi sekali oleh orang tua tirinya, tapi seringkali itu yang dilakukan di usia remaja, kamu tidak sayang saya kenapa ? Karena memang ingin mengetes. Penting sekali orang tua tiri berdiri teguh dan berkata, Saya sayang kamu, saya tidak akan melepaskan kamu, tapi kalau kamu terus bersikap seperti ini maka saya perlu tegas mendisiplin kamu. Jadi perlu orang tua tiri tetap berdiri teguh.



GS : Biasanya kalau bukan anak tunggal punya beberapa saudara lalu mereka seolah-olah membentuk suatu kelompok tersendiri, jadi semua anak sepakat untuk menentang orang tua tirinya, ini bagaimana Pak Paul ?



PG : Bisa karena seolah-olah mereka ingin membalas, jadi mereka membangun sebuah kelompok untuk melawan orang tua tirinya. Sekali lagi disini dibutuhkan ketegasan sekaligus juga kasih sayang; tetap orang tua tiri berkata, Saya mengasihi kamu semua, tapi tindakan kamu yang salah tetap saya harus berikan sangsi. Jadi tetap teguh dalam pendirian kasih dan disiplin tidak boleh gamang dan berkata, Terserah kalau kamu maunya begitu maka anak tiri akan berkata, Nah sekarang kelihatan dia sebetulnya tidak sayang dengan kita, begini saja sudah langsung dibuang dan sebagainya. Penting berdiri teguh pada dua prinsip, prinsip mengasihi dan prinsip tegas.



GS : Jadi kesabaran dari orang tua tiri itu benar-benar diuji oleh kondisi anak-anak dan situasi keluarga seperti itu, Pak Paul ?



PG : Benar jadi harus hati-hati sebab saya tahu ada kasus-kasus dimana anak yang



diadopsi pada usia remaja kemudian menimbulkan masalah, ada yang disuruh pulang dan dipulangkan ke rumah orang tua kandungnya, sampai seperti itu.



GS : Apakah ada hal lain yang perlu diperhatikan, Pak Paul ?



PG : Yang terakhir yang harus kita ingat bahwa salah satu tugas terpenting kita adalah menjadi bapak dan ibu rohani baginya, dalam kapasitas sebagai bapak dan ibu rohani pertama-tama kita harus mencerminkan kehidupan Kristiani. Jika kita sendiri tidak mencerminkan Kristus, bagaimanakah mungkin kita dapat menjadi bapak atau ibu rohani bagi anak-anak tiri kita ? Jadi hal-hal apa yang perlu kita lakukan ? Misalnya berdoalah baginya dan berdoalah bersamanya, bagikanlah pengalaman pribadi yang menyaksikan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita, berilah nasihat firman Tuhan kepadanya supaya ia memunyai panduan moral yang jelas. Saya juga mau sisipkan firman Tuhan dari 1 Timotius 4:12, Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Kendati ayat ini ditujukan Paulus kepada Timotius dalam tugasnya sebagai gembala sidang yang masih muda, saya kira kita dapat menerapkannya dalam kapasitas sebagai orang tua tiri pula. Jadi kalau saya boleh menerjemahkan ini untuk para orang tua tiri kira-kira inilah bunyinya, Jangan sampai anak menganggap kita rendah oleh karena kita adalah ayah atau ibu tirinya, tetapi tunjukkanlah Kristus di dalam kehidupan kita kepadanya. Inilah dasar respek dan kasih anak kepada kita.



GS : Dalam hal ini dukungan dari orang tua kandung dari anak-anak itu sangat besar, jadi misalnya ini ibu tiri maka sang ayah itu berperan besar untuk membuat antara ibu tiri dan anak ini menjadi akrab, demikian juga sebaliknya.



PG : Memang peranan ini tidak mudah sebab di satu pihak dia harus menjembatani, mengakrabkan si ayah dengan anak-anak dan si ibu dengan anak-anak, jadi peranan itu mengakrabkan dua belah pihak dan kedua susahnya adalah yang satu mau menarik ke kiri dan satu mau menarik ke kanan, terutama dia mau menarik orang tua kandungnya ke pihak mereka dan pasangan kita juga peka merasa, Kamu membela anakmu dan tidak bersatu dengan saya membela saya akhirnya di tengah-tengah, ditarik-tarik. Jadi kita harus selalu katakan saya mau berdiri diatas kebenaran, yang benar saya bela yang salah saya tidak



akan bela, siapa pun itu baik anak maupun suami ataupun istri, saya mau berdiri di atas kebenaran. Kalau nanti pasangan kita dan anak-anak kita melihat kita seperti itu berdiri diatas kebenaran, lama-lama mereka akan percaya kalau kita tidak memilih-milih orang.



GS : Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan saat ini, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang Menjadi Orang Tua Tiri. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih