Menjadi Orang Tua Tiri

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T415B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Harapan semua anak adalah dibesarkan oleh orang tua kandung, tapi dalam faktanya ada anak yang harus dibesarkan atau diasuh oleh orang tua tiri. Penyebabnya pun bermacam-macam, ada yang karena orang tuanya meninggal atau karena perceraian. Untuk itu ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh orang tua yang hendak menikah lagi. Beberapa hal itu bisa dilihat di sini.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan
Salah satu fakta dalam hidup adalah tidak selalu kita dibesarkan oleh kedua orang tua kandung. Adakalanya kematian merenggut salah seorang dari mereka tetapi kadang, perceraianlah yang memisahkan kita dari salah seorang dari mereka. Sebagai akibatnya, kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa orang tua akan menikah kembali dan ini berarti hadirnya seorang sosok baru dalam kehidupan kita.

Hal pertama yang mesti kita perhatikan adalah bahwa salah satu faktor yang menentukan mulus tidaknya penyesuaian adalah USIA anak tatkala kita hadir di dalam keluarga tiri. Makin belia usia anak, makin alamiah transisi yang terjadi. Sebaliknya, makin besar usia anak, makin bertambah tingkat kesulitannya.

Hal kedua yang perlu kita sadari adalah bahwa kita tidak bisa menggantikan SOSOK DIRI orang tua yang terhilang dalam kehidupan si anak tetapi kita bisa mengisi KEBUTUHAN emosional si anak akan orang tua.

Singkat kata, sumbangsih yang dikaitkan dengan peran ayah atau ibu adalah sesuatu yang bersifat universal sehingga dapat diberikan oleh orang selain orang tua kandung. Jadi, kita tidak perlu meniru perilaku orang tua yang telah tiada.

Hal ketiga yang seyogianya kita lakukan sebelum kita masuk menjadi bagian keluarga itu adalah berupaya MENJALIN RELASI dengan anak-anak tiri. Sekali lagi, kita tidak menjalin relasi dalam kapasitas sebagai orang tua atau pengganti orang tuanya. Sebaliknya, kita menjalin relasi dengan mereka sebagai sahabat--orang yang ingin mengenal dan dikenal oleh mereka. Kita senantiasa harus bertanya, apakah yang kita lakukan sekarang akan terus kita lakukan kemudian. Jika tidak, sebaiknya kita tidak melakukannya. Singkat kata, kita mesti menghindarkan kemungkinan anak menarik kesimpulan bahwa kita berpura-pura baik pada tahap awal karena ingin menikah dengan orang tuanya.

Hal keempat yang mesti kita camkan adalah, sama seperti orang tua kandung, hak untuk MENDISIPLIN anak seharusnya diperoleh lewat upaya untuk TERLEBIH DAHULU MENGASIHI anak. Tanpa landasan kasih, disiplin dirasakan sebagai hukuman yang kejam, dapat menimbulkan reaksi marah dan dendam pada anak.

Hal kelima, apabila kita mempunyai anak kandung sendiri, berhati-hatilah dalam menunjukkan kasih sayang kepadanya DI HADAPAN ANAK TIRI. Begitu anak kandung lahir, biasanya di dalam diri anak tiri timbullah prasangka bahwa sekarang ia tidak lagi berharga dan akan dibedakan. Secara berkala katakanlah kepada semua anak bahwa mereka semua adalah anak dan bahwa semua akan menerima perlakuan yang sama pula.

Hal keenam, kita harus bersiap untuk menghadapi PEMBERONTAKAN anak tiri di usia remaja. Memang benar bahwa kebanyakan remaja menunjukkan pemberontakan namun khusus pada anak tiri, kecenderungan ini menguat oleh karena adanya keinginan pada dirinya untuk menguji seberapa besar kasih kita kepadanya. Tidak soal seberapa besar kasih kita limpahkan kasih kepadanya, pada saat menginjak remaja, ia cenderung mengetes kasih kita kepadanya.

Hal ketujuh dan terakhir adalah kita harus mengingat bahwa salah satu tugas terpenting kita adalah menjadi BAPAK DAN IBU ROHANI baginya. Dalam kapasitas sebagai bapak dan ibu rohani pertama-tama kita harus mencerminkan kehidupan kristiani. Berdoalah baginya dan bersamanya. Bagikanlah pengalaman pribadi yang menyaksikan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita.

Firman Tuhan di 1 Timotius 4:12 mengingatkan, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam

tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu." Kendati ayat ini

ditujukan Paulus kepada Timotius dalam tugasnya sebagai seorang gembala sidang yang masih berusia muda, kita dapat menerapkannya ke dalam kapasitas sebagai orang tua tiri pula. Jangan

sampai anak menganggap kita rendah oleh karena kita adalah ayah atau ibu tiri, tetapi tunjukkanlah

Kristus di dalam kehidupan kita kepadanya. Inilah dasar respek dan kasih anak kepada kita.