Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerja sama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Daniel Iroth akan berbincang-bincang dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, M.K. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini adalah tentang "UJARAN KEBENCIAN". Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
DI : Pak Sindu, sekarang sangat marak ujaran kebencian di masyarakat Indonesia. Apa yang menimbulkan ujaran kebencian ini, Pak Sindu? Apa yang ingin Pak Sindu bagikan tentang masalah ujaran kebencian ini?
SK : Benar bahwa masa perkembangan teknologi informasi, secara khusus dengan maraknya media sosial lewat internet maupun lewat kemudahan menggunakan hal-hal berkenaan dengan teknologi digital membuat semakin marak pula eksesnya, yaitu ujaran kebencian atau ‘hate speech’, dimana orang melampiaskan kebencian dalam bentuk kalimat-kalimat yang kemudian dikirimkan bahkan disebarkan di grup-grup media sosial.
DI : Apa dampak masalah ini, Pak Sindu?
SK : Rasa benci yang akhirnya disebarluaskan membuat informasi menjadi bias bahkan fitnah pun tersebar. Tenggang rasa, empati, rasa persaudaraan, bagaikan terkoyak hanya karena beda pandangan. Bahkan kemudian bisa berubah menjadi serangan fisik dan bentrokan fisik yang terjadi di beberapa daerah Indonesia karena menyebarluasnya ujaran kebencian di media sosial.
DI : Intinya terjadi konflik horizontal di antara kita sendiri ya?
SK : Betul. Kalau belum ada media sosial, mungkin orang hanya mengetahui lewat media-media arus utama seperti surat kabar atau majalah umum dan itu ada proses filteralisasi / penyaringan sehingga tidak terlalu menimbulkan dampak sosial secara negatif. Tetapi dengan adanya media sosial di era digital ini tidak ada seperti penyaringan itu. Apapun yang kita ujarkan bisa dengan mudah langsung menyebar dan menjadi viral, bergulir kian membesar di banyak lapis masyarakat dan kita seperti menjadi penyiar itu sendiri, punya koran sendiri tanpa harus lewat media cetak. Inilah yang membuat kita di Indonesia masuk kepada masa yang belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya karena adanya media digital ini, Pak Daniel.
DI : Menurut saya kalau informasi yang masuk tidak mendapatkan filter yang ketat tentu akan membahayakan ya.
SK : Ya. Betul.
DI : Apakah bentuk-bentuk ujaran kebencian itu, Pak Sindu?
SK : Bentuknya antara lain penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, hasutan, penyebaran berita bohong yang bisa berdampak pada tindakan diskriminasi, berdampak pula pada tindak kekerasan bahkan penghilangan nyawa maupun konflik sosial.
DI : Memang sangat mengerikan melihatnya ya. Apa sasaran ujaran kebencian itu, Pak Sindu?
SK : Yang menjadi ujaran kebencian biasanya berkenaan dengan keberbedaan. Orang menolak dan merendahkan perbedaan. Baik itu perbedaan suku, agama dan kepercayaan, ras, golongan, warna kulit, etnis, jenis kelamin, ataupun orientasi seksual - termasuk di dalamnya mungkin orang membenci para LGBT, itu juga menjadi sasaran ujaran kebencian – ataupun perbedaan berkenaan dengan kesempurnaan tubuh, seperti kaum difabel. Orang-orang yang berbeda secara fisik, mental dan orientasi seksual inilah yang umumnya menjadi sasaran dari ujaran kebencian.
DI : Tentu dampaknya sangat buruk kalau ujaran kebencian ini tetap ada, akan makin banyak orang saling membenci. Mereka bisa saling merendahkan lalu bangsa ini bisa terkoyak, Pak Sindu.
SK : Betul.
DI : Apa media ujaran kebencian ini, Pak Sindu?
SK : Medianya lewat media sosial yang ada di tangan kita masing-masing yaitu handphone, media arus utama berupa media cetak dan elektronik, pamphlet, spanduk