Skip to main content

Melindungi Remaja Terhadap Pornografi

Abstrak
Kadang tahu apa yang benar dan salah tidak cukup untuk menghentikan kita berbuat dosa. Itu sebabnya kendati kebanyakan remaja putra tahu bahwa pornografi adalah dosa namun mereka tetap melakukannya. Bagaimana orang tua bisa membantu anak remaja untuk mengatasi masalah ini ?
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami tentang "Melindungi Remaja Terhadap Pornografi". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Pak Paul, perbincangan kita kali ini merupakan lanjutan dari perbincangan kita yang lalu tentang bagaimana remaja menghadapi pornografi, ternyata Pak Paul menguraikan bahaya-bahayanya yang begitu banyak. Sebelum kita membicarakan tentang bagaimana kita melindungi remaja terhadap pornografi ini, mungkin ada baiknya Pak Paul menguraikan sedikit tentang pembicaraan kita yang lampau.

PG : Yang pertama adalah kita ingin menyadarkan orang tua akan bahaya pornografi yang sedang melanda, mengikat anak-anak remaja terutama anak-anak remaja putra kita. Dan orang tua tidak bisa beasumsi bahwa anak saya ini baik-baik saja, setiap malam belajar sebab belum tentu mereka hanya belajar karena begitu banyak anak-anak yang menyimpan materi-materi pornografi di teleponnya, di komputernya, di laptopnya, di I-podnya dan semua itu menggunakan "security system" sehingga orang tua tidak bisa masuk dan melihat apa yang ada di dalamnya itu.

Sekurang-kurangnya ada 3 bahaya besar yang harus diwaspadai. Pertama adalah pornografi itu mencandu sehingga ketika anak-anak yang baru berusia 12-13 tahun melihat gambar-gambar pornografi, maka mereka akan terus ketagihan dan berkeinginan melihatnya lagi. Sebab pada usia itu gejolak seksual adalah sesuatu yang baru, pengalaman yang belum pernah dialami sehingga begitu dia mengalaminya maka dia kecanduan ingin merasakan lagi. Dan yang kedua adalah di usia belasan tahun itulah gejolak seksual sangatlah tinggi sehingga keinginan untuk dipuaskan juga menjadi sangat besar. Jadi itu sebabnya pornografi cenderung mencandu, sekali orang melihat maka orang ingin menggunakan lagi dan menggunakannya lagi. Yang kedua adalah pornografi itu mencemarkan karena ketika pikiran diisi oleh pornografi, maka si remaja putra itu tidak bisa lagi berelasi dengan remaja putri secara bersih karena apa yang dilihatnya itu akan selalu diasosiasikan dengan seks, sehingga dia tidak lagi bisa memerlakukan orang sebagai manusia, dia akan mereduksi perempuan sebagai objek pemuas nafsu belaka. Nah, sudah tentu sebagai orang yang tercemar dia akan sukar sekali untuk bisa dekat dengan Tuhan. Mungkin dia merasa bersalah, dia akan merasa bahwa dia tidak patut datang kepada Tuhan. Hal-hal ini adalah alat yang digunakan iblis untuk menjauhkan anak-anak remaja terutama dari Tuhan. Yang ketiga bahayanya adalah pornografi menjadi sebuah jembatan membawa anak-anak remaja kita kepada dosa-dosa lainnya yang seringkali lebih serius. Berapa banyak anak-anak yang berhubungan seksual pada usia remaja dan akhirnya menghamili pasangannya, yang sebelumnya menggunakan materi pornografi. Atau berapa banyak orang yang terlibat di dalam tindak kriminal perkosaan yang sebelumnya adalah pengguna pornografi. Berapa banyak nanti setelah menikah keluarga yang terluka, istri yang disakiti karena suami-suami yang mengkonsumsi pornografi dan bukankah kita tahu suami-suami yang mengkonsumsi pornografi biasanya sudah memulai kebiasaan itu sejak usia belasan tahun. Belum lagi kita melihat, berapa banyak suami-suami atau bahkan istri yang akhirnya terlibat di dalam perselingkuhan yang juga adalah pengkonsumsi pornografi. Jadi pornografi pada akhirnya menghantar si anak remaja ini untuk melakukan dosa-dosa lain yang lebih serius.
GS : Memang ada sebagian orang yang menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang tidak baik bagi dirinya dan bagi orang lain, tapi yang menjadi masalah adalah dia tidak bisa menghentikannya, bagaimana Pak Paul ?

PG : Betul sekali sebab itu adalah sebuah ketergantungan yang sangat kuat sehingga keinginan dia untuk lepas sangatlah susah. Maka nanti kita akan belajar bahwa siapa pun yang pernah menggunaka atau mengkonsumsi pornografi harus datang kepada Tuhan, karena hanya dengan kuasa Dia akhirnya kita bisa melepaskan diri dari jerat pornografi.

GS : Tentunya dia tidak bisa melepaskan diri dengan tenaganya sendiri Pak Paul, butuh orang lain yang menolong dia. Dan kita sebagai orang tua punya peran besar didalam menolong para remaja putra kita menghadapi pornografi. Hal-hal apa yang orang tua bisa lakukan ?

PG : Ada beberapa, Pak Gunawan. Yang pertama sebagai orang tua adalah, kita mesti memantau pergaulan anak. Kebanyakan remaja belajar menggunakan pornografi dari teman. Firman Tuhan mengajarkan i 1 Korintus 15:33, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

Jadi sebagai orangtua kita mesti hati-hati harus mengetahui dan mengawasi pergaulan anak. Jika kita melihat anak mulai bergaul dengan teman yang berpotensi memengaruhi pergaulan yang buruk, silakan tegur dan jika perlu melarangnya bergaul dengan teman tersebut.
GS : Masalahnya pergaulan merupakan bagian dari para remaja sehingga mereka lebih mendengarkan suara teman-temannya dari pada mendengarkan suara orang tuanya.

PG : Itu sebabnya orang tua mesti bergaul akrab dengan anak remajanya. Orang tua yang bergaul akrab dengan anak remajanya dengan cepat mendeteksi perubahan pada diri anak, mulai dari apa ? Misakan mulai dari hal-hal yang dikatakan si anak.

Kalau misalkan anak-anak kita mulai mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan bahwa dia ingin membela bahwa menggunakan pornografi ini tidak salah, "Tidak apa-apa berhubungan sebelum menikah karena nantinya juga akan menikah pula", kalau itu yang mulai diucapkan oleh anak-anak kita, maka kita harus menyadari kalau kita sudah mulai mengalami perubahan dan ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya, ada yang memengaruhinya pula. Itulah waktunya untuk kita mengajaknya berbicara sehingga kita bisa tahu lebih dalam lagi sebetulnya apa yang tengah dialami oleh anak remajanya.
GS : Jadi ini dibutuhkan kedekatan orang tua dengan anak remajanya. Dan sekarang siapa yang lebih dekat dengan remaja putra ini, dari pihak ayah atau dari pihak ibu ?

PG : Sebaiknya dari dua belah pihak. Karena tidak bisa tidak remaja putra itu akan mengkonsumsi pornografi dan menjadikan wanita sebagai objeknya, maka biarkan si mama yang berbicara dengan si nak itu.

Misalkan seperti yang telah kita bahas di sesi yang sebelumnya kalau misalkan si mama menanyakan kepada si remaja putra, "Bagaimana perasaanmu kalau salah seorang teman kamu memandangi saya dengan nafsu untuk bersetubuh dengan saya, bagaimana perasaanmu ?" Dia pasti akan menjawab, "Saya tidak suka." Maka mama harus berkata, "Kalau kamu tidak suka maka janganlah kamu melakukan hal yang sama kepada orang lain, dan karena kamu mengkonsumsi pornografi, maka kamu akan selalu tergoda untuk membayangkan dan bernafsu dengan perempuan yang kamu jumpai. Perempuan itu bisa jadi kakak dari orang, anak dari orang, bisa juga ibu dari orang. Maka janganlah kamu lakukan itu kalau kamu sendiri tidak mau orang memandang mama dengan pandangan nafsu seperti itu. Itulah pentingnya orang tua mengajak anak untuk berbicara langsung tentang seks. Anak akan jarang berinisiatif menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan seks, itu sebabnya inisiatif tersebut harus datang dari orang tua. Jadi jangan sungkan sebagai orang tua untuk bertanya kepada anak apakah ia pernah menggunakan pornografi, tanya langsung tidak apa-apa. Jika ia mengakuinya maka jangan hanya mengingatkannya bahwa ini tidak baik, tidak boleh melanggar kehendak Tuhan, tapi kita juga bagikan pergumulan pribadi kita di kala kita seusianya. Contoh-contoh konkret seperti ini akan menolong anak memahami kebenaran dengan lebih mudah dan memberinya kebebasan untuk mengangkat masalah ini. Bila pada akhirnya masalah ini menjadi pergumulannya sebab keterbukaan kita mengkomunikasikan pengertian dan penerimaan kita kepadanya. Jadi biasakan mengajak anak berbicara, akrablah bergaul dengan dia, sehingga terbukalah komunikasi dengan dia dan bisa menjadi tempat berbagi pergumulannya dengan kita.
GS : Memang kadang-kadang orang tua ragu, Pak Paul, harus berkata jujur atau menutupi masa lalunya bahwa dia adalah seorang yang pernah melihat pornografi walaupun mungkin tidak sampai kecanduan, Pak Paul.

PG : Dalam hal seperti pornografi atau dosa-dosa seksual, saya kira keterbukaan orang tua sangatlah penting. Misalkan si papa mengatakan dengan jujur, "Papa dulu juga pernah terikat pornografi an papa merasakan bahwa pikiran papa itu tidak pernah lagi bisa bersih dan papa harus akui bahwa sampai sekarang pun papa masih harus bergumul dengan godaan-godaan dengan pikiran-pikiran yang terus membawa papa kepada seks.

Papa tidak mau seperti itu sebab papa ingin memandang wanita dengan bersih sebagai ciptaan Tuhan yang mulia, tapi papa susah dan papa harus bergumul. Maka papa tidak mau kamu akhirnya menjadi seperti papa. Belum lagi godaan itu membesar gara-gara sudah terbayangkan di benak kita, sehingga kita juga lebih mudah jatuh, nanti kalau kamu mempunyai pacar, godaan untuk melakukan hubungan dengan pacar kamu juga akan jauh lebih besar dibandingkan dengan orang tidak menggunakan atau mengkonsumsi pornografi." Dan terakhir yang kita harus tekankan dalam pembicaraan dengan anak-anak kita adalah "Tindakan ini berdosa kepada Tuhan dan tindakan ini bukanlah tindakan yang disetujui oleh Tuhan."
GS : Biasanya reaksi spontan orang tua ketika menemukan anak-anaknya sedang mengkonsumsi pornografi atau menemukan gambar-gambar porno di laci meja anak, seringkali reaksinya adalah marah, terkejut, panik dan sulit bicara dengan tenang seperti tadi.

PG : Maka ada baiknya setelah orang tua menemukan bukti-bukti anaknya mengkonsumsi pornografi, baik si ibu atau pun si ayah, yang pertama harus menunda berbicara. Pertama-tama mereka harus berbcara kepada Tuhan terlebih dahulu, meminta Tuhan untuk menunjukkan jalan atau cara yang tepat, hikmat dari surga untuk bisa berbicara dengan anak itu.

Setelah menenangkan diri berdoa, barulah ajak anak berbicara dan langsung saja tanyakan, "Apakah kamu pernah menggunakan atau mengkonsumsi pornografi?" Misalkan dia menyangkal, orang tua tidak perlu marah, cukup hanya berkata, "Saya tahu kamu susah untuk mengakui sesuatu yang kamu tahu papa dan mama melarangnya, tapi inilah kesempatan yang papa mau berikan kepada kamu untuk berkata jujur. Coba sekali lagi jawab pertanyaan kami, apakah kamu telah mengkonsumsi pornografi ?" Jadi kita mau ajak anak kita ke level yang lebih dewasa, ke level dimana dia tidak ditakuti, tidak dipaksa, tapi diberikan kesempatan untuk keluar bersikap jujur. Dan itu adalah