Skip to main content

Memahami dan Merawat Penderita Dementia Pergumulan di Hari Tua

Memahami dan Merawat Penderita - Dementia Pergumulan di Hari Tua

Salah satu kenyataan hidup yang menggembirakan adalah makin membaiknya perawatan kesehatan. Dengan makin membaiknya pengobatan, maka makin bertambah panjanglah usia manusia. Namun, bertambahnya usia manusia juga berarti makin bertambahnya penyakit yang dikaitkan dengan usia tua. Salah satu gangguan yang kerap muncul di usia tua adalah dementia. Pada kesempatan ini kita akan melihat gangguan ini secara lebih saksama dan membicarakan cara penanganannya.

DEFINISI

Sesungguhnya dementia—atau kepikunan—bukanlah suatu nama penyakit. Dementia adalah suatu gejala atau kondisi yang terjadi di dalam otak, yang ditandai dengan menurunnya fungsi mental. Nah, gejala ini dapat dan sering ditemukan pada penyakit-penyakit lainnya seperti Alzheimer dan Parkinson. Jadi, seperti gejala pilek dan batuk ditemukan dalam sakit flu, demikian pulalah dementia ditemukan dalam sakit Alzheimer dan Parkinson.

GEJALA

  • Dementia dapat memunculkan pelbagai gejala yang tidak selalu terlihat jelas sebagai masalah pada awalnya, seperti lupa. Perlahan tapi pasti gejala mulai melebar sehingga bukan saja LUPA tetapi juga MENGULANG-ULANG sesuatu. Si penderita akan menanyakan sesuatu yang telah ditanyakannya beberapa menit yang lalu dan sama sekali tidak dapat mengingat bahwa ia telah menanyakannya. Dan, yang kadang membuat frustrasi adalah ia mudah lupa dengan apa yang telah kita sampaikan kepadanya, seperti janji pertemuan, namun karena tidak dapat mengingatnya sama sekali, ia malah menyalahkan kita—bahwa kita lalai memberitahukannya.
  • Satu hal lain yang kadang dialami penderita dementia adalah HALUSINASI. Sebagai contoh, ia melihat kita mengambil uangnya, padahal tidak. Masalahnya adalah karena itu adalah halusinasi, baginya jelas bahwa kita telah mengambil uangnya dan ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Penjelasan apa pun yang kita berikan, tidak akan mempan untuk mengubah pemikirannya. Sudah tentu perilaku seperti ini bukan saja melelahkan, tetapi juga menyusahkan. Siapa pun yang kita minta untuk menjaganya akhirnya tidak tahan menghadapinya atau, ia sendiri yang meminta kita memecat orang tersebut. Lebih buruk lagi, adakalanya ia sendiri yang mengusirnya.
  • Hal lain yang sering kali dialami penderita dementia adalah NAIK-TURUNNYA EMOSI. Kadang, tanpa sebab ia dapat menangis atau sebaliknya, marah-marah. Singkat kata kita tidak pernah tahu dengan pasti, apakah hari ini akan menjadi hari baik atau hari buruk baginya—dan bagi kita pula. Sebab, emosinya dapat meluap ke mana-mana tanpa ada pemicunya sama sekali. Tidak bisa tidak, kita yang hidup bersamanya mesti siap menjadi tempat penampung luapan emosinya.
  • Hal lain yang berat untuk kita lihat adalah pada akhirnya ia TIDAK LAGI MENGENALI ORANG di sekitarnya. Ia mengira kita suaminya atau istrinya; atau ia mengira kita adalah ayah atau ibunya. Padahal kita adalah anaknya. Dan, sewaktu ia mengira kita adalah ayah atau ibunya, ia akan berperilaku sebagai seorang anak kecil dan memerlakukan kita, bak ayah dan ibunya. Hal seperti ini tidak mudah untuk kita hadapi sebab di mata kita ia adalah tetap ayah atau ibu yang kita hormati. Namun sekarang ia berubah menjadi seorang anak kecil yang ketakutan atau yang merengek-rengek meminta sesuatu.
  • Pada tahap akhir penderita dementia biasanya tidak lagi dapat berjalan atau mengurus diri dan kebersihannya sendiri. Ia memerlukan perawatan penuh. Makan mesti disuapkan dan kalau sudah tidak dapat makan lewat mulut lagi, maka terpaksa ia harus diberi makan lewat saluran selang. Dan, ini bisa berlangsung lama—bertahun-tahun.

MERAWAT PENDERITA DEMENTIA

Sebagaimana dapat kita bayangkan, tidak mudah merawat penderita dementia. Pada dasarnya ada dua prinsip yang dapat kita pegang dalam menghadapi penderita dementia:

  1. ikuti iramanya dan
  2. lakukanlah sedapatnya, bukan seidealnya. Mari kita lihat keduanya.
    • Ikuti iramanya berarti jangan beradu pendapat dengannya; jangan berharap, apalagi memaksanya, untuk mengerti; dengan kata lain, jangan berusaha untuk meluruskan apa pun. Upaya untuk meluruskannya hanyalah akan memerburuk keadaan. Kita harus mengerti bahwa bukannya ia tidak mau mengingat, memang ia tidak bisa mengingat. Bukannya ia tidak mau tahu, memang ia tidak tahu. Bukannya ia tidak mau mengendalikan emosi, memang ia tidak dapat mengendalikan emosi. Dan, satu lagi: Bukannya ia tidak mau percaya, memang ia tidak dapat percaya. Jadi, janganlah berupaya untuk membuatnya "sadar".
      Sebaliknya, ikutilah iramanya. Dengarkanlah perkataan atau pertanyaannya, walau kita telah mendengarnya berbelasan kali. Berilah perhatian seolah-olah itu adalah kali pertama ia mengatakan atau menanyakannya karena baginya, memang itu adalah kali pertama ia mengatakan atau menanyakannya.
      Sewaktu dipersalahkan bahwa kita lupa memberitahukan sesuatu kepadanya, akuilah bahwa kita lupa. Jangan lupa untuk meminta maaf pula. Tatkala ia menuduh perawat—atau kita—telah mencuri uangnya, katakan kepadanya bahwa kita akan berusaha mencari dan menemukannya kembali. Tidak perlu kita bersitegang membela perawat—atau diri kita. Ingat, apa yang dikatakannya hari ini belum tentu akan diingatnya besok.
    • Saran kedua adalah lakukanlah sedapatnya, bukan seidealnya. Idealnya kita merawatnya sendiri, tetapi bila itu tidak mungkin, relakanlah ia untuk dirawat oleh yang lain. Walau ia menuntut kita untuk merawatnya, keraskanlah hati untuk menolak, bila memang itu tidak dapat kita lakukan.
      Merawat penderita dementia tidak beda dengan merawat bayi. Semua jadwal aktivitas harus disesuaikan dengan jadwal aktivitas dan kebutuhannya. Itu sebab penting bagi kita untuk mengatur tenaga dan tugas. Jangan sampai kita melalaikan tanggung jawab keluarga sendiri. Ingatlah bahwa merawat penderita dementia seperti sebuah lari maraton. Kita harus mengatur kekuatan dan sumber daya, sebab ini tidak berakhir cepat. Tidak ada obat yang dapat mengembalikannya ke kondisi semula.

PENUTUP

Salah satu janji terindah yang pernah dibuat manusia adalah janji yang diikrarkan oleh seorang menantu kepada mertuanya, yaitu janji Rut kepada Naomi. Mari kita simak, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan" (Rut 1:16-17). Jadikanlah ini komitmen kita pula untuk memberi yang terbaik kepada orang yang kita kasihi dan mengasihi kita.

Kita tidak tahu hari depan. Kita dapat merencanakannya, tetapi kita tidak dapat memastikannya, termasuk hari tua. Mungkin kita mendambakan masa tua yang tenang, tetapi ternyata masa tua kita jauh dari tenang. Persoalan demi persoalan datang, membuat hidup susah. Tadinya kita berpikir kita akan beristirahat dan menikmati hari tua, tetapi sekarang kita tahu bahwa kita masih harus bergumul. Apakah yang mesti kita perbuat bila itu adalah porsi kehidupan yang harus kita jalani?

  1. KITA MESTI MELIHAT HARI TUA SAMA SEPERTI HARI-HARI LAINNYA.
    Singkat kata, kita harus mengubah cara berpikir kita. Pada umumnya kita melihat hari tua sebagai hari kita beristirahat dan menikmati hidup, sebelum kita mengakhirinya. Pada kenyataannya Tuhan tidak melihatnya seperti itu. Setiap hari—tidak soal di masa muda atau di masa tua—adalah hari di mana Tuhan mengerjakan pekerjaan-Nya dan menggenapi kehendak-Nya. Kita tidak dapat meminta Tuhan untuk membebastugaskan kita karena sudah tua. Dengan kata lain, kita tidak bisa meminta Tuhan untuk mengecualikan kita dari persoalan hidup atas dasar usia. Beberapa waktu yang lalu saya berbicara dengan seorang laki-laki. Ia sudah memasuki hari tua dan tengah menjalani masa pensiun. Di dalam pembicaraan ia menceritakan pergumulan yang berat. Oleh karena saya mengenalnya sejak ia muda, saya tahu masa mudanya tidaklah sesusah masa tuanya. Apa yang digumulkannya dulu masih tetap digumulkannya hari ini. Masalahnya adalah, sekarang ada hal-hal baru yang mesti digumulkannya. Beban tidak berkurang, malah bertambah di hari tua. Ya, jika kita dapat ditimpa kesusahan di masa muda, kita pun dapat ditimpa kesusahan di masa tua. Bila kita bisa dikecewakan atau ditolak orang pada masa muda, kita pun dapat dikecewakan dan ditolak orang pada masa tua. Jika kita dapat gagal di waktu muda, kita pun dapat gagal di hari tua. Dan, kalau orang dapat tidak menghormati kita di masa muda, orang pun dapat tidak menghormati kita di masa tua. Singkat kata, tidak seharusnya kita berharap bahwa di usia tua semua berubah menjadi lebih baik.
  2. KITA MESTI MEMANDANG TUGAS DI HARI TUA SEBAGAI TUGAS TUHAN YANG MEMANG IA PERCAYAKAN KEPADA KITA.
    Dengan kata lain, jangan melihatnya sebagai beban atau gangguan. Oleh karena kita adalah milik Tuhan, maka Ia berhak memakai kita sesuai rencana dan kehendak-Nya kapan saja, termasuk di hari tua. Tuhan dapat memakai kita dengan cara-cara yang kita kenal, seperti pelayanan gerejawi, penginjilan, atau misi. Tetapi, kadang Ia memakai kita dengan cara yang tidak kita kenal atau kehendaki. Misalkan, Ia meminta kita untuk merawat pasangan atau anak kita yang sakit. Atau, Ia menempatkan kita di tengah kemelut keluarga atau perkumpulan di mana kita harus mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. Ya, adakalanya justru di hari tua Tuhan menempatkan kita di situasi yang sulit di mana kita harus menghadapi banyak hal yang tidak pernah kita hadapi sebelumnya. Di dalam pelayanan saya sudah melihat orang tua yang pada usia uzur justru harus memelihara anak dan cucunya. Bukan anak memelihara orang tua, melainkan orang tua memelihara anak. Mungkin Tuhan memakai orang tua untuk menolong anak, tetapi mungkin pula Tuhan memakai mereka untuk menolong cucu. Lewat kakek dan neneknya, bukan saja si cucu menerima perawatan, ia pun menerima kasih sayang, sehingga ia dapat bertumbuh dewasa secara matang. Tidak jarang, si cucu mengenal Yesus sebagai Juruselamat dari kakek dan neneknya, bukan dari orang tuanya. Ia dapat terus memakai kita di usia tua untuk menjadi berkat, asalkan kita bersedia. Jalan kita belum tentu jalan Tuhan; jadi, terimalah jalan yang Tuhan tetapkan bagi kita.
  3. TERIMALAH KETERBATASAN FISIK DAN HIDUPLAH DI DALAM KETERBATASAN ITU.
    Tidak bisa tidak, makin tua makin melemah tubuh ini dan makin banyak penyakit yang datang. Kadang kita sulit menerimanya, karena kita telah berusaha hidup sehat selama ini. Kita lalu menyangkali kondisi dan berusaha hidup seakan-akan kita tidak memiliki masalah kesehatan tersebut. Mungkin kita melakukan aktivitas fisik tertentu untuk menunjukkan bahwa kita tidak sakit. Masalahnya adalah aktivitas itu makin membuat kita sakit; akhirnya kita menjadi beban yang lebih berat buat pasangan dan anak. Pada masa tua, tidak bisa tidak, kita akan menyusahkan orang. Ini bukanlah sebuah pilihan; ini merupakan sebuah keharusan. Mungkin kita menyusahkan pasangan; mungkin kita menyusahkan anak. Tidak apa, terpenting adalah kita tidak menambahkan kesusahan secara tidak perlu. Sebagai contoh, bila kita tahu bahwa mata sudah tidak awas, jangan memaksakan diri untuk mengendarai kendaraan bermotor. Kita dapat terlibat kecelakaan dan mencederai orang. Atau, jika kita tahu bahwa kita mulai sering lupa mematikan kompor, janganlah masak di rumah bila tidak ada siapa-siapa. Daripada kita dilarang—dan marah karenanya—lebih baik kita berinisiatif untuk tidak melakukannya.
  4. TERIMALAH KENYATAAN BAHWA SESUNGGUHNYA KITA HANYA BERJASA UNTUK GENERASI KITA, BUKAN GENERASI BERIKUTNYA.
    Makin besar sumbangsih kita sewaktu muda, makin besar kebutuhan untuk tetap diingat dan dihargai, bukan hanya oleh generasi kita, tetapi juga oleh generasi berikut. Sudah tentu jika kita berjasa besar, bukan saja generasi kita, tetapi juga generasi berikut, akan dapat mencicipi berkat dari sumbangsih kita. Mungkin mereka menghargai sumbangsih kita, tetapi sebetulnya yang benar-benar merasakan dan menghargai sumbangsih kita adalah generasi kita, bukan generasi selanjutnya. Jadi, terimalah kenyataan bahwa pada masa tua, kita tidak lagi diingat atau dihargai seperti dulu. Salah satu pergumulan yang kita mesti hadapi di hari tua adalah kesendirian dan rasa bahwa sekarang kita tidak sepenting dulu. Jika tidak berhati-hati, kita dapat hanyut dalam perasaan sedih dan kecewa. Atau sebaliknya, kita marah dan menyalahkan orang karena merasa tidak diperlakukan penting lagi. Kita harus siap hati bahwa pada masa tua, orang yang mengenal dan mengingat kita akan berkurang. Ingatlah, setiap generasi memunyai pahlawannya masing-masing. Kita tidak dapat dan tidak boleh menjadi pahlawan terus-menerus.

Firman Tuhan di Kisah Para Rasul 13:36 berkata, "Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya . . . ." Perkataan, "pada zamannya," dapat pula diterjemahkan "pada generasinya." Firman Tuhan mengingatkan bahwa tugas kita adalah melayani dan menggenapi kehendak Tuhan pada zaman atau generasi kita. Jadi, lakukanlah kewajiban kita, setelah itu diamlah. Jangan menuntut generasi berikut untuk mengingat dan menghargai kita. Terpenting adalah Tuhan melihat dan mengingat kita.

Ringkasan T491A+B

Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi

Simak judul-judul "DEWASA" lainnya di www.telaga.org

PERTANYAAN :

Syalom,

Menanggapi pernyataan Bapak untuk minta saya menanyakan kepada Mama mengapa Mama begitu "membenci" saya pada waktu anak-anak, saya tidak sanggup, lagi pula saya sudah mengetahui jawaban Mama pasti begini, "Kapan saya mengatakan tidak mencintaimu? Kamu sudah durhaka punya pikiran seperti itu" (Mama saya 100% sudah lupa semua kata-katanya yang menyakitkan, yang terlontar pada masa kecil saya, yang pasti Mama saya ingat pasti hanya satu, yaitu saya kurang sayang kamu, oleh karena itu saya memerlakukan kamu selalu tidak adil. Lagi pula Mama saya sampai detik ini tidak pernah sadar bahwa saya terluka pada masa kecil saya untuk perlakuan tidak adilnya.

Untuk informasi Bapak, dari kecil kami hidup dengan ekonomi yang pas-pasan sekali, bahkan selalu meminjam uang kepada saudara. Papa saya bekerja keras menghidupi istri dan 6 orang anak. Mama saya juga bekerja keras untuk kami semua. Saya juga merasa aneh, mengapa sejak kecil saya selalu berpikiran seperti orang dewasa, sangat sayang keluarga, termasuk kakak adik, bagi saya apabila kakak adik saya bahagia, Mama saya juga bahagia, jadi saya selalu berkorban diri untuk keluarga, misalnya: bila Mama sedang gelisah kakak saya belum bayar SPP, saya disuruh meminjam uang kepada tante saya, saya pun naik sepeda berangkat, meskipun Tante saya akan sangat merasa kesal dengan mata yang tajam dan menghina saya, saya tetap melakukan, uang saya pinjam supaya kakak saya dapat membayar SPP, sedangkan saya setiap bulan diusir pulang oleh sekolah karena tidak membayar SPP. Saya melakukan itu semua, supaya Mama tidak sedih karena kakak saya (anak kesayangan Mama) diusir pulang dari sekolah. Dihina ditatap dengan mata kebencian oleh tante saya, tetap saya pendam, tidak menceritakannya kepada Mama, karena takut Mama akan merasa sedih.

Contoh dari semua ketidakadilan di masa kecil yang diperlakukan kepada saya: setiap tahun pada waktu perayaan Imlek, kami selalu dibelikan baju baru, pernah 1 tahun kakak saya ada yang dibelikan baju 2, ada yang 1, sedangkan saya tidak dibelikan sama sekali. Alasannya saya anak yang tidak banyak menuntut/baik, sedangkan kalau kakak saya tidak dibelikan, kasihan kakak saya ditertawakan teman-teman sekolah. Padahal dalam hati saya sedih sekali ditertawakan teman-teman sekolah, akan tetapi saya tidak cerita kepada Mama, dari kecil saya selalu berpikir yang penting Mama tidak menderita, begitu itu sudah cukup.

Pak, dari kecil saya selalu mencoba mencari tahu mengapa saya kurang dicintai, jawaban yang paling tepat untuk saya adalah :

  1. Mama saya berharap saya anak laki-laki (urutan kakak adik saya: koko, cici, cici lagi, saya, adik laki-laki ada dua. Begitu lahir anak perempuan, keluarga besar dari Mama memarahi Mama saya terus, katanya buat apa anak perempuan, berikan saja kepada orang lain, tidak berguna memunyai anak perempuan banyak-banyak, sudah ekonomi susah! Tapi akhirnya saya tidak diberikan kepada orang lain, karena dilarang oleh Papa saya, juga pasti Mama saya tidak tega juga memberikan saya kepada orang lain. Oleh karena itu sepanjang hidup ini, sudah tidak asing saya mendengarkan kakak saya mengatakan bahwa saya anak yang tidak diinginkan orang tua, mau diberikan kepada orang lain.
  2. Di antara semua anak perempuan, saya terlahir paling tidak cantik, bila dibandingkan dengan kedua kakak saya (dari kecil saya tahu saya tidak cantik karena Mama saya dan tante saya dan semua saudara Mama mengatakan begitu), oleh karena itu dari kecil saya tidak pernah dibawa pamer ke saudara-saudara Mama, berapa kali Mama ajak cici saya yang cantik ke rumah saudara, cici tidak mau dan karena kepolosan masa kecil, saya mengatakan, "Ma…….ikut donk, Mama hanya tertawa dan mengatakan "Tidak jadi, ah……bawa kamu", saya baru mengerti setelah dewasa, karena Mama saya malu anaknya kurang cantik!

Tapi untuk informasi kepada Bapak, semua orang di sekeliling saya mengatakan saya manis dan cantik, bahkan saya selalu mendadak mendapat pujian cantik dari orang yang baru saya kenal……

Pak, jujur, kadang saya suka berpikir saya terlahir jada anak Mama itu karena TUHAN sayang Mama saya (Mama saya dari sejak kecil hidup susah, terlahir jadi anak perempuan paling besar itu sangat lelah, mengurus adik-adik, diperlakukan tidak adil juga oleh nenek saya). Di tengah penderitaan Mama membesarkan begitu banyak anak (Papa saya berlayar, jarang dapat melindungi Mama saya), ada satu anak yang dapat dijadikan pelampiasan kekesalan, ini sangat meringankan beban Mama saya.

Pak, saya sangat takut kelak saya berlaku tidak baik juga kepada anak sendiri, karena saya dibesarkan dengan dipukul rotan, biasanya saya dipukul kalau tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga. Bapak dukung doa supaya saya pulih total dari semuanya ini, prioritas hidup saya adalah membahagiakan Mama saya, membentuk keluarga yang mengasihi Tuhan.

Salam : YT

 

JAWABAN :

Menjumpai Saudari YT,
Kalau memang tidak memunyai keberanian untuk bertanya kepada Mama, mengapa Mama "kurang menyayangi" Anda, kami pikir tidak mengapa, karena dari penjelasan Anda sudah dapat diduga alasan mengapa Mama kurang menyayangi Anda. Apakah Anda yakin dengan dugaan Anda tersebut ?

Kami tertarik untuk bertanya lebih lanjut sehubungan dengan pernyataan Anda yang menyatakan bahwa Anda "selalu berpikiran seperti orang dewasa, sangat sayang keluarga, termasuk kakak adik", coba Anda renungkan baik-baik, apakah Anda rela berkorban karena memang Anda sayang dengan Mama dan kakak, adik atau karena merasa "kurang disayang", sehingga rela melakukan apa saja untuk membahagiakan mereka, supaya Anda dapat diterima dan disayang? Dalam diri seorang individu selalu ada kebutuhan untuk diterima di lingkungannya, termasuk di tengah-tengah keluarganya. Setiap individu akan rela melakukan apa saja asalkan dapat diterima oleh kelompoknya.

Kami senang dengan kesadaran Anda akan pengalaman masa kecil yang tidak nyaman ini. Anda merasa khawatir, Anda akan bersikap sama seperti itu kepada anak-anak Anda kelak. Ini adalah kesadaran yang sangat positif dan awal proses pemulihan serta penyembuhan luka batin.

Apabila langkah menanyakan sudah tidak memungkinkan, silakan melanjutkan pada langkah berikutnya sampai tuntas. Selain itu kami ingin menambahkan satu hal lagi dan hal ini menyangkut diri Anda pribadi. Sebagai seorang anak yang telah mengalami berbagai kekerasan sejak kecil, baik melalui kata-kata yang kasar dan menyakitkan, pengabaian serta pemukulan, tentu Anda telah bertumbuh sebagai seorang gadis yang kurang sehat secara psikologis. Anda sendiri membutuhkan proses konseling untuk memulihkan kepribadian Anda yang terkoyak itu agar kelak Anda tidak memerlakukan anak Anda dengan perlakuan yang sama.

Sebagai langkah awal dari proses konseling untuk memulihkan kepribadian Anda, ada baiknya merenungkan kalimat-kalimat yang ditulis oleh Rick Warren dalam buku "The Purpose Driven Life" sebagai berikut: "Anda ada bukan karena kebetulan. Kelahiran Anda bukanlah suatu kesalahan atau kesialan dan kehidupan Anda bukan yang tidak diharapkan dari alam. Orang tua Anda mungkin tidak merencanakan Anda, tetapi Allah merencanakannya. Dia tidak terkejut sama sekali dengan kelahiran Anda. Sesungguhnya, Dia mengharapkannya. Jauh sebelum Anda ada dalam benak orang tua Anda, Anda sudah ada dalam pikiran Allah. Dia memikirkan Anda terlebih dahulu. Bukan karena nasib, bukan karena kesempatan, bukan karena keberuntungan, juga bukan karena kebetulan, Anda bernafas saat ini. Anda hidup karena Allah ingin menciptakan Anda! Allah merancang setiap bagian tubuh Anda. Dia dengan terencana memilih ras Anda, warna kulit Anda, rambut Anda dan setiap karakteristik lainnya. Dia merancang dan membuat tubuh Anda seperti yang Dia inginkan. Dia juga menentukan talenta-talenta alami yang akan Anda miliki dan keunikan dari kepribadian Anda. Allah mengenal Anda lahir dan batin. Dia mengenal setiap tulang dalam tubuh Anda, Dia mengetahui persis bagaimana Anda dijadikan, sedikit demi sedikit, bagaimana Anda dipahat dari kehampaan menjadi sesuatu. Karena Allah membuat Anda untuk suatu alasan, Dia juga memutuskan kapan Anda akan dilahirkan dan berapa lama Anda akan hidup. Dia terlebih dahulu merencanakan hari-hari hidup Anda, memilih waktu yang tepat untuk kelahiran dan kematian Anda. Tahukah Anda bahwa Allah telah melihat Anda sebelum Anda mulai bernafas? Dan Dia telah merencanakan setiap hari hidup Anda. Allah juga merencanakan dimana Anda akan dilahirkan dan dimana Anda akan hidup untuk tujuan-Nya. Ras dan kebangsaan Anda bukan suatu kebetulan. Allah tidak membiarkan satu bagian pun terjadi secara untung-untungan. Dia merencanakan semua untuk tujuan-Nya. Tidak ada satu hal pun dalam hidup Anda yang terjadi dengan semaunya. Semuanya untuk suatu tujuan".

Masalah "cantik" atau "tidak cantik" itu sangat subyektif. Jika ada seorang gadis menurut kami tidak cantik, belum tentu di pemandangan orang lain. Demikian juga sebaliknya. Kiranya Tuhan menolong Anda untuk memulihkan kepercayaan diri Anda sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tuhan memberkati !!

Salam : Pdt. Didi Darsono

KESEPIAN YANG TERSEMBUNYI

Oleh: Ev. Dian Mailina, S.Kom, MAKP *)

Seorang ibu muda duduk di ruang tamu yang sunyi setelah anak-anaknya tidur. Puluhan pesan singkat dari grup komunitas gereja membanjiri ponselnya, namun hatinya terasa kosong. Seorang eksekutif perempuan sukses di kantornya, setiap hari dikelilingi kolega, tetapi setiap malam ia pulang ke apartemen yang sepi terasa terisolasi. Seorang remaja putri dengan ribuan pengikut di media sosial, namun merasa tidak ada satu pun yang benar-benar mengenal dan mengerti dirinya.

Satu kesamaan di antara mereka semua adalah mereka semua adalah wanita yang sama-sama bergumul dengan kesepian. Keramaian, hiruk pikuk kegiatan tak selamanya memberi rasa hangat di tengah kesepian. Kesepian bukanlah topik asing, namun sering kali tidak dibicarakan secara terbuka karena dianggap aib atau kelemahan. Pemazmur pernah menyatakan pergumulan yang sama, "Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas" (Mazmur 25:16).

Apa Itu Kesepian?

Kesepian (loneliness) dapat diartikan sebagai pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan akibat ketidaksesuaian antara hubungan sosial yang diinginkan dengan hubungan sosial yang aktual (Perlman & Peplau, 1981). Seseorang bisa berada di tengah keramaian, namun merasa sepi, jika kualitas hubungan yang dimilikinya tidak memenuhi kebutuhan emosionalnya. Kesepian berbeda dengan kesendirian (solitude) yang sifatnya lebih disadari, karena ada kerelaan dan seringkali menyegarkan jiwa. Kesepian biasanya tidak disadari, karena ketiadaan kelekatan dalam relasi.

Ada dua macam kesepian (Weiss, 1973):

  1. Kesepian emosional (emotional loneliness). Ketiadaan hubungan kelekatan yang intim, misalnya ketiadaan pasangan hidup atau sahabat sejati.
  2. Kesepian sosial (social loneliness). Ketiadaan jaringan sosial yang luas, seperti teman sejawat, komunitas, atau kelompok yang memberikan rasa memiliki.

Mengapa Perempuan Cenderung Mengalami Kesepian?

Perempuan cenderung mengalami tingkat kesepian yang lebih tinggi secara konsisten, terutama pada fase-fase tertentu dalam hidup. Hal ini disebabkan karena perempuan pada umumnya memiliki harapan dalam relasi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Mereka menginginkan hubungan yang intim, saling membuka diri dan suportif secara emosional. Ketika hubungan yang ada hanya bersifat dangkal, perempuan lebih peka terhadap ketidaksesuaian antara harapan dan realitas. Selain itu, pada fase tertentu, perempuan kerap memikul beban ganda, seperti mengurus rumah tangga, membesarkan anak, merawat keluarga serta bekerja, sehingga sedikit waktu untuk membina hubungan sosial yang bermakna. Ibu rumah tangga dengan anak kecil, rentan mengalami isolasi fisik akibat kurangnya interaksi dengan orang dewasa di luar rumah. Perempuan juga melalui transisi hidup yang berat seperti kehamilan, masa pasca melahirkan, masa menopause, masa anak-anak meninggalkan rumah (empty nest syndrome). Setiap transisi ini mengubah peran dan identitas sosial secara drastis, sehingga memicu perasaan terasing. Penggunaan media sosial juga memerparah kondisi perempuan yang memiliki kecenderungan membandingkan hidup mereka dengan unggahan orang lain yang tampaknya sempurna, sehingga memerkuat persepsi "Saya sendirian dan tidak cukup baik". Kesepian kerap dianggap sebagai kegagalan pribadi. Stigma seorang perempuan Kristen yang hidupnya bersyukur, banyak berdoa dan melayani maka tidak perlu merasa sepi. Hal ini membuat banyak perempuan enggan mengakui pergumulan mereka dan mencari pertolongan.

Bagaimana Mengatasi Kesepian?

  1. Akui Kesepian
    Akui perasaan kesepian yang dirasakan. Jujurlah tentang perasaan tersebut. Langkah pertama menuju pemulihan adalah kejujuran. Merasa kesepian merupakan pengalaman yang manusiawi di hadapan Tuhan. Banyak perempuan Kristen merasa bersalah, karena mengaku kesepian, seolah-olah itu berarti mereka tidak percaya pada kuasa Allah. Firman Tuhan banyak memberi penghiburan tentang ratapan akan penderitaan, termasuk rasa kesepian. Kita dapat mengakui rasa kesepian, baik dalam doa pribadi maupun dalam komunitas kecil yang aman, tanpa takut dihakimi.
  2. Bangun Kualitas Hubungan
    Bangun relasi yang berkualitas dengan Tuhan dan sesama, bukan kuantitas. Hindari ketergantungan pada media sosial dan fokus pada hubungan yang dalam dan otentik, bukan jumlah teman, pengikut media sosial atau banyaknya like. Kualitas hubungan pribadi denganTuhan dan dukungan sosial dari keluarga dan teman yang otentiklah yang dapat mengurangi dampak kesepian. "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran" (Amsal 17:17). Alkitab menekankan pentingnya kualitas kesetiaan dalam persahabatan, membangun satu atau dua hubungan yang dalam di mana bisa berbagi beban tanpa topeng.
  3. Cukup dalam Kristus
    "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9). Temukan kecukupan sejati dalam Kristus, bukan dalam aktivitas rohani semata. Berhenti mencari kepenuhan dalam status yang fana, melainkan menemukan kecukupan sejati di dalam Kristus, maka dalam kesepian sekalipun kuasa kasih Tuhan akan sempurna memenuhi hati yang sepi dan kosong. Alami dan rasakan bahwa kasih karunia Allah cukup untuk memenuhi setiap lubang kerinduan terdalam dan menjadikan hidup lengkap.

Kesepian bukan akhir, tetapi undangan untuk lebih dekat dengan Allah. Kesepian pada perempuan bukanlah aib, dosa, atau tanda iman yang lemah. Ini adalah realitas kehidupan manusia dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, di mana hubungan tidak pernah sempurna dan hati selalu merindukan lebih. Namun, kabar baik Injil adalah bahwa Allah sendiri hadir dalam kesepian, tidak pernah meninggalkan,"…TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Ulangan 31:6). Roh Kudus, Penghibur yang selalu menyertai.

Apabila saat ini engkau bergumul dengan kesepian, Tuhan mendengar ratapanmu, engkau tidak sendirian. Komunitas iman yang aman dipanggil untuk merangkulmu. Mulailah dengan kejujuran, akuilah kesepianmu, bangunlah hubungan pribadi dengan Tuhan dan satu hubungan yang berkualitas dengan sesama, serta cukuplah kasih karunia Allah bagi kesepianmu, maka engkau akan menemukan bahwa kesepian, meskipun menyakitkan, dapat menjadi pintu masuk pemenuhan kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam sepimu.

Referensi :

  • Perlman, D., & Peplau, L. A. (1981). Toward a social psychology of loneliness. In S. Duck & R. Gilmour (Eds.), Personal relationships in disorder (pp. 31-56). Academic Press.
  • Weiss, R. S. (1973). Loneliness: The experience of emotional and social isolation. MIT Press.

*) Salah seorang konselor PKTP Sidoarjo yang melayani di Manado

POKOK DOA

(Juni 2026)

Tahun 2026 telah setengah tahun kita lewati dengan pertolongan dan pimpinan-NYA.. Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran sehubungan dengan perang di Timur Tengah telah ditandatangani pada pertengahan bulan Juni 2026, akan tetapi Amerika Serikat kembali melakukan serangan ke Iran dan hal ini berdampak pada kondisi di negara kita. Kita juga telah memasuki musim kemarau. Di bawah ini ada beberapa pokok doa syukur dan permohonan sebagai berikut :

 

  1. Bersyukur Radio Karina FM di Pematangsiantar telah dikirimi ulang rekaman Telaga tahun 2025 dan telah berhasil diunduh.
  2. Karena keterbatasan dana di Telaga, maka 5 radio yang biasanya dikirimi dana partisipasi (bulan Mei dan Juni 2026) terpaksa ditunda sampai Tuhan mengatur agar ada dana yang cukup.
  3. Doakan agar bila Tuhan kehendaki, ada tambahan rekaman Telaga dalam triwulan ke-3 tahun 2026 ini.
  4. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  5. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri yang jumlahnya cukup banyak dapat bekerjasama dengan baik.
  6. Bersyukur atas penyertaan Tuhan kepada tim Telaga Kehidupan, baik untuk setiap konseling ‘online’ maupun secara tatap muka.
  7. Doakan untuk setiap konselor di Telaga Kehidupan, tim maupun klien yang dilayani agar Tuhan tetap menolong.
  8. Doakan untuk hasil dari tim Telaga Kehidupan yang melayani Camp Remaja yang diadakan pada tanggal 3 – 5 Juli 2026 di Kota Wisata Batu, agar para remaja dari latar belakang ekonomi yang sulit dan beberapa remaja yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis sungguh-sungguh mendapat pencerahan melalui apa yang disampaikan dalam Camp Remaja ini.
  9. Bersyukur Tuhan telah menolong Ev. Sri Wahyuni, sehingga seluruh pelayanan selama bulan Juni 2026 dapat terlaksana dengan baik. Kiranya setiap pelayanan yang telah dilakukan menjadi berkat bagi banyak orang dan semakin memuliakan nama Tuhan.
  10. Telaga Pengharapan berkolaborasi dengan Ruang Pojok Sharing Center untuk mengadakan TikTok Live pada tanggal 10 Juli 2026 dengan tema "Ketika Orang Tua Bertambah Tua". Mohon dukungan doa untuk Sdri. Riana dan Yuni dalam memersiapkan materi, agar Tuhan memberikan hikmat, kelancaran dan penyertaan-Nya. Kiranya edukasi yang disampaikan melalui media ini dapat menjadi berkat, menguatkan dan menjangkau banyak orang.
  11. Tetap tolong doakan untuk kebutuhan rumah kontrak baru sebagai tempat pelayanan Telaga Pengharapan, biarlah Tuhan mengarahkan dan memimpin pada tempat yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan, membuka setiap jalan serta mencukupkan seluruh biaya yang diperlukan pada waktu-NYA.

 

JUDUL – JUDUL REKAMAN TELAGA KATEGORI "DEWASA"


T 032 MEMAHAMI PARA LANJUT USIA / MEMERSIAPKAN DIRI MEMASUKI MASA LANJUT USIA
T 044 MASALAH WANITA PARO-BAYA / TANTANGAN YANG DIHADAPI WANITA PARO-BAYA
T 111 MEMBINA RELASI / MENEGUR DENGAN KASIH
T 198 TATKALA ORANG TUA MENIKAH LAGI / MENGAPA ORANG TUA SEPERTI KANAK-KANAK ?
T 285 KEUNIKAN LAKI – LAKI / LAKI – LAKI IDAMAN ALLAH
T 353 TOPENG PEREMPUAN (A + B)
T 429 KEMESRAAN DI USIA SENJA / MENGAPA ORANG TUA SEPERTI KANAK-KANAK ?
T 511 TANTANGAN BERAT DI HARI TUA / TERJEPIT DI ANTARA DUA ANAK YANG BERTIKAI

 

 

Juni
Jenis Bahan