Pergumulan melewati tragedi ditandai dengan ketidakpastian mengenai penyebabnya, lamanya berlangsungnya, dan kurangnya jawaban langsung dari Tuhan. Proses ini seringkali memicu perasaan bingung, kehilangan harapan, dan keraguan tentang kasih Tuhan. Namun, melalui pengalaman seperti kisah Naomi dan Rut, serta firman Tuhan Yohanes 8:12, terungkap bahwa tragedi dapat ditempatkan dalam rencana Allah yang lebih besar, dan kasih Tuhan tetap konstan, bahkan dapat mengubah pengalaman pahit menjadi manis dan memberikan kesempatan untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam.
- Tragedi
- Kasih Tuhan
- Naomi
- Rut
- Yohanes 8:12
- Rencana Allah
- Kasih
- Ketidakpastian mengenai penyebab dan lamanya tragedi, serta kurangnya jawaban langsung dari Tuhan.
- Perasaan bingung, kehilangan harapan, dan keraguan tentang kasih Tuhan yang sering muncul.
- Kisah Naomi dan Rut menunjukkan bahwa tragedi dapat ditempatkan dalam rencana Allah yang lebih besar.
- Firman Tuhan Yohanes 8:12 menekankan bahwa melalui tragedi, kita dapat mengenal Tuhan secara lebih mendalam.
PERGUMULAN MELEWATI TRAGEDI
Sesiap-siapnya kita menghadapi tragedi, sewaktu tragedi datang, kita tetap tidak siap. Kita akan tetap terhempas dan harus bergumul untuk menghadapinya. Tidak ada jalan pintas untuk melewati tragedi. Jalan itu panjang dan berbatu, dan kita yang melewatinya akan terluka dan tersayat-sayat. Namun di setiap jengkal yang kita lalui, Tuhan akan menyertai kita. Ia akan menuntun sampai kita keluar dengan selamat. Berikut dipaparkan pergumulan yang mesti dilalui tatkala melewati tragedi:
- Tidak adanya penjelasan mengapa tragedi ini mesti terjadi.
Tidak bisa tidak, kita ingin tahu mengapakah tragedi menimpa kita. Sesungguhnya keingintahuan kita bersumber dari reaksi PROTES kita terhadapTuhan, yang kita anggap bertanggungjawab terhadap terjadinya tragedi ini. Kita protes sebab kita merasa tidak seharusnya kita mengalami tragedi ini. Kita berkata, kita telah hidup baik dan berusaha menyenangkanTuhan. Jadi, tidak semestinya Tuhan membiarkan tragedi ini menimpa kita. Kenyataan bahwa tragedi tetap terjadi—walau kita telah hidup benar di hadapan Tuhan—membuat kita BINGUNG DAN TIDAK MENGERTI TUHAN. Seolah-olah kita tidak lagi mengenal Allah yang tadinya kita kenal dengan baik. Sebelum tragedi kita mengenal-Nya sebagai Allah yang baik dan mengasihi kita anak-anak-Nya. Sebelum tragedi kita mengenal Allah sebagai Allah yang melindungi kita dari bahaya dan memberi hanya yang terbaik kepada anak-anak-Nya. Sekarang kita bingung dan tidak mengerti siapakah Allah yang sebenarnya. Mengapakah Ia membiarkan hal yang begitu buruk menimpa kita ? - Tidak adanya kepastian berapa lamakah tragedi ini akan berlangsung.
Ada tragedi yang berlangsung cepat dan ada tragedi yang berlangsung lama. Namun, efek atau akibat dari semua tragedi berlangsung lama. Nah, di dalam pergumulan menghadapi tragedi dan akibatnya, biasanya kita bertanya, "Kapankah kita akan dapat keluar dari penderitaan ini?" Di dalam penantian itulah kadang kita HILANG HARAPAN DAN IMAN. Kita berdoa dan berdoa memohon campur tangan Tuhan tetapi pertolongan tidak kunjung datang. Istri yang sakit tetap sakit; suami yang lumpuh, tetap lumpuh; ayah yang kehilangan pekerjaan, tetap tidak bekerja; ibu yang harus bekerja banting tulang, tetap bekerja banting tulang. Kita menjadi tidak sabar dan di dalam ketidaksabaran kita mulai bimbang dan ragu. ApakahTuhan peduli dan memerhatikan saya? ApakahTuhan sanggup dan mau menolong saya? Dan, jika mau, sampai kapankah saya harus menunggu ? - Tidak adanya jawaban dari Tuhan.
Kita berdoa dan mengharapkan pertolongan, tetapi tidak mendapatkan. Akhirnya, kita berdoa dan mengharapkan jawaban—apa pun—tetapi tidak mendapatkan. C. S. Lewis, seorang penulis, melukiskan perasaannya sewaktu ia berdoa dan berdoa setelah kematian istrinya, seperti mengetuk-ngetuk pintu, tetapi kemudian terdengar suara gembok dikunci dari dalam—bukan sekali, malah dua kali—dan setelah itu, sunyi senyap. Pada saat seperti ini reaksi kita pada umumnya adalah KECEWA DAN SEDIH. Kita merasa sendirian dan ditinggalkanTuhan.

Di dalam Yohanes 8:12, Tuhan Yesus berfirman, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Setidaknya ada dua makna yang terkandung dalam perkataan Tuhan Yesus ini. PERTAMA, oleh karena Ia adalahTerang, maka kita akan melihat dan mengenal-Nya. Di dalam hidup kita akan mengalami banyak hal—menyenangkan dan tidak menyenangkan. Tuhan dapat memakai semua pengalaman itu sebagai kesempatan untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam.
Sebelum anak saya meninggalkan Tuhan, saya sudah tahu bahwa Allah mengasihi kita. Tetapi setelah anak saya meninggalkan Tuhan, barulah saya mengerti bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Saya menemukan bahwa saya tidak dapat marah dan membenci anak saya walaupun ia telah meninggalkan Tuhan dan tidak hidup berkenan di hadapan Tuhan. Saya menemukan bahwa saya hanya dapat kembali mengasihi dia. Lewat pengalaman itu barulah saya mengerti mengapa Tuhan tidak bisa membenci kita anak-anak-Nya. Ia hanya bisa mengasihi dan mengasihi kita. Pelbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi memberi kesempatan kepada kita untuk mengenal Yesus, Terang Dunia, secara lebih pribadi dan mendalam.
Makna KEDUA adalah lewat Yesus, Terang Dunia, kita tidak lagi meraba-raba dalam kegelapan sebab sekarang kita dapat melihat hidup secara jelas dan tepat. Kita tidak memunyai jawaban mengapa tragedi terjadi tetapi kita dapat mengerti tempat dan peran tragedi dalam rencana Allah. Di dalam Kitab Rut dikisahkan kehidupan Naomi, seorang ibu dengan suami dan kedua putranya. Mereka terpaksa mengungsi dari Betlehem ke tanah Moab karena bala kelaparan. Di Moab, suami Naomi meninggal dunia. Kemudian kedua putranya menikah dengan dua wanita Moab. Untuk sejenak kehidupan Naomi membaik, tetapi sayang, situasi baik tidak berlangsung lama. Satu per satu putra Naomi meninggal dunia. Akhirnya Naomi kembali ke Betlehem bersama menantunya, Rut. Sewaktu orang menyapanya, Naomi, ia berkata, "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkan aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosongTuhan memulangkan aku." (Rut 1:20-21) Nama Naomi berarti, menyenangkan, sedang Mara bermakna, pahit. Itu sebab Naomi minta dipanggil Mara.
Naomi sedih karena ia kehilangan semuanya tetapi tragedi ini berada dalam rencana Allah. Akhirnya Rut menikah dengan Boas dan mereka memunyai anak, Obed. Obed menjadi ayah Isai dan Isai menjadi ayah Daud dan Daud menjadi nenek moyang Yesus Juruselamat dunia. Lewat Rut, Allah memerlihatkan kasih-Nya kepada semua bangsa bukan saja Israel dan bahwa rencana keselamatan-Nya adalah untuk semua bangsa di bumi. Dan, lewat Naomi, Allah menunjukkan bahwa Ia sanggup mengubah yang pahit menjadi yang manis. Di akhir hidupnya Naomi memomong anak Rut, Obed, sebagai anaknya sendiri. Naomi tidak tahu bahwa anak yang digendongnya akan menjadi kakek dari Raja Daud.
Oleh Pdt.Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul "MASALAH HIDUP" lainnya di www.telaga.org
PERTANYAAN :
Shalom Bapak/Ibu,
Melalui email ini saya ingin berbagi tentang pergumulan saya, mudah-mudahan Bapak/Ibu dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi saya. Saya seorang pria berusia 41 tahun, sudah bekerja di suatu perusahaan mebel selama 11 tahun. Saat ini perusahaan tersebut sedang mengalami berkurangnya pesanan, sehingga divisi saya tidak ada kegiatan, namun saya masih bekerja meskipun diperbantukan di divisi lain. Keinginan saya perusahaan ini dapat bangkit kembali, namun saya juga ingin pindah kerja atau punya usaha sendiri, karena selama ini saya tidak bisa bekerja secara maksimal. Rencana saya keluar dari perusahaan, kemudian membuka usaha di desa, bertani atau beternak. Sebagai modal yaitu menjual rumah yang sekarang saya tempati, pindah ke desa membeli rumah atau tanah untuk usaha bertani/beternak. Mohon masukan dari Bapak/Ibu tentang rencana saya, apakah langkah yang saya ambil ini benar? Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati kita, semua. Amin.
Salam : DAP
JAWABAN :
Menjumpai Bp. DAP,
Ada dua hal yang harus diperhatikan sebelum Anda pindah pekerjaan, yaitu :
- Sebelum memulai usaha baru, harus diyakinkan atau menyelidiki apakah memang pekerjaan yang baru memunyai prospek yang baik.
- Untuk memulai usaha baru, Anda harus memunyai cadangan untuk biaya hidup sekitar 1 tahun, maksudnya untuk berjaga-jaga seandainya usaha yang baru mengalami kegagalan.
Demikian tanggapan yang dapat kami sampaikan, kiranya dapat menolong Anda. Tuhan memberkati !!
Salam : Tim Pengasuh Program Telaga
BUDAYA ANUGERAH
Ev. Deby Johannis, S.Kom., M.Div. *)
Cancel culture. Pernahkah Anda mendengar istilah itu? Mengutip Merriam-Webster dictionary, Cancel culture mengacu pada penarikan dukungan secara massal dari tokoh masyarakat atau selebritas yang telah melakukan hal-hal yang tidak diterima secara sosial saat ini. Istilah ini pertama kali muncul sekitar tahun 2016/2017 dan belakangan cancel culture tidak hanya diberlakukan untuk publik figur, tetapi juga merek, perusahaan atau konsep.
Fenomena yang masih kontroversial tersebut menjadi bentuk hukuman sosial yang cukup marak di media sosial seperti X (Twitter), Instagram, atau Facebook. Beberapa artis Korea seperti Ji Soo dan Kim Sae Ron pernah mengalaminya. Ketika ada public figure ditemukan bersalah maka dia akan dicap sebagai pribadi yang gagal dan harus dihukum berat. Tidak ada ampun dan tidak ada kesempatan kedua baginya. Dampaknya beberapa dari mereka akhirnya mengalami kehancuran karier, bahkan hingga bunuh diri.

Simon Petrus adalah tokoh di Alkitab yang dapat dikatakan sebagai public figure kontroversial di antara dua belas murid Yesus. Sebagai orang yang kolerik, Petrus menjadi pemimpin di antara mereka dan dalam beberapa momen, dia juga yang paling lantang menentang atau menyangkal peringatan Yesus tentang Mesias yang menderita. Suatu saat, ketika makan Paskah dengan murid-murid-Nya, Yesus yang tahu waktu penyaliban-Nya semakin dekat memeringatkan akan keguncangan iman yang sebentar lagi menimpa mereka. Mendengar itu, tanpa pikir panjang, Petrus berseru dengan yakin, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak" (Mrk. 14:29). Namun hanya dalam beberapa jam, mulutnya terbungkam, nyalinya ciut dan kakinya la