Skip to main content

Terpenting Bukan Membersarkan, Melainkan Menguatkan Anak. Mengapa yang Buruk Malah Menempel, yang Baik Tidak?

BULETIN TELAGA KEHIDUPAN

TERPENTING BUKAN MEMBESARKAN,
MELAINKAN MENGUATKAN ANAK
MENGAPA YANG BURUK MALAH
MENEMPEL, YANG BAIK TIDAK?

Tema di bawah ini dipilih, dalam rangka memeringati "HARI ANAK NASIONAL" (23 Juli 2026)

TERPENTING BUKAN MEMBESARKAN,
MELAINKAN MENGUATKAN ANAK,
MENGAPA YANG BURUK MALAH MENEMPEL, YANG BAIK TIDAK?

Hampir semua orang dapat membesarkan anak. Dengan memberi anak makan yang cukup dan bergizi serta memelihara kesehatan dan menjaga keselamatannya, hampir setiap kita akan dapat membesarkan anak. Namun, tidak semua orang dapat menguatkan anak, dalam pengertian, menumbuhkan ketangguhan pada diri anak sehingga sanggup menghadapi terpaan badai hidup. Berikut beberapa masukan untuk mengembangkan ketangguhan dalam diri anak sehingga bukan saja anak bertumbuh besar, ia pun dapat bertumbuh kuat.

  1. Kita mesti mengurangi kadar kecemasan dalam dirinya ke level minimum.
    Seringkali tanpa disengaja kita menjadi penyuplai kecemasan terbesar dalam diri anak. Maksud saya, karena takut hal buruk menimpa anak, kita menjaganya dengan ketat. Belum sempat anak berbuat apa-apa, kita sudah memberikannya peringatan atau malah menariknya keluar. Masalahnya, bila kita terus memerlakukan anak seperti ini, sesungguhnya kita tengah menanamkan kecemasan di dalam dirinya. Dia akan takut mengambil risiko. Kecemasan adalah rayap yang memakan balok ketangguhan. Makin tinggi tingkat kecemasan, makin besar keinginan untuk menjauh dari risiko bahaya. Untuk menekan kecemasan ke level minimum, akhirnya kita terus menghindar dari situasi yang kita anggap berbahaya. Tidak bisa tidak, kita akan berangsur-angsur menjadi lemah; kemampuan kita menghadapi situasi baru — apalagi tantangan — makin surut. Bukannya menghadapi tantangan, kita cenderung lari atau berlindung di belakang orang lain. Sebagai orang tua penting bagi kita untuk menjaga reaksi supaya tidak cepat panik dan tidak tergesa-gesa menarik anak keluar dari situasi yang mengandung risiko. Sebaliknya, dampingi anak tatkala menghadapi kesulitan; beri dia dorongan dan kekuatan. Ajak dia bertukar-pikiran dan berilah dia waktu untuk mengambil keputusan. Ketenangan kita mengkomunikasikan kepadanya bahwa kita akan sanggup menghadapi tantangan itu dan ini akan membuatnya lebih tenang. Terpenting adalah, pada saat seperti ini kita dapat mendorongnya untuk mengaplikasikan iman. Bukalah Firman Tuhan dan pelajari serta camkan kembali janji Tuhan untuk menyertai kita. Ingatkan anak tentang Daud, Daniel dan tokoh Alkitab lainnya, yang bersandar penuh pada Tuhan dan akhirnya melihat penyelamatan-Nya. Mazmur 121:1-2 mengingatkan, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; darimanakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi." Situasi yang dihadapinya ada dalam tangan Tuhan dan Ia sanggup menolong. Namun, sebagaimana kita alami, tidak selalu Tuhan bertindak secara langsung dan segera. Pada umumnya Tuhan akan bertindak lewat cara yang tak terbayangkan dan dalam waktu-Nya. Menantikan Tuhan adalah keharusan namun dalam penantian inilah kita bertumbuh. Lewat pergumulan iman seperti ini, anak akan mengalami pertumbuhan rohani dan ia akan mengembangkan ketangguhan, baik mental maupun rohani.
  2. Izinkan Anak untuk Gagal.
    Keberhasilan tanpa kegagalan adalah racun yang dapat membuat jiwa sakit. Keberhasilan tanpa kegagalan membuat kita bukan bertambah kuat, tetapi malah bertambah lemah. Keberhasilan tanpa kegagalan membuat kita beranggapan bahwa kita hebat dan sempurna dan ini berbahaya. Sebab, suatu saat kita akan mengalami kegagalan dan pada saat itulah kita disadarkan bahwa kita tidak sehebat dan sesempurna yang kita pikir. Kegagalan adalah semen dan pasir yang diperlukan untuk membangun jiwa yang tangguh. Itu sebab kita mesti rela dan tega untuk membiarkan anak mengalami kegagalan. Itu tidak berarti bahwa kita harus menciptakan skenario dalam hidupnya supaya dia gagal. Tidak! Sebaliknya, seyogianyalah kita memberikan kepadanya masukan untuk menghindar dari kegagalan. Terpenting adalah sewaktu rencananya tidak terwujud, sewaktu apa yang dirintisnya tidak membuahkan hasil, izinkanlah dia kecewa dan frustrasi. Jangan justru marah, seakan-akan kegagalan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi dalam hidupnya. Salah satu hal yang perlu kita tanamkan pada diri anak adalah apa yang seharusnya diperbuat sewaktu usaha kita gagal. Kita dapat mengajarkan bahwa terpenting adalah kita belajar dari kegagalan, kita bangkit kembali dan kita berusaha kembali. Seringkali kegagalan memaksa kita untuk kreatif — untuk tidak menggunakan cara yang sama. Mungkin ada jalan lain yang belum pernah terpikirkan dan kita perlu mencobanya. Atau, mungkin itu saatnya kita mengakui bahwa memang kita tidak mampu dan bahwa kita memerlukan pertolongan. Mazmur 91:6 mengingatkan, "Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu." Tuhan memakai kegagalan; Ia memasukkan kegagalan ke dalam kurikulum pendidikan-Nya. Tuhan mengizinkan kegagalan terjadi dalam hidup Daud dan Petrus untuk menyadarkan mereka akan keterbatasan dan kelemahan mereka. Kegagalan membuat mereka belajar untuk lebih bersandar pada kekuatan Tuhan dan menjadikan mereka alat yang tangguh di tangan Tuhan yang penuh kasih karunia. Jadi, sekali lagi, izinkan anak mengalami kegagalan sebab kegagalan adalah jalan menuju ketangguhan.
  3. Biarkanlah anak belajar untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat menyenangkan semua orang.
    Sudah tentu kita harus berusaha berdamai dengan semua orang dan berupaya menjadikan relasi dengan sesama sebagai relasi yang positif dan menyenangkan. Kita tidak mau anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli dengan orang dan tidak menghiraukan perasaan orang sama sekali. Namun, kita pun ingin anak menyadari bahwa pada akhirnya ia akan harus memilih apa yang baik dan benar, bukan apa yang sedap dan manis. Pada waktu kita memilih apa yang baik dan benar, kita menyusahkan orang, bukan menyenangkan orang; dan ini biasanya berujung pada penolakan. Penolakan menyakitkan. Kecenderungan kita adalah menyenangkan hati orang agar tidak ditolak.Tetapi, sebagaimana kita ketahui, kadang orang menolak kita. Nah, kesanggupan kita menerima penolakan dan tidak membiarkan penolakan menghancurkan diri kita adalah jalan menuju ketangguhan. Berkali-kali Tuhan Kita Yesus mengalami penolakan, tetapi Ia jalan terus, Ia tidak berhenti. Ia mengerti bahwa akan ada yang menerima-Nya tetapi akan ada pula orang yang menolak-Nya. Yohanes 1:11 menjelaskan, "Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya." Kita hanya dapat menerima penolakan dari manusia bila kita tahu bahwa kita telah menerima penerimaan dari Tuhan. Jadi, inilah yang mesti kita tanamkan pada anak: Terpenting adalah ia tahu bahwa apa yang diperbuatnya benar di hadapan Tuhan dan bahwa Tuhan menerimanya. Lebih baik diterima oleh Tuhan namun ditolak manusia daripada diterima oleh manusia tetapi ditolak oleh Tuhan. Dengan kata lain, kita hanya dapat menerima penolakan bila kita memunyai prioritas hidup yang benar. Ini yang mesti kita tanamkan pada anak.
  4. Sejak kecil arahkan anak untuk menjadikan Tuhan sumber kekuatannya, sebagai dasar kepercayaan dirinya.
    Biarlah ia menyadari bahwa sesungguhnya ia tidak memunyai apa-apa dan bahwa kekuatan yang dimilikinya adalah terbatas dan sementara. Amsal 3:5-6 mengingatkan, "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan." Kesombongan tidak membuat kita tangguh; sebaliknya, kesombongan membuat kita kecolongan. Bila kita bersandar pada pengertian sendiri dan menganggap diri orang yang paling bijak di dunia, maka tinggal tunggu waktu, kita akan kecolongan. Akan ada sesuatu yang terjadi yang membuat kita terantuk dan jatuh. Sebaliknya, jika kita bersandar pada kekuatan Tuhan, kita akan kuat sebab sumber kekuatan kita bukanlah pada diri sendiri melainkan pada Tuhan. Dan, kekuatan Tuhan tak terbatas. Sebagai orang tua, tugas kita bukanlah hanya membesarkan anak, tetapi juga menguatkan anak, memersiapkan mereka menjadi pribadi yang tangguh. Kita lakukan tugas dan bagian kita, Tuhan akan melakukan tugas dan bagian-Nya.

Tuhan tidak menempatkan kita di keluarga yang sempurna. Sama seperti kita, orang tua adalah orang berdosa; di samping kekuatan, mereka pun memiliki kelemahan. Idealnya kita memetik hal-hal yang baik dan membuang hal-hal yang tidak baik yang kita temukan pada orang tua. Sayang, itu tidak kita lakukan; kebanyakan kita malah mewarisi sifat dan kelakuan yang buruk yang ada pada orang tua. Mungkin kita bertanya-tanya, "Mengapa demikian?" Kita bingung sebab sesungguhnya kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, kita tidak mengerti mengapa hal yang tidak kita sukai, itu yang malah kita serap. Sesungguhnya yang baik dan yang buruk, sama-sama berpotensi menempel. Berapa banyak yang menempel bergantung pada beberapa faktor. Berikut akan dipaparkan penjelasan mengapa yang buruk menempel sedang yang baik, tidak.

  1. Faktor kedekatan.
    Bila kita memiliki kedekatan dengan orang tua yang memunyai sifat yang buruk, maka kita cenderung lebih menerima dirinya apa adanya, termasuk kelemahannya. Nah, tidak bisa tidak, kita pun akan lebih terbuka untuk menerima hal yang buruk itu dan mengintegrasikannya menjadi bagian diri kita. Sebagai contoh, bila seorang anak laki dekat dengan ayahnya, yang kebetulan memunyai kelemahan dalam hal wanita, maka besar kemungkinan setelah besar, bukan saja ia lebih menoleransi perbuatan selingkuh orang, ia pun berpotensi melakukan perbuatan yang sama, kendati ia tahu betapa menderitanya ibunya dikhianati oleh ayahnya. Begitu pula dengan hal yang positif. Makin dekat kita dengan orang tua yang memunyai hal yang baik pada dirinya, makin besar kemungkinan kita akan menyerap hal yang baik itu. Sebaliknya, makin jauh hubungan kita dengan orang tua yang memiliki hal yang baik itu, makin sedikit yang baik darinya akan menempel pada diri kita. Sebagai contoh, jika orang tua kita adalah orang yang pemurah dan kita dekat dengannya, besar kemungkinan kita akan mewarisi sifat pemurah itu. Sebaliknya, jika orang tua tidak dekat dengan kita, besar kemungkinan sifat pemurah itu tidak melekat pada diri kita.
  2. Faktor pengalaman pribadi dengan orang tua yang bersangkutan.
    Misalkan, gara-gara ayah sering berselingkuh, ibu sering berkeluh kesah kepada kita dan ini akhirnya bukan saja menyusahkan hati kita, tetapi juga membuat hidup kita penuh kegetiran. Nah, biasanya setelah besar kita akan mengembangkan sikap yang tidak suka, bukan saja dengan ayah yang melukai ibu, tetapi juga dengan semua orang yang tidak setia kepada pasangannya. Dengan kata lain, makin negatif pengalaman yang mesti ditanggung akibat hal yang buruk dari orang tua, makin kecil kemungkinan hal yang buruk itu menempel pada diri kita. Begitu pula dengan hal yang baik. Makin positif pengalaman kita akibat hal yang baik dari orang tua, makin besar kemungkinan hal yang baik itu akan menempel. Sebaliknya, makin negatif pengalaman kita karena hal yang baik dari orang tua, makin kecil kemungkinan hal yang baik itu akan menempel pada diri kita. Mungkin contoh berikut ini dapat membantu. Bila kita menikmati pengalaman positif akibat sifat orang tua yang pemurah, maka besar kemungkinan kita akan mengadopsi sifat pemurah itu. Sebaliknya, bila pengalaman kita justru buruk gara-gara orang tua pemurah, maka besar kemungkinan kita tidak akan mewarisi sifat pemurah itu. Misalkan, gara-gara orang tua pemurah, maka berkali-kali mereka ditipu atau setidaknya, dimanfaatkan orang. Sebagai akibatnya, beberapa kali keluarga jatuh bangkrut dan harus menderita. Nah, pengalaman buruk ini akhirnya membuat kita berbalik arah: Kita menjadi orang yang tidak pemurah.
  3. Faktor pembelajaran.
    Meski kita tidak menyukai sifat orang tua yang buruk, namun bila kita terus melihatnya, tanpa disadari kita akan memelajarinya dan menjadikannya bagian dari hidup kita. Singkat kata, kita tetap menyerap hal-hal yang buruk yang kita lihat, walau sesungguhnya kita tidak mau dan tidak suka, sebab otak kita telanjur mencatatnya. Misalkan, sewaktu bertengkar orang tua sering membanting barang, baik itu pintu maupun piring. Nah, kendati kita tegang dan takut tatkala menyaksikannya, namun karena terlalu sering kita menjadi saksi mata pertengkaran mereka, akhirnya terekamlah adegan itu di otak. Setelah dewasa dan menikah, bertengkar dengan pasangan, tiba-tiba tanpa direncanakan sebelumnya, kita membanting barang-barang di sekitar. Yang terjadi adalah pada saat bertengkar, memori yang terekam di otak sekonyong-konyong dihidupkan dan melahirkan tindakan yang sama seperti di rekaman yakni membanting barang. Di dalam keluarga bermasalah, pertengkaran adalah menu sehari-hari. Itu sebab, walau ada hal baik yang dilakukan dan dimiliki orang tua, hal yang baik itu akhirnya tenggelam di dalam kolam perselisihan. Tidak heran, bila kita dibesarkan dalam keluarga di mana orang tua kerap bertengkar, kita lebih banyak menyerap hal-hal yang buruk ketimbang hal-hal yang baik dari orang tua.
  4. Faktor seberapa tersedianya pilihan lain di luar rumah.
    Makin tersedia kesempatan untuk memelajari hal-hal yang baik di luar rumah, makin besar kemungkinan hal-hal yang buruk yang kita pelajari di rumah mengalami penyusutan. Sebaliknya, makin terbatas kesempatan memelajari pilihan lain yang positif, makin bertahan hal-hal yang buruk itu. Jadi, kita yang terbiasa melihat ayah dan ibu berteriak sewaktu bertengkar, tetapi kemudian bergaul akrab dengan teman-teman yang menyelesaikan pertengkaran tanpa berteriak, pada akhirnya meninggalkan kebiasaan yang buruk itu. Firman Tuhan di Amsal 19:8 memberi kita nasihat, "Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan." Firman Tuhan sarat dengan hikmat, jadi, belajarlah hikmat dari FirmanTuhan. Hikmat Tuhan akan mengikis hal buruk yang tertanam dalam diri kita.

Ringkasan T541A+B
Oleh : Pdt.Dr.Paul Gunadi
Simak judul-judul lainnya seputar kategori "ANAK" di
www.telaga.org

PERTANYAAN

Ada beberapa pertanyaan mengenai kehidupan seorang istri yang melakukan perselingkuhan dan pada akhirnya si suami mengetahui perbuatan si istri. Perlu diketahui bahwa perselingkuhan itu terjadi karena ketertarikan si istri itu kepada laki-laki yang bukan suaminya, karena mungkin laki-laki itu lebih cakap dan secara ekonomi kehidupannya lebih baik dari suaminya (boleh dibilang si istri lebih pro-aktif mengejar si laki-laki itu sampai mereka berhubungan fisik (seks) berminggu-minggu.

Pertanyaannya:

  1. Si istri itu sudah punya anak dari suami resminya namun mereka belum menikah di gereja. Karena perbuatan si istri yang telah berhubungan seks dengan laki-laki lain, apakah si laki-laki suaminya itu dapat menceraikan istrinya? Menurut Firman Tuhan, salahkah si laki-laki suaminya itu dapat menceraikan istrinya yang notabene belum menikah di gereja?
  2. Menceraikan disini berarti bahwa si suami itu juga akan lepas tanggungjawab terhadap anak mereka (mereka memunyai seorang anak laki-laki yang masih berumur 1 tahun).
  3. Orang tua dari si wanita yang berselingkuh juga sudah mengetahui perbuatan anaknya, tetapi karena merasa malu dan sebagainya, orang tua si wanita itu berusaha untuk menutupinya dan tidak pernah ada penyelesaian. Lalu apa yang harus dilakukan oleh laki-laki yang menjadi suaminya itu?
  4. Satu permintaan dari suaminya terhadap istri yang berselingkuh dan orang tuanya, bahwa dia ingin masalah itu diselesaikan dengan laki-laki selingkuhannya, misalnya secara adat laki-laki itu harus diberi sanksi dan minta maaf secara langsung kepada si suami, anaknya dan keluarganya, tetapi permintaan itu tidak dilakukan oleh orang tua si perempuan itu. Apakah yang harus dilakukan oleh si suami itu selanjutnya? Salahkah si suami ini meninggalkan istri dan anaknya secara diam-diam dan pergi jauh (misalnya merantau ke negara lain)?

Terima kasih dan saya menanti jawaban dari pertanyaan tersebut.

Teriring salam dan doa,

TMT

JAWABAN:

Bapak TMT yang dikasihi Tuhan,

Terima kasih sudah menghubungi kami dan mengutarakan pergumulan seorang suami yang dikhianati oleh istrinya. Memang sangat menyakitkan ketika mendapati pasangan yang sangat dicintai itu berselingkuh dengan orang lain.Baik suami atau istri akan merasa kecewa, marah, jengkel, benci dan lain-lain ketika kesetiaannya dibalas dengan pengkhianatan.

Demikian juga perasaan yang berkecamuk dalam benak sang suami yang cintanya dikhianati oleh istrinya. Layak bagi sang suami untuk memberikan berbagai macam label negatif bagi istri yang sudah berselingkuh itu. Demikian juga layak bagi sang suami untuk memberikan berbagai sanksi terhadap istri yang sudah tidak setia itu, mulai dari menyuruhnya meminta maaf, meninggalkannya secara diam-diam atau bahkan menceraikannya. Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa perceraian diizinkan jika salah satu pasangan berbuah zinah (Matius 5:32, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah").

Namun sebelum sang suami memberikan berbagai label negatif dan sanksi terhadap istri yang telah berzinah, mari kita memertimbangkannya dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini.

Pertama, "Adakah andilku sebagai suami atas ketidaksetiaan istriku itu?" Memang perbuatannya telah menginjak-injak harga diri sang suami. Apalagi kalau ketertarikan itu diduga berdasarkan pada "lebih ganteng" atau "lebih kaya". Perbuatannya memang sangat menjijikkan dan tidak pantas untuk dicintai lagi, tetapi mari kita memposisikan pada pihak istri yang sudah bersalah itu sambil bertanya kembali, "Adakah andilku sehingga istri berbuat zinah dengan orang lain? Adakah kesalahanku sehingga istriku berzinah?"

Kedua, "Kalau saya ada di pihak dia, mungkinkah saya juga melakukan hal yang sama?" Seorang istri yang sudah berzinah memang pantas untuk kita beri label sebagai "pengkhianat", "tidak pantas untuk dicintai: dan pantas juga untuk kita campakkan. Tetapi coba renungkan dalam hati, jika sang suami ada di pihak istri, apakah sang suami juga bisa berbuat hal yang sama?

Selanjutnya, walaupun pernikahan itu tidak dilakukan di gereja, tetapi jika pernikahan itu telah disahkan oleh pemerintah melalui Catatan Sipil, maka pernikahan itu salah sah dan berlaku ketentuan Tuhan, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu,apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia," (Matius 19:6).

Demikian tanggapan yang dapat kami berikan, kiranya pertimbangan pertimbangan di atas menolong sang suami yang dikhianati.

Salam dan doa,

Pdt. Didi Darsono

JUDUL – JUDUL REKAMAN TELAGA
KATEGORI "ORANG TUA dan ANAK"

T 075 Membantu Anak yang Takut Sekolah / Menjadi Sahabat Buat Anak
T 083 Membantu Anak Mengelola Kemarahan / Membantu Anak yang Cemburu
T 105 Membantu Anak Bergaul / Anak dan Temannya
T 109 Rasa Bersalah Orang Tua / Perilaku Manipulatif Anak
T 207 Mengapa Anak Bersikap Negatif? I + II
T 295 Konflik Orang Tua dan Pemberontakan Anak / Ketidakadilan dan Pemberontakan Anak
T 396 Peranan Ayah dalam Pembinaan Anak / Perhatian Orang Tua terhadap Anak
T 415 Tatkala Orang Tua Menikah Kembali / Menjadi Orang Tua Tiri
T 421 Tanggungjawab Anak terhadap Orang Tua / Anak yang Tidak Ingat Budi
T 542 Mengapa Anakku Mudah Iri? / Mengembangkan Belas Kasihan pada Anak
T 551 Iman Anak: Tanggungjawab Siapakah? / Komersialisasi Anak

 

JELI MELIHAT PELUANG

Oleh: Bp. Ev. Sudarmadji, M.Th. *)

Sepulang kembali ke tanah air setelah hampir empat tahun di negeri orang, saya harus melakukan adaptasi lagi, misalnya dalam hal berkendara. Saya harus kembali menyesuaikan diri dengan aturan mengemudi yang mesti berada di lajur kiri. Tentu saja adaptasi tersebut tidak terlalu sulit. Karena itu, dalam beberapa jam saja saya sudah dapat mengikuti ritmenya.

Ada satu hal yang menjadi perhatian saya saat berkendara, meskipun sebenarnya hal tersebut bukan sesuatu yang baru, yakni harus menyiapkan uang receh. Mengapa? Di setiap tikungan, pertigaan, perempatan, u-turn, hampir selalu ada orang berdiri di situ yang seolah berperan sebagai kepanjangan tangan polisi, untuk mengatur lalu lintas. Mereka sering disebut: Polisi Cepek. Atas jasa ‘polisi cepek’ ini tidak ada tarif tertentu. Mereka menerima berapa pun uang yang diberikan oleh pengendara jalan, yang biasanya berkisar antara lima ratus hingga dua ribu rupiah. Jika beruntung mungkin ada yang menyodorkan lima ribuan. Akan tetapi, tidak semua pengendara memberikan uang kepada mereka. Pemandangan seperti itu tidak pernah saya jumpai di negeri dari mana saya baru tiba bulan lalu.

Jam enam pagi saat saya pergi keluar, mereka sudah ada di jalan, dan saat tengah malam keberadaan mereka masih dapat kita lihat. Bagi mereka, jalan adalah tempat mengais rezeki dan di sanalah mereka "berkantor". Saya tidak pernah tahu berapa banyak uang yang mereka hasilkan dari pekerjaan tersebut, namun melihat keberadaan mereka setiap hari di "kantornya" meyakinkan saya bahwa pendapatan mereka pada taraf tertentu, mungkin cukup baik sehingga mereka tidak ada niatan untuk meninggalkannya.

Saat ini, melihat orang-orang tersebut, membuat saya berpikir bahwa mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang dapat membaca dan memanfaatkan peluang. Jalan, yang sesungguhnya adalah tempat berbahaya, namun bagi mereka dapat menjadi tambang yang berharga. Berjibaku dengan sengatan matahari siang, mereka mengumpulkan setiap keping rupiah untuk menunjang kehidupan pribadi dan mungkin keluarga juga. Syukur-syukur bisa ada sedikit tabungan atau untuk nyicil motor.

Bagian yang ingin saya cermati adalah kejelian orang-orang dunia dalam melihat peluang. Mereka dapat memanfaatkan jalan, lokasi yang tidak ideal untuk bekerja, bahkan cenderung berbahaya, sebagai sumber rezeki dan tempat memeroleh penghasilan. Mereka berani menempuh risiko hanya untuk mendapatkan uang receh, yang disodorkan pengguna jalan yang merasa terbantu atau sekadar menaruh iba.

Kita sebagai orang percaya, mungkin sudah akrab dengan perintah ini: "Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga." Nah, berkaca pada mereka yang dapat mengumpulkan "harta" dari jalanan, kita perlu bertanya dari mana kita harus mengumpulkan harta kita. Tentu kita semua tahu bahwa yang dimaksud dengan harta dalam ayat tersebut bukanlah uang atau materi, melainkan hal-hal yang berkenan di hadapan Allah.

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah mata rohani kita cukup jeli untuk melihat peluang yang ada agar pundi-pundi harta surgawi kita semakin bertambah? Sebenarnya peluang itu selalu ada di depan mata, hanya saja kita sering melewatkannya dan kurang peka dalam menyikapinya. Atau bisa jadi kesempatan tersebut berbenturan dengan rasa nyaman kita sehingga membuat kita enggan meraihnya.

Tampaknya kita harus mulai membuka mata dan hati selebar-lebarnya. Mungkin saja ketika kita melihat orang lain membutuhkan bantuan, dipertemukan dengan orang baru, berada di tempat tertentu, ada kesempatan untuk memengaruhi hidup orang lain, semua itu adalah peluang yang Tuhan berikan agar kita menangkapnya. Yang perlu disiapkan adalah kepekaan hati, kesiapan untuk sedikit repot dan kesediaan untuk mengambil risiko. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo

Kutipan dari buku "Selamat Berjuang" karangan Andar Ismail

Anak Korban Perceraian

Yang sangat ditakuti ternyata terjadi. Pernikahan berakhir dengan perceraian. Apakah suami ataukah istri yang paling menderita luka batin? Semuanya menderita, namun yang paling menderita bukanlah suami dan bukan pula istri, melainkan anak.

Reaksi pertama pada anak adalah perasaan bersalah. Ia memersalahkan dirinya, padahal ia sama sekali tidak bersalah. Ia merasa bahwa dirinyalah penyebab terjadinya perceraian. "Gara-gara aku sering keras kepala, kini ayah dan ibu bercerai". Itulah pola pikir anak kecil.

Serempak timbul perasaan takut yang dalam. "Kini ayah meninggalkan aku, mungkin nanti ibu juga akan pergi meninggalkan aku. Bagaimana aku bisa hidup?" Siang dan malam anak itu dicekam perasaan takut.

Luka yang lebih perih lagi adalah bahwa anak ini merasa diabaikan, ditolak dan tidak disukai. "Ayah pergi karena aku ini jelek dan jahat. Ayah tidak senang padaku. Ayah masa bodoh padaku, oleh sebab itu ia pergi meninggalkan aku". Anak akan berpikir lebih lanjut, "Ibu sekarang sering bingung dan gampang marah. Ibu jadi tegang dan sibuk. Mungkin ibu juga sudah tidak sayang lagi padaku".

Perasaan-perasaan itu sangat berat bagi seorang anak. Akibatnya jiwanya mulai terganggu. Daya konsentrasinya langsung merosot. Di kelas ia hampir tidak dapat menyimak pelajaran. Berkali-kali ia ditegur oleh guru. Anak ini kini jadi gampang tersinggung. Akibatnya, beberapa teman mulai menjauhi dia. Di sekolah ia merasa kesepian, apalagi di rumah. Bukan mustahil ia jadi kehilangan minat apa pun. Ia hanya menyendiri dan meratapi diri.

Gejolak perasaan-perasaan itu terangkum dalam satu kata, yaitu disorientasi. Artinya, kehilangan arah dan tidak punya pegangan. Anak ini jadi bingung, gelisah dan takut.

Yesus mengenal sebuah peribahasa yang menggambarkan keadaan disorientasi ini. Peribahasa itu berbunyi, "Seperti domba yang tidak bergembala". Peribahasa itu digunakan sebagai ungkapan oleh beberapa penulis Perjanjian Lama, misalnya di dalam Bilangan 27:17; 1 Raja-raja 22:17; Yehezkiel 34:5 dan Zakharia 10:2. Agaknya peribahasa itu diucapkan oeh Yesus kepada para rasul-Nya ketika Ia merasa iba melihat orang-orang di suatu desa di Galilea. Oleh sebab itu, seorang rasul menulis, "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Mat. 9:36).

Seorang anak korban perceraian mengalami disorientasi seperti domba yang tidak bergembala. Orang yang paling dapat menolong anak dari krisis disorientasi ini adalah ayah dan ibunya. Memang mereka sudah berpisah, namun bagi si anak mereka bukan mantan ayah dan mantan ibu, melainkan tetap ayahnya dan ibunya.

Bentuk pertolongan pertama adalah sikap tidak menjelekkan mantan suami atau mantan istri kita di depan anak. Menyuruh anak membenci ayahnya atau membenci ibunya akan membuat keadaan lebih rumit. Sekian tahun kemudian suruhan kita itu malah akan berbalik seperti bumerang. Anak yang kita suruh membenci seseorang kelak akan mudah berbalik membenci kita.

Pertolongan berikutnya adalah menunjukkan dengan perkataan dan terutama dengan sikap nyata bahwa walaupun keluarga ini telah pecah, namun kita tetap mencintai anak. Katakan dengan jelas bahwa perceraian ini terjadi karena ayah dan ibu tidak mampu menemukan jalan keluar dari perceraian. Jelaskan bahwa ayah dan ibu tidak saling mencintai lagi, namun bahwa baik ayah maupun ibu tetap mencintai anak. Akui dengan jujur di depan anak bahwa perceraian ini adalah akibat kesalahan kausal ayah dan ibu. Tegaskan bahwa perceraian ini sama sekali bukan akibat kesalahan anak.

Anak korban perceraian tergoncang jiwanya. Ia menderita. Ia butuh pertolongan ayah dan ibu. Tetapi justru inilah yang sulit, sebab ayah dan ibu juga sedang tergoncang jiwanya. Ayah dan ibu juga sedang menderita, yaitu merasa hidup ini gagal. Ayah dan ibunya sendiri sedang terkurung dalam rasa marah, benci dan sakit hati. Ayah dan ibunya sendiri pun sedang bingung, kehilangan pegangan dan kehilangan arah, yaitu disorientasi.

Dalam jangka pendek perceraian memang mengatasi satu atau dua persoalan, namun sesudah itu justru akan timbul banyak persoalan baru yang lebih rumit. Adalah naif untuk beranggapan bahwa perceraian merupakan jalan keluar. Lari dari mulut harimau, jatuh ke dalam mulut buaya. Oleh sebab itu, Kristus bersabda, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Mat. 19:6).

Semua pihak menderita bila terjadi perceraian. Suami-istri terluka batinnya. Orang tua kedua belah pihak merasa terpukul. Belum lagi kerabat dan sahabat. Tetapi, yang paling menjadi korban adalah anak-anak.

Tentu saja jika anak sudah dewasa ia akan mengerti duduk persoalannya. Ia akan tahu bahwa hubungan antar-orang dewasa adalah rumit. Ia akan tahu bahwa perceraian itu bukan akibat kesalahannya. Ia akan paham bahwa sebetulnya ayah dan ibunya mencintai dia. Melalui pergaulan dalam komunitas yang memunyai pengertian dan memberi dukungan, anak korban perceraian tentu dapat pulih dari luka-luka batinnya. Ia akan menikah dan berumah tangga secara wajar, bahkan ia lebih menyadari betapa pentingnya suami-istri berusaha untuk serasi dan selaras. Tetapi, bisa dimengerti bahwa luka-luka itu mungkin masih akan membekas seumur hidup.

POKOK DOA

Juli (2026)

Tahun 2026 telah tujuh bulan kita lewati dengan pertolongan dan pimpinan-NYA. Kita juga sementara menikmati musim kemarau, namun di beberapa daerah musim kemarau membawa dampak yang cukup memrihatinkan. Di bawah ini ada beberapa pokok doa syukur dan permohonan sebagai berikut :

  1. Karena keterbatasan dana di Telaga, maka 5 radio yang biasanya dikirimi dana partisipasi (bulan Mei dan Juni 2026) terpaksa ditunda sampai Tuhan mengatur agar ada dana yang cukup.
  2. Doakan agar bila Tuhan kehendaki, ada tambahan rekaman Telaga dalam triwulan ke-3 tahun 2026 ini.
  3. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  4. Kita doakan untuk keluarga besar dari Ibu Meilinda Gunawan, Tuhan sudah memanggil pulang Mama yang dikasihi, Ibu Lanny Wijaya (Go Sioen Lan) pada tanggal 29 Juli 2026 (usia 93 tahun). Jenazah akan dimakamkan di Makam Tumpang – Kebonsari pada tanggal 1 Agustus 2026.
  5. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri yang jumlahnya cukup banyak dapat bekerjasama dengan baik, khususnya memasuki bulan Agustus 2026 yang dikenal dengan bulan Merah Putih.
  6. Doakan untuk masyarakat di beberapa daerah dimana pada musim kemarau ini mereka harus menempuh perjalanan 2 sampai 5 km. untuk mendapatkan air bersih.
  7. Bersyukur atas penyertaan Tuhan pada setiap pelayanan Telaga Kehidupan, berdoa agar Tuhan terus memimpin setiap konselor dan tim Telaga Kehidupan.
  8. Doakan untuk pelayanan Telaga Kehidupan pada tanggal 15 Agustus 2026, yaitu Seminar untuk remaja di New Life Church Surabaya, kiranya Tuhan menuntun dan menolong supaya acara berjalan baik dan banyak remaja diberkati.
  9. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas setiap kesempatan dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada Pusat Konseling Telaga Pengharapan untuk melayani-Nya. Memasuki bulan Agustus 2026, kami mengajak Bapak, Ibu dan Saudara/I untuk turut mendoakan beberapa Pokok Doa sebagai berikut :
    1. Kolaborasi antara Ruang Pojok Sharing Center dan Telaga Pengharapan yang sempat tertunda dan dijadwalkan kembali pada tanggal 7 Agustus 2026 dengan tema "Stres di Tempat Kerja", melalui Live Streaming TikTok. Kiranya Tuhan memimpin setiap persiapan yang dilakukan oleh Sdri. Riana dan Ev. Sri Wahyuni sehingga melalui edukasi di media sosial ini semakin banyak orang memeroleh wawasan dan diberkati.
    2. Pada tanggal 10 Agustus 2026, Ev. Sri Wahyuni mendapat kesempatan untuk membawakan materi "Soul Care" dalam Persekutuan Alumni Aletheia dan hamba Tuhan GKT wilayah 4. Kiranya Tuhan memberikan hikmat, sehingga materi yang disampaikan dapat menjadi berkat.
    3. Sahabat Seperjalanan akan mengadakan Retreat Sun Paper Source di Bromo pada tanggal 12 – 14 Agustus 2026. Ev. Sri Wahyuni, konselor Telaga Pengharapan mendapat kesempatan menjadi salah seorang fasilitator dalam retreat ini. Doakan kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada setiap pembicara dan fasilitator serta memakai retreat ini untuk menyegarkan, memulihkan dan menguatkan setiap peserta.
    4. Setitik Cahaya akan mengadakan kelas konseling bertajuk "Diri yang Diabaikan" pada tanggal 25 Agustus 2026. Ev. Sri Wahyuni, konselor Telaga Pengharapan akan membawakan materi "Boundaries", kiranya Tuhan memberi hikmat, sehingga materi yang disampaikan dapat menjadi berkat dan menolong setiap peserta memahami pentingnya membangun batasan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Juli
Jenis Bahan