Karakter/Kepribadian

Sikap Dominan Dalam Keluarga

Seringkali orang mengaitkan sifat dominan dengan salah satu jenis kepribadian, namun faktanya sifat dominan bisa menghinggapi semua jenis kepribadian, entah itu kepribadian kolerik, melankolik, sanguin, dan flegmatik. Sifat dominan tidaklah salah, yang membuat salah adalah jika sifat dominan itu sendiri melemahkan sifat orang lain sehingga orang lain menjadi bergantung kepadanya dan yang yang di dekatnya tidak bisa mandiri. Jika sifat dominan itu ada pada kita, apa yang harus dilakukan? Agar sifat dominan itu bisa menjadi berkat bagi orang lain dan diri kita sendiri, disini akan diulas secara jelas.

Kepribadian Dominan

Pada umumnya tatkala mendengar kata, dominan, kita membayangkan sebuah gambar manusia yang berbuat seenaknya tanpa memerhatikan perasaan dan kepentingan sesama. Sebetulnya kata dominan tidak harus berkonotasi seburuk itu. Apakah Anda termasuk orang dalam abstrak dominan? Jika ya, di sini akan dijelaskan mengenai kelamahan dan kelebihannya sehingga Anda bisa menempatkan diri dengan benar.

Apa Adanya

Seringkali kalau kita berhadapan dengan seseorang atau sekelompok orang, kita berusaha untuk mencitrakan atau menampilkan hal-hal terbaik di dalam diri kita dan berusaha menutupi hal-hal yang kurang baik dalam diri kita supaya orang memandang kita orang yang baik dan saleh, tapi di hadapan Tuhan kita tidak bisa berpura-pura seperti itu. Demikian juga dengan dosa, kita harus mengakui dosa kita dan harus datang kepada Tuhan apa adanya. Sikap apa adanya ini bisa kita pelajari dari kehidupan Yunus.

Transformasi Karakter

Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Yang merupakan hasil dari penyerahan hidup kepada Tuhan.

Nurani : Terhilang Atau Tercemar ?

Kadang kita mendengar cetusan, “Orang itu sudah tidak berhati nurani !” Biasanya cetusan ini keluar sebagai reaksi terhadap perbuatan yang sungguh keji atau buruk. Namun demikian apakah benar bahwa kita bisa kehilangan nurani ? Jika kita menjawab, “tidak”, masalahnya adalah, mengapakah orang sanggup melakukan perbuatan yang keji ? Bukankah kehadiran nurani seharusnya dapat menghentikan perbuatan yang keji itu. Disini akan dibahas apakah memang benar nurani dapat terhilang dan jika tidak, apakah yang sesungguhnya terjadi ?

Kata Hati

Salah satu misteri dalam hidup adalah hadirnya "suara" di dalam lubuk hati terdalam yang "bukan bagian dari diri sendiri." Dikatakan, "bukan bagian dari diri sendiri" sebab bukankah acap kali "suara" ini meminta kita melakukan sesuatu yang bukan saja TIDAK kita pikirkan sebelumnya, tetapi juga, TIDAK kita inginkan. Karena itu adakalanya kita berusaha melarikan diri dari "suara" ini. Atau setidaknya, kita berusaha mengalihkan perhatian sehingga tidak lagi berkesempatan mendengarkan "suara" ini. Namun, apa pun yang kita perbuat, satu hal yang TIDAK dapat kita lakukan adalah membungkam "suara" ini. "Suara" itu tetap berkata-kata—tidak peduli didengarkan atau tidak. Suara ini adalah kata hati atau nurani.

Ketika Anak Terkena Skizofrenia 2

Memiliki anak yang berbeda dari anak-anak lainnya, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika anak terkena skizofrenia, itu menjadi guncangan berat bagi para orang tua. Oleh karena itu di sini kita akan mengenal lebih jauh mengenai skizofrenia dan bagaimana untuk bisa menolong anak yang terkena skizofrenia.

Ketika Anak Terkena Skizofrenia 1

Memiliki anak yang berbeda dari anak-anak lainnya, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika anak terkena skizofrenia, itu menjadi guncangan berat bagi para orang tua. Oleh karena itu di sini kita akan mengenal lebih jauh mengenai skizofrenia dan bagaimana untuk bisa menolong anak yang terkena skizofrenia.

Kepribadian Dominan

Pada umumnya tatkala mendengar kata, “dominan,” kita membayangkan sebuah gambar manusia yang berbuat seenaknya tanpa memerhatikan perasaan dan kepentingan sesama. Sebetulnya kata dominan tidak harus berkonotasi seburuk itu. Apakah Anda termasuk orang dalam kategori dominan? Jika ya, di sini akan dijelaskan mengenai kelemahan dan kelebihannya sehingga Anda bisa menempatkan diri dengan benar.

Kesengsaraan dan Karakter II

Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan—sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif. Namun sebuah karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Ada 6 hal yang akan diuraikan untuk proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.

Halaman

Berlangganan RSS - Karakter/Kepribadian