Keluarga Sambung

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T492B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Salah satu hal yang tak diharapkan yang kadang menimpa adalah kematian suami atau istri. Bukan saja kita harus siap menghadapi kesedihan dan hidup dalam kesendirian, kita pun mesti siap merawat dan membesarkan anak—sendirian. Berbahagialah kita yang bertemu dengan seseorang yang mengasihi kita dan anak-anak kita; bersamanya kita dapat “menyambung” hidup berkeluarga. Namun itu tidak berarti bahwa hidup akan lancar. Berikut akan dipaparkan beberapa tantangan yang mesti dihadapi dan masukan bagaimana mengatasinya.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Hidup tidak sempurna. Kadang hal yang tak diharapkan terjadi; mau tidak mau, siap tidak siap, karena hidup harus terus berjalan, kita terpaksa menghadapinya. Salah satu hal yang tak diharapkan yang kadang menimpa adalah kematian suami atau istri. Bukan saja kita harus bersiap menghadapi kesedihan dan hidup dalam kesendirian, kita pun mesti siap merawat dan membesarkan anak—sendirian. Berbahagialah kita yang bertemu dengan seseorang yang mengasihi kita dan anak-anak kita; bersamanya kita dapat "menyambung" hidup berkeluarga. Namun itu tidak berarti bahwa hidup akan lancar. Setiap keluarga memunyai tantangannya masing-masing, termasuk keluarga sambung. Penyambungan dapat terjadi antara satu keluarga dengan satu individu atau antara satu keluarga dengan satu keluarga lainnya. Bila kita tidak siap atau tidak bijak menghadapinya, maka penyambungan tidak terjadi; sebaliknya, pemutusanlah yang terjadi. Berikut akan dipaparkan beberapa tantangan yang mesti dihadapi dan masukan bagaimana mengatasinya.

  • BAGAIMANA DAPAT DITERIMA OLEH KELUARGA PASANGAN.
    Sudah tentu ada beda besar antara menerima satu pribadi dan menerima satu keluarga—pastilah jauh lebih kompleks menerima satu keluarga ketimbang satu pribadi. Satu hal yang mesti disadari adalah kecocokan suami-istri tidak menjamin adanya kecocokan antara anak dan orangtua tiri atau antara anak dan anak tiri. Masuknya orang baru ke dalam keluarga sering kali dilihat sebagai gangguan, bukan sekadar tambahan. Itu sebab tidak jarang anak malah melihat ayah atau ibu baru dengan mata penuh kecurigaan dan rasa tidak senang. Sebagai orang baru kita harus melakukan kedua hal berikut ini secara seimbang: (a) menyatakan kasih dan (b) memperlihatkan wibawa. Di satu pihak kita harus menunjukkan bahwa kita masuk ke dalam keluarga ini untuk mengasihi mereka—anak-anak—dan bukan hanya ayah atau ibu mereka. Itu sebab kita mau memberikan waktu untuk mereka dan menunjukkan minat tulus untuk mengerti mereka. Di pihak lain, kita pun harus memerlihatkan wibawa, dalam pengertian kita mesti menarik garis yang jelas bila mereka mulai menunjukkan sikap tidak hormat. Kita dapat menyampaikan kepada mereka bahwa kita menghormati mereka; itu sebab kita pun mengharapkan mereka untuk menunjukkan respek kepada kita. Singkat kata, tidak seharusnya kita membiarkan mereka berbuat semaunya.
  • BAGAIMANA MEMBUAT ANAK-ANAK MENERIMA PASANGAN KITA YANG BARU.
    Pada dasarnya kita tidak dapat membuat anak menerima pasangan baru kita. Apakah mereka menerima atau tidak pasangan kita, pada akhirnya itu adalah keputusan yang mesti mereka ambil sendiri. Kita tidak dapat memaksa anak menerima pasangan kita yang baru. Pemaksaan hanyalah akan mengembangkan rasa tidak suka terhadap pasangan kita. Sungguhpun demikian ada satu tindakan yang dapat kita lakukan yaitu memerlakukan pasangan kita dengan kasih dan respek. Sebab, bagaimanakah kita memerlakukan pasangan kita yang baru akan menentukan apakah dan bagaimanakah anak menerima pasangan kita pula. Singkat kata, apa yang kita perbuat terhadap pasangan kita yang baru akan memengaruhi sikap mereka terhadap pasangan kita. Jika kita memerlakukan pasangan kita dengan baik dan penuh kasih, besar kemungkinan anak pun akan memerlakukan pasangan kita dengan baik dan penuh kasih. Bila kita menunjukkan penghargaan kepada pasangan kita, mereka pun cenderung memerlihatkan penghargaan kepada pasangan kita. Sebaliknya, jika kita memerlakukan pasangan kita secara kasar dan tidak hormat, besar kemungkinan anak pun akan melakukan hal yang sama.
  • MEMERLAKUKAN SEMUA ANAK SECARA SAMA RATA.
    Dalam keluarga sambung, seringkali anak merasa bahwa ayah atau ibu tirinya tidak mengasihi dirinya sama seperti mengasihi anak kandung dari ayah atau ibu tirinya. Biasanya anggapan ini muncul dari prasangka bahwa karena ia bukan anak kandung ayah atau ibu tirinya, maka ia tidak dikasihi. Itu sebab meyakinkan si anak bahwa ayah ibu tirinya juga mengasihinya tidak mudah. Sudah tentu sebagai orangtua kita akan berusaha meyakinkan mereka bahwa kita mengasihi semua, sama rata. Namun, terlebih penting dari perkataan adalah perbuatan. Itu sebab kita harus memperlihatkan bahwa kita tidak membeda-bedakan mereka. Kita berlakukan aturan yang sama dan kita terapkan tuntutan yang sama. Sewaktu mereka konflik, kita tidak membela anak kandung dan tidak menyalahkan anak tiri. Sebaliknya, jika anak kita salah, kita pun tidak ragu menegurnya. Pada akhirnya sewaktu anak tiri melihat bahwa kita tidak membeda-bedakan anak, barulah mereka percaya bahwa kita menyayangi mereka semua.
  • SIAPAKAH YANG SEHARUSNYA MENDISIPLIN ANAK TIRI DAN BAGAIMANAKAH SEHARUSNYA DISIPLIN DIBERIKAN.
    Acap kali hal ini menjadi masalah, terutama jika anak sudah besar. Pada umumnya anak menolak atau malah melawan ayah atau ibu tiri karena menganggap ayah atau ibu tiri bukanlah orangtua kandung, jadi, tidak memunyai hak untuk mendisiplin mereka. Tidak jarang masalah disiplin menjadi masalah karena kita dan pasangan memunyai cara yang berbeda. Di dalam keluarga sambung hal ini menjadi lebih kompleks. Oleh karena anak tidak selalu anak kita maka terbuka lebar kemungkinan terjadinya salah pengertian. Pasangan dapat marah karena menuduh kita terlalu keras terhadap anak yang bukan anak kandung kita dan juga sebaliknya. Berkaitan dengan disiplin, terpenting adalah kesatuan dan kepercayaan di antara kita, orangtua. Jangan sampai kita terbelah dan jangan sampai kita mengembangkan rasa tidak percaya. Singkat kata, jangan sampai kita berprasangka bahwa pasangan memang tidak menyayangi anak kita sehingga cenderung memberi disiplin yang berlebihan kepada mereka. Bila ada perbedaan pendapat, bicarakanlah empat mata—jangan di hadapan anak—supaya kita dapat menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum kita berhadapan dengan anak.
  • MEYAKINKAN ANAK BAHWA KITA TIDAK MELUPAKAN AYAH ATAU IBU MEREKA, YANG SUDAH TIADA.
    Biasanya anak dalam keluarga sambung mengalami konflik batiniah. Di satu pihak mereka ingin melebur dengan keluarga sambungnya tetapi di pihak lain mereka merasa bersalah bila mereka mulai menyayangi ayah atau ibu tirinya. Mereka beranggapan, jika sampai mereka mengasihi ayah atau ibu tirinya, itu berarti mereka telah mengkhianati dan sudah tidak mengasihi serta melupakan ayah atau ibu kandungnya. Nah, dalam pertentangan batiniah ini anak perlu melihat bahwa kita, sebagai pihak orangtua yang ditinggal, tidak melupakan ayah atau ibunya. Dan, bukan saja tidak melupakan, kita pun masih mengasihi ayah atau ibunya. Kita pun perlu meyakinkannya bahwa mengasihi ayah atau ibu tiri tidak berarti tidak lagi mengasihi ayah atau ibu kandung atau telah melupakannya. Ya, anak perlu melihat bahwa kita menyayangi ayah atau ibunya yang telah tiada. Dan, anak perlu melihat bahwa ayah atau ibunya yang telah tiada tetap ada di dalam keluarga sambung itu. Jadi, penting bagi kita untuk memelihara kenangan tentang mendiang di dalam keluarga sambung. Misalkan, pada waktu ulang tahun mendiang suami atau istri kita, kita dapat membicarakannya dengan anak. Atau, pada saat ulang tahun anak, kita pun bisa berkata bahwa ayah atau ibunya pasti bangga melihatnya sekarang. Perkataan-perkataan sederhana seperti ini meyakinkan anak bahwa kita tidak melupakan ayah atau ibunya, walau telah tiada. Sudah tentu untuk dapat melakukan semua ini diperlukan pengertian dari pasangan baru. Ia perlu menerima fakta bahwa orang yang kita kasihi di masa lampau masih dan akan menempati ruang khusus di hati kita. Namun, kita pun perlu meyakinkannya bahwa orang yang kita kasihi di masa lampau tidak akan menjadi pesaingnya di masa sekarang. Singkat kata, kita harus mengkomunikasikan kepadanya bahwa kita siap dan mau membuka lembaran baru. Namun untuk membuka lembaran baru tidak perlu kita merobek lembaran lama.

Amsal 12:26 dan 27 berkata, "Orang benar mendapati tempat penggembalaannya ... Orang malas tidak akan menangkap buruannya ... " Ada dua karakteristik yang ditekankan di sini yaitu "benar" dan "malas." Orang benar mendapatkan tempat penggembalaannya dalam pengertian, bagi orang benar akan selalu ada orang yang datang kepadanya untuk digembalakan. Kebalikannya, bagi orang malas akan selalu terjadi kehilangan, seakan-akan hewan buruan yang di depan mata pun akhirnya lepas. Untuk membangun keluarga sambung diperlukan dua karakteristik yaitu benar dan rajin. Kita mesti hidup benar di hadapan Tuhan dan kita harus hidup rajin—terus berusaha menyambungkan, baik diri maupun yang lain.