
PRINSIP EKONOMI KELUARGA DAN HIKMAH KESULITAN EKONOMI
Salah satu penyebab perceraian adalah masalah ekonomi. Gara-gara keuangan, kita akhirnya bersitegang dan relasi suami-istri pun terganggu. Berikut ini akan dipaparkan beberapa prinsip pengelolaan keuangan dalam keluarga. Prinsip ini terambil dari Amsal 30:24-28.
- Ada empat binatang yang terkecil di bumi tetapi yang sangat cekatan: Kondisi ekonomi kita mungkin saja terbatas alias kecil, tetapi ini tidak berarti kita harus hidup dalam kekurangan. Yang diperlukan adalah kecekatan: cepat, tepat dan produktif.
- Semut bangsa yang tidak kuat tetapi menyediakan makanannya di musim panas: Keluarga mesti menyimpan uang—sekecil apa pun! Ada dua alasan mengapa kita perlu menabung: (a) kebutuhan tak terduga bisa datang secara tiba-tiba dan (b) menabung melatih kita untuk berdisiplin diri. Keluarga yang menabung adalah keluarga yang memikirkan dan memersiapkan hari depan.
- Pelanduk bangsa yang lemah tetapi membuat rumahnya di bukit batu: Keluarga mesti mengutamakan faktor keamanan di atas faktor risiko. Jangan tergiur oleh keuntungan besar; ingatlah bahwa keputusan yang salah akan memengaruhi kesejahteraan hidup sekeluarga. Pelanduk menjauh dari bahaya dengan membuat rumahnya di bukit batu. Kita pun harus menjauh dari bahaya kebangkrutan dengan cara bersikap hati-hati dan tidak gegabah dalam hal pengeluaran uang.
- Belalang yang tidak memunyai raja namun semuanya berbaris dengan teratur: Kebanyakan masalah keuangan bersumber dari gaya hidup yang tidak teratur dan tidak berdisiplin, bukan karena kekurangan penghasilan. Jadi, hiduplah dengan pengendalian diri; jangan turuti semua keinginan hati.
- Cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja: Usaha selalu mendahului hasil; jadi, jangan batasi diri, kerjakanlah apa yang Tuhan hadirkan di dalam hidup kita. Cicak tidak pernah berhenti menjejakkan kakinya di dinding rumah; selama masih ada dinding, ia akan selalu menelusurinya. Bukankah peluang justru terbuka tatkala kita tengah mengerjakan sesuatu, bukan tatkala kita melamun dan berpangku tangan?
- "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan" (Amsal 28:27): Jangan sampai berhenti memberi persembahan kepada Tuhan apa pun kondisi keuangan kita. Tuhan ingin melihat iman pada diri kita; Ia ingin kita memercayai-Nya. Memberi merupakan wujud nyata iman yakni Ia akan dan sanggup mencukupi meski sekarang tampaknya berkekurangan. Memberi juga merupakan wujud kasih dan kepedulian kepada orang lain. Inilah yang Tuhan cari dan hargai dari anak-anak-Nya.

Ada orang yang melewati hidup tanpa pernah mengalami kesulitan ekonomi sekali pun. Namun pada umumnya kebanyakan kita pernah mengalami masa kekurangan. Berikut akan diberikan beberapa masukan untuk memandang masa kesukaran ekonomi dari kacamata yang lebih mulia—kacamata Tuhan.
Hal pertama yang kita perlu pahami adalah bahwa kesulitan ekonomi bukanlah pertanda bahwa kita berada DI LUAR kehendak Tuhan. Di Alkitab dicatat beberapa orang yang hidup dalam kesulitan ekonomi, salah satunya adalah Naomi dan menantunya, Rut. Kita tahu bahwa Rut harus memunguti gandum yang tercecer di jalan oleh karena ia tidak memunyai penghasilan apa pun. Kita pun ingat kisah janda di Sarfat yang juga hidup bukan saja secara minim, tetapi juga kehabisan segalanya. Kesulitan ekonomi bukan pertanda bahwa Tuhan menghukum atau meninggalkan kita. Naomi, Rut, janda di Sarfat—semua adalah anak Tuhan yang dikasihi-Nya namun pada suatu masa di dalam kehidupan mereka, Tuhan menempatkan mereka di dalam kondisi kesulitan ekonomi.
Hal kedua yang dapat kita pegang adalah bahwa Tuhan itu SETIA. Begitu setia-Nya Tuhan sehingga Ia tidak meninggalkan anak-anak-Nya. Sebagaimana dapat kita lihat di dalam kehidupan para anak Tuhan di Alkitab, Tuhan tidak tinggal diam. Ia mengirim Boaz untuk menolong Naomi dan Rut. Kepada janda di Sarfat, Tuhan mengutus nabi Elia untuk memelihara kehidupannya. Namun satu hal yang mesti kita sadari adalah bahwa Tuhan tidak membuat mereka mendadak kaya raya. Pada akhirnya Rut menikah dengan Boaz dan tentulah kehidupannya membaik namun dalam suatu kurun sebelum pernikahannya, Rut dan Naomi harus tetap hidup dalam kondisi yang sama. Tuhan mencukupi kebutuhan janda di Sarfat tetapi Ia tidak membuat janda itu kaya raya. Dari sini kita bisa menarik satu pelajaran: Tuhan mencukupi kebutuhan kita. Ia tidak menjanjikan kita kekayaan; Ia menjanjikan kita kecukupan. Firman Tuhan di 1 Timotius 6:8 mengingatkan, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." Itulah definisi Tuhan akan kecukupan dan itulah janji Tuhan kepada kita—Ia akan mencukupkan kebutuhan pokok kita.
Hal berikut yang perlu kita ketahui adalah adakalanya Tuhan menempatkan kita di dalam kondisi kurang agar kita belajar BERGANTUNG kepada-Nya. Sejak dari titik Ia menyelamatkan kita dari hukuman dosa, Tuhan telah memulai pekerjaan-Nya di dalam diri kita yaitu membangun sebuah pribadi yang beriman. Singkat kata perjalanan hidup setelah perkenalan kita dengan Kristus adalah sebuah perjalanan pertumbuhan iman. Tuhan ingin agar kepercayaan kita kepada-Nya bertumbuh—tidak tinggal diam di titik yang sama. Kesulitan ekonomi adalah salah satu cara Tuhan mendorong kita untuk lebih beriman kepada-Nya. Mungkin di masa lalu kita berhasil memercayai Tuhan dalam hal lain, seperti sekolah dan memilih pasangan hidup. Nah, sekarang Ia mengajak kita naik setahap dan memercayai-Nya dalam hal ekonomi. Sewaktu kita berhasil memercayai-Nya, maka iman kita bertumbuh. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapakah Tuhan menginginkan agar iman kita bertumbuh ? Jawabannya adalah karena Tuhan ingin agar kita mengenal-Nya secara lebih mendalam.
Terakhir lewat kesulitan ekonomi yang kita hadapi kita akan dapat MENGERTI penderitaan orang dengan lebih baik lagi. Tidak ada yang dapat membuat kita lebih memahami penderitaan selain penderitaan itu sendiri! Kesulitan ekonomi membuat kita mengerti apa artinya, menginginkan sesuatu namun tidak dapat memperolehnya. Pada akhirnya kesulitan ekonomi membuat kita lebih berbelas kasihan kepada orang yang berada di dalam kondisi yang serupa. Adakalanya Tuhan menempatkan kita di dalam kondisi kesulitan ekonomi supaya Tuhan dapat memakai kita menjadi penolong bagi orang yang dalam kesusahan. Karena terlibat skandal Watergate, Charles Colson dijebloskan ke dalam penjara. Namun itulah tempat yang membuatnya terpanggil melayani para narapidana. Setelah keluar dari penjara, ia pun memulai "Prison Fellowship". Ibrani 5:15 berkata, "Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." Allah turun ke dunia menjadi manusia supaya Ia dapat berbagian dalam kehidupan manusia yang seutuhnya. Ia mengerti penderitaan kita karena Ia pun pernah menderita. Inilah prinsip yang kita kenal di dalam Alkitab: Turut menderita supaya dapat mengerti penderitaan sesama.
Ringkasan T413 A+B
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai "KELUARGA" lainnya di www.telaga.org
TELAGA MENJAWAB

PERTANYAAN :
Shalom Telaga,
Saya baru membangun kehidupan rumah tangga saya sejak Desember 2011 dengan mantan kekasih saya yang 26 tahun yang lalu pernah putus hubungan, karena dia masih belum percaya Yesus, dia seorang Muslim, tetapi pada waktu itu kami sempat memunyai anak di luar nikah. Selama 26 tahun kami putus hubungan karena banyak alasan dan sebab yang terutama juta saya masih sangat muda dan kami berbeda keyakinan, juga larangan dari pihak orang tua serta saya juga merantau ke negeri orang demi membantu orang tua dan anak saya sampai suatu ketika anak kami sudah berusia 26 tahun, seperti mimpi saya ditelepon anak saya bahwa dia ingin menceritakan sesuatu kepada saya, minta tolong agar saya menghubungi dia apabila saya sudah tidak repot, karena mereka mengetahui kalau saya sangat repot bekerja dan setelah saya menelepon anak saya, saya merasa sangat terkejut karena dia berkata ada seorang laki-laki menghubunginya lewat SMS dengan mengatakan bahwa laki-laki itu adalah bapaknya (saya dengan mantan pacar berpisah pada waktu saya sedang mengandung anak saya), jadi selama 26 tahun sejak dalam kandungan sampai usia 26 tahun, anak saya tidak tahu dan kenal bapaknya. Tapi justru karena itu juga maka kami sekarang (saya dan mantan pacar saya) menikah resmi di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, karena suami saya mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus (dia berasal dari keluarga Muslim yang fanatik).
Yang menjadi masalah saya, dapatkah rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang sehat dan bahagia karena setelah menikah kami hidup terpisah lagi, karena saya tetap memilih untuk bekerja di negeri orang, sedangkan suami saya karena keterbatasan bahasa saja, maka dia lebih merasa nyaman untuk bekerja di Indonesia. Padahal yang menjadi harapan saya untuk berumah tangga adalah utuh dan bahagia.
Jadi dengan situasi dan kondisi yang saya alami ini membuat saya optimis untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi harapan saya itu.
Mohon saran dan nasihatnya, terima kasih sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Ibu S.T.
JAWABAN :
Shalom Ibu S.T. yang terkasih,
Saya mengapresiasi keinginan Ibu untuk memiliki sebuah rumah tangga yang utuh dan bahagia. Tentunya kita sama-sama setuju apabila kita memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, maka itu akan ada pengorbanan-pengorbanan yang menyertainya. Dalam kasus Ibu, demi mencapai keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka saya sarankan untuk seluruh anggota keluarga bisa hidup bersama-sama dalam satu atap terlebih dahulu. Pernikahan jarak jauh rasanya justru akan menjauhkan dari keinginan Ibu. Belum lagi saya melihat bahwa si anak membutuhkan pendampingan Ibu untuk bisa menerima suami sebagai ayahnya. Sebab itu, masih adakah kemungkinan-kemungkinan cara agar Ibu, suami dan anak bisa hidup bersama-sama demi mencapai rumah tangga dambaan Ibu?
Demikian tanggapan yang dapat saya sampaikan, Tuhan berkati!
Salam: Andrew
"PAPA MANA ?"
Allah yang Rindu Dekat dengan Ciptaan-Nya
Oleh: Ev. Lidanial, M.K., M.Pd. *)
Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan
seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel -
yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23)
Kelahiran Kristus menggenapi nubuat nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelumnya, seperti yang dikutip oleh penulis Injil Matius (1:23). Sang Bayi Kudus yang lahir itu dinamakan Immanuel yang menegaskan bahwa Allah, Sang Pencipta dan Pemilik Semesta, memilih untuk hadir dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi sama dan tinggal di antara manusia. Ini adalah misteri inkarnasi, Allah yang transenden menjadi imanen. Inkarnasi adalah wujud kasih Allah yang menjawab kerinduan terdalam manusia untuk dekat dengan-Nya, seperti yang diungkapkan oleh Santo Agustinus: "You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You." Hanya di dalam relasi yang intim dengan Allah di dalam Kristus, manusia dapat menemukan dan mengalami makna dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
Merenungkan tentang Allah yang rindu dekat dengan manusia, mengingatkan saya tentang karya anugerah-Nya dalam kehidupan Andi (bukan nama sebenarnya, 15 tahun), seorang anak laki-laki pengguna kursi roda. Dia adalah salah seorang murid saya di Sekolah Minggu kelas khusus ABK (anak berkebutuhan khusus). Judul artikel di atas merupakan pertanyaan yang berulang kali ditanyakan oleh Andi. Selain memiliki keterbatasan secara fisik, Andi juga mengalami keterlambatan dalam beberapa aspek perkembangan lainnya, termasuk kognitif. Andi pertama kali datang ke Sekolah Minggu pada bulan Mei 2025 diantar oleh papanya. Keinginan Andi untuk datang ke Sekolah Minggu berawal dari ketertarikannya melihat adiknya yang rajin berdoa di rumah sebelum makan setelah sekitar satu bulan diajak ke Sekolah Minggu oleh salah seorang guru Sekolah Minggu. Sebelumnya mereka belum pernah ke Sekolah Minggu.

Andi sangat bersemangat untuk datang ke Sekolah Minggu. Hampir setiap minggu, dia menjadi anak pertama yang datang ke kelas khusus ABK dan tidak pernah absen. Sementara papa mereka mengikuti ibadah umum, mereka mengikuti ibadah Sekolah Minggu karena waktu ibadah umum dan Sekolah Minggu bersamaan. Beberapa saat setelah diantar dan papanya pergi, Andi akan bertanya kepada saya, "Papa mana?" Biasanya saya akan menjawab, "Papa ibadah di gereja, nanti akan jemput Andi kalau sudah selesai." Mendengar jawaban saya, Andi akan diam dan kembali melanjutkan aktivitasnya bermain mainan yang disediakan bagi anak-anak yang datang lebih awal. Tetapi, beberapa menit kemudian, Andi akan kembali bertanya, "Papa mana?" Saya pun akan menjawab dengan jawaban yang sama. Berulang kali seperti itu sampai anak-anak yang lain datang dan kegiatan di Sekolah Minggu dimulai. Ketika kegiatan Sekolah Minggu sudah selesai, sebelum papanya datang menjemput, biasanya Andi kembali bertanya, "Papa mana?" Saya biasanya akan menjawab, "Sebentar lagi papa selesai dan pasti akan jemput Andi." Andi sangat dekat dengan papanya.
Sekitar pertengahan Juli 2025, setelah menjelaskan firman Tuhan tentang Tuhan Yesus disalib untuk mengampuni dosa kita, anak-anak kelas khusus diajak membuat salib dari plastisin. Disediakan plastisin berbagai warna. Sebenarnya contoh salib yang ditunjukkan kepada anak-anak untuk ditiru, sangat sederhana. Tetapi, di luar dugaan, tanpa ada yang mengarahkan, Andi membuat sesuatu yang berbeda. Setelah membuat salib dari plastisin coklat, dia meminta plastisin putih dan membuat sesuatu dari plastisin tersebut. Ketika ditanya, "Andi mau buat apa?" dia menunjuk gambar Tuhan Yesus disalib yang ditempel di dinding ruangan kelas. Kemungkinan Andi kesulitan untuk menjelaskannya. Rupanya, dengan menggunakan plastisin putih tersebut, Andi membuat tubuh Tuhan Yesus. Kemudian dia menempelkannya pada salib coklat buatannya, seperti terlihat pada foto di atas, Andi dalam posisi memegang salib tersebut.
Andi mengenal Tuhan Yesus baru beberapa bulan. Tetapi bagi saya, di dalam kesederhanaan iman yang dianugerahkan kepadanya, Roh Kudus telah menganugerahkan pemahaman personal yang indah dan mendalam tentang Tuhan Yesus di dalam hatinya. Walaupun Andi tidak bisa mengungkapkan imannya secara verbal karena keterbatasannya, dia telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus.
Sejak Juli 2025, selama sekitar 3 bulan, kami mengajar anak-anak di kelas khusus bahwa setelah Tuhan Yesus disalibkan, bangkit dan naik ke surga, pada suatu hari nanti Dia akan datang kembali menjemput kita yang percaya untuk tinggal bersama dengan-Nya di surga. Berdasarkan Wahyu 21:4, kepada anak-anak, kami menjelaskan bahwa di surga tidak ada lagi takut, tidak ada lagi sedih, tidak ada lagi air mata karena kita akan bersama Tuhan Yesus selamanya. Kami juga mengajarkan sebuah lagu sederhana yang diberi judul "Surga Indah," yang notasinya diadaptasi dari lagu anak-anak "Bintang Kecil."

Karena mayoritas anak dalam kelas khusus adalah anak-anak dengan hambatan intelektual dan belum ada anak yang bisa membaca, maka kami menggunakan gambar (visual support) dan istilah-istilah yang sederhana supaya dapat lebih mudah dipahami. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang akan dinyanyikan anak-anak kelas khusus pada Ibadah Khusus Hari Anak Agustus 2025. Beberapa kali setelah ibadah Sekolah Minggu, kami mengajak anak-anak untuk latihan singkat beberapa lagu tersebut. Satu-satunya anak yang sudah hafal lirik lagu "Surga Indah" adalah Andi dan dia dapat menyanyikan lagu tersebut dengan sangat baik. Karena itu, kami merencanakan Andi akan menyanyi lagu tersebut secara solo terlebih dahulu, setelah itu bersama-sama.
Tetapi, karena sakit Andi tidak dapat ikut memersembahkan pujian bersama teman-temannya pada Ibadah Khusus Hari Anak. Setelah sekitar satu bulan sakit bahkan sampai harus rawat inap beberapa hari di Rumah Sakit karena kondisinya sempat mengkhawatirkan, kami mendengar kabar bahwa kondisi Andi membaik sehingga sudah diizinkan pulang. Informasi ini melegakan kami. Tetapi, baru sekitar dua minggu pulang dari Rumah Sakit, kami mendapat informasi yang sangat mengejutkan bahwa kondisi Andi sempat memburuk kembali dan sebelum sempat dibawa ke Rumah Sakit, Andi sudah berpulang ke rumah Bapa di surga. Dia tidak jadi bernyanyi lagu "Surga Indah" bersama dengan teman-temannya pada Ibadah Khusus Hari Anak. Tetapi kami meyakini bahwa Andi telah mengalami dan merasakan secara langsung lirik lagu yang tidak jadi dinyanyikannya itu. Dia sudah di surga, di dalam pelukan Tuhan Yesus yang sangat mengasihinya. Bagi kami, para guru Sekolah Minggu yang mengenalnya walaupun hanya dalam waktu yang singkat, kehidupan Andi menunjukkan bahwa bagaimana pun keterbatasan kondisi seseorang, Roh Kudus sanggup berkarya dengan cara-Nya yang unik untuk memampukan individu tersebut merasakan kehadiran, penyertaan, dan kasih-Nya.
Kedekatan relasi Andi dengan papanya mengingatkan saya tentang demikianlah seharusnya kedekatan relasi kita dengan Tuhan. Terasa ada sesuatu yang kurang dan salah dengan hidup kita ketika jauh dari Tuhan, walaupun hanya sesaat. Seperti Andi yang berulang kali bertanya, "Papa mana?" ketika menyadari bahwa papanya tidak ada di dekatnya, demikian pulalah seharusnya jiwa kita setiap saat merindukan untuk dekat dengan-Nya. Seperti pemazmur yang mengungkapkan kerinduan hatinya yang terdalam, "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." (Mazmur 62:2-3).
Menjelang berakhirnya tahun 2025, di penghujung November 2025, bangsa kita dikejutkan dengan bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Paska bencana tersebut, kita mendengar berbagai kisah pilu para korban. Bagaimana kehidupan kita di tahun 2026? Berbagai peristiwa yang tak terduga bisa terjadi dalam kehidupan kita. Berbagai perubahan dapat saja terjadi tanpa kita dapat memprediksi sebelumnya. Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti masa depannya. Jangankan belasan atau puluhan tahun yang akan datang, satu jam di depan pun kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sebagian dari kita mungkin memasuki tahun 2026 masih dengan sebuah pertanyaan besar tentang problem yang sedang kita hadapi. Kapan semua penderitaan ini akan berakhir? Sampai kapan saya harus bergumul dengan kepedihan ini? Mungkin ada di antara kita yang tak jarang muncul perasaan ingin menyerah saja, karena sepertinya segala cara sudah diupayakan dan belum terlihat titik terang.
Esensi Natal, misteri inkarnasi, yaitu kehadiran Allah di tengah manusia menegaskan tentang betapa luar biasa kasih dan kepedulian-Nya. Dia ingin kita tahu bahwa Dia bukan hanya hadir, tahu dan mengerti berbagai pergumulan hidup manusia di tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Tetapi Dia juga berkuasa untuk memberikan kita kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya dan mengalami kemenangan. Pada waktunya kita akan melihat bagaimana keajaiban karya anugerah-Nya menguatkan, memampukan, serta memulihkan segala sesuatu, bahkan sampai pada kesempurnaan ketika kita berjumpa muka dengan muka dengan-Nya di dalam kemuliaan surga. Di sanalah, "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4)
*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang berdomisili di Singkawang, Kalimantan Barat



POKOK DOA
(Desember 2025)
Tahun 2025 telah berakhir dan kita mengawali tahun 2026 dengan pimpinan dan penyertaan TUHAN. Beberapa pokok doa syukur dan permohonan dari program TEgur sapa gembaLA keluarGA (TELAGA), Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo dan Pusat Konseling Telaga Pengharapan (PKTP) Jember adalah sebagai berikut:
- Bersyukur dalam bulan Desember 2025 telah dikirimkan rekaman Telaga (T556 s.d. T566) ke Radio Bahana Sangkakala FM di Jayapura.
- Doakan agar dalam triwulan I tahun 2026 ada tambahan rekaman Telaga.
- Doakan radio Suara Pembaruan FM di Waingapu transmitter sudah jadi namun masih bermasalah, mudah-mudahan dalam bulan triwulan pertama tahun 2026 sudah dapat mengudara kembali.
- Tetap doakan untuk radio Kristal-J2 di Jayapura yang belum siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah dan masih dalam perawatan. Demikian pula radio Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me-‘relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
- Biarlah pimpinan Tuhan tetap nyata untuk pemerintah Indonesia sepanjang tahun 2026 bagi Presiden, Wakil Presiden, para Menteri dan Wakil Menteri serta segenap jajarannya, agar dapat bersehati dalam mengelola berbagai permasalahan di seluruh wilayah Indonesia.
- Kita doakan untuk penanganan banjir di berbagai daerah, bukan saja di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, juga di Kalimantan Selatan dan wilayah lainnya agar pemerintah dapat bekerjasama mengatasi dan memberi jalan keluar khususnya bagi keluarga korban yang meninggal dunia.
- Bersyukur untuk penyertaan dan pimpinan Tuhan sepanjang tahun 2025 kepada pelayanan Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo.
- Doakan untuk pimpinan Tuhan pada tahun 2026 bagi Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo.
- Doakan untuk persiapan dan pelayanan tim Telaga Kehidupan ke Timika, Papua pada tanggal 6 – 14 Januari 2026; pelayanan yang akan dilakukan mencakup:
- Pembinaan konseling awam bagi para guru dan staf.
- Seminar untuk orang tua murid -- Seminar untuk siswa usia SD s.d. SMA.
- Kami sungguh bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah memimpin perjalanan pelayanan Telaga Pengharapan sepanjang tahun 2025. Kami percaya Allah yang Immanuel itu tetap setia memimpin perjalanan kami memasuki tahun 2026. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati tim konselor dan setiap ‘volunteer’ agar dapat sehati sepikir dalam melayani sesuai karunia di Telaga Pengharapan.
- Berdoa kiranya Tuhan memberikan hikmat dan ide-ide kreatif dalam melaksanakan program kerja sepanjang tahun 2026.
- Bersyukur untuk relasi dan kerjasama yang telah dibangun antara Telaga Pengharapan dengan pihak Gereja, Sekolah dan Yayasan. Kiranya Tuhan berkenan memerluas jejaring dan memakai Telaga Pengharapan menjadi berkat.
- Sekolah Kristen Aletheia (SKA) Jember akan mengadakan perayaan Natal Guru pada tanggal 7 Januari 2026 pk.17.00 WIB dengan tema "C-Light: Christmas – Love in God, Harmony Together". Bersyukur Ev. Sri Wahyuni, konselor Telaga Pengharapan mendapat kesempatan untuk melayani firman Tuhan dalam perayaan Natal tersebut, kiranya Tuhan Yesus menolong dan memberkati.
- Dalam rangka ucapan syukur HUT ke-3, Telaga Pengharapan mengadakan zoominar dengan tema "Spirituality and Mental Health" pada tanggal 23 Januari 2026 pk. 19.00 – 21.00 WIB. Doakan untuk narasumber yaitu Pdt. Em. Timotius Wibowo, S.Th., M.K. Kiranya Tuhan memberkati pembicara dan tim panitia yang sedang memersiapkan acara tersebut. Bersyukur untuk donasi yang diterima dalam bulan Desember 2025 untuk Telaga, yaitu dari :
- Shepherd of Your Soul (SYS) sejumlah Rp 8.243.377,- (US$ 500)
- NN di Surabaya sejumlah Rp 2.000.000,-
- 006 untuk tahun 2026 : Rp 2.750.000,-


