Skip to main content

Menebus Kesalahan Masa Lalu Kesalahan Berakibat Panjang

MENEBUS KESALAHAN MASA LALU
KESALAHAN BERAKIBAT PANJANG

Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi

Hidup tidak sempurna dan kita jauh dari sempurna. Kadang kita melakukan kesalahan yang berdampak buruk pada hidup orang yang kita kasihi. Penyesalan datang namun sebagaimana kita ketahui, penyesalan selalu datang terlambat. Apakah yang harus kita perbuat bila di masa lalu kita telah melakukan kesalahan?

  1. Langkah pertama adalah mengakui dosa itu kepada Tuhan. Di dalam doa, katakanlah dengan terbuka perbuatan dosa yang telah diperbuat. Akuilah apa adanya dan jangan membuat dalih apalagi menutupinya. Tuhan tahu semua namun Ia ingin mendengar semua dari mulut dan hati kita. Terimalah penggenapan janji Tuhan di dalam diri kita. Percayalah melalui iman bahwa Ia telah mengampuni dosa dan kesalahan kita sebagaimana Firman Tuhan di 1 Yohanes 1:9 meneguhkan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan".
  2. Setelah mengakui semua di hadapan Tuhan, jangan lupa untuk bersyukur atas pengampunan dan penebusan Kristus di kayu salib. Berterima kasihlah setiap hari dan setiap kali mengingat kemurahan Tuhan yang telah mengampuni dosa kita. Pengucapan syukur penting untuk terus berlanjut, sebab di hari-hari mendatang Iblis akan berusaha menjatuhkan kita kembali dengan cara membisikkan keraguan di dalam hati. Ia akan berupaya meyakinkan kita bahwa dosa kita terlalu besar dan bahwa Tuhan tidak bisa mengampuni dosa sebesar ini. Kita tidak perlu lagi meminta-minta pengampunan Tuhan, sebab kita sudah menerimanya tatkala kita mengakui dosa kita. Firman Tuhan berkata, "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu". (Ratapan 3:22-23).
  3. Langkah kedua adalah meminta pengampunan dari orang yang telah kita lukai. Akuilah perbuatan kita apa adanya, jangan menutupinya atau membenar-benarkannya. Katakanlah betapa besar penyesalan kita atas perbuatan yang kita lakukan kepadanya. Utarakanlah niat kita untuk membayar kerugian yang ditimbulkan akibat perbuatan kita itu. Setelah bertobat, Zakheus berjanji kepada Tuhan Yesus untuk menebus kesalahannya, "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat" (Lukas 19:8).
    Penyesalan harus diwujudkan dalam tindakan nyata sebab tanpa perbuatan nyata, kita hanyalah terus memeras orang yang telah kita lukai: Pertama, kita menyakiti hatinya; kedua, kita memintanya untuk mengampuni. Singkat kata, pertobatan tidak hanya terdiri dari penyesalan, tetapi juga dari tindak nyata membayar kerugian yang ditimbulkan. Dukacita yang menghasilkan kematian adalah dukacita tanpa pertobatan. Kita hanya menyesali namun tidak berbuat apa-apa untuk memerbaiki kerusakan yang telah kita sendiri ciptakan. Sebaliknya, dukacita yang membawa keselamatan adalah dukacita yang disertai pertobatan. Kita tidak lagi mengulang kesalahan yang sama dan membayar harga kerugian yang ditimbulkan.
    Firman Tuhan menegaskan, "Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian" (2 Korintus 7:10).
  4. Apabila kita adalah orang yang dilukai, kita harus memberi pengampunan ketika ia meminta pengampunan dan menunjukkan pertobatan. Firman Tuhan di 2 Korintus 2:6-7 menasihati, "Bagi orang yang demikian sudahlah cukup teguran dari sebagian besar dari kamu sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat".

 

Kita tahu bahwa Tuhan mengampuni dosa. Sebesar apa pun kesalahan yang kita perbuat, anugerah-Nya jauh lebih besar. Namun kita mesti mengingat bahwa akibat dari kesalahan yang kita perbuat sering kali berekor panjang. Itu sebab sangatlah penting bagi kita untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kita berbuat dosa.

Berikut akan diuraikan buntut kesalahan yang dapat mengikuti kita sampai ke masa depan dan bagaimana seharusnya kita menghadapinya.

Hal pertama yang mesti kita pahami adalah bahwa KONSEKUENSI dosa tidak sama dengan HUKUMAN dosa. Sebagai contoh, mungkin sebelum bertobat kita hidup sembarangan dan tidak bertanggungjawab sebagai seorang ayah. Pada saat anak telah akil balig, barulah kita bertobat dan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Allah. Namun tatkala kita ingin mendekat dengan anak, ia malah menjauh. Nah, inilah contoh dari konsekuensi dosa. Oleh karena dulu kita hidup di dalam dosa dan tidak melakukan tugas sebagai seorang ayah, akhirnya anak tidak dekat dengan kita dan mungkin saja, ia menyimpan kemarahan kepada kita. Inilah konsekuensi, bukan hukuman dosa.

Hal kedua yang harus kita mengerti adalah bahwa panjang atau tidaknya konsekuensi dosa bergantung pada seberapa SERIUSNYA kesalahan yang diperbuat dan seberapa LUASNYA dampak yang ditimbulkan. Sebagai contoh, perbuatan berkhianat terhadap pasangan biasanya berakibat serius dan meninggalkan bekas yang tidak mudah hilang. Rasa percaya yang ternoda memerlukan waktu yang tidak singkat untuk kembali pulih. Sedangkan sikap kasar dan jahat, baik kepada pasangan dan anak, pada umumnya bukan saja berdampak dalam, tetapi juga luas. Anak yang menjadi korban dapat mengembangkan perilaku agresif yang sama dan akhirnya menjadikan orang lain korban berikutnya. Singkat kata, makin serius dan luas dampak dosa yang kita perbuat, makin panjang ekornya.

Hal ketiga yang perlu kita ketahui adalah kendati kita tidak dapat sepenuhnya menghilangkan konsekuensi kesalahan di masa lampau, dengan pertolongan Tuhan kita masih bisa MENGURANGI dampaknya. Syaratnya adalah kita harus menghadapinya dengan CARA TUHAN yaitu:

  • Rekonsiliasi. Kita harus mengakui andil kita apa adanya, meminta pengampunan dari pihak yang dirugikan dan berdoa untuknya. Tidak boleh kita membenarkan diri, apalagi menyalahkan pihak lain. Kita hanya perlu menyoroti diri sendiri, bukan orang lain. Inilah langkah awal menuju perdamaian. Yakobus 5:16 mengingatkan, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya".
  • Kompensasi. Kita mesti menunjukkan itikad baik "menebus" kesalahan masa lalu dengan memberi pertolongan kepadanya, sesuai kebutuhan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa sekarang seseorang harus menanggung akibat kesalahan yang kita perbuat dulu. Singkat kata, kita tidak boleh lepas tangan. Firman Tuhan di Galatia 6:2 mengingatkan, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus".

Transformasi. Pada akhirnya kita mesti memerlihatkan bahwa kita sungguh-sungguh telah berubah sekarang dan selamanya. Kita harus menunjukkan bahwa kita bukanlah orang yang sama. Tuhan telah menebus dan mengubah hidup kita. Sebaliknya, sekalipun kita meminta maaf dan mengkompensasi kerugian yang diderita orang, namun apabila ia melihat bahwa kita masih tetaplah sama, luka dan kemarahan pastilah terus bersarang di hati. Galatia 5:24 menegaskan, "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala nafsu dan keinginannya".

Ringkasan T425 A+B
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul seputar "Pengembangan Diri" lainnya di www.telaga.org

AYUB : MISTERI DERITA ORANG BENAR

Begitu sering Ayub digambarkan sebagai orang sabar, pasrah dan berserah. Itu keliru! Itu hanya ada di awal dan akhir cerita. Padahal di sepanjang buku Ayub justru kebalikannya. Ia berontak pada Tuhan, ia protes, bahkan protes keras!

Kisah Ayub adalah kisah tiap orang. Derita datang sembarang waktu. Kemarin sehat walafiat dan serba sukses. Hari ini tiba-tiba kena musibah.

Buku Ayub adalah karya sastra besar beragam melodrama pedagogis yang dipakai sebagai cerita sandiwara delapan babak. Kecuali pembuka dan penutupnya, seluruh isi buku berbentuk puisi.

Babak Pertama: Pembuka (Ayub 1 – 2). Tokoh utama diperkenalkan. Ayub (dalam bahasa Ibrani Iyyob, Di mana ayah?) adalah tuan tanah yang mapan. Murah hati kepada tiap orang dan taat kepada Tuhan. Tercatat, "Ia takut akan Allah" (1:1). Dalam bahasa aslinya ungkapan itu berarti "mengagumi dan menghormati Allah". Lalu tiba-tiba musibah datang bertubi-tubi. Ia terkena penyakit berat. Rumahnya roboh. Semua anaknya tewas. Ternaknya dirampas. Hartanya habis dijarah. Namun Ayub tabah. Katanya, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (2:10).

Babak Kedua: Keleluhan Ayub (Ayub 3). Mulailah Ayub merasakan betapa nyerinya luka-luka batinnya. Siang malam ia terkulai murung. Hidup ini terasa tidak berguna lagi. Ia "mengutuki hari kelahirannya" (3:1). Ia ingin cepat mati, namun kematian tidak datang. Katanya,"….yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba" (3:21).

Babak Ketiga: Kunjungan Tiga Teman (Ayub 4 – 27). Tiga orang sahabat mengunjungi Ayub untuk menghibur. Mereka menasihati agar Ayub bertobat sebab tiap derita adalah akibat dari dosa. Ayub menolak dalil sebab-akibat itu. Katanya, "Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!" (16:2). Ayub kecewa karena penderitaannya kurang dipahami oleh para sahabat. Ia menolak tuduhan bahwa deritanya merupakan akibat kesalahannya. Sambil menangis ia membela diri, "…..sungguhpun tidak ada kelaliman pada tanganku, dan doaku bersih (16:17). Ucapan para sahabatnya bukan menguatkan, tetapi melemahkan Ayub. Ratapnya, "Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan……"(17:1). Lalu Ayub menantang ketiga sahabat itu. Tegasnya, "Insafilah bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku…." (19:6). Bahkan Ayub menegaskan bahwa ia siap memerkarakan ketidakadilan Tuhan yang menimpa dirinya. Katanya, "Maka akan kupaparkan perkaraku di hadapan-Nya" (23:4).

Babak Keempat: Selingan (Ayub 28). Ini merupakan sisipan yang tidak berkaitan langsung dengan jalan cerita. Isinya menunjukkan bahwa manusia punya teknologi mutakhir (untuk zaman itu) yakni: pertambangan yang menemukan emas, namun manusia tidak mampu menemukan hikmat. Dua kali penyair bertanya, "Tetapi di mana hikmat dapat diperoleh, di mana tempat akal budi?" (28:12 dan 20). Lalu ada jawab, "….takut akan Tuhan, itulah hikmat dan menjauhi kejahatan itulah akal budi". (28:28).

Babak Kelima: Ayub Naik banding pada Allah (pasal 29 - 31). Sejak dulu Allah memerhatikannya, namun sekarang Ayub merasa ditelantarkan. Sesuai dengan prosedur pengalian yang berlaku di zaman itu, Ayub menderetkan daftar kesalahan yang tidak pernah dilanggarnya. Lalu ia mengangkat sumpah, "Biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui bahwa aku tidak bersalah" (31:6).

Babak Keenam: Kunjungan Elihu (Ayub 32 – 37). Seorang muda berwawasan luas bernama Elihu mengeritik ketiga pengunjung tadi yang beranggapan bahwa musibah adalah akibat dosa. Di pihak lain, Elihu mengeritik Ayub yang beranggapan bahwa orang benar tidak mungkin kena musibah. Ia mengeritik Ayub yang menuduh Allah curang dengan membiarkan orang benar kena musibah. Sikap Ayub itu seolah-olah mau mencampuri kebijakan Tuhan. Tegur Elihu,"Siapakah akan menentukan jalan bagi-Nya, dan siapa berani berkata: Engkau telah berbuat curang?" (36:23).

Babak Ketujuh: Allah menjumpai Ayub (Ayub 38 – 42:6). Keinginan Ayub untuk bertemu secara pribadi dan menyampaikan protes kepada Allah terkabul.. Allah datang menjumpai Ayub. Allah sama sekali tidak memarahi Ayub. Allah menjunjung tinggi Ayub. Allah menyebut Ayah "sebagai laki-laki" (40:2 dalam bahasa Ibrani, orang berpengetahuan, berhikmat, berwibawa). Lalu Allah mengajukan sederetan pertanyaan retorik kepada Ayub yang menantang Ayub mengakui adanya perbedaan kualitas yang mencolok antara dia dengan Allah. Mendengar deretan pertanyaan retorik itu, Ayub merasa malu. Kemudian Ayub mengaku,"Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui" (42:3). Akhirnya Ayub menarik kembali semua protes dan gugatannya kepada Allah. Katanya, "Aku mencabut perkataanku" (42:6).

Babak Kedelapan: Penutup (Ayub 42:6-17). Semua dipulihkan kembali. Segala sesuatu kembali dengan keadaan lebih baik, namun Tuhan masih marah. Marah kepada siapa? Bukan pada Ayub, melainkan justru kepada ketiga teman. Tuhan marah sebab mereka mengatakan bahwa musibah adalah akibat dosa. Kata Tuhan, "Kamu tidak berkata benar tentang Aku" (42:7).

Cerita Ayub berakhir dengan happy end. Akan tetapi, happy end itu bukanlah upah untuk ketakwaan Ayub. Pesan kitab Ayub adalah justru kebalikannya. Allah bukan hanya berbaik hati pada orang bertakwa melainkan pada semua orang. Baik orang bertakwa atau tidak bertakwa bisa dapat berkat, sebaliknya baik orang bertakwa maupun tidak bertakwa bisa kena bencana.

*) dikutip dari kitab "SELAMAT BERHIKMAT" karangan Andar Ismail

PERTANYAAN :

Saya dan suami sama-sama bekerja, karena alasan ekonomi saya belum dapat berhenti bekerja. Sebelumnya saya telah membicarakan hal tersebut kepada suami dan ia menyetujui untuk saya tetap bekerja di tempat sekarang sampai masa kontrak saya selesai. Saya tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini perlakuannya berbeda, saat saya menghubungi dia selalu beralasan sibuk. Saat bertanya mengapa seperti menghindar dari saya, dia kembali membentak dan marah. Tatkala saya menemukan dia menggunakan aplikasi yang berhubungan dengan wanita lain, dia berucap bahwa saya tidak berhak melarang-larang dia untuk melakukan hal tersebut. Saya benar-benar bingung, ini baru saja awal pernikahan kami. Apakah secepat itu suami saya kehilangan cintanya? Apa yang akan terjadi dengan pernikahan saya selanjutnya?

Selamat sore, kembali lagi saya ingin konsultasi. Sebelumnya saya menjawab email yang lalu, saya sudah tahu beberapa kali juga menangkap basah kelakuannya saat berpacaran, tapi saat itu ia meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya. Kali terakhir setelah proses lamaran, saya tidak berani untuk menghentikan lagi proses yang sedang berjalan, karena alasan keluarga dan juga dia kembali meminta maaf.

Saat ini keadaan saya benar-benar buruk. Saya dan suami sudah memutuskan saya akan mengikuti dia bulan depan. Tapi baru-baru ini saya kembali menemukan suami saya menggunakan aplikasi "chatting" dengan wanita lain. Tapi saat saya menemukan dan menunjukkan bukti suami saya tidak mau mengakuinya, sementara foto dan aktifitas terakhir jelas terlihat di akun tersebut. Saya sudah memintanya untuk berhenti dan menghapusnya, tapi tidak digubris dengan alasan itu bukan dia.

Saya benar-benar kehabisan harapan, benar-benar putus asa. Tidak ingin rumah tangga saya seperti ini, tapi di pihak lain sepertinya suami saya sudah tidak peduli sama sekali dengan rumah tangga kami, terlebih kepada saya. Dengan sadar dia melakukan hal yang paling menyakiti hati saya, meski sudah diminta berhenti, dia tidak peduli.

Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, ibu saya sedang dalam kondisi tubuh yang lemah. Rasanya tidak tega melihat kondisinya saat mengetahui kondisi rumah tangga anaknya. Saya takut akan memerburuk keadaannya, tapi saya juga bingung bagaimana caranya harus pindah ke kota suami, sementara keadaan kami yang buruk, sedangkan saya sudah mengajukan permohonan mengundurkan diri dari tempat kerja.

Mohon pencerahan, bagaimana saya harus bersikap. Hati ini benar-benar hancur mengingat semua perbuatannya. Saya sangat ingin konseling tatap buka, saat ini saya di kota Palopo, Sulawesi Selatan. Rencana akan pindah ke tempat suami di kota Palu, Sulawesi Tengah. Apakah ada lokasi konseling di tempat tersebut?

Salam : Ibu J.P.

JAWABAN :

Ibu J.P.,

Situasi ibu benar-benar membuat ibu bingung dan sedih. Memang hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Kalau Ibu merasa suami selalu menghindar jika dihubungi dan rasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan relasi ini, mungkin memang Ibu harus berusaha mengambil waktu untuk bertemu tatap muka. Berbicaralah dengan baik-baik untuk meminta kejelasan kepada suami, bagaimana keseriusan dia terhadap pernikahan ini, mau dijalani seperti apa pernikahan ini.

Sebenarnya Ibu sudah mengetahui perilaku suami yang beberapa kali berhubungan dengan perempuan lain (sementara berpacaran dengan Ibu) sejak sebelum menikah, apa yang membuat Ibu tetap memutuskan untuk menikah? Apakah Ibu tidak menangkap tanda-tanda peringatan dalam relasi Ibu? Apakah sejak awal memang nilai/pandangan Ibu dan suami tentang pernikahan dan batasan-batasannya memang sudah berbeda?

Demikian tanggapan dan juga pertanyaan yang dapat kami sampaikan.

Yang terkasih Ibu J.P.

Kami sedang berusaha mencarikan informasi mengenai konselor terdekat.

Posisi Ibu memang sulit dan sangat wajar jika ada rasa penyesalan terhadap semua ini, namun jika Ibu masih memunyai harapan untuk pernikahan, ada hal-hal yang perlu Ibu pastikan atau sepakati dengan suami jika Ibu jadi untuk mengikut suami ke kotanya. Dengan mengingat bahwa alasan suami dekat dengan perempuan lain adalah karena istri tidak mendampinginya, selidikilah bagaimana prinsip suami terkait hal ini: apakah jika sudah menikah maka suami/istri harus membatasi kedekatan dengan lawan jenisnya. Jika dia setuju dan mau komitmen terhadap hal ini, sepakati sejauh mana batasan atau arti "dekat" itu secara spesifik, sehingga Ibu dan suami jelas dan dapat mengukur kondisi seperti apa yang disebut dekat dan wajar. Sepakati untuk boleh membicarakan hal ini secara baik-baik, jika Ibu atau suami menemukan hal-hal yang janggal.

Apabila dia tidak sepakat dan berprinsip masih OK dekat dengan perempuan lain, gali lebih jauh apa alasan dibalik prinsip ini. Diskusikan lebih jauh, dari sini Ibu akan dapat memprediksi apakah ketika Ibu bersatu, suami akan berubah atau tidak (jangan hanya percaya pada janji, tapi telusuri cara berpikir/prinsip yang dia miliki).

Selanjutnya jika suami sepakat untuk membatasi hubungan dekat dengan perempuan lain, maka Ibu perlu meminta ketegasan bahwa karena Ibu sudah akan bersatu dengannya maka ia harus melepas atau menghentikan semua hubungan dekat yang dia pernah atau sedang lakukan. Dan belajar membangun kepercayaan satu sama lain dengan berani terbuka dengan barang dan akun pribadi (seperti HP, email dan lain-lain), berani tunjukkan dengan terbuka aktifitas di medsos satu sama lain. Bila memang Ibu merasa aktifitas medsos rawan terjalin hubungan dekat, maka perlu ada kesepakatan untuk membatasi hal-hal itu…….demi membangun pernikahan yang sehat. Jadi intinya kenalilah sifat dan prinsip suami secara lebih mendalam dan pastikan suami menunjukkan kemauan untuk serius dan membangun pernikahan yang sehat sebelum Ibu pindah kota.

Mengenai pergumulan Ibu J.P. dengan ibunda, memang dilematis dan itu pilihan Ibu, apakah lebih baik menutupi seterusnya demi menjaga hati Ibunda (dan memang biasanya ibu sudah memunyai firasat) atau berani sedikit demi sedikit membuka kenyataan, namun dengan menunjukkan sikap ketegaran sehingga mengurangi kekhawatiran Ibunda.

Kiranya Ibu terus mengandalkan pimpinan Tuhan untuk mengambil keputusan terbaik dan menolong Ibu untuk benar-benar dapat memahami suami dan situasi yang terjadi. Tuhan memberkati !

Salam: Stefani Sutedjo

Generasi Tanpa Malam

Oleh :Ev. Grasia Magdalena Tampubolon, M.Th. (Konseling) *)

Generasi saat ini, merupakan generasi yang mengalami banyak perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya soal fase perkembangan yang mereka alami, tetapi berkaitan dengan gaya hidup. Gaya hidup generasi saat ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Di masa lampau, manusia terdampak hanya pada perubahan dari lingkungan terdekat, tetapi saat ini teknologi menjadi satu faktor penting yang memberi dampak pada gaya hidup anak zaman sekarang. Secara khusus yang terdampak pada gaya hidup berkaitan dengan penggunaan waktu.

Pada masa lampau, kita menggunakan waktu untuk aktivitas sesuai dengan jam yang ada, semisal: pagi untuk bekerja dan malam untuk beristirahat. Namun saat ini, kemajuan teknologi secara khusus gadget ataupun internet membuat waktu tersebut menjadi bergeser. Jika dulu, kita mengerjakan pekerjaan kantor atau sekolah hanya pada waktu jam aktivitas di pagi sampai siang hari, tetapi saat ini pekerjaan kantor dan sekolah dapat dilakukan di rumah sehingga waktu aktivitas menjadi tidak terbatas. Jika dulu, pasar dapat kita temui di pagi dan siang hari, saat ini pasar dapat ditemui 24 jam tanpa henti melalui pasar ‘online’. Bahkan segala aktivitas dapat dilakukan setiap waktu melalui adanya internet. Hal inilah yang membuat anak muda akhirnya tidak dapat lepas dari ‘gadget’/gawai dan internet.

Bagi generasi saat ini, mereka menjadikan ‘gadget’/gawai dan internet sebagai satu kebutuhan yang krusial. Selain keseharian mereka selalu diwarnai oleh ‘gadget’/gawai dan internet, tetapi mereka menjadi sangat bergantung dengan hal tersebut. Sehingga ketergantungan mereka pada ‘gadget’/gawai dan internet membuat mereka kehilangan batasan waktu yang jelas dalam keseharian mereka. Mereka masih beraktivitas di pagi hari seperti biasa, seperti sekolah, kuliah atau pun yang lainnya, namun ketika pulang ke rumah mereka mulai masuk ke dunia maya dan melakukan aktivitas lainnya, seperti: bermain game, media sosial dan lainnya. Awalnya mereka melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk menghabiskan waktu ataupun untuk beristirahat, namun pada akhirnya kebiasaan bermain internet dan ‘gadget’/gawai justru menyita waktu mereka dan merampas waktu istirahat mereka. Perubahan terjadi, jam malam bukan lagi untuk beristirahat, justru menjadi waktu bagi anak muda masa sekarang untuk berselancar di internet.

Bagi anak muda saat ini, malam juga merupakan waktu bagi mereka untuk beraktivitas sehingga mereka menjadi generasi tanpa malam. Kapan pun dan di mana pun mereka dapat beraktivitas seperti yang mereka inginkan. Perilaku ini terlihat seperti mereka adalah orang yang hebat dan serba bisa, namun di sisi lain mereka adalah generasi yang lelah. Mereka tidak memiliki batas waktu untuk berhenti agar bisa beristirahat. Mereka tidak memiliki batas ruang untuk menikmati diri atau pun relasi yang ada. Mereka terlalu banyak dibanjiri oleh berbagai informasi dan aktivitas serta tidak sempat mengolahnya. Hal ini membuat mereka terlihat begitu aktif secara daring(dalam jaringan), tetapi sebenarnya mereka mengalami kelelahan yang dalam secara mental.

Selain kelelahan mental, dampak lainnya membuat tubuh mereka jadi mengalami penurunan daya tahan karena kurang tidur atau jam tidur yang berantakan.Tidur merupakan hal mendasar yang dibutuhkan manusia. Tidur malam diperlukan oleh tubuh agar organ-organ tubuh dapat beristirahat. Tidur diperlukan untuk membuat otak dapat rileks dan beristirahat. Ketika anak muda tidak memiliki waktu tidur yang cukup, tidak heran mereka menjadi lebih mudah emosi dan tidak dapat berkonsentrasi. Bahkan yang terburuk adalah mereka mengalami penyakit metabolisme, salah satunya adalah diabetes. Di Indonesia sendiri, anak-anak semakin banyak mengalami diabetes dan gagal ginjal. Penyakit ini banyak dialami oleh anak muda selain disebabkan oleh pola makan yang berantakan, faktor lainnya adalah kurang tidur atau pola tidur yang berantakan.

Penggunaan waktu untuk tidur dengan tidak tepat dapat memberi dampak negatif pada manusia. Secara khusus, dampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang. Karena itu, penting sekali bagi kita sebagai orang tua untuk melatih dan mengedukasi kembali anak-anak kita dalam penggunaan dan pengolahan waktu. Mereka perlu diingatkan tentang penggunaan waktu yang sehat karena penggunaan waktu kita berkaitan dengan jam tubuh kita. Tubuh kita memiliki jam yang tidak boleh dilanggar, yaitu jam aktivitas dan jam istirahat. Ketika jam tubuh itu sendiri dilanggar, maka konsekuensi yang akan dirasakan seseorang memang tidak langsung terjadi, tetapi perlahan dan pasti konsekuensi tersebut akan dirasakan.

Ingatkan anak-anak kita untuk menggunakan waktu sebagaimana mestinya. Istirahat merupakan waktu yang diberikan Tuhan agar manusia bisa memberi jeda dan rileks. Bahkan Allah Bapa dalam penciptaan-Nya pun memberi Diri untuk beristirahat pada hari ketujuh (Kej. 2:2-3, "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hariketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu"). Bukan hanya Allah Bapa saja, Tuhan Yesus juga dalam segala aktivitas pelayanan-Nya pun memberi waktu bagi diri-Nya untuk beristirahat (Mrk. 6:31, "Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika!’ "). Artinya Tuhan sangat jelas memberikan batasan waktu, kapan harus beraktivitas dan kapan harus beristrahat. Oleh karena itu, kita perlu mengingatkan dan mengajar anak untuk menggunakan waktu dengan tepat, secara khusus waktu malam untuk beristirahat. Waktu untuk beristirahat juga merupakan bagian bagi kita juga untuk beribadah kepada Tuhan.

*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang tinggal di Malang

POKOK DOA

September 2026

Tahun 2026 sudah sembilan bulan kita lewati dengan pertolongan dan pimpinan-NYA. Ada berbagai kejadian yang telah kita lewati, antara lain bencana tenggelamnya kapal dalam perjalanan dari Surabaya ke Banjarmasin yang sampai saat ini belum semua korban dapat ditemukan, demikian pula tenggelamnya beberapa orang yang akan meliput anak Gunung Krakatau. Di bawah ini ada beberapa pokok doa syukur dan permohonan sebagai berikut :

  1. Bersyukur ada 5 buku Telaga-1 yang berjudul "Tujuh Bantal Keluarga" telah dibeli oleh Sdri. Erika Juliana Girsang yang tinggal di Pekan Baru – Riau. Kemudian ada 10 buku Telaga-1 yang dipesan oleh PKTK Sidoarjo.
  2. Bersyukur pada akhir September 2026, ada 4 radio yang telah dikirimi dana partisipasi bulan Mei s.d. Agustus 2026, yaitu radio Cristy AM di Makassar, radio Immanuel FM di Solo, radio Suara Sion Perdana FM di Karanganyar dan R-radio FM di Tulungagung.
  3. Doakan agar bila Tuhan kehendaki, ada tambahan rekaman Telaga dalam triwulan ke-4 tahun 2026 ini, karena tahun ini baru 1x diadakan rekaman yaitu pada bulan Maret 2026 yang lalu.
  4. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  5. Menurut penjelasan Ev. Yosep, radio Kristal-J2 di Jayapura sudah tidak aktif, sudah tidak dapat dioperasikan dan dikontrol dari peralatan di komputer, yang muncul hanya rekaman siaran (terakhir T120).
  6. Kita tetap doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terdampak dapat segera ditolong. Demikian pula untuk Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri yang jumlahnya cukup banyak dapat bekerjasama dengan baik, khususnya memasuki triwulan terakhir tahun 2026.
  7. Doakan untuk masyarakat di beberapa daerah dimana pada musim kemarau ini mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh, 2 sampai 5 km. untuk mendapatkan air bersih, demikian pula dampak kebakaran hutan dan lahan serta asap di Kalimantan dan beberapa wilayah Sumatera serta Sulawesi. Para relawan juga ikut mengatasi permasalahan ini.
  8. Bersyukur untuk pertolongan dan penyertaan Tuhan kepada pelayanan Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo sampai saat ini.
  9. Doakan untuk para konselor dan tim yang melayani di Telaga Kehidupan, biarlah Tuhan memberikan hikmat dan kesatuan hati.
  10. Doakan untuk Ibu Anita Sieria yang akan melanjutkan studinya di Filipina pada bulan Oktober 2026, kiranya Tuhan terus menuntun dan menolong.
  11. Bersyukur kepada Tuhan atas pertolongan dan penyertaan-Nya, sehingga pelayanan Telaga Pengharapan sepanjang bulan September 2026 dapat terlaksana dengan baik. Kami bersyukur untuk setiap kesempatan yang Tuhan percayakan dan untuk setiap pribadi yang Tuhan pertemukan dalam perjalanan pelayanan ini.
  12. Retreat Sun Paper Source dijadwalkan kembali pada tanggal 4 – 6 November 2026 bersama Sahabat Seperjalanan. Mari kita berdoa agar kondisi kawasan Bromo pasca kebakaran semakin kondusif dan Tuhan membuka jalan sehingga retreat ini dapat terlaksana dengan baik. Kiranya Tuhan menolong setiap peserta, pembicara dan fasilitator dalam memersiapkan diri serta menyertai setiap proses sehingga tiba waktunya untuk bersama-sama menjalani retreat ini. Biarlah setiap rangkaian yang telah dipersiapkan menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan, menikmati kebersamaan, saling menguatkan dan mengalami pemulihan.
  13. Bersyukur untuk donasi yang diterima dari :
    • 011 untuk 4 bulan sejumlah Rp 600.000,-
    • 015 untuk 1 tahun sejumlah Rp 5.000.000,-
    • NN di Surabaya sejumlah Rp 500.000,-

September
Jenis Bahan