Lanjutan dari T178A
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bp.Pdt.Dr.Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. Perbincangan kami kali ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kami yang terdahulu tentang "Pubertas ke II: Mitos atau Realitas?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
PG : Masa paro baya yang biasanya melingkupi usia 40 hingga 60 tahun, sering kali dipanggil sebagai masa pubertas Ke II. Pertanyaannya adalah apakah memang ada pubertas ke II itu. Kata pubetas ke II itu sendiri sebetulnya mengacu pada masa remaja dan memang masa remaja sering kali dikaitkan dengan masa pergolakan.
Kenapa kita katakan masa remaja adalah masa yang sarat dengan pergolakan, sebab memang banyak terjadi begitu banyak perubahan pada masa remaja. Dan perubahan-perubahan itu akhirnya juga menimbulkan gejolak-gejolak secara biologis. Pada masa remaja mulai berfungsi hormon-hormon seksual kita sehingga akhirnya gairah seksual meningkat. Dan karena kita sebelumnya tak pernah hidup dengan gairah seksual dan sekarang hidup dengan gairah seksual kebanyakan remaja tidak mengerti, tidak tahu bagaimana menghadapi gejolak-gejolak seksual. Secara fisik juga terjadi perubahan, tubuhnya membesar, kadang-kadang mereka tak tahu bagaimana mengatasi ini. Anak gadis yang tidak pernah mengalami menstruasi sekarang mengalami menstruasi, mereka kadang-kadang kaget dan takut, apa yang harus dilakukan. Belum lagi ketertarikan kepada lawan jenis, sebelumnya tidak pernah merasakan adanya getaran-getaran ini sekarang merasakan getaran-getaran ini, segala macam terjadi pada usia remaja sehingga akhirnya menimbulkan gejolak. Pada usia 40 hingga 60 tahun sebetulnya ada kesamaan dengan remaja dalam pengertian terjadi banyak perubahan juga, meskipun perubahannya sebetulnya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di usia remaja. Terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan perubahan fisik. Kalau saya boleh memanggil pada usia remaja, perubahan itu perubahan yang bersifat pertambahan, tapi pada usia paro baya perubahan yang terjadi sebetulnya lebih merupakan perubahan penurunan yaitu penurunan kapasitas, kapasitas kita sebagai seorang manusia. Kemampuan-kemampuan kita yang tadinya sekuat apa sekarang mulai melemah, daya tahan kita yang sekuat apa sekarang mulai melemah, termasuk juga dalam hal kemampuan seksual kita. Fungsi seksual masih ada tapi sebetulnya gejolaknya tidaklah seintens pada masa-masa remaja. Namun kenapa masa 40-60 ini masa yang rentan terhadap masalah, karena perubahan itu terjadi dan terlalu banyak juga perubahan yang terjadi, sehinga akhirnya dalam banyak perubahan itu muncullah gejolak. Nah dalam gejolak-gejolak itu kalau kita tidak mawas diri kita akan mudah hanyut dan jatuh bahkan bisa jatuh ke dalam dosa.PG : Sering kali mereka dinilai agak genit, memperhatikan penampilannya seperti anak muda karena mereka ingin mempertahankan diri tetap muda. Mereka sebetulnya mungkin sekali tak mempunyai iat untuk tampil genit, namun mereka mencoba mengurangi laju proses penuaan, mereka tidak ingin terlalu cepat tua.
Maka mereka berolah raga dengan lebih giat, menjaga makan dengan lebih berhati-hati, kadang-kadang mulailah memakai lotion-lotion tertentu bukan hanya wanita tapi juga pria, rambut dicat sekarang bukan hanya wanita, pria pun mengecat rambut. Itulah sering kali citra yang ditimbulkan sehingga mereka akhirnya dilihat genit, kelihatan seperti anak remaja.PG : Ya, tidak semuanya sebab sebetulnya saya juga masih kurang percaya sebagian besar tidak mempunyai niat genit, mereka hanya ingin tampil muda, tidak mau hanyut dalam proses penuaan itu.
PG : Betul, ada yang memang bisa menerimanya, ada yang tidak bisa menerimanya. Yang tidak bisa menerimanya seolah-olah akan berkelahi melawan proses penuaan itu. Sedangkan yang bisa menerimnya seolah-olah mereka hanya berselancar dan hanya mengikuti saja gelombang itu.
Nah yang melawan dan berkelahi sering kali rentan terhadap masalah, karena mereka tidak bisa menerima proses penuaan kadang-kadang jadinya mereka jatuh ke dalam dosa, mereka ingin membuktikan masih tetap prima, masih tetap menawan hati lawan jenis, sehingga akhirnya rentan terhadap godaan. Bukan saja digoda tapi kadang-kadang mereka yang secara aktif menggoda. Agar mereka bisa mendapatkan lawan jenis yang lebih muda. Tapi yang bisa menerimanya akhirnya mereka bisa melewati masa paro baya ini jauh dengan lebih mulus.PG : Itu sebabnya Pak Gunawan, banyak orang berkata: "Suami saya waktu masih miskin tidak banyak ulahnya, sekarang sudah jaya banyak ulahnya banyak masalahnya." Sering kali itu terjadi, say tidak bisa salahkan sampa-sampai orang mempunyai konsep seperti itu.
Orang yang mempunyai kemapanan ekonomi akhirnya merasa lebih percaya diri sehingga lebih berani untuk berelasi dengan lawan jenis. Kalau sebelumnya takut penolakan, sekarang tidak lagi takut penolakan karena dia tahu dia mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan kepada lawan jenisnya. Akhirnya lebih berani, lebih mudah juga jatuh ke dalam dosa. Dan kita tidak bisa sangkali karena sekarang ada uang, dia bisa mengongkosi kehidupan di luar pernikahan ini, mengajak orang pergi ke mana bukankah itu semua memerlukan biaya. Dulu mungkin mempunyai keinginan tapi tak punya uang, sekarang mempunyai keinginan, mempunyai uang dan mempunyai orang yang tersedia di depan mata yang memang tidak berkeberatan diajak senang-senang dengan dia.PG : Sebetulnya ada dua penyebabnya, yang pertama adalah dalam batas yang wajar, perempuan menginginkan ketenteraman, kemapanan, pengayoman. Tidak bisa disangkal, ini semua bisa ditawarkan leh pria-pria yang memang usianya lebih tua, sehingga akhirnya mereka tergoda untuk mendapatkan kemapanan dan ketenteraman dari para pria ini.
Yang kedua lebih bersifat psikologis yaitu mereka menginginkan figur papa dalam hidup mereka. Ada yang mungkin mengalami figur papa terhilang pada masa-masa pertumbuhannya. Kurang mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah sehingga mereka mudah sekali tertarik kepada pria yang lebih tua yang sangat memperhatikan mereka. Ini sebetulnya bisa terjadi yang sebaliknya, yaitu pada wanita yang lebih tua. Ada sebagian pria memang gandrung dengan wanita yang lebih tua, sebab ini adalah pengganti ibu mereka atau pelestarian figur ibu. Dirawat, disayangi, dimanja oleh para wanita yang lebih tua ini. Akhirnya memang terjadi simbiosis, yang muda mendapatkan pengganti ibu atau ayah mereka, yang tua bukan mendapatkan figur anak tapi mendapatkan figur penghibur. Penghibur dan juga membuat mereka bergairah dalam hidup, merasa diri lebih muda, masih tampil menawan akhirnya saling menguntungkan.PG : Dampaknya sangat besar Pak Gunawan, kalau kita mengalami kebangkrutan, PHK pekerjaan pada usia kita masih di bawah 40 tahun, kita masih bisa berkata: "Masih ada kesempatan, saya akan mncoba pekerjaan ini, saya akan memulai usaha ini, saya akan melamar ke sana, ke sini dan sebagainya.
Namun kalau kita sudah berusia pertengahan, 50 tahun, kita akan menyadari satu fakta bahwa lapangan pekerjaan makin mengecil bukan makin membesar. Memang untuk sebagian orang yang mempunyai pengalaman sangat bagus mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang juga bagus setelah misalkan diberhentikan. Namun sebetulnya posisi tinggi, posisi-posisi puncak itu makin sedikit karena kita tahu seperti kerucut, yang di bawah banyak, yang di atas tinggal sedikit. Jadi hanya sedikit orang yang kalau diberhentikan mempunyai kesempatan mendapatkan pekerjaan puncak seperti itu. Mayoritas adalah kalau diberhentikan pada usia paro baya akan kesulitan memulai, akan kesulitan mendapatkan pekerjaan; dia buka koran melihat lowongan pekerjaan hampir semuanya menulis batas usia 30 tahun, 35 tahun. Saya belum pernah melihat lowongan pekerjaan yang berkata batas usia 60 tahun. Jadi memang kalau kita mengalami kebangkrutan atau pemberhentian pada usia paro baya itu dampaknya berat sekali Pak Gunawan. Karena kita tahu kesempatan kita memulai lagi itu hampir tidak ada, jadi tidak jarang orang akhirnya putus asa. Ada yang mengalami depresi berat, jadi akhirnya mempengaruhi kehidupan, emosionalnya goyang, mudah sekali marah, mudah sekali akhirnya bereaksi keras terhadap orang-orang yang ingin memberikan bantuan atau memberikan nasihat; tidak mudah terima saran-saran dari pasangannya. Inilah gejolak-gejolak negatif yang terjadi pada usia paro baya jika mengalami kebangkrutan secara ekonomi.PG : Bisa juga dia menunjukkan bahwa dirinya masih gagah, masih kuat, masih bisa bekerja. Dan kalau ada kesempatan dia masih bisa mengembangkan usaha yang baru. Namun saya harus akui bahwa apangan pekerjaan bukannya membesar, malah mengecil berarti cukup banyak orang yang justru akan mengalami depresi, mengalami kejatuhan moral, mempunyai justru bukan semangat tapi keputusasaan.
Benar-benar tahu tidak ada lagi harapan buat saya memulai sesuatu yang baru.PG : Bisa, dan ini mudah sekali terjadi pada orang yang pertama hubungannya dengan Tuhan tidak terlalu kuat, sehingga mereka gagal berserah kepada Tuhan. Akhirnya mereka beranggapan Tuhan tdak mendengarkan doa saya, saya sudah berdoa mohon Tuhan membukakan jalan, tapi jalan tetap tertutup malah buntu nah bagaima