Patah Hati

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T126A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 

Patah hati merupakan reaksi terhadap putusnya relasi cinta. Seperti halnya dengan hidup, kita harus menempatkan patah hati dalam kerangka pimpinan Tuhan atas hidup kita. Tidak ada hal yang terjadi di luar kuasa dan kehendak Tuhan.

Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Ada orang yang tidak mengalami kesukaran apa pun dalam mencari pasangan hidup; sekali berpacaran, langsung melangkah ke pelaminan. Namun ada orang yang tidak seberuntung itu; mereka harus mengalami putus cinta berkali-kali sebelum akhirnya menikah.

Bagaimanakah caranya menyikapi patah hati?

  1. Patah hati merupakan reaksi terhadap putusnya relasi cinta. Beberapa gejalanya adalah, murung, tidak bersemangat menghadapi hidup, khawatir akan masa depan, marah dan frustrasi, atau kehilangan arah hidup. Sebagaimana kita ketahui, cinta adalah emosi yang kuat yang bersifat mempersatukan. Jadi, dalam relasi cinta, kita merasakan penyatuan dengan pasangan kita dan faktor inilah yang membuat patah hati begitu sulit untuk dilalui. Kita sukar melepaskan diri dari orang yang telah menjadi bagian hidup kita. Hidup kita dan hidupnya telah bertali-temali, kita membagi aktifitas sehari-hari dan mungkin kita pun telah membagi rencana masa depan.

  2. Patah hati seyogyanya sembuh seiring dengan berjalannya waktu, tetapi kadang patah hati menimbulkan masalah lainnya. Misalnya ada yang hendak bunuh diri atau bahkan membunuh pasangannya; ada yang lumpuh dan tidak bisa berfungsi dalam hidup; dan ada yang kehilangan kepercayaan diri. Pada umumnya komplikasi yang timbul merupakan wujud dari problem yang lebih serius yang berakar dari rasa dirugikan. Misalnya, dirugikan karena telah berhubungan seksual, merasa telah dimanfaatkan, merasa dipedaya, hilangnya kesempatan "emas" atau hilangnya tujuan hidup.

  3. Sebagaimana hal lainnya dalam hidup, kita mesti menempatkan patah hati dalam kerangka pimpinan Tuhan atas hidup kita. Tidak ada hal yang terjadi di luar kuasa dan izin Tuhan. Berdasarkan prinsip ini, kita mesti berani mengajukan beberapa pertanyaan penting, misalnya:

    1. Apakah Tuhan berkenan dengan hubungan ini? Jika tidak, terimalah fakta ini sebagai cara Tuhan memisahkan kita dari ikatan yang tidak dikehendaki-Nya. Jika Tuhan berkenan dengan hubungan ini (namun tetap putus), terimalah fakta ini sebagai bagian dari pimpinan Tuhan atas hidup kita yang tidak kita mengerti.

    2. Apakah Tuhan sedang memperlihatkan sesuatu kepada kita? Mungkin kita berandil dalam putusnya relasi ini mungkin juga tidak. Jika kita berandil, terimalah pelajaran yang telah kita peroleh meski harus melalui kepahitan. Jika memang kita tidak berandil, lihatlah pasangan kita dengan obyektif dan ampunilah dia.

  4. Pada akhirnya kita mesti kembali bersandar kepada Tuhan. Patah hati dapat menggoncangkan keseimbangan hidup dan membuat kita mempertanyakan maksud baik Tuhan. Ingatlah, obat patah hati bukanlah kepastian bahwa Tuhan pasti "menggantikan dengan yang lebih baik." Obat patah hati adalah Roma 8:28, "Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Apa pun perasaan kita-tidak ada harapan lagi, kosong, ditinggalkan oleh Tuhan-ingatlah bahwa Ia sedang bekerja melalui peristiwa ini (Ia terlibat) dan tujuan dari segalanya jelas yakni untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.