Skip to main content

Iri Terhadap Saudara Sendiri

Abstrak
Seyogianya kita tidak merasa iri dengan saudara sendiri namun pada kenyataannya, kadang kita merasa iri. Ada beberapa penyebab mengapa adakalanya kita merasa iri kepada saudara sendiri, antara lain : Kita dibanding-bandingkan oleh orang tua, sanak saudara, guru atau teman. Kita membanding-bandingkan diri karena menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh saudara sendiri. Kita dapat merasa iri kepada saudara sendiri bila apa yang tadinya kita punyai kemudian dialihkan kepada orang lain. Kalau itu yang terjadi apa yang akan dilakukan oleh orang tua dalam menghadapi anak yang iri seperti ini ?
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Iri Terhadap Saudara Sendiri". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, punya banyak saudara tentu sesuatu yang membahagiakan kita, tetapi disela-sela kebahagiaan itu sangat sering terjadi bahwa antar saudara bisa merasa iri bahkan sejak kecil dalam hal mereka bermain dan sebagainya itu merasa iri. Ada anak yang mengungkapkan hal itu, tapi ada pula yang tidak mengungkapkannya, namun dari tingkah lakunya kelihatan sekali bahwa dia iri terhadap saudaranya. Apa saja alasan-alasan yang membuat seseorang itu iri terhadap saudaranya bahkan terhadap saudara kandungnya sendiri ?

PG : Ada beberapa penyebabnya, Pak Gunawan. Yang pertama adalah kita dibanding-bandingkan oleh orang tua atau guru atau oleh teman. Sudah tentu kita dibanding-bandingkannya secara negatif dalam pengertian kita dinilai kurang, misalnya kita ini berkulit gelap sedangkan kakak kita berkulit terang akhirnya muncul komentar-komentar, bahkan dari orang tua sendiri kadang-kadang muncul; kamu ini anak siapa ? Kenapa kamu kulitnya gelap ? Kakakmu kulitnya terang dan kami semua kulitnya terang dan sebagainya. Jadi adakalanya kalimat-kalimat yang dilontarkan baik oleh orang tua atau oleh sanak saudara atau oleh guru yang membanding-bandingkan kita membuat kita merasa ada yang kurang dalam diri kita. Jadi dengan kata lain, akhirnya muncullah iri hati karena saya dibandingkan dan saya dibandingkan kurang dan kakak atau adik saya dianggap lebih dan kita tidak mau dianggap kurang tapi kita mau dianggap lebih.

GS : Sebenarnya sejak usia berapa, Pak Paul, seseorang itu atau seorang anak menyadari atau mulai tumbuh rasa iri hatinya ?

PG : Sudah tentu sejak usia anak-anak kecil berumur tiga atau empat tahun sudah mulai memunyai rasa ingin memiliki, makanya apa yang dilihatnya akan dia ambil, kakaknya sedang main sesuatu dia akan ambil sebab apa yang dia inginkan maka dia ingin langsung miliki. Tapi benar-benar rasa iri itu timbul ada pada usia sekitar 7 atau 8 tahun, jadi kira-kira di usia 8 tahun itulah anak-anak itu mulai bisa melihat dirinya dari luar. Artinya dia mulai bisa dengan objektif melihat apa yang dia miliki, apa yang tidak dia miliki dan bagaimana dia membandingkan dirinya dengan orang lain. Anak-anak kecil memang tidak bisa membandingkan diri dengan orang lain karena dia masih belum bisa keluar dari darinya dan membandingkan dirinya denga