Skip to main content

Anak yang Diasuh oleh Orangtua Tunggal

Abstrak

Pengaruh atau akibat secara langsung maupun tidak langsung pasti akan terjadi terutama bagi anak. Akan ada kebutuhan-kebutuhan tertentu yang tidak dapat terpenuhi, namun ada hal-hal juga yang sangat perlu dilakukan bagi orangtua tunggal di dalam mendidik putra-putrinya.

Transkrip

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Ibu Idajanti Raharjo dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan ini merupakan lanjutan dari perbincangan pada beberapa waktu yang lalu tentang orang tua tunggal. Kami percaya acara ini akan sangat bermanfaat bagi kita semua, dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
(1) GS : Pak Paul, pada kesempatan beberapa waktu yang lalu kita telah membicarakan tentang orang tua tunggal, mengenai latar belakang penyebabnya dan sebagainya dan akibat langsungnya. Dan kita mencoba membicarakan dari sisi yang lain kalau ada akibat yang langsung dari orang tua tunggal ini tentu dampak yang paling dirasakan oleh anak. Nah apakah dampak yang tidak langsung dirasakan oleh anak itu, Pak Paul?

PG : Yang pertama Pak Gunawan, anak-anak ini sebetulnya akan mempunyai kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Sebagai contoh kalau misalkan yang pergi meninggalkan mereka adalah si ibu, bisanya mereka akan kehilangan kasih sayang yang khas dari seorang ibu.

Kalau misalkan yang tidak ada adalah ayahnya yang akan juga terhilang dalam keluarga tersebut ialah disiplin yang khas seorang ayah. Saya berikan contoh Pak Gunawan, beberapa waktu yang lalu, istri saya karena ada suatu keperluan meninggalkan kami sekeluarga selama 4 hari kalau tidak salah pergi ke Jakarta. Nah saya masih ingat sekali bahwa suasana rumah kami menjadi sangat berbeda dengan tidak adanya istri saya. Istri saya sangat dekat dengan anak-anak, saya pun mencoba dekat dengan anak-anak tapi ternyata pada waktu istri saya tidak ada di rumah saya benar-benar baru disadarkan bahwa yang sebetulnya menjadi titik sentral, pusat dari kehidupan keluarga kami bukanlah saya, tapi istri saya. Itulah sebabnya waktu dia tidak ada di rumah, tiba-tiba seolah-olah roda keluarga kami berhenti berputar, ketiga anak-anak saya lebih diam, tidak banyak interaksi dan bahkan salah seorang dari ketiga anak saya yang begitu kehilangan istri saya, sampai menangis-nangis setiap hari mencari mamanya. Nah ini harus dibandingkan dengan peristiwa sewaktu saya meninggalkan rumah, saya sudah pernah meninggalkan rumah selama kira-kira sebulan tidak bertemu dengan keluarga saya dan menurut laporan dari istri saya tidak ada seorangpun anak saya yang menangisi saya. Ternyata memang yang menjadi poros atau titik sentral dari keh