Skip to main content

Sulitnya Mengampuni Orang Lain dan Mengampuni Diri Sendiri

Orang yang telah dilukai cenderung sulit mengampuni dan mengampuni diri sendiri karena berbagai faktor seperti masa kecil yang sulit dan belum berkembangnya kepercayaan diri. Proses mengampuni diri sendiri memerlukan langkah-langkah seperti menenangkan diri, mengakui kesalahan, meminta maaf, serta melibatkan kasih Tuhan. Manfaat mengampuni termasuk kesehatan yang lebih baik dan hubungan yang lebih harmonis. Mengampuni melibatkan langkah-langkah seperti menenangkan diri, mengakui kesalahan, meminta maaf dan melibatkan kasih Tuhan.
  • Mengampuni
  • Mengampuni diri sendiri
  • Kasih Tuhan
  • Sulitnya mengampuni disebabkan oleh luka masa lalu, kurangnya kepercayaan diri dan belum berkembangnya kepercayaan diri.
  • Mengampuni diri sendiri melibatkan menenangkan diri, mengakui kesalahan, meminta maaf dan melibatkan kasih Tuhan.
  • Manfaat mengampuni diri sendiri dan orang lain termasuk kesehatan yang lebih baik dan hubungan yang lebih harmonis.

Play Audio


Orang yang sudah dilukai itu cenderung sulit untuk mengampuni. Hal itu disebabkan karena pandangan yang tidak menyeluruh tentang pengampunan. Mereka merasa mengampuni itu merugikan diri sendiri, tetapi sebetulnya pengampunan itu menguntungkan karena hatinya damai.

Faktor-faktor yang menyebabkan orang sulit untuk mengampuni :

  • Telah dilukai hingga cacat.
  • Masa kecilnya sulit untuk memaafkan orang lain, jadi terbawa hingga dewasa.
  • Mulai dari kecil perkembangan kejiwaannya belum menyeluruh, belum berkembang dengan baik sehingga dia belum bisa memercayai orang dan ini membuat dia sulit untuk mengampuni orang lain.

Untuk bisa mengampuni orang lain, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui :

  • Ia harus tahu bahwa apa yang mengganggu adalah suatu masalah dan harus diselesaikan.
  • Dia bisa mengidentifikasikan semua perasaannya dan mengeluarkan semuanya.
  • Membuat satu batasan agar tidak lagi diperlakukan seperti ini.
  • Setelah itu mengampuni dengan kasih Tuhan Yesus.

Manfaat dari mengampuni orang lain yaitu orang lebih sehat, jantungnya lebih sehat, tekanan darahnya lebih rendah, hidupnya lebih bahagia, hubungan suami istri lebih baik, hubungan dengan anak-anak lebih baik, hubungan dengan Tuhan lebih baik, bahkan penjual di toko-toko itu banyak untungnya karena dia menjadi orang yang lebih ramah. Dia menjadi bahagia karena bebannya hilang.

Pengampunan itu tidak sama dengan rekonsiliasi, Rekonsiliasi artinya berhubungan baik kembali dan menjalin hubungan baik. Rekonsiliasi terjadi dua arah, jadi antara kita dan orang lain harus ada unsur pengampunan, sedangkan mengampuni itu tidak harus dua arah.


Pada umumnya, kecenderungan kita berkata sudah mengampuni tetapi saat bertemu dengan orang itu kita menjadi sakit hati lagi. Untuk menghadapi hal ini kita perlu belajar kepada Tuhan Yesus yaitu kita bisa mendoakan musuh kita, belajar berempati. Maka Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita, sehingga saat kita bertemu orang itu kita tidak lagi membenci.

Firman Tuhan di Efesus 4:32 mengatakan, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu".

Bahkan di atas kayu salib, Tuhan Yesus masih mengatakan, "Bapa ampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat".

Ada pertanyaan bahwa mengampuni diri sendiri itu lebih susah dari pada mengampuni orang lain, tetapi ternyata itu tergantung dari orangnya. Ada orang yang mudah mengampuni orang lain, tetapi susah mengampuni dirinya sendiri. Ada juga orang yang bisa mengampuni diri sendiri tetapi susah mengampuni orang lain. Dan ada juga orang sulit mengampuni diri sendiri dan juga orang lain. Yang membedakan semuanya adalah cara pandang masing-masing orang.

Beberapa penyebab yang membuat seseorang merasa bersalah terhadap dirinya sendiri :

  • Menganggap dirinya harus sempurna (Perfeksionis), dirinya harus yang paling betul.
  • Memunyai tuntutan yang besar pada diri sendiri, saya tidak boleh berbuat kesalahan, saya tidak boleh menyakiti orang lain. Jadi saat dia menyakiti orang lain baik secara sengaja atau pun tidak, maka dia akan sulit untuk mengampuni diri sendiri.
  • Orang yang tidak bisa mengampuni diri sendiri ditandai dengan penuh kemarahan pada dirinya, selalu memunyai pandangan yang negatif dan merasa dia pantas untuk mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain; tidak menyenangi dirinya sehingga hidup awut-awutan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengampuni diri sendiri :

  • Kalau Allah sudah mengampuni, maka dia harus belajar mengampuni diri sendiri.
  • Merendahkan diri di hadapan Allah.
  • Melihat bahwa apa yang telah terjadi itu sudah lewat, dia harus tahu apa yang dia perbuat itu sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi dan dia mau bertanggungjawab.
  • Mengeluarkan segala macam kepedihan, rasa dukacita dan rasa malu.
  • Untuk orang yang perfeksionis, dia harus menyadari bahwa dirinya sendiri adalah manusia dan dia perlu merendahkan diri.

Dampak bila kita tidak mau mengampuni diri sendiri :

  • Menjadi sakit-sakitan
  • Hidupnya tertekan
  • Mukanya kusut
  • Pemalas
  • Dan menghukum keluarganya.

Jika ada sesuatu yang mengingatkan dia akan kesalahannya, maka dia harus minta maaf kepada orang yang dia lukai dan berbuat apa yang dia bisa untuk mengganti rugi dan juga minta ampun kepada Tuhan.

Firman Tuhan di Matius 22:39 mengatakan, "Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Jadi kita perlu mengasihi diri sendiri seperti kita juga mau mengampuni orang lain.


Ringkasan T220 A+B
Oleh : Pdt. Dr. Vivian Andriani Soesilo
Simak judul-judul kategori "PERMASALAHAN HIDUP" lainnya
di www.telaga.org



PERTANYAAN :

Yth. Telaga,

Selamat malam, saya telah membaca tulisan tentang "Relasi dengan Pasangan"…..apa yang ditulis tentang relasi pranikah yang tercemar oleh hubungan seksual. Ya…….persis seperti yang ditulis yang saya alami sekarang. Saya ingin menyelesaikan masalah yang ada, sekarang masih tinggal serumah dengan 2 orang putri. Relasi saling menghindar, jarang bicara, saling mengabaikan mendominasi relasi sekarang. Saya mengalami gangguan psikis 3 kali, terakhir ini menjalani konseling rutin selama satu tahun…..hanya saya saja. Pasangan tidak mau.

Sekarang cenderung ‘mood’ mudah berubah, semangat ‘up and down’ berulang-ulang…….segala kebutuhan pribadi saling tidak memenuhi di antara kami, seks, komunikasi, keuangan…….jadi masing-masing sekarang ini.

Pernikahan bertahan lebih kepada memertahankan status sosial dan rumah yang sudah ada tidak mau dibagi. Lelah…….ingin pisah, tapi sekarang seperti tidak ada daya……Apa yang harus saya lakukan lagi, Pak ?

Terima kasih.

Salam : E.G.


JAWABAN :

Menjumpai Ibu E.G.,

Ditengah p