Skip to main content

Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan

Artikel ini mengajak pembaca untuk merajut masa lalu dan merenda masa depan dengan refleksi diri. Artikel tersebut menggambarkan bagaimana ketidakbahagiaan dan kesalahpahaman dalam hubungan dapat menyebabkan siklus yang sulit dipecahkan. Melalui observasi sederhana, seperti memperhatikan rumput yang tumbuh di tempat-tempat tidak terduga, artikel tersebut mendorong pembaca untuk mengakui kesalahan masa lalu, menerima diri sendiri, dan fokus pada pencapaian serta perbaikan diri, serta menghargai pemberian Tuhan. Artikel ini juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dalam mengerjakan tanah sendiri dan memberikan kembali kepada Tuhan.
  • Rumput
  • Kebahagiaan
  • Refleksi diri
  • Masalah
  • Tuhan
  • Kerja keras
  • Pencapaian
  • Artikel ini menekankan pentingnya refleksi diri dan mengakui kesalahan masa lalu sebagai langkah awal untuk mengubah nasib.
  • Artikel tersebut mendorong pembaca untuk memfokuskan energi pada pencapaian dan perbaikan diri, serta menghargai berkat yang telah diberikan Tuhan.
  • Artikel ini menyoroti pentingnya kerja keras dan tanggung jawab pribadi dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.
  • Artikel ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dalam mengerjakan tanah sendiri dan memberikan kembali kepada Tuhan.

Play Audio



Belajar dari Rumput

"Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!" (Lukas 12:28)

Oleh: Ev. Sudarmadji, M.Th. Konseling

Memerhatikan halaman rumah yang kami tinggali, ada yang menarik di sela-sela paving blok yang tertata rapi. Ada rumput yang tumbuh di sana. Saya mencoba melihat sekeliling dan di tempat yang lain ada lagi rumput yang tumbuh di sela-sela batu paving. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu mengherankan karena kita tahu bahwa rumput dapat tumbuh di mana saja sekalipun di tempat yang sangat sedikit tanahnya. Malah saya pernah menemukan ada rumput yang tumbuh di tembok yang retak. Mengagumkan ya?

Ayat tersebut di atas juga membicarakan tentang rumput yakni rumput yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api. Saya mencoba merenungkan bagian itu dan saya dapati bahwa Tuhan tidak memandang jelek atau mengatakan sesuatu yang negatif tentang rumput. Rumput hanya dijadikan sebagai pembanding untuk orang yang khawatir supaya mereka berpaling melihatnya. Rumput yang hidupnya hanya sebentar saja didandani dan dipelihara Allah.

Dari pengandaian itu seharusnya kita malah belajar tentang kebaikan atau kelebihan rumput. Seperti yang kita bicarakan di awal tadi, rumput mampu hidup di tempat-tempat yang paling sulit sekalipun. Ia hidup di mana saja, termasuk di celah tembok yang sangat terbatas. Itu memberikan kepada kita pelajaran agar kita dapat memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk ada di sana dan memberi warna.

Bukan hanya itu, yang lebih baik lagi rumput akan terasa manfaatnya bila dalam jumlah banyak. Apabila hanya satu dua tanaman saja maka rumput tampak jelek. Demikian juga bila diberikan pada binatang ternak sebagai makanan akan membutuhkan rumput dalam jumlah yang relatif banyak, apalagi untuk taman atau lapangan bola. Rumput yang sedikit saja tidak terlalu bermanfaat malah merusak pemandangan, akan tetapi bila rumput merata tumbuh memenuhi taman atau lapangan maka akan nampak hijau indah menyejukkan mata.

Dari fungsinya yang bermanfaat jika dalam kumpulan besar seharusnya kita juga menirunya. Seringkali kita lebih suka jadi "lone ranger". Kita lebih ingin diakui bahwa kita yang paling hebat, dapat melakukan segala sesuatu sendiri. Apabila berhasil mencapai sesuatu, kadang kita kurang dapat mengakui peran orang lain.

Kita seharusnya malu pada rumput apabila dalam hidup kita selalu mengeluh bahwa hidup itu sulit, hidup itu susah. Kita harus berusaha untuk memanfaatkan peluang-peluang kecil yang terbuka dan menggunakan waktu yang Allah berikan karena kesempatan hidup kita tidak panjang. Kita juga harus dapat menghargai komunitas dengan lebih baik lagi sebab dalam kebersamaan fungsi kita akan lebih berdampak.


Telaga Kehidupan mengadakan persekutuan keluarga (pengurus LBKK dan tim Telaga Kehidupan) pada tanggal 9 Januari 2022. Membuka Tahun Baru 2022 dengan menaikkan puji-pujian sebagai rasa ucapan syukur kepada Tuhan, yang dipimpin oleh Ev.Sri Wahyuni Tjokrodiredjo atau dikenal juga dengan nama Lie Bing. Pada kesempatan ini, Bapak Gunawan Santoso dan Bapak Jusuf N.T. juga menyampaikan kesaksian tentang penyertaan Tuhan di tahun 2021. Sdr. Albert mempersembahkan pujian dengan judul "Imanuel."

Renungan Firman Tuhan disampaikan oleh Ibu Anita Sieria dengan tema "Love in The Wilderness" (Hosea 2:13-15). Berdasarkan Hosea 2:13-15 tersebut, ada 3 prinsip penting yang kita bisa pegang yaitu: Pertama, padang gurun adalah tempat yang kering, tandus, serba kekurangan, tidak ditinggali manusia, dan penuh ketidakpastian, serta bahaya (Ulangan 8:15). Tapi padang gurun juga adalah tempat di mana Allah akan berbicara pada kita secara pribadi. Hosea 2:13 "Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya." Dalam bahasa Ibrani, kata padang gurun–BaMidbar berasal dari akar kata yang artinya ‘to speak’–berbicara.

Kedua, di padang gurun, rasanya tidak ada satu pun yang dapat kita harapkan, penuh kekeringan. Tapi saat tidak ada apa pun dan siapa pun yang dapat kita harapkan, kita akan melihat Tuhan menjadi satu-satunya sumber pengharapan yang pasti. Hosea 2:14 "Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor (lembah kesulitan) menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana ("She shall sing there"–NKJV) seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir".Ulangan 8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. Kadang kita mencari penghiburan dan kepastian melalui hal-hal yang kita kenal. Kita mencoba berbagai hal yang menenangkan kita, tapi Tuhan punya manna yang tidak kita kenal. Cara yang baru yang sama sekali tidak kita duga, bahkan tidak kita kenal. Maka ketika kita mengalami dan merasakannya, kita akan tahu pasti bahwa pertolongan itu datangnya dari Allah.

Ketiga, di padang gurun yang kering dan tandus itu, Tuhan membawa kita melekat kepada-Nya dan kita mengalami kasih-Nya. Begitu dekat seperti seorang suami. Hosea 2:15 Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggilku Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku! (‘My Master’! – NKJV). Kesimpulannya, padang gurun adalah tempat yang kering, tandus, serba kekurangan, tidak ditinggali manusia, dan penuh ketidakpastian, serta bahaya.


Tetapi padang gurun juga adalah tempat kita berdua saja dengan Tuhan, tempat di mana Tuhan akan berbicara pada kita. Tempat di mana kita akan menikmati kasih setia-Nya, berharap pada-Nya, dan melekat pada-Nya. Di padang gurun, Tuhan juga akan senantiasa ada bersama dengan kita, Ia tidak pernah meninggalkan kita di masa-masa yang tersulit dalam hidup kita (Nehemia 9:19).

Dalam momen Natal dan Tahun Baru ini, saya diingatkan kembali akan satu kisah Natal, yaitu kisah ketika para gembala mendengar kabar tentang kelahiran Yesus Kristus. Setelah mereka berjumpa dengan bayi Yesus, mereka kembali sambil memuji dan memuliakan Allah (Lukas 2:8-20). Setelah berjumpa dengan Sang Mesias, mereka tetap adalah gembala, mereka tetap akan kembali pada rumah yang sama, pekerjaan yang sama, rutinitas yang sama. Akan tetapi, sekarang hati mereka berbeda, mereka pulang sambil memuji dan memuliakan Allah. Dalam tahun yang baru ini, kita mungkin akan kembali pada rutinitas yang sama, kondisi tidak menentu yang sama, dan berbagai tantangan yang ada. Kiranya berita pengharapan bahwa Yesus telah lahir dan bahwa Ia adalah Imanuel – Allah beserta kita (Matius 1:23), membuat hati kita senantiasa memuji dan memuliakan Allah di tengah padang gurun kehidupan yang telah, akan, atau sedang kita jalani.

Diliput oleh: Ev. Sri Wahyuni Tjokrodiredjo, S.E., M.Th.



Neal Clark Warren, seorang psikolog Kristen di Amerika, menegaskan bahwa seberapa sehatnya suatu pernikahan sesungguhnya bergantung pada seberapa tidak sehatnya si suami atau si istri itu sendiri.

Martin Berkowitz, seorang pakar pendidikan karakter di Amerika, menyimpulkan dengan tepat, "Cara terbaik menciptakan dunia yang lebih adil dan lebih mempedulikan satu sama lain (caring) adalah dengan cara menciptakan manusia yang lebih adil dan lebih mempedulikan satu sama lain". Singkat kata, cara terbaik menciptakan pernikahan yang lebih sehat adalah dengan cara menciptakan pribadi suami dan istri yang lebih sehat pula.

Firman Tuhan pun mengajarkan hal yang sama. Perubahan atau transformasi mesti terjadi pada level pribadi, sebagaimana disarikan dengan indah dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Sebagaimana kita ketahui, siapakah diri kita sekarang merupakan kepanjangan atau produk dari masa lalu yang kita alami. Dan, masa lalu yang buruk berpotensi besar memburukkan pertumbuhan diri, yang pada akhirnya berdampak negatif pada pernikahan. Itu sebabnya kita mesti menata ulang dan merenda diri secara lebih sehat agar pernikahan menjadi sehat pula. Saya akan membagikan empat langkah untuk membangun pribadi yang sehat, yang saya rangkumkan dalam empat tema:



  1. saya tidak bahagia,
  2. saya tidak layak,
  3. saya tidak berfungsi, dan
  4. saya tidak menyerah.

A. SAYA TIDAK BAHAGIA

Berikut akan dijelaskan beberapa ciri relasi yang tidak membahagiakan dan dampaknya pada anak.
Pertama, secara alamiah kita tidak nyaman dengan ketidakbahagiaan dan akan berusaha untuk mengeluarkannya.
Masalahnya adalah, bukan saja kita melampiaskan ketidakbahagiaan itu kepada satu sama lain, kita pun melampiaskannya pada anak-anak pula. Jadi, dimulailah sebuah siklus berputar: Karena merasa tidak bahagia, kita melampiaskannya pada satu sama lain. Alhasil baik pasangan maupun anak merasa tidak bahagia karena ditimpa ketidakbahagiaan. Mereka pun melemparkan ketidakbahagiaan itu kepada kita. Begitu seterusnya.
Kedua, akibat perputaran ketidakbahagiaan itu, sebenarnya ketidakbahagiaan bertambah besar dan bertambah kompleks.
Ketika suami merasa tidak bahagia dan melemparkan ketidakbahagiannya itu kepada si istri sehingga membuat si istri tidak bahagia. Sewaktu orangtua melemparkan ketidakbahagiaannya kepada anak, tidak bisa tidak, anak akan menyerap dua ketidakbahagiaan—dari ayah dan ibu. Bukan saja bertambah besar, ketidakbahagiaan itu makin bertambah kompleks. Anak akan bingung karena ia melihat dari masing-masing sisi—ayah dan ibu. Ia pun tambah tertekan karena ia tidak melihat solusi dari kemelut masalahnya.


Ketiga, pada akhirnya kita berusaha mencari solusi untuk melenyapkan ketidakbahagiaan.
Ada orangtua yang mendapatkan solusinya di luar keluarga—dengan berjudi, bekerja siang dan malam, atau berselingkuh. Ada anak yang mencari solusi dengan berbuat ulah di sekolah atau dalam pergaulan. Sayangnya, ada pula orangtua yang mencari solusi dengan cara memberi tuntutan kepada anak untuk melenyapkan ketidakbahagiaannya. Anak yang mendapat tuntutan untuk meringankan beban ketidakbahagiaan orangtua akan terlibat dalam sebuah relasi yang tidak sehat.

B. SAYA TIDAK LAYAK

Akibat jeratan siklus ketidakbahagiaan si anak keluar dari rumah dan masuk ke dalam dunia dengan sebuah papan pengumuman: "Saya Tidak Layak." Ia merasa tidak layak untuk bahagia. Singkat kata ia kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan anak: penghargaan diri (self-esteem). Anak yang tidak memiliki penghargaan diri pada akhirnya beranggapan bahwa ia tidak layak mengalami sesuatu yang baik. Ia ditakdirkan untuk hidup susah dan ia pun meyakini bahwa ia tidak akan mengalami kebahagiaan.
Masalahnya adalah, secara diam-diam ia menyalahkan orang lain sebagai penyebab mengapa ia tidak layak untuk bahagia. Memang pada awalnya ia menyalahkan orangtua sebagai penyebab mengapa ia menjadi seperti itu. Namun setelah ia dewasa dan berada di luar rumah, ia pun mulai mengalihkan pandangannya kepada orang di sekelilingnya.
Sudah tentu pola ini akan dibawanya ke dalam pernikahan. Ia menuntut pasangan untuk membahagiakannya. Tidak bisa tidak, sikap seperti ini akan meletihkan pasangan—dan juga dirinya. Pasangan merasa tidak sanggup lagi menjadi pemasok kebahagiaan dan berusaha mengelak. Masalahnya, begitu mengelak, dengan cepat ia akan menuduh bahwa pasangan sudah tidak mencintainya lagi. Maka dimulailah sebuah siklus baru: ia mengejar pasangan supaya membahagiakannya, pasangan berusaha mengelak dan menjauh, makin menjauh makin ia merasa diri tidak layak, dan makin merasa tidak layak, makin ia memaksa pasangan membuatnya layak dan bahagia.


C. SAYA TIDAK BERFUNGSI

Kegagalan akhirnya menjadi bagian hidup si anak yang tak terelakkan lagi. Ia gagal membina pertemanan sehingga pada akhirnya ia cenderung menyendiri. Persahabatan menjadi dangkal dan karena ia menyadari bahwa persahabatan akan berakhir dengan kekecewaan, ia pun menjaga jarak. Ia berteman seaman mungkin dan berusaha memelihara jarak senyaman mungkin.
Pernikahan juga menjadi ajang kegagalannya. Kendati ia lebih banyak menyalahkan pasangan, namun kenyataan pahit berada di pelupuk mata: ia telah gagal membina pernikahan yang harmonis. Pasangan tidak lagi mencintainya, anak tidak dekat dan tidak menghargainya. Semua seakan membalikkan badan dan meninggalkannya. Pada akhirnya ia melihat diri sebagai seorang manusia yang tidak lagi berfungsi.
Pada umumnya kita baru sampai pada tahap ini di usia pertengahan. Pada saat itu anak-anak sudah akil balig dan meninggalkan rumah. Hubungan dengan pasangan telah menjadi begitu renggang sehin