Skip to main content

Ia Sudah Menyediakan Segala Sesuatunya

Artikel ini menceritakan pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan Israel di bawah kepemimpinan Musa, khususnya dari peristiwa-peristiwa seperti pengejaran Mesir oleh Laut Merah, kesulitan air di Elim dan Masa/Meriba, kelaparan, dan bagaimana Tuhan secara tak terduga menyediakan kebutuhan Israel. Tuhan selalu siap dan menolong, bahkan ketika caraNya tidak selalu mudah dipahami atau terlihat secara langsung. Pengalaman bersama anak laki-laki autisme, Andi, menjadi ilustrasi bagaimana kita perlu memahami perspektif orang lain dan bagaimana Tuhan turut merasakan pergumulan kita.
  • Tuhan
  • Israel
  • Laut Merah
  • Elim
  • Manna
  • Air
  • Persiapan
  • Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya jauh sebelum masalah datang, seperti air di Laut Merah, 12 mata air di Elim, dan air di balik gunung batu.
  • Tuhan tidak mencegah masalah datang, tetapi menolong ketika masalah datang, seperti menyelamatkan Israel dari serbuan Mesir atau memberikan manna dan daging burung puyuh.
  • Tuhan selalu menolong melalui cara yang tidak terduga, seperti melalui anak laki-laki autisme yang "merusak" kok tersebut sebagai cara untuk membuatnya menjadi "kepala barongsai" yang lebih besar.

Play Audio


Memasuki tahun 2024 marilah kita simak artikel di bawah ini

Tuhan tahu apa yang AKAN terjadi sedang kita tahu apa yang TELAH terjadi. Oleh karena kita hanya tahu apa yang telah terjadi dan tidak tahu apa yang akan terjadi, kita mudah cemas. Sewaktu menghadapi kesulitan kita bingung dan dalam kebingungan kita mudah marah dan menyalahkan Tuhan. Lewat perjalanan Israel dari Mesir menuju Kanaan, kita dapat belajar satu pelajaran berharga yakni Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya. Kita tidak perlu khawatir—apalagi marah—sebab Tuhan tahu dan Ia sudah berjalan di muka.

Tantangan pertama yang dihadapi Israel setelah keluar dari Mesir adalah kejaran serdadu Mesir. Tuhan menolong; Ia menenggelamkan Mesir di Laut Merah. Tantangan kedua yang dihadapi Israel adalah kesulitan air. Di Mara ada air tetapi airnya pahit. Tuhan menyuruh Musa melemparkan kayu ke dalam air, dan air itu menjadi manis sehingga dapat diminum. Setelah itu Tuhan membawa mereka ke Elim dan di situ terdapat 12 mata air dan 70 pohon korma. Tantangan ketiga adalah kelaparan. Tuhan menolong dengan cara menyediakan manna yang turun dari langit dan daging burung puyuh untuk lauknya. Tantangan keempat adalah tidak ada air sewaktu mereka tiba di Masa dan Meriba. Tuhan menyuruh Musa memukul gunung batu dengan tongkatnya dan keluarlah air, sebagaimana dapat kita baca di Kitab Keluaran 17. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik.

  1. PIMPINAN TUHAN BERARTI PEMELIHARAAN TUHAN. JIKA TUHAN MEMIMPIN, IA AKAN MEMELIHARA.
    Tuhan tidak akan meminta kita melakukan sesuatu tanpa memberikan kepada kita kekuatan untuk mengerjakannya. Ia tidak akan menuntun kita keluar dan pergi ke suatu tempat tanpa menyediakan pengarahan yang jelas. Dan, Ia tidak akan meminta kita menaati-Nya tanpa memimpin kita ke dalam kehendak-Nya. Namun, satu hal yang mesti kita ketahui adalah, TUHAN TIDAK MEMELIHARA DENGAN CARA YANG SAMA. Di Elim Tuhan menyediakan kebutuhan melalui 12 mata air dan 70 pohon korma. Tatkala di Masa dan Meriba, Tuhan menyediakan air lewat gunung batu. Sewaktu di Laut Merah, Tuhan menyelamatkan Israel dari serbuan tentara Mesir tanpa mereka meneteskan darah sedikit pun. Namun di Rafidim, Israel harus berperang melawan Amalek. Kadang kita panik karena tidak melihat Tuhan menolong, padahal Ia sudah menolong lewat cara yang lain. Kendati situasinya sama, tidak selalu Tuhan menggunakan cara yang sama. Sering kali Ia justru memakai cara yang berbeda. Jadi, percayalah. Setelah kita berdoa meminta pertolongan-Nya, yakinlah bahwa Ia akan menolong dan terbukalah dengan cara-Nya yang lain. Seorang ayah bercerita bahwa pernah suatu ketika ia menghadapi beban ekonomi yang berat. Ada beberapa kebutuhan besar yang muncul secara bersamaan. Ia berdoa dan berharap Tuhan akan memenuhi kebutuhannya lewat pekerjaan yang digelutinya. Namun ternyata harapannya tidak menjadi kenyataan. Ia tidak memeroleh tambahan penghasilan. Di saat kritis itulah muncul kesempatan yang tidak diduganya; ia mendapatkan penghasilan tambahan lewat pekerjaan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tuhan menolong dengan cara lain.
  2. TUHAN TIDAK MENCEGAH MASALAH DATANG, IA MENOLONG TATKALA MASALAH DATANG.
    Tuhan tidak mencegah Mesir mengejar Israel; Tuhan membiarkan, tetapi pada waktunya Ia menolong. Tuhan tidak mencegah Israel kehausan, baik di Elim maupun di Masa dan Meriba, namun pada waktunya Tuhan menolong. Tuhan tidak mencegah Amalek menyerang Israel di Rafidim, tetapi pada waktunya Tuhan menolong. Sudah tentu kita berharap Tuhan mencegah masalah datang, bukan menolong tatkala masalah datang. Itu tidak dilakukan-Nya. Ia tidak mencegah masalah datang sebab Ia tidak ingin kita mengikut-Nya atas dasar kemudahan hidup. Ia tidak menjanjikan kemudahan hidup; mengikut-Nya tidak berarti hidup lebih nyaman dan mudah. Sama seperti yang lainnya, kita tetap harus menghadapi persoalan hidup; bedanya adalah kita tidak sendirian. Tuhan bersama kita.
  3. TUHAN SUDAH MENYIAPKAN SEGALA SESUATUNYA JAUH SEBELUM KITA MENJUMPAI MASALAH ATAU KEBUTUHAN.
    Sebelum Israel sampai di tepi Laut Merah, Tuhan sudah menyiapkan air di Laut Merah untuk menenggelamkan tentara Mesir. Sebelum Israel tiba di Elim, Tuhan sudah menyiapkan 12 mata air dan 70 pohon korma. Dan, sebelum Israel tiba di Masa dan Meriba, Tuhan sudah menyiapkan air di balik gunung batu. Tuhan sudah memikirkan dan menyiapkan segala sesuatunya jauh sebelum masalah datang. Pernah saya berjumpa dengan seorang penderita penyakit terminal. Ia seorang yang tidak punya dan hidup sebatang kara. Di dalam pertemuan itu tidak henti-hentinya ia memuji Tuhan yang telah menyiapkan segala sesuatunya. Jauh sebelum ia didiagnosis dengan penyakit itu, ia berkenalan dengan sesama saudari dalam Kristus yang membuka pintu rumahnya untuk dia. Atas anugerah Tuhan ia dapat tinggal di rumah itu secara gratis. Dan, di rumah itulah akhirnya ia menerima perawatan yang dibutuhkannya sampai ia pulang ke rumah Bapa di surga. Berkali-kali saya mendengar cerita serupa dari orang-orang percaya. Semua memerlihatkan Tuhan sudah memikirkan dan menyiapkan segala sesuatunya jauh sebelum masalah datang. Sewaktu kita melihatnya, tidak bisa tidak, kita dikuatkan dalam menghadapi masalah. Kita tahu bahwa jika Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya, itu berarti Ia mengendalikan segala sesuatunya. Tidak ada yang terjadi di luar kuasa-Nya; kita aman di dalam tangan-Nya.
Mazmur 92:6 mengingatkan, "Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu." Ya, besarlah pekerjaan Tuhan dan sangat dalamlah rancangan-Nya, jauh melebihi kesanggupan kita untuk memikirkannya. Ia tidak pernah kehilangan akal, Ia tidak pernah kewalahan, dan Ia tidak pernah berhenti memerhatikan kita, anak-anak yang dikasihi-Nya.

Ringkasan T 500 A
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul tentang "MASALAH HIDUP" lainnya di www.telaga.org


PERTANYAAN :

Saya seorang pemudi berusia 33 tahun, tidak memunyai figur ayah yang memimpin/pelindung/berkarakter kuat, karena ibu yang lebih dominan dan lebih pintar. Saat ini saya sedang didekati oleh seorang pria berusia 35 tahun, seiman, tapi kalau menurut analisa saya, tidak seimbang dalam hal cara berpikir, logika dan iman juga. Dia seorang pengurus/pelayan, tapi hubungan pribadi dengan Tuhan tidak dinamis dan baru mulai lagi setelah 10 tahun, sebelum bertemu dengan saya. Ada banyak hal yang tidak saya sukai dari dia, tapi berkali-kali ditolak, berkali-kali juga dia datang dan berjanji untuk berubah atau menjadi lebih baik. Meskipun saya tidak tahu apakah motivasinya sebatas supaya saya suka atau memang dia benar-benar berubah, terutama hal-hal yang berkaitan dengan karakter/sifat ayah saya yang saya benci.

Mohon nasihat untuk sikap saya ke depannya. Saat ini saya belum meng-iya-kan untuk berpacaran dengan dia, meskipun sudah jalan berdua beberapa kali, tapi hal ini malah menjadi beban saya, karena saya menjadi merasa sungkan atau bahkan sulit untuk menolak dia. Tapi di sisi lain saya juga mengingat umur dan apakah karena luka hati saya sehingga saya tidak bisa membuka diri untuk orang lain yang sifatnya mirip ayah, tetapi bukan ayah. Saya merasa sangat bingung.

Terima kasih, salam : NTL


JAWABAN :

Yang terkasih Sdri. NTL,
Terima kasih sudah membagikan pergumulan melalui email ini. Nampaknya kebingungan Anda bersumber dari kondisi yang serba salah. Di satu sisi Anda ‘dituntut’ karena usia untuk segera memiliki pasangan, namun di sisi lain Anda bertemu dengan figur pria yang tidak Anda sukai bahkan mirip dengan figur ayah. Anda merasa tidak cocok dan tidak suka, namun pihak pria terus maju, sehingga sepertinya tidak kuasa untuk menolak.

Memiliki pasangan hidup memang perlu sangat berhati-hati karena menyangkut keputusan seumur hidup. Anda perlu mengenali diri sungguh-sungguh dan juga mengenal calon pasangan. Kadang-kadang keputusan menjadi gegabah karena tekanan tertentu, misalnya tekanan pihak orang tua atau tuntutan usia.

Sekiranya Saudari NTL dapat memertimbangkan beberapa hal, yaitu :
  • Jangan merasa terpaksa menerima pasangan hanya karena faktor usia jika memang ada hal mendasar yang dirasakan tidak cocok. Apabila Anda memang merasa sudah cukup mengenal pria tersebut dan memang tidak menemukan hal-hal yang mendukung untuk maju lebih jauh, ada baiknya bersikap terbuka dan benar-benar tegas, sehingga Anda tidak terkesan memberi harapan kosong atau menggantung hubungan.
    Jika Anda masih ingin berusaha mengenal lebih jauh untuk menentukan keputusan berpacaran atau tidak, juga bersikaplah terbuka dan berikan batas waktu yang bisa kalian berdua sepakati. Dengan kejelasan ini Anda bisa meminta pria tersebut untuk tidak terus-menerus ‘merongrong’ tapi menuruti kesepakatan yang sudah dibuat bersama.
  • Faktor luka hati terhadap ayah memang perlu disadari dan dipulihkan, namun memang biasanya hal ini akan memengaruhi seseorang dalam memilih figur pasangan hidup. Seperti halnya Anda cenderung ingin memilih pria yang tidak seperti ayah, hal ini adalah hal yang wajar. Ada baiknya Anda mengenali sungguh-sungguh sifat dan kebutuhan Anda sehingga Anda bisa menentukan tipe pria seperti apa yang cocok atau tidak cocok dengan Anda.
  • Yang perlu disadari adalah ketika Anda menjadi ‘terlalu sensitif’ apabila pasangan bersikap seperti yang ayah Anda lakukan, misalnya ia tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat sehingga Anda marah, seolah-olah Anda sedang berhadapan dengan ayah Anda. Hal inilah yang perlu proses pemulihan. Adakalanya ketika Anda sudah berusaha memilih pasangan yang berbeda dengan ayah, terkadang masih ada perilaku yang mirip dengan ayah. Jika Anda sudah memproses luka hati Anda maka mungkin Anda tetap merasa tidak suka, tapi tidak lagi menjadi terlalu sensitif.

Mudah-mudahan Saudari NTL terus melibatkan Tuhan dalam pergumulan mencari dan menemukan teman hidup. Dia tahu yang terbaik dan terus mendampingi serta merencanakan yang terbaik bagi hidup Saudari NTL, baik ketika masih sendiri maupun sudah berpasangan. Percayalah kepada DIA !

Salam dari :
Stefani Sutedjo



KEGEMBIRAAN BERMAIN BARONGSAI:

 ALLAH TURUT MERASAKAN

Oleh : Lidanial, M.K., M.Pd. *)

"Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)

Beberapa waktu yang lalu, pengalaman bersama Andi (8 tahun, bukan nama sebenarnya), seorang anak laki-laki dengan autisme, mengajar dan mengingatkan saya kembali tentang pentingnya upaya memahami alasan yang melatarbelakangi sebuah perilaku tertentu muncul, khususnya perilaku yang sekilas terkesan negatif yang ditunjukkan oleh anak-anak yang pada umumnya masih terbatas kemampuan dalam mengomunikasikan perasaan mereka. Apalagi bagi anak-anak dengan autisme yang tidak atau belum mampu menyampaikan secara verbal keinginan mereka seperti Andi.

Dalam salah satu sesi pembelajaran (intervensi) di rumahnya, saya mengajak Andi bermain bulu tangkis yang merupakan salah satu aktivitas yang disenanginya. Setelah sekitar sepuluh menit kami bermain bersama, Andi tiba-tiba mengambil kok yang kami gunakan dan membawanya berlari sambil memutari ruangan. Bukan sekadar memegang kok tersebut, terlihat jelas gerakan jari-jari tangannya seperti ingin mencabut atau melepas bulu-bulu yang ada di kok tersebut.

Ayah Andi yang juga bersama dengan kami pada waktu itu segera menegur Andi, "Andi, tidak boleh dirusak koknya!" Saya juga mendekati Andi, berdiri di depannya sambil memegang tangannya yang memegang kok dan menatapnya, saya berkata, "Andi, tidak boleh dicabut ya." Tapi di luar dugaan saya, Andi menunjukkan respons yang tidak seperti biasanya. Sepertinya dia kesal dan tidak mau mengikuti permintaan kami. Terasa dia mengeraskan tangannya yang saya pegang. Kemudian dengan cepat dia menarik tangannya dari pegangan saya lalu kembali berlarian sambil jari-jari tangannya terlihat berusaha mencabut bulu-bulu kok tersebut. Dalam benak saya muncul pertanyaan, "Mengapa perilaku Andi agak berbeda hari ini ya? Biasanya dia nurut, tetapi mengapa tadi dia sepertinya kesal pada waktu saya memintanya untuk tidak mencabut bulu kok itu ya?"

Pada waktu itu, saya sempat terpikir untuk mengambil kok itu, atau lebih tepatnya merebutnya dari tangan Andi daripada kok yang masih baru itu rusak. Tetapi, sebelum saya melakukannya, tiba-tiba saja, saya teringat sesuatu ketika melihat Andi melakukan satu gerakan yang unik dengan kok tersebut. Sebuah gerakan yang sering saya lihat dilakukan Andi. Dengan kedua tangannya, Andi memegang dan mengangkat kok yang kecil itu dengan kedua tangannya, memposisikannya beberapa sentimeter di atas kepalanya dalam posisi seperti topi segitiga, lalu dia berlari sambil melompat-lompat.

Gerakan Andi tersebut mengingatkan saya tentang gerakan dalam permainan barongsai yang hampir dalam setiap sesi intervensi dilakukannya ketika dia merasa senang atau sudah bosan dengan satu aktivitas. Dia akan mengambil apa saja yang "dianggapnya" atau dapat dijadikannya seperti kepala barongsai, memposisikannya di atas kepalanya, kemudian dia akan melompat-lompat meniru gerakan pemain barongsai sambil tertawa kegirangan. Terkadang dia naik ke atas kursi lalu melompat sambil menggerakkan sesuatu yang dianggapnya "kepala barongsai"