Skip to main content

Anak yang Tidak Ingat Budi

Anak yang tidak mengingat budi orang tua dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk merasa budi yang diterima sebanding dengan budi yang diberikan, luka di hati akibat perbuatan orang tua, rasa malu terhadap kondisi orang tua, tidak mau berutang budi karena dianggap sebagai "investasi," atau sifat mementingkan diri sendiri. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu melakukan introspeksi diri, berhenti membangkit-bangkit perihal budi, dan berbuat baik secara tidak mementingkan diri. Penting diingat bahwa menghargai atau tidaknya anak merupakan tanggung jawabnya sendiri.

  • Budi
  • Investasi
  • Introspeksi diri
  • Luka di hati
  • Menghargai
  • Bertobat
  • Orang tua
  • Tanggung jawab
  • Anak tidak mengingat budi karena merasa budi yang diterima sebanding dengan budi yang diberikan.
  • Anak tidak mengingat budi karena terdapat luka di hatinya akibat perbuatan orang tua.
  • Anak tidak mengingat budi karena malu terhadap kondisi orang tua.
  • Anak tidak mengingat budi karena tidak mau berutang budi yang dianggap sebagai "investasi".
  • Orang tua perlu melakukan introspeksi diri dan berbuat baik secara tidak mementingkan diri.

Play Audio

Berita Telaga Edisi No. 75 /Tahun VII/ November 2010


Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645 Email: telagaindo.net.id Website: http://www.telaga.org Pelaksana: Melany N.T., Dewi K. Megawati Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon


Salah satu hal menyakitkan yang kadang mesti kita hadapi adalah melihat anak yang kita besarkan dengan kasih dan pengorbanan bertumbuh besar menjadi anak yang tidak ingat budi atau kebaikan orang tua. Mengapakah ada anak yang tidak ingat budi orang tua? Berikut akan dipaparkan kemungkinan penyebabnya dan langkah untuk menghadapinya.

  1. Ada anak yang tidak mengingat budi karena merasa budi yang diterima sebanding dengan budi yang telah diberikannya kepada orang tua. Dengan kata lain, anak merasa bahwa ia pun telah cukup berkorban untuk orang tua sehingga ia tidak lagi merasa berutang budi kepada orang tua. Sebagai contoh, anak yang tidak dapat meneruskan sekolah karena harus membantu orang tua dan membiayai kebutuhan adik-adiknya mungkin saja merasa bahwa pengorbanan yang telah diberikannya terlalu besar. Demi membantu keluarga ia telah mengorbankan masa depannya.

  2. Ada anak yang tidak mengingat budi orang tua karena terlalu dalam luka di hatinya akibat perbuatan orang tua. Mungkin perlakuan orang tua terlalu sering menyakiti hatinya sehingga pada akhirnya ia sukar mengingat hal-hal baik yang dilakukan orang tua. Bisa jadi tidak banyak yang telah diberikan orang tua kepadanya, selain keperluan jasmaniah.

  3. Ada anak yang tidak mengingat budi orang tua karena malu terhadap orang tua. Mungkin orang tua berasal dari golongan ekonomi rendah dan tidak bertata krama seperti yang diharapkannya. Oleh karena malu dengan kondisi orang tua maka anak pun tidak mau terlalu dekat dengan orang tua. Sedapatnya ia menghindar kontak dengan orang tua dan tidak mau diasosiasikan dengan orang tua.

  4. Ada anak yang tidak mengingat budi orang tua karena tidak mau berutang budi kepada orang tua. Biasanya anak menjadi seperti ini oleh karena sejak kecil orang tua kerap "menghitung-hitung’ budi. Singkat kata, pada akhirnya anak tidak mau lagi berutang budi kepada orang tua dan berusaha "membayarnya" lunas supaya orang tua tidak dapat membangkit-bangkitkan perihal budi. Bagi anak, setiap budi yang diterima lebih merupakan "investasi" yang kelak mesti dibayarnya kembali. Itu sebabnya lebih baik bila ia tidak menerima budi apa pun dari orang tua.

  5. Ada anak yang tidak mengingat budi sebab memang ia adalah anak yang mementingkan diri sendiri. Seperti kita semua, anak pun adalah manusia berdosa dan sebagai manusia berdosa kadang ia melakukan dosa. Ada anak yang berjalan dalam dosa sehingga hanya memikirkan dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini anak hanya dapat memerhatikan keinginannya.

Apakah yang mesti dilakukan orang tua bila anak tidak mengingat budi orang tua?

Berikut adalah beberapa saran:

  • Pertama, sebagai orang tua kita mesti introspeksi diri. Bila anak tidak mengingat budi karena memang tidak banyak yang telah kita berikan atau korbankan untuknya, akuilah. Kita harus merendahkan diri dan mengakui perbuatan kita serta meminta maaf darinya.

  • Bila kita sering membuatnya mengingat budi yang telah diberikan kepadanya, berhentilah membangkit-bangkit hal itu. Sebaliknya, berbuatlah baik untuknya tanpa pamrih. Lewat perubahan ini anak tahu bahwa kita sudah bertobat dan lewat proses waktu ia akan dapat kembali memercayai kita.

  • Bila anak malu atau hidup mementingkan diri sendiri, kita hanya dapat mendoakannya supaya sadar dan bertobat. Janganlah kita "mengejar" dan menuntut balasan budi sebab tindakan ini biasanya tidak melahirkan kesadaran yang tulus. Ingatlah perumpamaan anak yang hilang di Lukas 15:11-32. Si Bapak tidak mengejar si bungsu; ia menunggu dan menyambut si anak dengan sabar. Ketika si bungsu pulang, "ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan . . . . berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."

Kesimpulan: Seyogianya orang tua merawat dan membesarkan anak dalam kasih dan sebagai wujud syukur dan tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan anak kepada kita. Jadi, lakukanlah tugas ini dengan penuh sukacita. Apakah anak menghargai atau tidak, itu adalah tanggung jawabnya

Oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

Catatan: Audio dan transkrip bisa didapat melalui situs Telaga dengan kode T306 B

Doakanlah

  1. Bersyukur untuk sumbangan sebesar Rp 500.000,- dari Bp.Gunawan Santoso Rp 5.000.000,- dari Komisi Misi GKI Ka Im Tong di Bandung

  2. Bersyukur untuk sumbangan dari Bp.Edy Suryanto (Jaya Media) dalam bentuk kalender Telaga 2011 yang saat ini masih dalam taraf penyelesaian.

  3. Doakan untuk penyelesaian pencatatan transkrip dan ringkasan dari T307 s.d. T 318.

  4. Doakan Literatur SAAT dalam proses penerbitan 2 buklet berjudul "Porno-grafi dan Bahayanya" dan "Anak Adopsi dan Permasalahannya".

  5. Doakan untuk CD dan buklet Telaga yang dititipkan di Pastorium, VISI Malang dan Surabaya dan Ibu Indrawati.

  6. Doakan untuk tim WEB di YLSA yang sedang meng-upgrade situs Telaga dan penyelesaian "keyword Telaga" yang masih dalam proses. Doakan juga untuk proyek Mobile SABDA (kamus mobile, Alkitab mobile dan aplikasi GoBible) dan tim pemrograman yang sedang menyelesaikan SABDA Software versi 4.

  7. Menjelang akhir tahun 2010, doakan apabila Tuhan berkenan menam-bahkan 1 radio lagi yang mau bekerja sama menyiarkan program Telaga.

  8. Doakan untuk kesibukan menjelang Natal dan Tahun Baru 2011.

  9. Doakan agar Tuhan memampukan aparat pemerintah/pihak terkait dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi silih berganti di Indonesia.

Telaga Menjawab

Tanya?

Keluarga suami saya terdiri dari ibunya dan seorang adik laki-laki, ayahnya sudah meninggal sejak suami saya masih kecil dan karena hal itulah maka suami saya merasa dirinya sebagai wakil dari papa yang harus melindungi adik laki-lakinya. Sejak kecil adiknya selalu dimanja tapi dalam hal tanggung jawab sangat kurang dan kalau adiknya melakukan kesalahan, dia tidak pernah diberi konsekuensi apapun. Saat ini adiknya telah berusia 30 tahun, tidak mandiri, tidak bekerja, bergaya hidup tinggi.

Sebelum menikah, ibu mertua pernah berpesan pada saya "numpang makan, maka harus mengalah pada adik ipar. Kalau dia macam-macam, mengalah dan ampunilah." Dulu saya tidak ambil pusing (walau dikatakan "numpang makan").