Skip to main content

Bertahan dalam Kebangkrutan

Abstrak
Bukan saja kita dapat susah dan tidak makmur di dalam mengikut Tuhan, kita pun dapat mengalami kebangkrutan. Penghiburan kita bahwa pemeliharaan Tuhan tetap ada dalam kebangkrutan sekalipun. Untuk bertahan dalam kebangkrutan kita harus bersedia berkorban, terbuka kepada anggota keluarga dan saling mendukung, serta terus bergantung kepada Tuhan.
Play Audio
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya, Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Bertahan dalam Kebangkrutan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, kadang tidak bisa dihindari, seorang yang tadinya kaya raya mengalami kerugian atau penipuan sehingga bisa dikatakan dia mengalami kebangkrutan. Padahal di Alkitab juga seringkali dikatakan bahwa Tuhan akan mencukupkan segala kebutuhan kita, tetapi peristiwa kebangkrutan itu sendiri sangat menyiksa kita atau menyesakkan orang yang mengalami kebangkrutan ini. Bagaimana ini, Pak Paul?

PG : Pak Gunawan, ada orang berkata bahwa mengikut Tuhan itu berarti bebas dari kemelut finansial selamanya, kita tidak akan susah dan Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita secara melimpah. Dengan kata lain, percaya pada Yesus diidentikkan dengan membuka pintu lumbung kemakmuran. Sudah tentu kita berharap bahwa kepercayaan ini benar dan sesuai dengan janji Tuhan. Masalahnya adalah keyakinan ini tidak didukung oleh firman Tuhan. Bukan saja kita dapat susah dan tidak makmur di dalam mengikut Tuhan, kita pun dapat mengalami kebangkrutan. Namun inilah penghiburan kita : Tuhan akan tetap memelihara kita. Dia memang tidak mencegah kita mengalami kebangkrutan tapi Dia akan tetap memelihara kita. Nah, berikut kita akan bahas beberapa masukan bagaimana bertahan dalam kebangkrutan.

GS : Langsung saja, Pak Paul. Hal pertama apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul?

PG : PERTAMA, UNTUK BISA BERTAHAN DALAM KEBANGKRUTAN KITA HARUS BERSEDIA BERKORBAN. Ada beberapa penyebab mengapa kita mengalami kebangkrutan namun semua memunyai akibat yang sama yaitu hilangnya sumber penghasilan. Alhasil kita tidak lagi dapat membiayai kehidupan keluarga seperti sedia kala. Ada yang masih dapat membiayai kebutuhan mendasar seperti makan dan minum serta sekolah anak tetapi ada pula yang sama sekali tidak dapat. Dalam situasi seperti ini tidak bisa tidak, kita mesti melakukan bukan saja pengetatan tetapi juga pengurangan. Mungkin kita harus menjual kendaraan bermotor kita, mungkin kita harus menjual rumah dan pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil atau malah menumpang di rumah kerabat. Mungkin kita harus pindah kota untuk bekerja dan untuk sementara berpisah dengan keluarga. Nah, singkat kata kita harus bersedia mengorbankan gaya hidup kita yang semula dan tidak jarang kita pun harus berkorban menanggung malu. Karena sekali lagi bangkrut itu ya bisa membuat kita malu di hadapan teman-teman. Tidaklah realistis untuk memertahankan gaya hidup semula di dalam kebangkrutan dan tidaklah benar memertahankannya demi penampilan atau nama baik. Jadi, kita harus hidup sesuai realitas.

GS : Iya. Mengubah gaya hidup itu yang sulit apalagi bagi orang yang tadinya sudah mapan sudah merasakan kenyamanan hidup dalam kekayaan, untuk bersedia berkorban ini agak sulit.

PG : Ada. Dan memang ada orang yang jatuh ke dalam dosa gara-gara tidak bisa menurunkan gaya hidup itu, Pak Gunawan. Ada orang yang karena kebangkrutan tapi masih tetap ingin memertahankan hidupnya seperti semula akhirnya menipu orang. Jatuh ke dalam dosa yang lebih besar lagi. Jadi, kita mesti berhati-hati. Prinsip pertama kalau kita mengalami kebangkrutan adalah kita mesti siap berkorban. Misalkan kita mendapat pekerjaan di luar kota, terima. Kita mendapatkan pekerjaan yang jauh di bawah kemampuan kita, terima. Kita mendapat pekerjaan dengan gaji yang juga jauh di bawah gaji kita dulu, terima. Apapun yang kita mesti lakukan untuk tetap bertahan hidup asal halal, kita lakukan.

GS : Yang lebih sulit lagi adalah korban perasaan seperti yang tadi Pak Paul katakan. Rasa malu atau dikejar-kejar oleh penagih utang, itu juga sulit mengatasinya, Pak Paul.

PG : Betul. Apalagi kalau misalkan dia dikenal oleh tetangganya kemudian datang penagih utang, itu memalukan sekali. Apalagi misalkan dia dikenal dalam komunitasnya, misalkan di gereja, dianggap orang yang kaya raya. Sekarang untuk dia berkata jujur bahwa sekarang saya tidak bisa lagi memberi seperti ini, saya sudah tidak mampu lagi menolong ini atau itu, nah itu berat. Berat sekali. Saya mengerti tidak gampang mengakui bahwa kita sekarang sudah tidak sama seperti dulu. Tapi ini langkah pertama, kita mesti mengakuinya dan bersedia berkorban untuk bisa bertahan.

GS : Karena sulit seperti itu seringkali orang yang mengalami kebangkrutan itu menuntut orang lain yang berkorban daripada dia yang berkorban. Dia sendiri tidak berkorban tapi orang lain yang dituntut supaya berkorban untuk dia.

PG : Betul, Pak Gunawan. Adakalanya karena dia malu atau gengsi, dia menyuruh anak istrinya bekerja atau apa supaya dia tidak usah menanggung malu. Sedangkan dia sendiri masih tetap keluar, masih tetap memakai mobil yang sama, padahal kondisinya sudah begitu berbeda.

GS : Iya. Hal lain yang bisa dikerjakan apa, Pak Paul?

PG : Untuk bertahan dalam kebangkrutan, KITA HARUS MENGOMUNIKASIKAN SITUASI YANG DIHADAPI DAN PENGORBANAN YANG DITUNTUT KEPADA ANGGOTA KELUARGA LAINNYA - DALAM HAL INI KEPADA PASANGAN DAN ANAK-ANAK. Sudah tentu anak yang sudah dapat mengerti. Kita mesti menceritakan duduk masalah sebenarnya dan tidak menutup-nutupinya sebab mulai dari saat ini mereka akan harus turut menanggung akibatnya. Jika kita berandil dalam kebangkrutan, akuilah. Jika ada kesalahan yang kita perbuat, mintalah pengampunan kepada mereka. Jadi, kita memang harus mengatakan sebenarnya akan hal-hal yang mesti dilakukan untuk dapat bertahan hidup. Jangan memberi janji kosong atau kesan bahwa semua akan berubah dengan segera. Tidak ya. Mungkin ada yang harus putus sekolah lho dan bekerja. Mungkin ada yang mesti pindah sekolah, dari sekolah yang mahal ke sekolah yang lebih murah. Kita harus mengomunikasikan semua itu secara baik-baik, bukan dengan nada paksaan tapi sebaliknya dengan pengertian dan penghargaan. Jadi, sering-seringlah mengomunikasikan penghargaan kepada anggota keluarga atas pengorbanan mereka sebab setiap penghargaan akan mengobati penderitaan yang harus ditanggung.

GS : Masalahnya, Pak Paul, ada kekuatiran bagaimana kalau keluarga tidak siap ketika kita mengatakan yang sebenarnya itu? Jadi, ditunda-tunda terus untuk memberitahukan atau bahkan ditutup-tutupi karena kuatir nanti keluarganya shock. Bagaimana ini, Pak Paul?

PG : Saya mengerti. Mungkin karena kita sayang atau tidak mau anak dan istri kita kuatir jadi kita terus tutupi. Sudah tentu ini motif yang baik, kita tidak mau menyalahkan itu. Tapi kita mesti ingat bahwa akhirnya mereka harus menanggung semua ini jadi cepat atau lambat mereka akan tahu. Daripada kita menunggu sampai titik terakhir kemudian tiba-tiba kita berkata rumah harus dijual dengan segera dan sebagainya, bukankah itu lebih mengagetkan keluarga kita? Lebih baik kita memang katakan apa adanya namun secara bertahap menjual barang milik kita sehingga anak dan istri kita tidak terlalu kaget. Misalkan setelah kita ceritakan masalah kita, kita berkata, "Dalam bulan ini kita harus menjual motor atau mobil kita dan kita lihat bagaimana setelah itu." Jadi, bertahap. Mobil dijual atau motor dijual. Atau nanti kita menjual barang yang lain, kita katakan, "Bulan depan kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita juga mesti tinggalkan atau jual itu." Secara bertahap itu menolong sehingga keluarga itu tidak kaget melihat, "Oh iya, memang sudah tidak cukup. Ini harus dijual." Terakhir, kalau memang tidak ada lagi uang kita berkata, kita harus jual rumah, kita harus pindah, atau apa. Nah, cara-cara seperti itu juga membantu daripada sekaligus kita tunggu titik akhir baru jual semuanya.

GS : Iya. Kekuatiran yang lain adalah kalau keluarga marah kepada kita. Misalnya itu salah kita. Nah, ada kekuatiran kita dimarahi oleh keluarga.

PG : Besar kemungkinan itu terjadi, Pak Gunawan. Apalagi jika kita memang berandil di dalam kebangkrutan itu. Nah, kalau memang kita salah, kita tidak berkata jujur kepada pasangan kita tentang situasi kita, ya kita mesti minta maaf. Ini membawa kita kepada poin berikutnya yaitu untuk dapat bertahan dalam kebangkrutan KITA HARUS BERSEDIA MENERAPKAN SISTEM PERTANGGUNGJAWABAN DALAM KELUARGA. Salah satu penyebab kebangkrutan adalah kurangnya pertanggungjawaban kita kepada keluarga. Artinya ya kita tidak bicara, tidak menceritakan, tidak merasa kita bertanggung jawab harus melapor kepada pasangan kita, akhirnya ini semua terjadi. Dan mungkin saja pasangan juga sudah memeringatkan, Pak Gunawan. Tapi kita tidak menggubrisnya. Misalkan pasangan berkata, "Saya sudah beritahukan kamu jangan berhubungan dagang dengan orang ini. Tidak bisa dipercaya. Janjinya terlalu muluk." Tapi kita tidak menggubris. Akhirnya kita benar-benar mengalami kebangkrutan. Atau kita malah sama sekali tidak memberitahukan kepada pasangan apa yang kita kerjakan. Ada yang seperti itu, Pak Gunawan. Mengambil uang dari tabungan, memulai sebuah usaha dengan orang tetapi tidak pernah memberitahu pasangan. Kenapa? Karena kita beranggapan kita lebih tahu dari pasangan. Akhirnya kebangkrutan menelanjangi semua yang telah kita kerjakan. Kita tidak lagi dapat menutupinya. Itu sebab penting bagi kita untuk mengakuinya dan juga meminta maaf kepada keluarga atas kesalahan yang kita perbuat dan berjanji untuk memulai hidup yang baru yaitu hidup dengan pertanggungjawaban yang terbuka. Orang akan lebih siap memaafkan bila mereka melihat pertobatan. Jadi, tunjukkanlah bukan saja penyesalan tapi juga pertobatan bahwa kebangkrutan telah memberi pelajaran yang berharga kepada kita.

GS : Iya. Itu juga sesuatu yang sulit dilakukan oleh seseorang yang mengalami kebangkrutan untuk memulai suatu kehidupan yang baru, Pak Paul. Untuk mengubah gaya hidup saja sudah sulit lalu untuk menghadapi ini dia harus mencoba hidup baru lagi dia agak gamang, Pak Paul. Dia merasakan pengalaman bangkrut sekali itu sudah menyakitkan, dia tidak mau sakit untuk kedua kalinya. Jadi, dia tidak mencoba untuk memulai hidup baru. Bagaimana ini, Pak Paul?

PG : Kadang kita memang takut, kita tidak mau usaha lagi. Nanti kalau ada apa-apa semua jadi korban lagi. Bisa ya kita trauma, kita bisa ya. Kadang juga ini juga yang terjadi, kita ini tidak mau menurunkan posisi kita, Pak Gunawan. Kita sudah merasa selama ini kita kepala keluarga, kita mengatur semuanya dan semua tunduk kepada kita, tapi ternyata memang kita salah dan apa yang dikatakan oleh pasangan kita ternyata benar-benar terjadi, dia benar. Nah, kita gengsi mengakuinya. Jadi, kita tetap saja tidak mau mendengarkan, tidak mau memertanggungjawabkan perbuatan kita kepada pasangan, tetap mau memertahankan yang lama itu. Ini tidak sehat ya. Sekali lagi kita mesti menerima kenyataan bahwa kita berandil, kita salah ya kita salah. Kalau perlu minta maaf ya kita juga minta maaf. Tapi terutama kita tunjukkan kita telah berubah. Mulai dari sekarang kita akan mau cerita. Jangan takut kita kehilangan gengsi atau apa. Tidak. Justru kalau kita terbuka, kita mengaku salah, kita merendahkan diri, pasangan akan lebih siap memaafkan kita dan membantu kita.

GS : Jadi, disitu dukungan atau peran dari keluarga itu besar sekali untuk memberikan motivasi kepada orang yang mengalami kebangkrutan ini, Pak Paul?

PG : Betul, betul. Kadang-kadang yang justru dapat menopang kita dalam kebangkrutan adalah dukungan dari anggota keluarga. Saya masih ingat pernah berbicara dengan seorang pemuda yang penuh kebencian terhadap ayahnya. Kenapa? Sebab ayahnya itu mengalami kebangkrutan. Mula-mula saya bingung kenapa kok mengalami kebangkrutan bukannya dikasihani malah dibenci. Akhirnya setelah berbicara lebih lama dengannya baru saya ketahui bahwa sudah berkali-kali ayahnya mengalami kebangkrutan dan sudah tidak terhitung ayahnya itu diberitahu oleh dia, oleh istrinya, untuk berhati-hati tapi tidak pernah mendengarkan. Jadi, akhirnya waktu