
PELANCAR KOMUNIKASI
Salah satu masalah yang kerap muncul dalam pernikahan adalah masalah komunikasi. Oleh karena kita dibesarkan dalam latar belakang yang berbeda, sering kali kita menemui kendala dalam berkomunikasi dengan pasangan.
Berikut akan dipaparkan beberapa saran yang dapat menolong kita berkomunikasi.
Kebutuhan di Balik Komunikasi
Kita mesti menyadari bahwa kebanyakan pembicaraan yang terjadi dalam pernikahan berkisar seputar tema tertentu. Kendati beragam namun sesungguhnya tema yang umumnya melahirkan topik pembicaraan dalam pernikahan hanyalah dua, satu berkaitan dengan suami dan satunya lagi berkaitan dengan istri. Pada dasarnya tema yang berhubungan dengan suami adalah KETERTIBAN sedang tema yang berkenaan dengan istri adalah KEPASTIAN.
Suami menginginkan agar segalanya berjalan dengan tertib alias tertata dan dapat dikendalikan. Pria berusaha untuk memegang kendali atau menguasai keadaan, sebab hanya dalam kondisi ini ia dapat hidup lega dalam ketertiban. Bila ia tidak mendapatkannya, ia mudah terjebak ke dalam perilaku dominan dan bahkan, kasar alias memaksakan kehendak.
Istri menginginkan kepastian dan keinginan ini lahir dari kebutuhan akan rasa aman. Bila tidak diperolehnya, istri cenderung mengeluh dan menuntut, supaya kecemasannya berkurang. Tidak heran, dalam kebanyakan kasus, istri lebih mudah cemas dibandingkan dengan suami.
Sekali lagi, walaupun topik pembicaraan bervariasi, namun kalau kita telusuri dengan saksama, kita akan dapat menemukan dua tema umum ini. Berdasarkan pemahaman ini, sebetulnya dalam berkomunikasi, penting bagi kita untuk menyadari kebutuhan mendasar ini dan memenuhinya. Kadang kita meributkan banyak hal di permukaan, padahal yang memunculkan semua ini adalah kebutuhan akan ketertiban dan kepastian.
Jadi, kalau suami sadar bahwa yang dibutuhkan istri adalah kepastian yang dapat menciptakan rasa aman, sedapatnya berikanlah itu. Gunakan kata-kata yang menyejukkan dan sajikan informasi yang membuat istri tenang. Sebaliknya, istri pun sebaiknya memberi kesempatan kepada suami untuk berpikir tenang dan memutuskan persoalan. Beri bantuan namun sedapatnya berikan ruang yang cukup kepada suami agar ia tidak terganggu. Usahakan untuk tidak membantahnya sebaliknya dengan tenang dan sabar, ajak suami untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Ketakutan dalam Berkomunikasi
Setidaknya ada dua hal yang menciptakan rasa takut dalam berkomunikasi. Pertama adalah TAKUT TIDAK DIMENGERTI. Banyak kali kita tidak berkomunikasi, karena kita takut bahwa pasangan tidak akan mengerti apa yang akan disampaikan. Jadi, daripada mengatakannya dan tidak dimengerti, akhirnya kita memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
Itu sebabnya kita mesti memersiapkan pasangan sebaik-baiknya agar dapat mengerti apa yang ingin kita sampaikan. Misalnya, kita harus memerhatikan penggunaaan kata yang tepat, sebab kata yang tidak tepat dapat mengaburkan makna atau bahkan memancing reaksi keliru. Kita pun harus memerhatikan kadar emosi, sebab kadar emosi berlebihan dapat membuat pasangan mundur teratur sebelum sempat mendengarkan perkataan kita.
Kedua adalah RASA TAKUT TIDAK DIHIRAUKAN. Seringkali hal ini terjadi dalam pernikahan. Kita berbicara dengan serius namun pasangan tidak memerhatikan kita. Matanya tidak tertuju pada kita dan reaksinya juga sepotong-sepotong. Akhirnya kita merasa percuma mengungkapkan isi hati kepadanya. Inilah yang akhirnya membuat kita enggan berkomunikasi dengannya kembali.
Tidak selalu mudah untuk kita berkomunikasi, terutama bila yang ingin disampaikan adalah hal yang bersifat pribadi. Itu sebabnya kita mengharapkan tanggapan yang sepadan. Ketika pasangan tidak memberikan tanggapan yang menggembirakan, keinginan berkomunikasi surut. Akhirnya kita makin tidak berkeinginan berkomunikasi.
Membangun Komunikasi
Komunikasi dibangun bukan saja di atas keinginan, tetapi juga keterampilan untuk berkomunikasi. Jadi, tidak cukup memiliki keinginan untuk berkomunikasi, kita pun mesti memiliki keterampilan yang mendukung sebab tanpa keterampilan, komunikasi cenderung kandas.
Berikut akan dipaparkan beberapa keterampilan praktis untuk membangun komunikasi.
PERTAMA, KITA MESTI MENCIPTAKAN SUASANA DALAM PERNIKAHAN YANG SELALU MENYEMANGATI TERJADINYA KOMUNIKASI.
Dengan kata lain, bukan saja kita harus menyepakati bahwa komunikasi penting, kita pun harus mengambil langkah konkret untuk menyuburkan terjadinya komunikasi. Nah, untuk menyuburkan komunikasi kita harus mendorong terjadinya keterbukaan dan kebebasan untuk mengutarakan isi hati.
KEDUA, KITA HARUS MENYUBURKAN TERJADINYA KOMUNIKASI YANG SEHAT DAN KOMUNIKASI YANG SEHAT ADALAH KOMUNIKASI DUA ARAH.
Nah, agar terjadi komunikasi dua arah, kita harus bersedia melakukan dua hal: berbicara dan mendengarkan. Berbicara kepada pasangan mesti dilakukan dalam bingkai respek. Kita tidak bisa berharap dan menuntut pasangan untuk mendengarkan bila kita mengutarakan isi hati tanpa rasa hormat terhadap perasaannya. Jangan beranggapan bahwa oleh karena ia adalah suami atau istri, maka seharusnyalah ia menerima dan mengerti kita. Ingat, pernikahan tidak memberi kita alasan untuk berbuat semaunya ! Jadi, sebelum mengatakan apa-apa, cobalah tempatkan diri pada posisinya terlebih dahulu. Mungkin ini akan dapat menolong kita menyeleksi kata dengan lebih tepat. Juga, jangan lupa untuk bertanya pendapat pasangan dan memberinya kesempatan untuk memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan. Jangan sampai kita mendominasi percakapan. Setelah mengutarakan satu poin, berhentilah dan biarkan pasangan memberi tanggapan. Bukan saja berbicara, kita harus mendengarkan pasangan agar tercipta komunikasi dua arah. Jadi, putarlah tubuh menghadapi pasangan, arahkan kepala dan mata kepadanya serta lihatlah wajahnya. Berikanlah konfirmasi dan reaksi lainnya lewat mimik wajah dan tanggapan singkat. Bahasa tubuh yang seperti ini membuatnya tahu bahwa kita tengah mendengarkannya. Secara berkala kita pun mesti memberikan tanggapan yang mengintisarikan apa yang dikatakannya agar ia tahu bahwa bukan saja kita mendengarkan, kita pun memahami dengan jelas apa yang disampaikannya.
Hal ini penting, terutama untuk mencegah kesalahpahaman. Kadang kita berasumsi bahwa kita mengerti jelas apa yang dikatakannya, namun ternyata kita keliru menafsirkan perkataannya. Selain dari intisari, kita pun dapat mengajukan pertanyaan untuk memperjelas apa yang disampaikannya. Semua ini membuat pasangan tahu bahwa kita mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikannya.
Satu hal lagi yang penting dilakukan adalah, sedapatnya tahanlah pencetusan opini, reaksi negatif dan tanggapan menghakimi. Ingat, pasangan mesti tahu bahwa kita telah mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikannya. Bila kita cepat memberi jawaban dan opini, apalagi kata-kata penghakiman, mungkin ia akan merasa bahwa kita tidak tertarik untuk mendengarkannya. Atau, bahwa kita merasa diri benar dan tidak terbuka untuk melihat kekurangan pribadi.
TERAKHIR, KITA HARUS JELAS DAN TERBUKA DENGAN MOTIVASI DAN PERASAAN YANG MELATARBELAKANGI UCAPAN KITA.
Kadang dengan sengaja kita menyamarkan motif dan perasaan sesungguhnya yang mencetuskan perkataan kita, karena kita tidak ingin mengakui bahwa sebenarnya itulah yang kita rasakan atau inginkan. Masalahnya adalah, percakapan seperti ini rawan menciptakan kesalahpahaman. Bila pasangan tidak yakin dengan motif dan perasaan kita, besar kemungkinan ia akan menduga-duga. Jika ini yang terjadi, bukan saja akan mudah terjadi kesalahpahaman, ia pun mungkin akan menuduh bahwa kita telah berbuat tidak jujur. Sudah tentu ini akan merusakkan komunikasi.
Motif dan perasaan yang dikemukakan juga berkhasiat untuk menciptakan keintiman. Komunikasi yang hampa motif dan perasaan, tidak akan lebih dari penyampaian berita. Komunikasi bukan hanya tentang penyampaian berita; komunikasi adalah juga tentang penyatuan dua pribadi lewat apa yang disampaikan kepada satu sama lain.
Firman Tuhan di Efesus 4:29 menasihati kita untuk saling membangun, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." Dan, salah satu cara membangun adalah lewat komunikasi. Di tangan Tuhan kita adalah sarana semata untuk membangun satu sama lain menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya.
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai "PERNIKAHAN" lainnya
di www.telaga.org

PERTANYAAN:
Selamat siang Ibu Bapak konselor Telaga,
Saya memunyai pergumulan bertahun-tahun dengan suami saya, yaitu masalah komunikasi. Saya seringkali kesulitan menghadapi suami yang temperamental jika berkomunikasi dengan saya. Benar-benar harus hati-hati, entahlah mungkin saya sudah telanjur dicap oleh suami "suka melawan atau bicara menyakitkan"……saya pribadi tidak pernah berkata kasar atau pun berteriak-teriak jika berbicara, namun seringkali menyepelekan yang bisa jadi itu adalah kata-kata yang menyakitkan suami……sebenarnya saya sendiri memang bergumul mencoba memerbaiki diri dalam berkomunikasi, alasannya yang seringkali dibahas adalah ekonomi, dulu saya menuntut ini dan itu pada suami, tapi sudah beberapa bulan ini hampir 1 tahun saya memilih jalan sendiri dalam usaha agar tidak membebani suami. Namun saat ini pun masih sulit berkomunikasi dengan suami, karena suami saya tidak bisa jika saya bercerita tentang kesulitan usaha, beliau terkesan cuek atau jika saya curhat mengenai biaya hidup, ia langsung marah-marah, kesannya suami saya ini masa bodoh. Memang saya ikhlas membiayai anak-anak dan hidup saya sendiri, saya hanya mencari solusi bagaimana cara mengatur keuangan agar tidak defisit, saya tidak pernah sedikit pun minta jatah bulanan kecuali sekarang anak saya mau kuliah, saya hanya berkata pada suami sepertinya saya belum mampu mengkuliahkan anak (notabene suami mengharapkan saya membiayai kuliah anak saya, karena usaha beliau sekarang ini belum berkembang), namun ini pun saya doakan agar Tuhan memberikan jalan keluar atau pun Tuhan mencurahkan berkat berkelimpahan pada usaha saya atau pun suami.
Saya hanya terkadang merasa berat menjalani ini semua, saya mau curhat malah dimarahi suami, sedangkan beliau ini harusnya sadar saya juga ikut bertanggungjawab membiayai sekolah, kebersihan rumah sehari-hari saya perhatikan, tapi kalau saya ada beban yang ingin diceritakan sebaliknya malah marah-marah, saya tidak mengerti dan merasa heran dimana pengayomannya sebagai suami…..saya tidak meminta jatah atau pun diperhatikan lebih, tapi dia sendiri menganggap bebannya banyak. Banyak dari mana, selama ini saya juga ikut membantu. Dari mendidik anak-anak, karakter, budaya disiplin saya coba terapkan di keluarga, tapi suami tidak ada, dia hanya tahu hasil dan hasil, tapi budaya disiplin beliau juga menurut saya kurang, cuma saya diam saja, jika dibahas malah ribut.
Saya juga memilih TELAGA sebagai sarana untuk saya curhat dan benar-benar dalam hidup saya pun ada terobosan, saya sadar saya sendiri pun banyak yang harus diperbaiki. Saya pantang menyerah, walaupun suami kadang-kadang kalau bicara bubar, saya hanya mengelus dada, kedewasaannya sungguh di luar harapan saya. Saya pasrah Bu, tetapi saya berusaha sedapat-dapatnya, saya juga meminta tuntunan dari konselor TELAGA agar saya bisa lebih memerbaiki diri dan memang saya memerlukan ketaatan disini, pembentukan Tuhan saya terima walaupun rasanya pahit, saya harus menanggung semua perbuatan dan perkataan saya …..saya pun tidak bisa mengharapkan banyak akan perubahan pasangan, takut merasa kecewa dan malah membuat saya sakit. Yang jelas saya ikhlas menjalani prosesnya sambil memerbaiki diri juga. Terima kasih.
Salam: Ibu P.H.
JAWABAN:
Shalom Bu,
Masalah rumah tangga memang tidak mudah, karena dua kepala, dua kepribadian, dua latar belakang dan semua itu membutuhkan keseimbangan. Seringkali permasalahan pelik dalam rumah tangga, karena masalah perbedaan bahasa kasih suami dan istri. Anda merasa tidak pernah berbicara kasar, namun yang suami rasakan belum tentu demikian, karena kasar atau tidak itu bukan soal intonasi tinggi saja, tetapi juga soal kata-kata yang disampaikan.
Anda mengakui juga bahwa dulu Anda menuntut ini dan itu. Baru belakangan berubah, tuntutan itu menekan dan membuat suami tidak nyaman. Ketika Anda berubah tidak mungkin hilang begitu saja dalam ingatan suami tentang segala tuntutan Anda yang sudah telanjur Anda buat kepada suami itu.
Saran saya, banyak mendengar dan ketika suami bicara, usahakan diam dengarkan. Belajar hormati suami, walaupun rasanya Anda lebih bisa, lebih cepat, lebih ini dan itu. Jangan menjawab ketika suami emosi, tolong diam dan berdoa dalam hati mohon Tuhan Yesus melembutkan hati suami.
Lakukan bagian Anda sebagai istri, tunduk – hormat lakukan dengan sukacita dan sukarela, karena Anda mengasihi Tuhan, maka Anda harus taat pada perintah Tuhan. Tolong baca 1 Petrus 3:1, Alkitab mengatakan bahwa kelakuan istri bisa memenangkan suami yang belum percaya Tuhan. Tuhan memberkati !!
Salam: Pdt. Esther Rey
KASIH YANG BERSINAR, IDENTITAS YANG NYATA
(Merenungkan Yohanes 13:35 di tengah panggilan hidup Kristen dalam Keluarga)
Oleh : Pdt. Kukuh Priyono, S.Th.,M.Th. Konseling *)
Pendahuluan: Ketika Identitas Dipertanyakan
Di sebuah kedai kopi sederhana, dua orang teman lama bertemu setelah belasan tahun berpisah. Yang satu telah menjadi pengusaha sukses dengan mobil mewah dan gaya hidup glamor. Yang lain memilih jalan pelayanan, hidup sederhana di sebuah komunitas pedalaman. Ketika orang pertama bertanya, "Jadi, apa kabarmu sekarang? Masih sibuk dengan kegiatan sosial itu?" Jawaban yang keluar dari mulut temannya bukanlah cerita tentang program bantuan atau pembangunan gereja, melainkan tentang bagaimana ia belajar mengasihi istri dan anak-anaknya di tengah keterbatasan, tentang pengampunan yang ia bagikan setiap pagi sebelum sarapan, dan tentang keteduhan yang ia rasakan saat keluarganya berdoa bersama di malam hari.
Dialog imajiner ini menyentuh inti dari perjalanan iman Kristen. Di tengah dunia yang gemar menampilkan pencapaian lahiriah – jabatan gerejawi, ukuran gedung ibadah, atau jumlah pengikut di media sosial – Yesus Kristus justru memberikan standar yang sama sekali berbeda. Ia tidak pernah berkata, "Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-Ku, yaitu jikalau kamu memiliki karunia yang hebat." Ia juga tidak berkata, "yaitu jikalau kamu hafal seluruh Kitab Suci." Sebaliknya, di malam terakhir sebelum penderitaan-Nya, Ia memberikan sebuah perintah baru yang menjadi fondasi identitas kekristenan sejati: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:35).
Firman ini menjadi titik tolak perenungan kita tentang bagaimana kasih yang bersinar itu harusnya menjadi identitas yang nyata, terutama dalam lingkup kehidupan yang paling kecil namun paling signifikan: keluarga.
Memahami Makna Kasih dalam Yohanes 13:35
Untuk memahami kedalaman Yohanes 13:35, kita perlu menempatkannya dalam konteks narasi yang lebih luas. Perikop ini adalah bagian dari rangkaian peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, tepat setelah Yesus membasuh kaki para murid. Tindakan membasuh kaki ini sendiri merupakan sebuah gambaran visual yang mengejutkan. Sang Guru dan Tuhan, yang seharusnya dilayani, justru mengambil posisi terendah sebagai hamba.
Kasih sebagai Tanda Pengenal Eskatologis
Teolog D.A. Carson dalam komentarnya mengenai Injil Yohanes menegaskan bahwa kasih yang Yesus maksudkan bukanlah sekadar emosi manusiawi yang pasang-surut. Kasih ini adalah agape, kasih yang berakar pada karakter Allah sendiri. Carson menulis, "Kasih yang menjadi ciri khas murid-murid Yesus adalah kasih yang meneladani kasih-Nya sendiri: kasih yang memberi diri, yang tidak mencari keuntungan sendiri, yang rela berkorban demi kebaikan orang lain". Dengan kata lain, kasih ini memiliki dimensi eskatologis; ia adalah realitas dari Kerajaan Allah yang sudah mulai dinyatakan di tengah dunia melalui komunitas para pengikut Kristus.

Kualitas Kasih yang Berbeda
Kasih yang dimaksud bukanlah kasih eros (kasih erotis/romantis) atau philia (kasih persaudaraan) semata, meskipun keduanya juga baik adanya. Kasih agape adalah kasih yang melampaui perasaan; ia adalah keputusan dan tindakan. Dalam bahasa aslinya, kalimat "saling mengasihi" menggunakan kata kerja agapao yang menunjukkan tindakan aktif dan berkelanjutan. Ini adalah kasih yang tetap memberi meskipun tidak menerima balasan, tetap mengampuni meskipun terus-menerus disakiti.
Kasih agape tidak banyak digunakan dalam tulisan-tulisan sekuler, tetapi lazim digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk kepada kasih Allah yang memberi diri, yang ditunjukkan dalam Kristus. Allah mengasihi dunia yang berdosa bukan karena dunia layak dikasihi, tetapi karena kasih itu berasal dari natur Allah sendiri. Demikian pula, orang percaya dipanggil untuk mengasihi dengan cara yang sama: mengasihi pasangan ketika ia sedang tidak "romantis", mengasihi anak ketika ia sedang memberontak, mengasihi orang tua ketika mereka mulai pikun dan merepotkan.
Keluarga sebagai Arena Utama Perwujudan Identitas
Jika gereja adalah tubuh Kristus secara korporat, maka keluarga adalah ‘shelter’(tempat berlindung) kecil dari tubuh itu. Keluarga Kristen seharusnya menjadi "gereja mini" (ecclesiola) di mana ajaran-ajaran Yesus dipraktikkan secara konkret. Sayangnya, sering kali orang Kristen lebih mudah menunjukkan kasih di luar rumah daripada di dalam rumah. Di gereja, seseorang bisa tersenyum ramah dan menolong sesama jemaat, tetapi begitu pulang ke rumah, ia menjadi marah-marah dan egois terhadap pasangan dan anak-anaknya. Inilah kontradiksi yang harus kita waspadai.
Kasih yang Melayani: Refleksi Pembasuhan Kaki
Dalam Yohanes 13:14-15, Yesus berkata, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Teladan ini sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Dalam budaya patriarkal, mungkin mudah bagi seorang suami untuk menuntut dilayani. Namun, Kristus memanggil suami untuk menjadi pemimpin yang melayani. Sebagaimana Paulus tuliskan dalam Efesus 5:25, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." Kata "menyerahkan diri" (paradidomi) menunjukkan pengorbanan total, tanpa syarat dan tanpa batas.
Penerapan praktisnya bisa sederhana namun dalam. Seorang suami yang rela membantu istrinya mencuci piring setelah seharian bekerja, seorang istri yang dengan sabar mendengarkan keluh kesah suaminya tanpa menghakimi, orang tua yang turun berlutut untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak remajanya yang sedang galau. Tindakan-tindakan kecil ini adalah "pembasuhan kaki" modern yang menyatakan kasih Kristus secara nyata.
Kasih yang Mengampuni: Siklus Pemulihan Harian
Tidak ada keluarga yang sempurna. Konflik, salah paham dan kekerasan verbal (maupun kadang fisik) bisa saja terjadi. Di sinilah kasih agape diuji. Kasih sejati tidak pernah menyimpan kesalahan (1 Korintus 13:5). Dalam bahasa Yunani, frasa "tidak menyimpan kesalahan" secara harfiah berarti "tidak memperhitungkan kejahatan." Ini adalah istilah akuntansi yang berarti tidak mencatat utang untuk ditagih di kemudian hari.
Pengampunan adalah awal dari pemulihan dan jalan keluar dari kutuk dosa. Dalam keluarga, jika setiap kesalahan dicatat dan diungkit-ungkit, maka tidak akan ada damai sejahtera. Suami-istri yang beridentitas murid Kristus harus menjadi ahli dalam mengampuni. Seperti yang Yesus ajarkan dalam Doa Bapa Kami: "Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (Matius 6:12).
Pengampunan dalam keluarga menciptakan siklus pemulihan. Ketika seorang ayah mengakui kesalahannya di depan anak dan meminta maaf, ia sedang mengajarkan kerendahan hati yang sejati. Ketika seorang istri memaafkan kekeliruan suaminya dan berjuang bersama untuk memulihkan pernikahan, ia sedang memancarkan kasih kalvari yang sanggup menutupi banyak dosa.
Kasih yang Mendidik: Membentuk Generasi Berkarakter Kristus
Kasih bukan berarti membiarkan anak berbuat sesuka hatinya. Kitab Amsal dengan tegas mengajarkan pentingnya didikan: "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya" (Amsal 13:24). Tentu, konteks "tongkat" di sini lebih kepada otoritas dan disiplin yang penuh kasih, bukan kekerasan fisik yang melukai.
Pendidikan Kristen dalam keluarga adalah tentang membentuk karakter. Dr. James Dobson, seorang psikolog Kristen terkenal, dalam bukunya Dare to Discipline, menekankan bahwa disiplin yang efektif harus dilandasi oleh hubungan yang hangat. Anak-anak perlu merasakan bahwa aturan dan konsekuensi diberikan bukan karena orang tua marah, tetapi karena mereka peduli.
Kasih yang mendidik juga berarti memberikan teladan iman yang hidup. Anak-anak belajar tentang doa bukan dari ceramah orang tua, tetapi dari melihat orang tua berlutut dan berdoa dengan tekun. Mereka belajar tentang integritas ketika melihat orang tua mengembalikan uang kembalian yang kelebihan di pasar. Mereka belajar tentang kasih kepada Tuhan ketika melihat orang tua bersukacita melayani di gereja meskipun lelah.
Kasih yang Bersinar di Tengah Kegelapan Zaman
Kita hidup di zaman yang disebut banyak orang sebagai "post-truth era" (era pasca-kebenaran), di mana emosi dan opini publik lebih berpengaruh daripada fakta. Di zaman seperti ini, keluarga Kristen menghadapi tantangan yang sangat berat: individualisme yang merajalela, hedonisme, materialisme dan degradasi moral yang disebarluaskan melalui media. Namun, justru di tengah kegelapan itulah kasih yang bersinar menjadi semakin nyata dan dibutuhkan. Keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi terang di atas bukit, menjadi kota yang terletak di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi (Matius 5:14).
Kesaksian Otentik bagi Dunia Sekitar
Hidup orang Kristen tidak dapat disembunyikan dan menjadi sorotan utama dalam kehidupan. Cara hidup jemaat mula-mula menegaskan bagian ini. Saat mereka senang untuk berbagi, bertekun dengan bersehati berkumpul bersama dalam Bait Allah, mereka disukai oleh banyak orang (Kisah Para Rasul 2:44-47). Praktik hidup ini menjadi magnet yang menarik banyak orang kepada iman Kristen. Di tengah masyarakat Romawi yang penuh dengan intrik, perceraian dan kebejatan moral, komunitas Kristen menawarkan alternatif: sebuah persekutuan kasih yang tulus.
Hal yang sama seharusnya terjadi pada keluarga Kristen masa kini. Ketika tetangga melihat bahwa keluarga kita – meskipun punya masalah – tetap utuh dan saling mendukung, ketika rekan kerja melihat bahwa kita tidak terlibat dalam gosip kantor, karena komitmen untuk menjaga kekudusan keluarga, ketika anak-anak tetangga merasa nyaman bermain di rumah kita, karena merasakan suasana kasih yang tulus, maka saat itulah identitas kita sebagai murid Kristus menjadi nyata dan bersinar.
Menjadi Berkat bagi Generasi Penerus
Warisan terbesar yang bisa ditinggalkan orang tua kepada anak-anaknya bukanlah harta atau properti, melainkan warisan iman dan kasih. Pemazmur berkata, "Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberikan-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka" (Mazmur 78:5-6). Inilah panggilan lintas generasi. Ketika kita menghidupi kasih yang bersinar di dalam keluarga hari ini, kita sedang menanam benih bagi kebangunan rohani di masa depan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih agape akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sehat secara emosional dan rohani. Mereka akan menjadi saksi-saksi Kristus di generasi mereka sendiri.
Refleksi Teologis dan Praktis
Kasih sebagai Buah Roh, Bukan Usaha Daging
Penting untuk diingat bahwa kasih sejati ini bukanlah hasil usaha manusiawi, melainkan buah dari hubungan yang intim dengan Roh Kudus. Paulus menulis dalam Galatia 5:22-23, "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." Artinya, kita tidak bisa memproduksi kasih agape dengan kekuatan sendiri. Semakin kita mencoba mengasihi dengan kekuatan daging, semakin kita akan kecewa dan frustrasi. Rahasianya adalah tinggal di dalam Kristus, sang Pokok Anggur, seperti yang Yesus ajarkan dalam Yohanes 15:4-5. Hanya dengan tinggal di dalam Dia, getah kasih-Nya akan mengalir dalam hidup kita dan keluar secara alami melalui perkataan dan perbuatan kita terhadap keluarga.
Kasih yang Tidak Putus Asa
Kasih agape memiliki kualitas yang tidak pernah berakhir. Dalam 1 Korintus 13:8, Paulus menegaskan, "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap, tetapi kasih tetap ada untuk selama-lamanya". Bagi pasangan yang sedang menghadapi badai dalam rumah tangga, bagi orang tua yang hancur hati karena anaknya hidup dalam dosa, bagi anak-anak yang terluka, karena perceraian orang tua, sangat penting untuk memegang janji ini: Kasih Tuhan tidak pernah berkesudahan. Kasih-Nya sanggup memulihkan yang patah, menyembuhkan yang luka dan membaharui yang usang. Jangan pernah menyerah untuk berdoa dan mengasihi, karena kasih yang bersumber dari Tuhan tidak pernah gagal.

Penutup: Panggilan untuk Menghidupi Identitas
Yohanes 13:35 bukan sekadar ayat hafalan atau dekorasi dinding. Ia adalah sebuah manifesto Kerajaan Allah yang harus dihidupi setiap hari, dimulai dari ruang-ruang paling pribadi: kamar tidur, ruang keluarga, meja makan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat menjadi reflektor bagi kita semua:
- Apakah pasangan saya merasakan bahwa saya mengasihinya dengan kasih Kristus, ataukah saya hanya menuntut hak saya sebagai suami/istri?
- Apakah anak-anak saya melihat Kristus dalam cara saya berbicara, bertindak dan bereaksi terhadap kegagalan mereka?
- Apakah orang tua saya yang sudah lanjut usia merasakan kehangatan kasih saya, ataukah mereka merasa menjadi beban?
Marilah kita berdoa seperti seorang ibu dalam renungan klasik yang memohon, "Tuhan, jadikanlah rumah kami menjadi surga di bumi, tempat kasih-Mu bersinar terang dan identitas kami sebagai anak-anak-Mu menjadi nyata bagi semua orang." Ketika kasih itu bersinar, identitas kita menjadi nyata. Dan ketika identitas kita nyata, dunia akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus. Soli Deo Gloria.
Daftar Pustaka:
- Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia.
- Kamus Alkitab, Sabda Apps.
- Blue Letter Bible. www.blueletterbible.org
- Carson, D.A. The Gospel According to John. Pillar New Testament Com Commentary. Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 1991.
- Dobson, James. Dare to Discipline. Illinois: Tyndale House Publishers, 1970.
- Stott, John R.W. The Message of Ephesians: God's New Society. The Bible Speaks Today. Illinois: InterVarsity Press, 1994.
- Tertullian. (c. 197 AD). Apologeticus. Terjemahan: T.R. Glover. Cambridge: Harvard University Press, 1931.
*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang tinggal di Klayatan, Malang
JUDUL – JUDUL REKAMAN
SEPUTAR PERNIKAHAN
T 100 Menyikapi Perbedaan dalam Pernikahan / Komuni-kasi dalam Pernikahan T 133 Mengapa Kita Menikah ? (I + II)
T 347 Saling Menajamkan (I + II)
T 458 Menyelaraskan Perbedaan / Membangun Pernikahan
T 469 Mengapa Sulit Berkomunikasi? / Mengapa Sulit Mengaku Salah?
T 499 Tanda Pernikahan Sehat (I + II)
T 545 Pernikahan Dihancurkan oleh Kejengkelan Bukan Kebencian / Pernikahan Dihancurkan oleh Perpisahan Bukan Pertengkaran
T 550 Pengampunan Dalam Pernikahan (I + II + III)
POKOK DOA
Februari 2026
Tahun 2026 telah dua bulan kita lewati. Cuaca masih tidak menentu, namun kita tetap bersyukur karena penyertaan TUHAN hari lepas hari. Beberapa pokok doa syukur dan permohonan adalah sebagai berikut :
- Bersyukur pada bulan Februari 2026, program radio TEgur sapa gembaLA keluarGA (TELAGA) telah memasuki usia yang ke-28.
- Bersyukur dalam bulan ini telah dikirim beberapa rekaman (T567 s.d. T572) ke Radio Bahana Sangkakala FM di Jayapura.
- Bersyukur pencatatan transkrip dari T606 sudah selesai. Doakan agar awal bulan Maret 2026 dapat dikirimkan rekaman tahun 2025 ke beberapa radio.
- Bersyukur pada hari Kamis, 12 Maret 2026 akan diadakan rekaman pertama dalam tahun ini dengan Pdt. Dr. Paul Gunadi sebagai narasumber.
- Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
- Kita doakan untuk penanganan berbagai permasalahan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, kiranya pemerintah setempat dapat bekerjasama untuk mengatasinya agar masyarakat yang terkena dapat segera ditolong. .
- Tetap kita doakan untuk negara kita Indonesia, dari Presiden, Wakil Presiden, para menteri dan wakil menteri agar dapat bekerjasaja dengan baik, mengatasi berbagai permasalahan di berbagai wilayah dengan sungguh-sungguh.
- Bersyukur untuk penyertaan dan pertolongan Tuhan sehingga saat ini pelayanan Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo tetap ada, melayani jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan.
- Doakan untuk para konselor, agar Tuhan memberikan hikmat dan pertolongan dalam melayani.
- Doakan juga untuk kesatuan hati dalam tim pelayanan Telaga Kehidupan.
- Doakan untuk visi dan setiap rencana pelayanan Telaga Kehidupan sepanjang tahun 2026, Tuhan memimpin dan terus menolong.
- Bersyukur untuk klien-klien yang Tuhan percayakan, kiranya Tuhan memberikan hikmat pada tim konselor yang melayani untuk menolong setiap klien mengalami pemulihan dari Tuhan dan menemukan pengharapan.
- Bersyukur untuk kesempatan yang Tuhan berikan kepada Telaga Pengharapan untuk melayani Komisi Remaja GKJW Jember yang akan mengadakan retreat pada tanggal 14-15 Maret 2026 dengan tema "Bertumbuh Dewasa". Acara ini diadakan di Villa Koffe Rayap, Rembangan, Jember. Kiranya Tuhan menolong panitia yang memersiapkan acara, para remaja yang akan mengikuti acara ini dan Ev. Sri Wahyuni yang memersiapkan materinya.
- Doakan untuk rencana kunjungan yang akan Tim Telaga Pengharapan lakukan guna membangun jejaring dan kerjasama dengan gereja HKBP Jember dan Sekolah Rukun Harapan Jember. Kiranya Tuhan Yesus memberkati rencana kunjungan yang akan kami lakukan.
Bersyukur untuk donasi yang diberikan kepada Telaga dalam bulan ini, yaitu dari :
011 untuk 4 bulan Rp 600.000,-

