Skip to main content

Bencana Alam

EDISI: 77
JANUARI 2026

BULETIN TELAGA KEHIDUPAN

BENCANA ALAM

Sebagaimana kita ketahui beberapa tahun terakhir ini, bencana alam susul-menyusul menghujam bumi Nusantara. Selain merenggut materi dan nyawa, sesungguhnya bencana alam memberi dampak mendalam pada korbannya. Berikut ini kita akan melihat dampak bencana pada manusia dan reaksi yang ditimbulkan pada diri korban. Setelah itu kita akan melihat upaya pemulihan yang diperlukan.

Elizabeth Kubler Ross memaparkan rangkaian reaksi yang tercetus tatkala kita menghadapi krisis. Karena bencana alam masuk dalam kategori krisis, maka saya kira pada tempatnya bila kita menerapkan rangkaian reaksi ini pada korban bencana alam.

Reaksi 1: Penyangkalan

Reaksi awal adalah ketidakpercayaan, bukan pada fakta bahwa bencana telah terjadi melainkan pada kehilangan yang ditimbulkannya, misalnya kehilangan kerabat, tempat tinggal, dan lainnya. Secara rasional kita tahu bahwa mereka telah tiada namun kita masih belum sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak ada untuk selamanya. Kita berharap bahwa esok tatkala kita terbangun dari tidur, mereka semua akan kembali ada, sebab apa yang terjadi seakan-akan hanyalah mimpi buruk belaka. Pada tahap awal ini, kita seakan-akan berada di persimpangan antara mimpi dan kenyataan.

Reaksi 2: Kemarahan

Hari–hari selanjutnya kita benar-benar disadarkan bahwa mereka telah tiada dan bahwa ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Pada umumnya kita marah kepada Tuhan yang kita anggap bertanggung jawab penuh atas semua kehilangan ini. Namun kemarahan ini dapat pula dilimpahkan kepada manusia—pihak yang kita anggap bertanggung jawab atas musibah ini. Itu sebabnya fase atau reaksi marah ini dapat berlarut dan meluas bila unsur peran kesalahan manusianya besar.

Kemarahan juga dapat memburuk tatkala kita mulai membandingkan diri dengan orang di sekitar. Jika kebetulan ada tetangga atau kenalan yang tidak mengalami kehilangan, di satu pihak kita bersyukur untuk mereka namun di pihak lain, kita makin dibuat marah karena merasa bahwa Tuhan atau hidup ini sungguh tidak adil. Itu sebabnya penting bagi pihak penolong atau siapa pun yang terlibat untuk memberikan perlakuan yang adil kepada korban. Ketidaksamaan perlakuan akan cepat menyulut kemarahan.

Makin susah dan berat penderitaan hidup setelah bencana berlalu, makin mudah terpancing kemarahan kita. Hidup dalam penampungan dapat menyuburkan kemarahan tetapi dapat pula mengurangi kemarahan. Menyuburkan kemarahan akibat keterbatasan yang harus kita lewati dan kesusahan yang kita tanggung hari lepas hari. Namun hidup dalam penampungan juga dapat mengurangi kemarahan akibat adanya kesamaan nasib. Bagaimana pun rasa sepenanggungan memberi kekuatan sebab kita tidak merasa sendirian menanggung derita. Itu sebabnya penting sekali dalam masa transisi, kesatuan dan rasa sepenanggungan terus dibangun.

Reaksi 3: Tawar- menawar

Pada tahap ini kita mencoba tawar - menawar dengan Tuhan agar dibebaskan dari penderitaan. Di dalam penampungan dan masa transisi, banyak waktu yang tersisa untuk merenungkan kehilangan. Pada momen seperti inilah biasanya kita memohon kepada Tuhan agar kita diberkati supaya cepat bangkit dari keterpurukan. Kita mulai mengembangkan pengharapan bahwa penderitaan ini segera berlalu dan pertolongan akan datang dengan segera. Penting bagi konselor untuk memandu korban untuk tetap realistik dalam berharap. Ada kecenderungan pada tahap ini kita terlalu berpikir sederhana dan tidak realistik; perlu bantuan agar korban dapat merencanakan hidup secara realistik berdasarkan apa yang ada, bukan apa yang diharapkan.

Reaksi 4: Putus asa

Tanpa perencanaan dan dukungan yang kuat, korban dengan mudah meluncur ke lembah depresi. Pada tahap ini, korban sungguh-sungguh menyadari kehilangannya dan mengalami dampak kehilangan. Misalnya, tidak ada lagi istri untuk diajak bercengkerama; tidak ada lagi suami yang dapat mencari nafkah; tidak ada lagi anak yang bisa dipeluk sayang; tidak ada lagi rumah untuk kita pulang. Kesadaran ini memukul korban dan berpotensi membuatnya kehilangan harapan dan semangat. Jika upaya bangkit atau proses penyaluran bantuan berjalan lamban, ini juga akan menambah beratnya penderitaan dan keputusasaan. Dalam kondisi rentan, korban bisa tergoda untuk mengakhiri hidup, karena merasa tidak sanggup mengubah nasibnya.

Sebagaimana telah disinggung di atas, hidup dalam penampungan bersama teman senasib bisa berakibat positif, karena adanya faktor sepenanggungan dan saling dukung. Namun hidup bersama dengan teman senasib juga bisa menimbulkan efek domino yang negatif. Tatkala satu putus asa, yang lain dapat turut putus asa. Hilangnya pengharapan dan semangat juang menulari satu sama lain; pemikiran negatif akhirnya makin menguat akibat pengaruh dari satu sama lain.

Itu sebabnya penting bagi penolong untuk hadir dalam jumlah yang relatif banyak sehingga kehadirannya bukan saja menambah semarak hidup, tetapi juga memberi pengaruh kuat untuk tetap memertahankan semangat dan pengharapan. Bilamana pemikiran negatif atau keputusasaan mulai menyebar, jumlah penolong yang relatif banyak akan dapat menetralisirnya.

Reaksi 5: Menerima dan bangkit

Dengan kesadaran penuh menerima semua kehilangan dan dengan realistik menyusun langkah untuk membangun kembali hidup. Pada fase ini, korban sudah berhasil berdamai dengan sumber kemarahannya dan menerima keterbatasan hidup akibat kehilangan yang dialami. Sekali lagi, dukungan moral dan moril sangat diperlukan pada tahap ini. Perlu pula pengarahan untuk memikirkan cara mengisi kehilangan dan merajut kembali kehidupan yang terputus. Kuncinya terletak pada kesediaan memulai dengan apa yang tersisa dan kejelasan masa depan, setidaknya untuk suatu jangka pendek misalnya setahun di muka. Makin tidak menentu masa depan, makin menyulitkan korban untuk bangkit.

Firman Tuhan, "Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat; sebab Engkaulah kepujianku!" (Yeremia 17:14)

Ringkasan T205 A+B
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai "MASALAH HIDUP" lainnya di www.telaga.org

 

TELAGA MENJAWAB

PERTANYAAN :

Shalom Telaga,

Pacar saya adalah seorang karyawan yang bekerja di suatu perusahaan swasta, gajinya cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga (Ibu dan adik yang sedang kuliah) mengingat ayahnya sudah meninggal, jadi akhirnya dia menjadi tumpuan keluarga, akan tetapi beberapa bulan terakhir dia merasa pergumulannya tidak pernah berhenti. Ibunya sering kali berbohong mengenai pengeluaran bulanan keluarga yang tidak jelas (bayar utang dan kebutuhan lainnya), adiknya yang selalu menuntut bahkan memaksa kalau sedang membutuhkan uang. Saya dapat mengorbankan uangnya untuk kebutuhan keluarganya, tetapi yang membuat saya begitu tersiksa, dia selalu diperlakukan seenaknya oleh mereka, bahkan dianggap dapat menyelesaikan segala masalah keuangan mereka.

Saya membutuhkan masukan dari saudara-saudara, bagaimana menghadapi ibunya dan adiknya…..yang sebenarnya sangat dia sayangi………Terima kasih untuk jawabannya, Tuhan Yesus memberkati !

Salam: S.W.

 

JAWABAN :

Sdr. S.W.,

Memang berat jika kita harus menanggung beban orang-orang lain, sementara kita sendiri juga memiliki kebutuhan dan beban pribadi. Namun berat untuk tidak peduli pada orang yang kita sayangi.

Tampaknya, pacar Saudara adalah anak yang dianggap sebagai kepala keluarga yang bertugas memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, namun tidak sepenuhnya menjadi kepala keluarga yang memegang kendali tegas terhadap anggota-anggota keluarga yang lain. Tanggungjawab sebagai kepala keluarga ini tampaknya terpaksa dia ambil, karena anggota keluarga yang lain tidak mampu melakukannya (Ibu dan adik), sehingga dia terpaksa menjalaninya, padahal mungkin peran dia hanya anak ketika ayahnya masih hidup. Tanggungjawab ini diambilnya dengan keterbatasannya sebagai anak. Akhirnya dia ibarat menanggung beban yang beratnya melebihi kapasitas dia untuk menanggungnya.

Bukan hanya berat dalam soal keuangan, namun juga berat memainkan peran sebagai pemimpin dan pelindung bagi Ibu dan adik. Mau bersikap tegas pada Ibu dan adik, seolah tampak salah…….karena dia masih tetap anak dan bukan ayah…….namun faktanya dia menjalankan peran ayah. Jadi memang nampaknya dia mengalami konflik peran ganda dalam keluarganya. Ayah sekaligus anak. Peran ayah dia jalankan dalam perannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan perlindungan, namun tetap menjadi anak sehingga tidak berani memiliki otoritas penuh sebagai kepala keluarga.

Akan berbeda jika hanya satu peran saja yang dia jalankan. Menjalankan peran ganda adalah sesuatu yang tidak mudah dan berat bagi kebanyakan orang. Apalagi jika pacar Saudara ini sebenarnya belum waktunya menjadi kepala keluarga dan bukan sewajarnya juga menjadi kepala keluarga atau di luar kemampuannya untuk menjadi kepala keluarga. Akhirnya dia merasa tidak terlalu berdaya dan mengharap bantuan dari orang lain. Bantuan itu kemudian dia harapkan dari Saudara, sebagai orang terdekatnya yang dia pandang memiliki kemampuan dan kemauan untuk menolongnya. Ini sebuah konsekuensi yang logis dari situasi tersebut.

Namun perlu juga diingat, bahwa hal tersebut bukan hal yang sepenuhnya sehat untuk terus-menerus dijalankan. Bagi Anda sendiri sebagai pacarnya, Anda juga perlu memikirkan dan memutuskan apakah Anda mau melibatkan diri dalam situasi keluarga pacar Anda atau tidak. Ketika Anda menikah dengannya, tentu Anda mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem keluarga pacar Anda tersebut. Jadi Anda dapat memutuskan apakah Anda terlibat atau memberi batasan, dalam arti sejauh mana Anda terlibat dan sejauh mana tidak. Dalam batasan apa, Saudara akan membantu dan kapan tidak.

Untuk pacar Saudara, dia perlu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri tentang bagaimana dia menjalankan peran sebagai anak dan kepala keluarga tersebut, yaitu bagaimana caranya, kapan menjadi ayah, kapan menjadi anak, apa batasannya dan sebagainya. Selamat mencoba. Tuhan memberkati !!

Salam: Betty Tjipta Sari

MERANGKUL EMOSI

Oleh: Ev. Grasia Magdalena Tampubolon, M.Th. Konseling *)

Setiap manusia Tuhan ciptakan memiliki emosi, baik itu emosi senang, sukacita, semangat atau pun emosi sedih, marah dan lainnya. Emosi itu sendiri merupakan perasaan atau afeksi yang ada dalam diri seseorang sebagai respons dari situasi atau stimulus tertentu. Ketika emosi ini muncul maka hal ini akan memberi dampak pada cara berpikir, perilaku, persepsi, atau pun keputusan yang seseorang ambil. Hanya saja, tidak semua orang merasa siap ataupun merasa ‘ok’ untuk menerima emosi yang muncul di dalam dirinya.

Beberapa orang yang memiliki luka ataupun trauma yang dalam adakalanya mereka berusaha untuk tidak berhadapan atau pun mengizinkan emosi itu muncul. Beberapa orang lainnya justru tidak dapat menahan ataupun mengolah emosi yang muncul. Sehingga mereka yang cenderung menahan akan lebih mudah merasa tertekan ataupun "tertelan" dengan emosi yang mereka pendam, sedangkan mereka yang cenderung meledakkan akan lebih mudah merasa bersalah ataupun frustrasi karena ketidakmampuan untuk menahan diri. Keduanya akan memunculkan masalah bagi diri dan relasi.

Kesulitan ini dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja, karena setiap orang memiliki emosi. Diperkuat dengan pengalaman kita di masa kecil dimana pengasuh utama kita tidak melatih kita untuk mengenali emosi, bahkan tidak jarang melarang atau pun tidak mengizinkan beberapa emosi hadir. Sebagai contoh: Seorang ibu melarang anak ‘cowok’nya menangis karena anak ‘cowok’ yang menangis artinya lemah. Atau pun seorang ayah memarahi anaknya yang sedang marah, karena ayah merasa sedang dilawan. Pengalaman yang kita alami berkaitan dengan emosi membuat beberapa orang merasa asing dengan emosi-emosi tertentu, bahkan merasa buruk ketika emosi tertentu hadir (contoh: marah).

Alkitab sendiri mencatat dengan jelas berbagai emosi yang muncul dari para penulis kitab-kitab di Alkitab, sebagai contoh: "Di situ ia duduk dan ingin supaya mati saja. Saya tidak tahan lagi, TUHAN, katanya kepada TUHAN" (1 Raja-Raja 19:4b); Daud menjadi sangat marah karena orang itu (2 Samuel 12:5a). Bahkan Tuhan Yesus pun menunjukkan dengan jelas emosi yang Ia miliki, seperti: ketika Ia marah (Mat. 21:12-13); ketika Ia sedih (Yoh. 11:33); atau pun ketika Ia takut (Mat. 26:38). Hal ini menunjukkan bahwa emosi bukanlah sesuatu yang harus dijauhi atau pun dibuang, tetapi emosi itu merupakan wujud kemanusiaan seseorang yang perlu untuk diterima dan diolah.

Namun pandangan beberapa orang melihat emosi tertentu seperti marah adalah sesuatu yang salah ataupun berdosa. Pertanyaannya: Apakah memiliki emosi marah itu berdosa? Ataukah cara mengekspresikan marah itu yang berdosa? Kita seringkali terjebak dengan kemarahan yang tidak sehat, sehingga membuat kita kadang tidak mengizinkan atau menganggap salah seseorang yang memiliki emosi marah. Emosi marah itu sendiri setiap kita tentu hal yang lumrah dimiliki, tetapi yang sering menjadi masalah adalah cara kita mengekspresikannya. Ada orang yang mengekspresikan dengan berkata kotor dan kasar, tidak jarang melempar barang atau pun sampai memukul. Hal ini tentu sikap yang salah dan tidak dibenarkan. Hanya saja perilaku ini bisa muncul tentu dapat disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah ketidakmampuan mengolah emosi itu sendiri.

Ketidakmampuan mengolah emosi akan membuat orang itu sendiri mengalami kesulitan, entah secara mental, fisik, atau pun relasi dan lainnya. Beberapa orang berpikir bahwa dengan mendiamkan atau pun melupakan akan membuat emosi itu sendiri hilang. Namun pada dasarnya emosi bukanlah sesuatu yang dapat dilupakan atau pun dibuang. Emosi itu sendiri energi yang jika dibuang atau pun diabaikan akan tetap muncul dengan berbagai bentuk, seperti: sakit kepala, maag, gatal-gatal, masalah mental dan lainnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan atau pun menyepelekan emosi yang kita miliki. Tetapi kita perlu merangkul emosi yang muncul dengan cara mengenali dan mengolahnya.

Emosi itu merupakan signal diri kita. Ketika marah adalah signal bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang dilanggar. Ketika sedih adalah signal bahwa kita sedang mengalami kehilangan. Ketika senang adalah signal bahwa sesuatu yang kita harapkan terjadi. Ketika takut adalah signal bahwa ada sesuatu yang mengancam diri kita. Emosi-emosi ini dapat muncul bukan hanya di dalam hati saja, terkadang dari bahasa tubuh kita; seperti: waktu takut pundak kita menegang dan jantung berdetak cepat; waktu marah tangan kita mengepal dan leher menjadi kaku; atau pun waktu senang kita dapat melompat girang atau pun tersenyum. Oleh karena itu, mengenali emosi bukan hanya yang muncul di dalam hati, tetapi juga bisa terlihat dari bahasa tubuh kita.

Ketika kita sudah mengenali emosi yang muncul, maka kita perlu mengolah emosi yang ada. Emosi yang ada perlu kita telusuri apa yang membuat hal itu muncul. Seperti: "Tadi saya marah dengan dia, apa yang membuat saya marah? Apakah kata-katanya ataukah penolakannya?" belajarlah untuk mengenali apa yang memunculkan emosi tersebut. Hal ini akan menolong kita untuk tidak reaktif dalam memberi respons, tapi menolong kita untuk menemukan respons apa yang tepat untuk kita berikan. Jika perlu waktu untuk menghadapi emosi tersebut, tidak masalah yang terpenting bukan kesegeraan, tapi waktu yang tepat bagi kita untuk menghadapinya. Hal ini terlihat mudah, namun hal ini memerlukan latihan berulang kali untuk mengenali dan mengolah emosi. Namun percayalah, ketika kita mengerjakannya bersama Tuhan, Roh Kudus itu akan menolong dan memampukan kita. Pertanyaannya: Maukah kita merangkul emosi kita?

*) Salah seorang konselor dari Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo yang berdomisili di Malang

 

LIPUTAN PELAYANAN

TELAGA KEHIDUPAN DI TIMIKA

(8 – 14 Januari 2026)

Pada tanggal 6 hingga 14 Januari 2026, timTelaga Kehidupan melaksanakan perjalanan pelayanan keTimika, Papua dengan tujuan untuk memerkenalkan nilai empati di lingkungan pendidikan dan memerkuat kesehatan mental di kalangan sekolah dan jemaat setempat. Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi utama, yakni SKKK (Sekolah Kristen Kalam Kudus)Timika dan GKKK (Gereja Kristen Kalam Kudus) Timika, yang melibatkan peserta dari kalangan guru, staf sekolah, orang tua murid, serta jemaat.

Salah satu agenda Tim Telaga Kehidupan mengadakan pembinaan untuk guru dan staf sekolah dengan tema EmpatheticTeacher. Pembinaan ini memberikan keterampilan dasar dalam konseling untuk memerlengkapi guru dan staf agar lebih sensitif terhadap kebutuhan psikologis siswa dan dapat menciptakan lingkungan belajar yang empatik. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah agar para pendidik dapat lebih efektif dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional siswa, sehingga tercipta suasana belajar yang penuh perhatian dan dukungan.

Selain itu, sesi Empathetic Students untuk siswa jenjang KB-TK sampai SMA juga dilaksanakan untuk membantu mereka menghargai diri mereka sendiri dan teman-temannya, serta belajar pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai kegiatan yang dirancang khusus, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berempati, yang diharapkan akan membuat mereka menjadi individu yang lebih peduli dan menghargai keberagaman.

Tim Telaga Kehidupan juga menyelenggarakan "Seminar Parenting" yang ditujukan untuk orang tua murid. Seminar ini bertujuan memberikan wawasan tentang bagaimana orang tua dapat berperan dalam mendukung perkembangan mental dan emosional anak-anak mereka, dengan fokus pada pentingnya mengajarkan nilai empati. Orang tua diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak, agar mereka dapat menciptakan lingkungan rumah yang mendukung perkembangan karakter positif pada anak.

Seluruh kegiatan ini dipandu oleh dua pembicara dari Pusat Konseling Telaga Kehidupan, yaitu Anita Sieria, M.Th. dan Ev. Grasia Tampubolon, M.Th. Keduanya membagikan wawasan tentang konseling dan kesehatan mental, serta memberikan panduan praktis kepada peserta agar mereka dapat mengimplementasikan nilai empati dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di jemaat.

Tim Telaga Kehidupan berharap bahwa perjalanan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi peserta. Dengan mengembangkan empati, kami yakin bahwa setiap individu dapat berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang lebih peduli, mendukung dan sehat secara emosional, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial masyarakat Timika.

Kutipan dari Buku "Tukang Bawa Selamat"

KHOTBAH, MONOPOLI ROHANIWAN?

Oleh: Ruddy Koesnadi *)

Seusai kebaktian, saya membayangkan duduk bersama teman-teman di warung bakso. Obrolan sederhana tiba-tiba menyentuh hal besar: Amanat Agung, pesan Yesus agar semua bangsa dijadikan murid-Nya.

Seorang teman nyeletuk, "Perlu banyak pengkhotbah dong". "Memangnya siapa saja yang boleh berkhotbah? Tentu pendeta atau rohaniwan", timpal yang lain.

Seorang teman tersenyum. Katanya, "Bagaimana dengan tukang kayu, ibu rumah tangga, atau pengemudi ojek?"

Kami tertawa, mengira ia bercanda.

Katanya lagi, "Bukankah Yesus sendiri tukang kayu? Hidup-Nya khotbah terbesar sepanjang sejarah".

Kami semua jadi terdiam.

Dalam bayangan banyak orang, khotbah selalu identik dengan mimbar di gereja. Sang rohaniwan berdiri tegak, membuka Alkitab lalu berbicara kepada jemaat.

Mari kita lihat lagi bagaimana Yesus mengajar. Alkitab mencatat, Yesus pernah berkhotbah dari atas perahu tempat kerja nelayan (Luk. 5:1-3). Itu mengingatkan kita bahwa firman dapat hadir di mana saja, bahkan di tempat kerja.

John Stott pernah menulis bahwa kata dan perbuatan seperti dua bilah gunting. Keduanya sama-sama penting. Pdt. Andar Ismail juga menekankan hal yang sama; pelayanan tidak selalu identik dengan kegiatan gerejawi. Tindakan kecil, meski sederhana, dapat menjadi kesaksian besar. Khotbah bisa lahir dari bibir, juga dari cara kita hidup (baca bukunya, Selamat Bergereja). Bahkan, Pdt. Imanuel Kristo menulis buku kumpulan kesaksian hidup dengan judul Khotbah Tanpa Mimbar.

Ketiga pandangan ini menegaskan bahwa Injil tidak berhenti di mimbar, tetapi harus hadir dalam hidup sehari-hari. Dahulu, gereja mula-mula juga bertumbuh karena jemaat yang "berkhotbah" melalui karya dan kata dalam keseharian: berbagi roti, menolong sesama, setia dalam doa.

Ada banyak cara orang menyampaikan Injil tanpa kata-kata. Seorang pendeta pernah bersaksi, ia terpanggil menjadi hamba Tuhan bukan karena mendengar khotbah hebat, melainkan karena setiap Minggu melihat sepasang suami istri berjalan beriringan ke gereja dengan wajah ceria, penuh kasih, seakan tidak ada beban. Tanpa sadar, hidup merekalah yang paling menyentuh hatinya. Bukankah itu juga khotbah?

Saya pun melihat bentuk-bentuk khotbah kecil lainnya. Seorang istri berbisik saat umat bernyanyi. Rupanya ia membacakan lirik lagu bagi suaminya yang buta. Setiap minggu ada anak berkebutuhan khusus yang hadir bersama orang tuanya, selalu dengan wajah penuh syukur.

Kesaksian tidak selalu muncul di gereja. Kadang hadir di meja makan lewat keramahtamahan yang tulus. Saya dan istri pernah diundang makan malam di rumah Pdt. Andar Ismail. Yang tersaji hanya nasi, bakso ikan dan siomai – menu harian. Tidak ada yang istimewa. Memang mereka tidak perlu membuatnya "istimewa". Justru dalam kesederhanaan itulah saya belajar: keramahtamahan yang jujur tanpa topeng dapat berbicara lebih kuat daripada khotbah seribu kata. Bahkan sekadar menyapa sekuriti malam, yang dibalas dengan hormat, dapat menjadi khotbah tentang penghargaan.

Ternyata bukan hanya orang dewasa. Anak-anak pun punya cara sederhana untuk "berkhotbah" dengan tindakannya. Dua cucu heboh melihat tukang kerupuk buta. Mereka memaksa membeli karena empati.

Suatu kali, jadwal saya bentrok antara rapat Majelis Jemaat dan rapat Ikatan Akuntan. Bingung, saya bertanya kepada Pdt. Andar Ismail, jawabannya singkat, "Ikut rapat akuntan! Di gereja semua sudah Kristen. Tapi di sana, mungkin Anda hanya salah satunya. Anda bisa jadi saksi di sana lewat kepribadian dan integritas Anda".

Semula saya menduga, ia akan meminta saya ikut rapat gereja. Ternyata justru sebaliknya. Ia menegaskan, ada misi di luar tembok gereja. Rapat akuntan bukan hanya urusan profesi, tetapi juga mimbar. Saya sadar, bentroknya jadwal bukan kebetulan. Itu cara Allah menempatkan saya agar dapat bersaksi di sana.

Hal serupa saya alami di ruang kelas. Tamat kuliah, seorang mahasiswa menulis: Pak, terima kasih. Kami belajar bukan hanya dari materi, tetapi juga dari cara Bapak membimbing kami. Rupanya ruang kelas pun dapat menjadi mimbar.

Semua kisah itu membisikkan hal yang sama: mimbar dan khotbah itu luas. Kasih kecil, sikap tulus dan integritas sederhana dapat berkhotbah, lebih kuat daripada khotbah dari mimbar dengan banyak kata.

Saat organisasi kantor menghadapi masalah dan saya hampir menyerah, renungan Natal mengingatkan: "Setiap orang ditempatkan Allah di suatu tempat dengan tujuan". Kalimat itu menyadarkan saya bahwa keberadaan saya di sana bukan kebetulan. Ada maksud Tuhan yang baru saya sadari belakangan.

Profesi pun dapat menjadi ladang pelayanan. Hal ini terkonfirmasi dalam suatu obrolan di asosiasi profesi, seorang teman non-Kristen nyeletuk: "Ia memang Kristen, tetapi berbeda. Ia menunjukkan imannya dalam perilaku dan cara berhubungan dengan kami yang tidak seiman". Tidak ada khotbah, tidak ada debat teologis. Hanya sikap hidup yang konsisten.

Saat berkunjung ke Pulau Hiri, Ternate bersama tim Wahana Visi Indonesia, kami disambut hangat seperti keluarga sendiri, padahal mayoritas warga berbeda iman. Mereka bercerita bagaimana anak-anak dan masyarakat terbantu oleh program yang dijalankan.

Seorang pendeta ikut berbisik: "Saya sungguh melihat Yesus hadir di sini". Saat itu saya terdiam. Rupanya Injil bisa bersuara, bukan melalui khotbah panjang, melainkan lewat kasih yang nyata dan diterima dengan rasa syukur.

Hal ini menjadi bukti atas apa yang dikatakan dalam Matius 5:16, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga". Inilah perwujudan misi: hadir di tengah dunia, bukan hanya di dalam gereja.

Larry Julian dalam bukunya God is My CEO menuliskan bahwa Tuhan tidak hanya ingin ditemui pada hari Minggu, tetapi juga pada hari Senin ketika kita berhadapan dengan laporan keuangan, rapat atau bahkan negosiasi. Integritas dalam keputusan sehari-hari bisa lebih kuat daripada seribu khotbah.

Laurie Beth Jones penulis buku Jesus, CEO melihat Yesus sebagai "CEO" sejati. Ia tidak memimpin dengan kursi atau jabatan, tetapi dengan misi dan relasi. Murid-murid-Nya tidak ia perlakukan sebagai bawahan, melainkan sebagai sahabat yang diberdayakan. Kepemimpinan-Nya membuat orang lain bertumbuh. Bukankah itu khotbah yang hidup?

Hal serupa saya saksikan di Taize, sebuah komunitas doa di Perancis. Disana kehidupan bersama justru menjadi khotbah yang paling fasih (dibahas dalam buku Pdt. Andar Ismail, Selamat Melayani). Para brother tidak berkhotbah di mimbar. Mereka membaca firman, menyanyi, berdoa, mengheningkan diri dan menyambut tamu dengan keramahan. Saya pernah hadir di sana, ikut duduk dalam keheningan. Dan benar, suasana itu lebih kuat daripada banyak khotbah panjang. Keheningan mereka justru bersuara, doa mereka justru berkhotbah.

Namun perlu ditekankan bahwa ini tidak berarti bahwa khotbah di mimbar itu tidak penting. Khotbah di mimbar dan tindakan saling melengkapi. Khotbah di mimbar menyalakan api, sedangkan khotbah dalam perbuatan menjaga api itu tetap menyala di tengah dunia. Firman yang diwartakan harus menjelma dalam hidup yang dihidupi.

Jadi, siapa yang boleh berkhotbah? Jawabannya sederhana: saya, Saudara juga. Mimbar bukan hanya panggung di gereja. Kadang khotbah itu langkah kaki yang setia, integritas di ruang rapat, atau sekadar sapaan ramah kepada seorang tetangga. Hidup kita, sekecil apa pun, dapat menjadi khotbah kepada orang lain. Pertanyaannya; dapatkah hari ini orang lain melihat Injil melaui cara kita hidup?

*) Bp. Ruddy melayani sebagai pembina di BPK Penabur, YBPK Krida Wacana dan Scripture Union Indonesia, juga pernah aktif di Wahana Visi Indonesia dan World Vision International

POKOK DOA 
(JANUARI 2026)

Tahun 2026 telah satu bulan kita lewati. Hari-hari terakhir dari bulan Januari 2026 kita mengalami cuaca ekstrem (hujan yang cukup lebat, angin kencang) bahkan di beberapa daerah terjadi banjir, longsor dan lain-lain. Kita tetap mengucap syukur karena kita berada dalam perlindungan-NYA. Memasuki bulan kedua (Februari 2026), beberapa doa syukur dan doa permohonan yang telah dikumpulkan adalah sebagai berikut :

  1. Bersyukur dalam bulan Januari 2026 telah dikirim 20 items (T 125 s.d. T135) ke RASSINDA (Radio Suara Sion Perdana) 93,8FM/1314AM di Karanganyar, Solo.
  2. Doakan bila Tuhan berkenan, ada tambahan rekaman Telaga dalam triwulan pertama tahun 2026.
  3. Doakan untuk pengerjaan transkrip dari T606B (-Perselingkuhan dan Perzinaan-) yang telah direkam pada akhir September 2025 yang lalu.
  4. Doakan untuk beberapa radio yang mengalami permasalahan, yaitu Suara Pembaruan FM di Waingapu (transmitter yang bermasalah); Kristal J-2 di Jayapura yang belum mengadakan siaran langsung karena server hosting penyedia bermasalah; demikian pula Swaranusa Bahagia AM di Jayapura yang masih memutar lagu saja atau kadang me’relay’ dari radio Bahana Sangkakala FM.
  5. Kita doakan untuk penanganan banjir serta longsor di wilayah Kab. Bandung Barat dan banjir yang terjadi di Bekasi dan beberapa wilayah di Ibukota Jakarta serta di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
  6. Tetap kita doakan untuk pemerintah dari Pusat sampai ke wilayah-wilayah di seluruh Indonesia dalam mengelola permasalahan agar ada kesehatian dan saling menopang.
  7. Bersyukur untuk setiap penyertaan dan pertolongan Tuhan bagi Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo memasuki tahun 2026, demikian juga untuk pelayanan di Timika, Papua pada tanggal 8 – 14 Januari 2026 dapat berjalan dengan baik.
  8. Doakan untuk penyertaan Tuhan bagi pelayanan para konselor dari Pusat Konseling Telaga Kehidupan (PKTK) Sidoarjo sepanjang tahun 2026, demikian pula bagi para klien yang Tuhan percayakan.
  9. Kami membawa langkah perjalanan Telaga Pengharapan memasuki bulan Februari 2026:

Sekolah Anugerah, Belitung mengajukan permohonan pelaksanaan program Assessment (Penilaian) dan Pengembangan Kepribadian Guru sebagai upaya mendukung pengembangan sumber daya guru secara holistik. Melalui pendekatan assessment/penilaian psikologis yang tepat, program ini diharapkan dapat menolong para guru untuk mengenali kekuatan serta area pengembangan pribadi, memahami pola respons emosi dan stres, mengembangkan cara kerja dan relasi yang lebih sehat serta menumbuhkan sikap reflektif dalam pelayanan pendidikan.

Gereja Kristen Nasional Injili (GKNI) Pniel di Kalimantan Barat mengajukan permohonan pelaksanaan assesment/penilaian bakat dan minat bagi para remaja dengan tujuan membantu mereka mengenal diri dan memahami potensinya serta menentukan pilihan jurusan perkuliahan yang sesuai.

Berdoa kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada tim konselor Telaga Pengharapan yang sedang menyusun kedua program kerjasama ini sehingga setiap proses dapat berjalan dengan baik dan pelayanan yang diberikan sungguh menjadi berkat bagi banyak pihak.

Januari
Jenis Bahan