Tugas Orangtua Semasa Anak Berusia 5-12 Tahun

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T556B
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Ketika anak masuk ke sekolah berarti anak harus berinteraksi dengan orang-orang selain keluarganya. Di masa inilah anak-anak mulai belajar mengenali kehidupan sosialnya. Gunakanlah kesempatan ini untuk mendidikan anak agar hormat dan takut akan Tuhan!
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Ada kelegaan tersendiri ketika melihat anak bertumbuh ke usia sekolah. Kita merasa sedikit lebih bebas dan tidak terlalu tegang sebab kita mulai berbagi tanggung jawab menjaga dan membesarkannya dengan orang lain, dalam hal ini, para guru di sekolah. Di rumah kita tetap memunyai tugas; berikut akan dipaparkan beberapa tugas orangtua pada masa ini.


  1. Menolongnya Mengerti dan Menyelesaikan Tugas Sekolahnya Namun tidak Membuatnya Bergantung Pada Kita. Ada anak yang tidak membutuhkan bantuan kita sama sekali tetapi pada umumnya anak memerlukan bantuan kita dengan tugas sekolahnya. Untuk itu, dari awal ia bersekolah, kita mesti terlibat secara langsung. Kita harus menanyakan tugasnya—apakah ada—serta menguji pemahamannya. Bila ia tidak memahaminya, jangan memarahinya; sebaliknya, berilah penjelasan. Namun penting bagi kita untuk menjaga batas yang jelas antara membantunya dan membuatnya bergantung pada kita. Jangan sampai kitalah yang akhirnya menyelesaikan tugasnya dan membuatnya tidak termotivasi untuk mencoba. Jadi, dalam mengajarnya kita harus menyuruhnya untuk mengerjakan bagiannya pula. Begitu kita mengambil alih tanggung jawabnya, ia pun akan mengembangkan kepasifan dan kemalasan.
  2. Mendorongnya Untuk Bergaul Dengan Teman Sebayanya dan Menolongnya Menyelesaikan Gesekan Di Antara Mereka. Sedapatnya aturkan waktu supaya anak bisa bertemu dengan teman di luar jam sekolah supaya ia dapat menjalin pertemanan. Ini penting untuk perkembangan mental dan sosialnya. Dan, bila ia mengalami masalah dengan teman, dengarkanlah dan berilah saran; bukan malah memarahinya. Anak baru mulai belajar bergaul, jadi, sudah sepatutnya ia konflik dengan teman dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya.
    Saya mafhum bahwa anak memunyai begitu banyak tugas sekolah sehingga tidak memunyai banyak waktu untuk bermain dengan teman. Jika anak kewalahan, mungkin kita harus memertimbangkan untuk memindahkannya ke sekolah yang tidak terlalu banyak menuntut. Ingat, terpenting pada masa pertumbuhan anak di usia ini bukanlah prestasi akademik, tetapi pertumbuhan mental dan sosial anak. Penekanan pada akademik boleh diberlakukan pada waktu anak menginjak usia remaja, jangan sebelumnya.
  3. Di Rumah Berilah Tanggungjawab Pada Anak. Misalkan, biasakan agar ia mencuci piring dan sendok-garpu yang baru digunakannya. Mintalah ia untuk membereskan tempat tidurnya dan menyimpan mainannya di dalam kotak mainan setelah selesai bermain. Kadang, kita pun dapat memintanya mengambilkan barang buat kita atau adik dan kakaknya. Semua tanggung jawab ini berguna melatih anak untuk bukan saja tidak malas, tetapi juga bersedia berbagian melakukan kewajiban untuk hidup bersama. Anak yang tidak diserahi tanggung jawab akhirnya bertumbuh besar menjadi anak yang malas dan hanya bisa menuntut orang untuk melakukan semua baginya. Dan, tanpa tanggung jawab, anak pun tidak akan dapat mengembangkan kepercayaan diri. Justru sewaktu ia diberi tanggung jawab dan ternyata ia sanggup menyelesaikannya, ia pun akan makin percaya diri.
  4. Didiklah Anak Untuk Menghormati Kepunyaan Orang Lain. Sudah tentu pada awalnya kita memulai dengan mendidiknya menghormati kepunyaan kakak atau adiknya. Di satu pihak kita ingin agar ia rela berbagi dengan yang lain, tetapi di pihak lain kita pun ingin agar ia nyaman dengan kepemilikannya—dan kepemilikan orang lain. Tujuan kita melakukan ini adalah agar anak memahami dan menghormati batas antara dirinya dan orang lain. Ada anak yang merasa bersalah sewaktu memiliki sesuatu, seakan-akan ia tidak layak memunyai apa pun. Ini tidak sehat sebab ini akan membuatnya hidup tanpa pagar yang memisahkan dirinya dari orang lain. Akhirnya orang bebas masuk ke dalam hidupnya dan ia tidak berdaya melawannya. Sebaliknya, anak pun mesti menghormati pagar rumah orang lain; ia tidak seharusnya merasa leluasa mengambil barang yang bukan miliknya. Pemahaman ini akan menolongnya menjalin relasi yang sehat dengan sesamanya.
  5. Didiklah Anak Untuk Mengekspresikan Ketidaksukaannya Secara Santun Dan Terkendali. Ada anak yang cenderung diam sewaktu tidak suka dengan sesuatu; kita mesti mendorong dan mengajarkannya untuk mengungkapkan perasaannya dan tidak menyimpannya saja. Sebaliknya ada anak yang eksplosif; begitu marah atau tidak suka dengan sesuatu, ia langsung meledak dan tidak jarang secara fisik pula. Kita harus mendidiknya mengungkapkan marah dan tidak sukanya secara lebih santun dan terkendali. Kita tidak harus menyuruh anak untuk selalu suka atau menerima semuanya; dengan kata lain, kita tidak berniat membuatnya tidak memunyai ketidaksukaan sama sekali. Ketidaksukaan adalah bagian hidup yang wajar; jadi, tidak apa memunyai ketidaksukaan. Namun, kita harus belajar mengungkapkannya secara santun dan terkendali sebab jika tidak, kita akan mengalami kesulitan membangun pertemanan. Penjelasan ini perlu kita sampaikan kepada anak.
  6. Ajarlah Anak Untuk Menghadapi Ketidakadilan Dalam Hidup. Pada masa ini anak mulai mengalami ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam hidup, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Berhati-hatilah untuk tidak selalu menyuruhnya untuk mengalah dan tidak melawan; bila kita selalu menyuruhnya untuk mengalah ia akan bertumbuh tanpa menyadari bahwa ia pun memiliki hak yang sama dengan orang lain. Kita pun ingin agar ia mengembangkan kemampuan untuk membela dan melindungi, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Kita perlu mengkomunikasikan kepadanya bahwa tidak mudah berdiri melawan yang kuat demi melindungi yang lemah. Kita boleh mengakui bahwa kita sendiri pun takut. Namun, kita perlu mendorongnya untuk berusaha berbuat sesuatu.
    Pada akhirnya kita tidak boleh melupakan tugas untuk menanamkan takut akan Tuhan pada anak. Amsal 14:27 menjanjikan, "Takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut." Masa anak berusia 5-12 adalah masa di mana anak belajar; jadi, gunakanlah kesempatan ini untuk mendidik anak menghormati dan takut akan Tuhan. Buah dari pengajaran ini adalah sumber kehidupan yang akan menjauhkan anak dari maut.