Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Saya, Gunawan Santoso, dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Tantangan Penggembalaan: Konflik Antar Jemaat". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, kita semua tentu berharap bahwa jemaat itu semakin lama semakin berkembang, orangnya tambah banyak. Tapi dengan bertambahnya anggota jemaat itu tentu juga menimbulkan masalah-masalah baru di dalam jemaat dan itu tidak selalu mudah untuk diselesaikan, Pak Paul. Sehingga seringkali terjadi konflik. Tetapi kalau kita mau bicara tentang tantangan penggembalaan, apakah itu dibebankan pada pendetanya saja atau penatuanya saja atau bisa dibagikan kepada jemaat ?
PG : Sudah tentu karena pendeta sebagai gembala maka dia harus menghadapi masalah atau tantangan yang dihadapi oleh jemaat. Sudah tentu dalam prakteknya penatua akan bahu-membahu bersama dengan pendeta menangani tantangan-tantangan yang dihadapi tapi tetap saya kira orang yang akan harus berhadapan langsung adalah seorang gembala sidang.
GS : Iya. Sekarang ada banyak juga jemaat dilibatkan dalam penggembalaan dalam beberapa bentuk tertentu misalnya dalam hal kunjungan rumah tangga karena sudah tidak bisa lagi menjangkau semua anggota jemaat maka jemaatlah yang dilatih untuk menjadi pengunjung. Ini bagaimana?
PG : Saya kira itu ide yang baik sekali, Pak Gunawan, karena memang mustahil seorang gembala sidang bisa mengunjungi semua jemaatnya. Tidak mungkin. Jadi ada baiknya ada orang-orang yang dapat membantu gembala sidang memerhatikan kesejahteraan hidup jemaat.
GS : Kalau kita berbicara tentang kemungkinan konflik di dalam jemaat, apa yang akan Pak Paul bahas?
PG : Begini, Pak Gunawan. Sebagaimana pekerjaan lainnya tugas penggembalaan pun memunyai tantangan tersendiri, salah satunya menghadapi berbagai manusia dengan berbagai kebutuhan dan kepentingannya yang kadang bertabrakan. Maka tidak bisa tidak, gembala harus bersikap bijak untuk menghadapi semua ini. Coba akan saya paparkan beberapa jenis konflik yang muncul dan juga saran untuk mencegah serta mengatasinya. Pertama adalah konflik politik. Dari awal pelayanan kita perlu menjelaskan hal-hal apa saja yang tidak akan kita kemukakan secara terbuka. Salah satunya adalah paham politik yang kita anut dan partai politik yang kita dukung. Kita adalah gembala untuk semua, jadi kita menaungi semua. Itu sebab hindari percakapan politik dan kalau pun kita ingin memberikan penilaian yang kritis terhadap situasi politik maka lakukanlah secara berimbang dan umum. Begitu kita terlihat berkiblat pada satu partai maka selamanya kita akan dianggap bukan lagi gembala bagi semua. Ini akan merugikan pelayanan, sebab kita akan dilihat sebagai kepanjangan partai bukan Kristus. Sewaktu Tuhan kita Yesus berada di bumi, Ia lahir dan dibesarkan di tanah jajahan. Saat itu pemerintah yang berkuasa adalah kerajaan Roma. Raja Herodes yang kita kenal adalah raja boneka yang tunduk kepada kaisar Roma. Kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis juga hidup pada masa yang sama dengan Tuhan kita Yesus. Satu hal yang menarik yang layak mendapatkan perhatian kita adalah tidak pernah sekalipun Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis menyinggung soal politik, baik di dalam pembicaraan maupun pengajaran mereka. Tidak pernah mereka itu mengajak rakyat Israel untuk bangkit berdiri melawan dan membebaskan diri dari penjajahan Roma.
GS : Pak Paul, apakah itu berarti bahwa gereja tidak boleh berpolitik?
PG : Saya percaya memang sebagai seorang hamba Tuhan yang mewakili Tuhan di bumi ini karena harus menaungi semua maka dia tidak boleh memang, menurut saya, berpolitik apalagi terlib