Skip to main content

Korban Tindak Kekerasan

Abstrak

Penderitaan yang dialami oleh korban tindak kekerasan, adalah pada batin atau hatinya. Untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Ada 3 langkah yang dapat dilakukan korban agar tidak terjadi untuk yang kedua kalinya yaitu (1) membuat batasan dengan pelaku atau menjaga jarak. (2) mengenali kelemahan diri supaya tidak diperalat oleh orang lain. Dan (3) memutus hubungan, jika penderitaan yang dialami sudah begitu dahsyat.

Play Audio
Transkrip

Pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, dan kali ini saya bersama Ibu Ester Tjahya M.Psi. kami akan berbincang-bincang dengan Pdt. Dr. Vivian Soesilo. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen paruh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Korban Tindak Kekerasan". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

Lengkap
GS : Ibu Vivian, pada kesempatan yang lalu kita bicara mengenai pelaku tindak kekerasan dan kali ini kita akan berbicara tentang korbannya. Sebagai korban tindak kekerasan, penderitaan macam apa yang biasanya dialami oleh korban tindak kekerasan itu sendiri.

VS : Penderitaan yang dialami sebetulnya penderitaan yang cukup dahsyat yaitu seringkali hatinya atau batinnya yang terluka, dan ini membutuhkan waktu yang lama untuk dipulihkan. Batin yang teruka itu menyebabkan seseorang bisa merasa harga dirinya rendah, rasa takut yang berlebihan, menjadi orang yang cepat marah, tidak bisa mengendalikan emosinya, tidak bisa berkembang dengan normal secara jasmani, rohani, emosi, mengalami kesulitan berelasi dengan orang lain, menjadi orang yang cemburuan, menjadi orang yang ragu-ragu dan saat malam hari tidak bisa tidur dengan nyenyak karena selalu mimpi buruk mengenai tindak kekerasan yang dia alami dan dia mimpikan pada malam harinya, jantungnya berdebar-debar, sesak napas, keringat dingin, tidak mempunyai percaya diri.

GS : Kalau orang itu merasa dilukai karena korban tindak kekerasan apakah mungkin suatu saat dia menjadi pelaku tindak kekerasan?

VS : Seringkali terjadi seperti itu. Bukan dikatakan 100% tetapi kecenderungannya seperti itu. Kalau dia belum dipulihkan, seringkali dia melakukannya lagi. Dampaknya dia sering melakukan kemarhan yang tidak terkendali kepada orang lain karena kemarahan terhadap orang yang melakukan tindak kekerasan yang lalu belum terlampiaskan.

GS : Tapi kalau tindak kekerasan akibat perbuatan seksual, biasanya korbannya menutup diri dan menjadi orang yang pemalu tidak mau bergaul dan sebagainya.

VS : Ada korban tindak kekerasan secara seksual, dia menjadi orang yang menyendiri dan tidak mau berbuat apa-apa. Dan ada juga korban tindak kekerasan seksual yang saya tahu, dia malah menjadi rang yang berani sekali dan membuat orang lain jatuh didalam hal seksual.

Jadi bisa dua hal.
GS : Memang ada yang menjadi pelacur dan seringkali merugikan banyak orang, tetapi kalau diurutkan masalahnya, sebenarnya dia pernah diperlakukan seperti itu, diperkosa dan sebagainya.

ET : Tapi adakalanya orang bisa menyimpan sampai sekian lama dan tidak kelihatan mungkin dengan dia tetap berprestasi, menunjukkan keberhasilan. Jadi benar-benar dilampiaskan secara positif, teapi sebenarnya lukanya sangat mendalam dan disimpan dengan baik.

VS : Memang bisa disimpan dengan baik dengan cara tetap berprestasi tetapi seringkali yang menderita adalah dalam hubungan relasi. Kalau dia sudah dekat berhubungan relasi dengan seseorang, kadng-kadang dia menjadi orang yang gampang tersinggung, gampang cemburu dan sebagainya.

Ternyata kalau di telusuri dia adalah korban dari tindak kekerasan yang belum dibereskan.

ET : Mungkin baik dari luar tetapi ketika menjalin relasi yang mendalam baru kelihatan luka-luka ini. Memang dari luar tampaknya baik dan bagaimana kita bisa mendeteksi, kalau ternyata orang disekitar kita menyimpan luka.

Apakah salah satu tanda yang cukup besar ini adalah masalah emosi yang seperti Ibu katakan tadi?

VS : Ya, biasanya emosi adalah salah satu tanda yang memperlihatkan orang ini tiba-tiba meledak, tidak bisa mengendalikan diri. Mungkin kita bisa bertanya, "Apa yang terjadi dalam dirimu&qot;.

Dan dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa" dan biasanya dia langsung meledak. Dan akhirnya kita perlu berbicara kepadanya, "Pernahkah kamu mengalami sesuatu yang melukai hatimu".
GS : Seperti tadi yang ibu katakan tidak bisa tidur semalaman, ada orang yang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya sehingga timbul mimpi-mimpi buruk dalam kehidupannya.

VS : Mungkin karena dia pernah mengalami sesuatu yang mengerikan.

GS : Ada korban yang merasa karena kesalahannya sendiri, lalu dia menjadi korban tindak kekerasan. Misalnya dia menyalahkan kenapa saya pakai baju itu lalu diperkosa orang atau dia berjalan di jalan yang sepi atau memakai perhiasan sehingga dilukai orang dan itu bagaimana?

VS : Sebetulnya tindak kekerasan itu adalah tindakan kriminal dan pelakunya itu yang bersalah. Dialah yang melakukan tindakan kekerasan dan orang lain adalah korbannya. Orang lain mungkin dikatkan sebagai pemicu, karena dia berpakaian yang terlalu menyolok sehingga mengundang perhatian orang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa yang bertanggungjawab adalah orang yang melakukan tindak kekerasan.

Memangnya hal itu bisa mengundang sesuatu terjadi tetapi tetap tanggungjawab adalah pada pelaku.
GS : Mungkin karena tidak mau memperpanjang masalah kemudian bilang, "Itu memang salah saya sehingga saya jadi korbannya". Kalau kita kecurian seringkali kita berkata kita kurang hati-hati.

VS : Memang ada hal tertentu yang merupakan kesalahan kita, kalau rumah tidak di kunci kemudian orang datang dan mencuri. Itu memang kesalahan kita dan mengundang hal-hal tertentu.

GS : Adakalanya kita sudah berhati-hati tetapi tetap menjadi korban. Lalu kecenderungannya kita mengatakan ini memang kehendak Tuhan, ini bagaimana?

VS : Kehendak Tuhan adalah orang itu bukannya dilukai tetapi dikasihi. Mementingkan diri dan tidak bisa mengendalikan diri itu bukan kehendak Tuhan.

GS : Jadi sebenarnya korban perlu menyadari bahwa yang harus bertanggungjawab adalah pelakunya.

VS : Betul.

ET : Kadang-kadang kalau korban tidak bisa menyalahkan pelakunya dia merasa ini bukan kehendak Tuhan dan menyalahkan Tuhan. Dan dia merasa kenapa Tuhan tidak mencegah hal itu terjadi, kenapa Tuan membiarkannya dan tidak menolongnya saat tindak kekerasan itu berlangsung.

VS : Kita tidak tahu kenapa Tuhan tidak berbuat sesuatu waktu terjadi tindak kekerasan, tetapi yang kita perlu tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia untuk menyakiti orang lain itu adalah satu dosa.

Mengapa Tuhan tidak melindungi kita, kita juga tidak tahu. Tetapi yang kita tahu Tuhan itu mengasihi manusia dan Tuhan ingin manusia saling mengasihi dan memperhatikan, bukannya saling menyakiti.
GS : Kalau korban tindak kekerasan itu orang banyak misalnya kerusuhan masal yang pernah terjadi, dan terang-terangan orang mengaku. Tetapi yang jelas mereka itu adalah korban kekerasan, apakah dampaknya lebih ringan daripada kalau orang itu sendirian menjadi korban tindak kekerasan?

VS : Kalau menurut saya, dan apa yang telah saya baca, korban tindak kekerasan meskipun korbannya secara masal tetapi lukanya sama saja. Karena tiap pribadi itu mendapatkan perlakuan buruk yangsemestinya bukan dilakukan terhadap dia.

GS : Bahkan bukan dia sendiri yang mengalami luka hatinya tetapi juga keluarganya seringkali menjadi korban tindak kekerasan.

VS : Kalau kita ini dalam satu keluarga yang saling memperhatikan, mendukung dan mengasihi tentu kalau anggota keluarga kita disakiti maka semua orang terpengaruh. Demikian juga tindak kekerasa yang dilakukan terhadap salah seorang dari anggota yang kita kasihi, tentu yang lainnya sangat terluka.

ET : Ada juga anggota keluarga yang kemudian menyalahkan diri, seharusnya saya bisa melindungi anggota keluarga yang menjadi korban ini.

VS : Itu adalah rasa bersalah, karena kita tidak bisa melindungi, tetapi ada hal lain karena pelakunya yang bobrok yang tidak benar, pelakunya itu tidak takut pada Tuhan dan itu adalah tindakanyang berdosa, tindakan yang kriminal.

ET : Jadi luka yang dialami oleh korban ini pun sebenarnya kurang lebih sama dampaknya secara emosi dan juga hal-hal yang lain pada keluarga dari korban ini.

VS : Ya semuanya menjadi ikut terganggu, tetapi yang paling besar yaitu korban itu sendiri. Semuanya memang terkena dampaknya tetapi korban yang paling besar.

GS : Padahal korban ini membutuhkan dukungan dari keluarga untuk bisa cepat sembuh, kalau keluarganya juga terkena imbasnya, apa yang bisa dilakukan oleh keluarga itu?

VS : Yang dapat dilakukan keluarganya adalah harus menjadi kuat untuk si korban ini. Keluarga harus bersama-sama bisa berdiri mencari bantuan demi anggota keluarganya ini. Kalau tidak bisa mencri bantuan kepada sesama orang beriman, cari bantuan kepada konselor atau teman baiknya dan siapa saja yang mau membantu, supaya bisa berdiri lagi dan mampu menghadapi masalah ini.

GS : Sebenarnya bisa ditolong untuk pulih kembali walaupun seberapa parahnya yang dialami oleh tindak kekerasan itu.

VS : Bisa ditolong untuk pulih kembali dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

GS : Dan kemauan yang kuat dari korban untuk pulih.

VS : Betul dan itu membutuhkan kesabaran, tidak hanya sekali datang ke tempat konseling kemudian bisa sembuh tetapi membutuhkan waktu.

GS : Berdasarkan pengalaman ibu sebagai konselor, kalau ada orang yang mengalami tindak kekerasan seperti ini, apa yang Ibu lakukan?

VS : Pertama-tama kita mau mendengar ceritanya, mempercayai apa yang telah terjadi. Terutama korban tindak kekerasan seksual seperti anak kecil, dia cerita kepada orangtuanya tetapi orangtuanyatidak percaya dan hal itu menambah sakit hatinya.

Jadi kita mempercayai apa yang dia katakan dan kita mau mendampingi orang itu didalam pemulihannya. Sehingga dia tahu masalahnya jadi bisa mengidentifikasikan masalahnya, setelah itu dia tahu perasaan-perasaan apa yang dia alami. Perasaan marah yang berkecamuk di dalam hatinya, perasaan takut dan rasa bersalah, malu . Apalagi tindak kekerasan secara seksual, hal-hal itu harus dikeluarkan dan setelah dikeluarkan dia harus punya keputusan bahwa dia mau sembuh. Kalau dia mau sembuh dia harus punya jalan untuk mengampuni orang lain yang menyakitinya, dan dia harus punya batasan bagaimana melindungi dirinya sendiri dan ini membutuhkan waktu yang lama.
GS : Dan biasanya Ibu tidak mungkin mendampingi orang itu terus-menerus, bagaimana interaksi Ibu dengan korban itu?

VS : Biasanya orang itu datang 1 atau 2 minggu sekali atau sebulan sekali tergantung waktunya. Selama kami tidak berjumpa maka dia diberi PR, bagaimana dia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Da bisa menulis jurnal, menceritakan kembali apa yang terjadi dan itu bisa membantu meringankan bebannya dengan menulis di buku harian.

Kalau orang yang suka menggambar atau melukis, saat dia merasa marah, perasaannya bisa diungkapkan dalam hal lukisan atau m