Skip to main content

Depresi : Bawaan atau Lingkungan ?

Abstrak
Salah satu pertanyaan yang kadang muncul adalah, apakah depresi merupakan gangguan yang timbul dari bawaan—dalam pengertian, dari titipan genetik ayah dan ibu—ataukah dari lingkungan—dalam pengertian, dari sesuatu yang dialami atau terjadi dalam hidup ini? Sebagaimana gangguan lainnya, sesungguhnya faktor bawaan hampir selalu hadir dalam kasus depresi, terutama depresi berat. Namun, faktor lingkungan juga berperan memunculkan depresi. Disini akan dibahas faktor-faktor bawaan dan lingkungan itu.
Transkrip

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang “Depresi : Bawaan atau Lingkungan ?" Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, sebelum lebih jauh bicara tentang depresi itu bawaan atau lingkungan mungkin perlu penjelasan lebih jelas tentang depresi itu sebenarnya apa ?

PG : Depresi adalah sebuah kondisi terhimpit dalam jiwa kita, jadi kita akhirnya merasakan hidup ini kosong tidak lagi ada arah, tidak lagi kita bersemangat melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan dan kita juga biasanya mencoba menjauh dari orang dan perasaan kita akhirnya berat namun datar dan tidak ada lagi yang kita rasakan dan hanya berat sekali. Biasanya juga tanda-tanda lainnya adalah kita tidak ada tenaga, bawaannya capek dan tidur kita bisa terlalu banyak atau justru tidak bisa tidur sama sekali. Itu adalah kondisi yang kita sebut kondisi depresi.

GS : Kita orang awam biasa menyebutnya ini orang yang putus asa, tidak ada harapan apakah ini sama, Pak Paul ?

PG : Sama. Jadi memang pada titik akhir dalam kondisi depresi umumnya orang akan merasa tidak ada lagi harapan dan putus asa. Dari titik itu godaan untuk mengakhiri hidup menjadi besar sekali.

GS : Sekarang kita masuk pada inti pembicaraan kita. Jadi depresi atau putus asa ini munculnya karena faktor keturunan atau faktor lingkungan ?

PG : Jadi ini salah satu pertanyaan yang kadang muncul, apakah depresi merupakan gangguan yang timbul dari bawaan, dalam pengertian titipan genetik ayah dan ibu, ataukah dari lingkungan dalam pengertian dari sesuatu yang dialami atau terjadi di dalam hidup ini. Sebagaimana gangguan lainnya, sesungguhnya faktor bawaan hampir selalu hadir dalam kasus depresi terutama dalam depresi berat namun faktor lingkungan juga berperan memunculkan depresi. Kita akan coba bahas, apa yang dimaksud dengan faktor bawaan dan lingkungan itu.

GS : Dimulai dari faktor bawaan dulu, apa itu, Pak Paul ?

PG : Kita harus mengakui faktor bawaan dalam depresi sebab kemungkinan kita terkena depresi menjadi lebih besar bila orang tua juga mengidap masalah yang sama terutama bila mereka mengidap depresi berat. Selain dari itu tidak bisa disangkal ada orang tertentu yang sejak usia dini memerlihatkan kecenderungan depresi meskipun tidak mengalami sesuatu yang berat atau traumatik. Misalnya dia mudah sedih dan jika sedih cenderung bertahan dalam suasana hati yang murung untuk kurun yang lama. Atau ia kerap mengalami ayunan suasana hati dalam pengertian moodnya mudah turun naik. Ada juga yang cenderung berpikir negatif bahkan sejak kecil. Jadi semua diteropong dari lensa kemungkinan terburuk dan hidupnya penuh kecemasan tanpa alasan yang jelas. Jadi ada anak-anak remaja yang memunculkan semua gejala ini meskipun sesungguhnya tidak ada alasan untuk itu. Tidak bisa tidak, dari hal-hal ini kita akhirnya harus berkata, “Rasanya depresi ini lebih dari sekadar akibat lingkungan atau pengalaman, sepertinya ada sesuatu yang dalam dirinya sudah ada yang membuat dia seperti itu".

GS : Orang-orang melankolis juga punya sikap seperti ini, apakah ada perbedaan, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu kita membicarakan masalah kadar. Orang yang berkepribadian melankolis itu sendiri tidak depresi dalam pengertian dia bisa senang dan bisa juga menikmati hidup, namun kalau sampai senangnya menikmati hidupnya terhilang dan kesedihannya terus bertahan maka sudah tentu akhirnya berubah menjadi depresi. Jadi dengan kata lain, tipe kepribadian itu sendiri yaitu melankolis bukanlah identik atau sama dengan depresi, sebab sekali lagi orang yang melankolis masih bisa senang. Kalau yang depresi senangnya itu hampir tidak ada lagi.

GS : Kalau faktor bawaan apakah langsung dari orang tua atau dari kakek nenek kita, bisa terjadi tidak, Pak Paul ?

PG : Memang masih bisa diturunkan dari garis keturunan ayah atau ibu namun sudah tentu makin jauh makin kecil kemungkinannya, makin dekat makin besar kemungkinannya. Jadi kita ketahui bahwa kalau salah satu orang tua kita mengalami depresi berat dan sebagainya kemungkinan kita terkena memang menjadi lebih besar, dan tidak berarti kita pasti terkena tapi kemungk