Dalam permasalahan orangtua, hampir dapat dipastikan anak menjadi korban yang tidak bersuara—yang sunyi. Dampak negatif pada anak biasanya barulah muncul di permukaan tatkala anak bertumbuh besar. Salah satu dampak masalah orangtua pada anak berkaitan dengan pengembangan kuasa atau otoritas dalam diri anak. Berikut akan dipaparkan asal-muasal dan relasinya dengan anak.
Penyebab Masalah
Seyogianya ayah menjadi pemegang tampuk otoritas tertinggi dan ibu terlibat dalam penggunaan otoritas. Sejak anak kecil seyogianya orangtua mulai menyalurkan kuasa kepada anak dalam bentuk perhatian dan pemenuhan kebutuhan anak. Anak yang menerima perhatian dari orangtua akan mengembangkan otoritas terhadap dirinya dan memeroleh "kuasa" atau kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup. Sebaliknya jika anak tidak menerima cukup kuasa, ia cenderung mengembangkan masalah di kemudian hari. Pada umumnya anak tidak menerima kuasa akibat beberapa faktor. Berikut ini akan dijabarkan beberapa penyebabnya, dampaknya pada anak serta penyelesaiannya.
Ayah atau Ibu Otoriter
Dalam kasus orangtua otoriter, pada dasarnya orangtua menggunakan kuasanya secara berlebihan. Orangtua tidak menghargai pendapat anak dan tidak membuka pintu dialog.
Biasanya ada dua reaksi yang dapat muncul pada anak:
Orangtua tanpa Otoritas
Dalam keluarga ini, orangtua tidak memiliki kuasa sehingga kuasa didelegasikan kepada anak. Kehilangan kuasa atau otoritas dapat ditimbulkan oleh pelbagai sebab misalnya perbuatan orangtua yang menurunkan wibawa seperti berjudi dan mabuk-mabukan, atau orangtua dinilai rentan terhadap stres. Akibatnya anak dipromosikan menjadi pemegang kuasa pada usia yang terlalu dini.
Orangtua Berebut Kuasa
Dalam keluarga ini, ayah dan ibu tidak mau mengalah dan masing-masing memertahankan kuasanya. Tidak bisa tidak, pertengkaran sering terjadi dan anak terjepit di tengah. Kadang ia ditarik untuk berpihak pada ayah, kadang ia ditarik berpihak pada ibu.
Keluarga Besar
Dalam keluarga ini, orangtua memunyai banyak anak sehingga anak yang terkecil tidak mendapat perhatian yang cukup dan acap kali diperlakukan sebagai ‘anak bawang’. Kuasa orangtua lebih tersalur pada anak-anak yang lebih besar karena perhatian pun biasanya lebih tercurah pada anak-anak yang lebih besar. Orangtua menganggap semua baik-baik saja padahal anak terkecil tidak mendapat perhatian yang cukup. Pendapatnya tidak didengar dan keluhannya tidak diketahui.
Ringkasan T191A+ [1]B [2]
Oleh : Pdt.Dr.Paul Gunadi
Simak judul-judul mengenai "KELUARGA" di www.telaga.org [2]
Terima kasih Bapak Heman telah menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan saya. Jawaban ini merupakan angin segar dan membuat saya semakin bersemangat untuk memerbaiki kualitas diri.
Saya masih memunyai pergumulan dengan teman saya, sebut saja namanya Rista, sejak perdebatan dengan teman rohani saya, saya mulai mundur dari komunitas rohani, saya sempat datang ke komunitas akan tetapi dalam hati saya masih mengingat kejadian waktu itu, saya berusaha seolah-olah biasa saja dan saya sendiri mengerti bahwa saya harus mengampuni, akan tetapi sikap saya seolah-olah berlaku sebaliknya. Saya menjadi canggung dan merasa ada yang tidak beres dengan diri saya, seperti duri dalam daging, dengan alasan untuk menenangkan diri saya undur sementara dari komunitas. Saya merasakan ada hal-hal yang ganjil dari Rista dan memberitahu kepada sahabat saya si Teddy supaya lebih berhati-hati terhadap si Rista ini, akan tetapi inipun tidak benar karena saya secara tidak langsung membicarakan Rista dari belakang. Sejak itu saya tidak mengungkit-ungkit lagi nama si Rista ini saat mengobrol dengan Teddy. Saat itu juga saya tahu bahwa Teddy ternyata sedang mengadakan pendekatan dengan Rista, dalam hati kecil saya, saya takut kalau ternyata sahabat saya si Teddy ini hanya di PHP (Pemberi Harapan Palsu) oleh si Rista karena rekam jejaknya dulu tidak terlalu bagus, akan tetapi saya tidak mengatakannya dan menahan diri karena mungkin saja saya salah dan menduga yang buruk-buruk.
Selang beberapa bulan, sikap sahabat saya si Teddy ini perlahan mulai menjauh dari saya. Kami tidak seakrab dulu dan saya berpikir itu adalah hal yang alamiah dan realistis. Perubahan akan terjadi dan saya tidak terlalu memusingkan hal itu juga (lebih bersikap "easy going"). Dulu pernah saya pertanyakan mengapa akhir-akhir ini si Teddy terasa beda, akan tetapi dia menjawab tidak terjadi apa-apa. Apakah sikap saya sekarang yang terkesan "cuek" itu akan membuyarkan persahabatan saya setelah sekian lama dibina dan apakah dengan saya menahan diri untuk memberi peringatan agar lebih berhati-hati itu benar?
Pikiran saya selalu terngiang-ngiang untuk lebih berhati-hati dengan si Rista ini, akan tetapi saya selalu mengabaikannya dan menepisnya. Apakah ini intimidasi dari setan ataukah ini memang tindakan naluriah untuk "memertahankan diri"? Terima kasih.
Saya tidak mengetahui bagaimana pengalaman Anda bersama Rista sehingga Anda mengambil kesimpulan seperti itu. Tetapi kalau boleh saya berpendapat, Anda justru perlu lebih banyak berada dalam komunitas agar dapat menimba pengalaman berelasi sehingga bisa pula mengetahui lebih banyak bagaimanakah menghadapi dan mengatasi persoalan dalam relasi.
Kembali ke masalah Teddy, kemungkinan besar dia menjauh dari Anda bukan karena ketidakpedulian Anda melainkan karena Teddy ingin menghindari Anda, sementara ini karena dia menganggap Rista baik, sedangkan Anda merasa tidak demikian. Memang kecenderungan kita adalah lebih mudah bersahabat dengan mereka yang sejalan dengan kita daripada yang tidak sependapat dengan kita. Kita perlu menghargai Teddy juga, meskipun dia tidak sependapat dengan Anda. Teguran cukup diberikan sekali saja kepadanya dan selanjutnya dia yang menanggung risikonya.
Saudara A.S., setiap kita memiliki kecenderungan sulit mengampuni, meskipun kita ingin bisa mengampuni dengan tuntas. Karena itu pengampunan yang tuntas membutuhkan waktu dan kadang-kadang waktu yang dibutuhkan cukup lama. Kita dapat memohon Tuhan menolong dan menguatkan kita dalam proses yang sulit dan menyakitkan ini. Doa seperti ini saya percaya pasti didengar Tuhan karena sesuai dengan kehendak-Nya yang meminta kita mengampuni.
Saudara A.S., saya berharap Anda tidak mundur dari persekutuan. Tidak ada kumpulan orang percaya yang tanpa masalah, termasuk di zaman para rasul. Semoga semakin hari Anda juga semakin dapat menerima kekurangan orang lain dan semakin mengasihi Tuhan dan sesama. Bagian dari penyembuhan trauma masa lalu adalah belajar dari problem relasi masa kini. Secara konkret misalnya, bagaimanakah kita tetap bersikap ramah terhadap orang yang memusuhi kita. Termasuk juga, kita bertanya kepada diri sendiri, adakah kita juga memberi sumbangsih terhadap persoalan relasi yang sedang kita hadapi. Adakah secara tanpa sengaja saya juga membuat orang lain trauma atau tersakiti dan itu adalah kesalahan kita dan sebagainya.
Selamat berjuang, Sdr. A.S., Tuhan menolong Anda.
Saya yakin ada perasaan atau pemikiran tertentu yang terselip di benak kita pada saat membaca Alkitab. Mungkin rasa senang atau sukacita bila ayat-ayat yang kita baca berisi janji yang menguatkan. Ada juga rasa takut atau gentar bila apa yang kita baca berkaitan dengan hukuman atau kutukan. Terkadang kita juga merasa tidak mengerti atau sulit memahami apa yang kita baca. Mungkin masih ada banyak rasa atau pemikiran lain yang tidak dapat kita sebut satu per satu.
Pada umumnya saat membaca Firman Tuhan, kita berusaha menemukan kata-kata yang menguatkan, menghiburkan, meneguhkan dan janji-janji yang indah. Namun sayangnya kita tidak selalu menemukan apa yang kita cari, sebaliknya kita malah dapat menemukan ayat-ayat yang berisi kutukan atau hukuman. Sebagai contoh Firman Tuhan kepada Adam dan Hawa ketika setelah mereka jatuh dalam dosa (Kej 3:16-19 [3]) atau Firman Tuhan kepada Daud yang berisi tiga bentuk hukuman yang harus ia pilih setelah ia dipandang berdosa karena menghitung jumlah tentaranya (1 Taw. 21:10-12 [4]).
Di sisi lain kita menyadari bahwa kita bukan orang yang selalu taat, ada kalanya kita melakukan dosa sama seperti Adam, Hawa dan Daud. Jika kita telah berbuat dosa, Firman Tuhan manakah yang paling relevan untuk kita; firman yang berisi janji manis dan indah atau Firman Tuhan yang berisi hukuman dan kutukan? Tentunya kita berharap mendapatkan janji pengampunan dan memohon agar tidak terjadi konsekwensi buruk yang menimpa kita. Yang perlu kita pertanyakan adalah: "Apakah Firman Tuhan yang berupa hukuman itu benar-benar buruk dan menunjukkan bahwa ada sisi jahat yang Tuhan miliki?"
Baiklah kita membahas bagian ini dengan merujuk pada satu kisah yang terdapat di awal kitab Kejadian, yakni catatan tentang Adam dan Hawa. Ada firman untuk Hawa: Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu (Kej. 3:16 [5]). Dapat kita sebut bahwa firman itu adalah kutukan bagi Hawa. Sekarang mari kita pelajari baik-baik firman ini, sehingga kita nantinya dapat mengambil kesimpulan rasa tentang sakit saat melahirkan yang Tuhan tentukan bagi wanita itu buruk atau baik.
Di kitab Kejadian pasal 1:28 [6], di sana Tuhan berfirman kepada manusia: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi…". Pada saat manusia beranak cucu, yang mengandung dan melahirkan anak adalah wanita. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, besar kemungkinan tidak ada rasa sakit ketika melahirkan. Sekarang kita bayangkan dua situasi apabila tidak ada rasa sakit waktu melahirkan. Situasi pertama saat manusia belum jatuh dalam dosa. Oleh karena kasih di hatinya belum hilang maka laki-laki akan tetap mengasihi, memerhatikan dan menemani istrinya di saat melahirkan meskipun tanpa rasa sakit. Situasi kedua ketika manusia sudah jatuh dalam dosa dan kasih di hatinya sudah hilang. Saya membayangkan wanita akan dibiarkan melahirkan sendirian. Suaminya sibuk dengan urusan dan kesenangannya. Meskipun ada yang memberitahukan bahwa istrinya melahirkan ada kemungkinan ia akan berkata: "Biarkan saja, tidak ada yang perlu dikuatirkan nanti bayinya juga akan keluar sendiri."
Mengapa saya berpikir demikian? Saya teringat sesaat setelah manusia jatuh dalam dosa dan Allah menegurnya, ia menyalahkan istrinya dengan berkata: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberikan buah itu sehingga kumakan." Kasih yang awalnya menerima dengan utuh dengan berkata: "Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" kini telah lenyap. Dengan firman-Nya yakni hukuman yang terwujud dalam rasa sakit itu sebenarnya bukan seutuhnya hukuman yang bertujuan untuk menyakiti. Saya melihat sebagai cara Allah untuk melekatkan kembali rasa kasih yang hampir hilang itu dari laki-laki agar ia menaruh perhatian dan menaruh kasih sepenuhnya pada istrinya.
Sekarang kita melihat firman yang tertuju pada Adam. Ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan berfirman: "…..terkutuklah tanah karena engkau…….dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu." Perhatikan baik-baik, yang terkutuk adalah tanahnya. Tuhan tidak mengutuk manusia sehingga kehilangan kemampuan melakukan yang baik. Sebelum dia berdosa dan tanah belum terkutuk, bumi menghasilkan segala sesuatu dengan limpah. Bagi manusia yang belum berdosa, maka tanah yang baik itu akan tetap dirawati, dijagai dan diusahakan. Akan tetapi ketika hati manusia menjadi buruk karena dosa maka kecenderungannya adalah merusak. Hati yang buruk akan menghasilkan perilaku yang buruk juga. Jika tanah tetap dalam kondisi baik dan mengeluarkan hasil melimpah, maka manusia akan sangat malas dan semakin jauh dari gambar Allah yang bekerja. Itulah sebabnya Allah membuat kondisi bumi tidak lagi dapat menghasilkan yang baik bila tidak diusahakan sehingga manusia harus bekerja mengusahakannya. Dengan demikian ia tetap menampakkan gambar Allah di dalam dirinya yakni untuk mengusahakan yang baik.
Dalam pandangan saya Firman Allah yang ditujukan kepada Adam dan tampak seperti sebuah hukuman, sebenarnya adalah berkat. Artinya tidak ada Firman Allah yang buruk baik untuk Hawa maupun untuk Adam. Demikian juga untuk kita, ketika kita jatuh dalam dosa dan menerima firman yang berupa teguran atau bahkan terwujud sebagai hukuman, sebenarnya itu adalah berkat. Kita yang harus belajar untuk menyimaknya baik-baik dan belajar untuk memahaminya serta menerimanya dengan hati yang rela.
Kita sudah berada di pertengahan tahun 2023, Presiden Joko Widodo telah menyatakan bahwa status pandemi Covid-19 sudah beralih menjadi endemi di negara kita sejak tanggal 21 Juni 2023. Beberapa doa syukur dan juga doa permohonan adalah sebagai berikut:
Links
[1] https://telaga.org/audio/masalah_kuasa_dalam_keluarga_1
[2] https://telaga.org/berita_telaga/masalah_kuasa_dalam_keluarga#
[3] https://alkitab.mobi/tb/passage/kej+3%3A16-19
[4] https://alkitab.mobi/tb/passage/1+taw+21%3A10-12
[5] https://alkitab.mobi/tb/Kej/3/16/
[6] https://alkitab.mobi/tb/Kej/1/28/