Pertanda bahwa pernikahan sehat bukanlah kerukunan; kita bisa hidup rukun tanpa kasih alias tanpa relasi. Selama kita menjaga batas dan bersedia patuh pada syarat gencatan sejata, kita dapat memertahankan kerukunan. Namun kita tahu kerukunan seperti itu bukanlah pertanda bahwa pernikahan kita sehat. Pertanda bahwa pernikahan sehat ialah adanya pertumbuhan—pernikahan sehat jika anggotanya terus bertumbuh
Berikut beberapa masukan untuk memelihara pertumbuhan dalam pernikahan:
Ringkasan T 544 A [2]
Oleh : Pdt.Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul kategori
"Pranikah/Pernikahan" lainnya
di: www.telaga.org [3]
Saya memunyai masalah yang sampai saat ini saya tidak bisa mendapatkan penyelesaiannya. Saya punya pacar dan sudah 4 tahun kami berpacaran, dari pihak keluarga pacar saya sudah sering bertanya, "Kapan menikah?", begitu pula orangtua saya dan pacar saya sudah sering menanyakan hal tersebut kepada saya, tapi saya tidak mengetahui harus berbuat apa, saya sendiri belum siap untuk menikah. Malam hari saya sering tidak bisa tidur, yang menjadi penghalang bagi diri saya untuk menikah adalah biaya yang akan saya tanggung setelah menikah, ditambah lagi pekerjaan saya yang masih belum bisa diandalkan. Saya sudah membicarakannya dengan calon pasangan saya dan dia siap menerima apapun yang akan terjadi kelak setelah menikah. Tapi hati saya yang selalu merasa berontak dan kurang yakin dengan keputusan yang akan saya ambil. Terkadang untuk menenangkan pikiran saya, saya merokok sampai tengah malam walaupun saya mengetahui bahwa hal itu bukan solusi atau jalan keluar, namun saya tetap melakukannya. Mohon bantuan dan doanya agar saya bisa mendapatkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada pada diri saya saat ini.
Usul kami, daripada Saudara "menenangkan pikiran" dengan merokok, bagaimana bila Saudara mengajak calon pasangan hidup Saudara untuk berdoa bersama secara rutin? Maksudnya berdoa, bukan hanya kalian yang berbicara kepada Tuhan, tapi persilakan juga Tuhan berbicara kepada kalian melalui firman-Nya. Saudara akan menjadi kepala keluarga, membiasakan diri untuk hidup dekat dengan Tuhan, merupakan suatu hal yang sangat baik. Yang berinisiatif untuk membentuk keluarga adalah Tuhan, silakan baca Kejadian 2:18 [4], "TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia’." Jadi datanglah kepada Sang Inisiator.
Apabila Saudara berhasil melaksanakan hal yang kami sarankan, yakinlah bahwa DIA akan memimpin Saudara berdua dalam merencanakan hidup berkeluarga ini. Selamat mencoba dan Tuhan memberkati!!
Salam : Tim Pengasuh Program TELAGA
Atas anugerah Tuhan semata, Lembaga Bina Keluarga Kristen kembali dipercaya untuk mengembangkan pelayanan konseling dan pembinaan iman anak di Jember. Melalui uluran tangan dari orang-orang yang mengasihi Tuhan, pengurus Telaga Pengharapan menyewa sebuah rumah yang berlokasi di Jl. Doho I/8 Jember untuk memulai pelayanan ini.
Puji syukur pada Tuhan Yesus Kristus, tanggal 23 Januari 2023 menjadi sebuah momentum bersejarah diresmikannya Pusat Konseling Telaga Pengharapan dan Bina Iman Anak Tunas Kehidupan di kota Jember. Berterima kasih kepada majelis, hamba Tuhan dan jemaat GKI Jember yang telah meminjamkan tempat bagi terselenggaranya acara ini. Suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran 60 tamu undangan dari gereja-gereja dan sekolah-sekolah di wilayah Jember dan sekitarnya, Perkantas, LPMI, dan BAMAG. Demikian juga 55 tamu undangan telah hadir secara online di YouTube.
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi. Pujian "Besar Setia-Mu" dilantunkan dipimpin oleh Ibu Winanti Krisanisdyastika. Kemudian Bapak Jusuf Niti Tjahyanto selaku koordinator Telaga menaikkan doa pembukaan. Acara dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Bapak Gunawan Santoso, selaku Ketua LBKK. Bapak Gunawan menyampaikan doa dan harapannya bahwa Telaga Pengharapan dapat memenuhi harapan orang banyak, terutama harapan Tuhan. Selanjutnya, Ibu Sri Wahyuni, selaku Ketua Telaga Pengharapan menyampaikan bahwa pelayanan ini adalah pekerjaan yang besar, kami rindu bergandengan tangan mengerjakan pekerjaan Tuhan di kota Jember.
Memasuki acara ‘talk show’, Ibu Sri Wahyuni sebagai moderator memperkenalkan Ibu Shirley Kiantoro, S.Th., M.K. sebagai nara sumber dan Ibu Indarwati sebagai tamu undangan yang berbagi pengalaman hidupnya. Adapun topik ‘talk show’ kali ini adalah "Healthy Emotion." Ibu Yuni berkata sebuah ungkapan mengatakan, "Men Sana in Corpore Sano" artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jadi apa yang dimaksud dengan emosi yang sehat itu? Ibu Shirley membaca catatan Alkitab yang terdapat dalam 3 Yoh.1:2 [5] yang berbunyi: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja." Kata jiwa di sini berkaitan dengan perasaan atau emosi yang baik dan sehat. Jadi emosi yang sehat adalah kemampuan seseorang mengenali, menerima dan mengelola perasaan menghadapi tantangan dan perubahan situasi. Dua aspek dalam kesehatan emosi adalah kecerdasan dan regulasi emosi. Berdasarkan penjelasan Ibu Shirley, Ibu Yuni menggarisbawahi bahwa pentingnya seseorang peka mengenal dirinya. Apa yang tubuh katakan dan apa yang perasaan rasakan, sehingga kita bisa mengenal diri dengan baik, menerima emosi kita dan belajar mengelolanya.
Lebih lanjut, Ibu Yuni bertanya kepada Ibu Indarwati: "Apakah Ibu Indarwati pernah mengalami kondisi emosi yang tidak sehat?" Ibu Indarwati membagikan tentang kemarahannya yang terbesar kepada suami, sehingga ibu Indarwati memukul kaca. Akibat emosi kemarahannya yang meledak, tangan Ibu Indarwati harus dijahit. Mendengar pengalaman dari Ibu Indarwati tersebut, Ibu Yuni bertanya kepada Ibu Shirley: "Bagaimana seseorang dapat mengelola emosi kemarahannya secara tepat? Penjelasan dari Ibu Shirley bahwa mengelola emosi membutuhkan proses. Oleh karena itu, penting untuk melatih emosi anak sejak dini. Misalnya, orangtua melatih anak untuk belajar memberi nama perasaannya, sehingga anak-anak mulai mengenali apa yang dirasakan, menerimanya dan pada akhirnya mengelolanya. Dengan demikian, anak dapat memiliki kemampuan mengungkapkan emosinya secara tepat dan sehat. Berdasarkan ilmu kedokteran, Ibu Shirley menerangkan teori "Ninety Second Rules". Ketika kita menghadapi suatu situasi atau tantangan, hormon stres akan mengalir dan bekerja di dalam tubuh. Dalam hal ini, kita punya waktu 90 detik untuk meregulasi emosi kita.
Dari pemaparan Ibu Shirley tersebut, ada tiga orang peserta yang mengajukan pertanyaan. Pertanyaan pertama dari Ibu Rebeka: "Apakah prinsip 90 detik berlaku untuk saudaranya yang menderita schizophrenia? Ibu Shirley menanggapi bahwa teori 90 detik ini efektif untuk diri kita, namun mungkin tidak cukup menolong bagi penderita schizophrenia. Ada pendekatan-pendekatan lain yang dibutuhkan. Keluarga harus sabar dalam mendampingi anggota keluarga yang sakit.
Pertanyaan kedua dari Pdt. Eddy: "Ketika suami isteri bertengkar, bagaimana prinsip 90 detik bekerja? Apakah yang harus dilakukan oleh pasangan yang sedang berkonflik? Ibu Shirley menjelaskan pentingnya suami isteri memiliki kesepakatan. Misalnya: Salah satu pasangan bersikap tenang saat konflik terjadi. Waktu 90 detik merupakan jeda, agar masing-masing dapat menenangkan diri. Setelah tenang, baru membahas masalah dan mencari solusi terbaik.
Pertanyaan ketiga dari ibu Respati: "Apa yang harus dilakukan jika remaja menghadapi orang tua yang memiliki emosi yang tidak sehat?" Ibu Shirley menjawab bahwa kadangkala, orangtua tidak harus mengelola emosinya dan bersikap dalam mendampingi remajanya. Oleh karena itu, pentingnya dilakukan pelatihan dan seminar ‘parenting’ agar orangtua atau para pendidik dapat diperlengkapi.
Ibu Yuni kembali melontarkan pertanyaan: "Bagaimana cara mengetahui kesehatan emosi kita?" Ibu Shirley menerangkan ciri-ciri seseorang memiliki emosi yang sehat: pertama, memiliki kelincahan emosi artinya mampu mengekspresikan dan menempatkan emosi secara tepat. Kedua, cenderung dapat mengelola stres. Ketiga, memiliki ketrampilan mengatasi masalah. Keempat, memiliki kemampuan berelasi sehat. Kelima, mampu mengaplikasikan Firman Tuhan.
Sebagai pertanyaan penutup dari Ibu Yuni: "Apa yang dapat dilakukan ketika seseorang memiliki emosi yang tidak sehat?" Penjelasan dari Ibu Shirley: pertama, melatih diri mengidentifikasi dan mengelola perasaan dengan tepat. Kedua, membiasakan mengekspresikan perasaan secara terbuka. Ketiga, bekerja keras menunda kepuasan sesaat. Keempat, berani mengakui jika ada ‘toxic emotion’. Kelima, membuang kepahitan (Ef. 4:31 [6]). Keenam, Mengampuni (Mat. 6:12 [7]). Mendengar penjelasan Ibu Shirley, Ibu Indarwati membagikan tentang ‘toxic’ emosi yang dialaminya. Waktu kecil, papa mengajak nonton film perang yang di dalamnya terdapat adegan kekerasan seksual. Saat itu, papanya tidak memahami bagaimana memilih tontonan yang baik bagi anak. Dampaknya Ibu Indarwati memiliki persepsi yang buruk tentang seks, muncul perasaan marah, jijik, tabu dan kotor. Hal ini ternyata mengganggu dalam relasi Ibu Indarwati dengan suaminya. Pemulihan terjadi saat Ibu Indarwati mendengarkan Firman Tuhan yang menerangkan bahwa seks adalah karunia Tuhan bagi pasangan suami-isteri dalam lembaga pernikahan.
Pernyataan penutup, Ibu Shirley mengutip Anthony de Mellow, seorang ahli psikoterapi yang menyatakan bahwa untuk mengatasi perasaan marah, pertama-tama yang harus bertanggungjawab adalah diri sendiri. Kita tidak boleh meminta pertanggungjawaban orang lain, saat kita memiliki emosi negatif. Alkitab memberi contoh Hana (1 Sam.1 [8]) yang memiliki banyak emosi negatif. Hana menangis, tidak mau makan, sedih, pedih, susah hati, cemas dan sakit hati. Hana tidak meminta orang lain bertanggungjawab atas emosi yang dirasakannya. Namun, Hana jujur dan terbuka di hadapan Tuhan. Jadi kita harus bertanggung jawab atas emosi kita pribadi. Terbukalah di hadapan Tuhan.
Selesai ‘Talk Show’, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan perkenalan profil Pusat Konseling Telaga Pengharapan dan Bina Iman Anak Tunas Kehidupan. Bersyukur atas dukungan dan doa dari para mentor, dari Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Santy, dari Pdt. Martus Adinugraha Maleachi dan Ibu Suriati. Juga dukungan dari STT tercinta, STT Aletheia dan STT SAAT, serta dukungan dari berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Menutup acara peresmian, Ibu Shirley menaikkan doa berkat sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas diresmikannya Pusat Konseling dan Bina Iman Anak Telaga Pengharapan di kota Jember.
Roma 15:13 [9] berkata, "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Kiranya Telaga Pengharapan dapat memberi kesejukan dan pengharapan bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan pertolongan. Soli Deo Gloria.
Oleh: Ev. Grasia Tampubolon, M. Th. Konseling *)
Setiap kita tentu merasa senang ketika kita menjadi pusat perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtua kita, karena setiap anak tentu mengharapkan kasih dan penerimaan dari orang tua secara penuh. Namun persoalannya, orangtua kita tidak sempurna dan tidak dapat memenuhi seluruhnya kebutuhan kita untuk mengasihi dan menerima diri kita, sehingga ketika orangtua tidak dapat memenuhi hal tersebut dapat membuat anak mengalami kekosongan dan berusaha untuk melindungi/memenuhi dirinya dengan terus berfokus pada diri.
Walau seringkali anak tidak merasa berfokus pada diri karena anak merasa bahwa hal itu dilakukan sebagai usaha untuk menunjukkan betapa ia mengalami hal yang tidak menyenangkan. Namun itu membuat anak tersebut bertumbuh untuk terus terpaku pada diri. Anak bisa menjadi lebih mengasihani diri ataupun tidak mau memikul tanggungjawab (sebagai upaya supaya fokus diri terpenuhi).
Di masa sekarang ini, dunia juga membentuk kita untuk semakin terpusat dengan diri sendiri. Seperti ketika kita menunggu/mengharapkan "like" dari para pengikut kita di media sosial, tanpa sadar menyisipkan pola untuk kita semakin terfokus pada diri. Kita berusaha memenuhi kekosongan di masa kecil dengan hal-hal dari luar, sehingga ketika kita tidak mendapatinya, kita akan menjadi frustrasi dan kecewa, serta melihat diri sendiri tidak berharga dan tidak dikasihi.
Terpusat pada diri bukan hanya soal "saya yang paling bisa…" atau "saya paling hebat …", tetapi juga mengenai "saya paling sakit…" atau "penderitaan saya paling buruk". Hal ini tentu memberi dampak pada seluruh aspek hidup seseorang, mulai dari relasi denganTuhan, diri dan sesama. Ketika orang tersebut melihat Tuhan, maka ia hanya melihat Tuhan sebagai pemenuh kebutuhannya saja, sehingga dalam relasinya dengan Tuhan, ketika Tuhan tidak memenuhi kebutuhannya ia akan merasa Tuhan tidak mengasihinya. Hal lainnya, ia akan mencari Tuhan di saat ia sedang mengalami kesulitan dan mengabaikan Tuhan ketika ia sedang merasa aman.
Dalam relasi dengan diri, ia tentu akan berfokus pada dirinya, entah ia menjadi terlalu peka pada kegagalan atau kesalahan diri, serta tidak terlalu memercayai dirinya mampu melakukan sesuatu atau terlalu membesarkan diri untuk menutupi kekurangannya. Dan tentu saja ini akan berdampak pada relasinya dengan sesama, ia juga dapat menggunakan sesama untuk pemenuhan kebutuhannya ataupun tidak siap melihat orang lain meraih keberhasilan karena keberhasilan orang lain membuat ia menyadari akan kekosongannya. Jika orang ini berelasi, tentu orang lain dapat merasakan bahwa ia seolah-olah "memanfaatkan" orang lain untuk kepentingan diri dan ia sulit untuk berempati terhadap orang lain.
Jadi, kalau bisa dikatakan bahwa terpusat pada diri merupakan sebuah cara bagi seseorang untuk mengatasi kecemasannya terhadap ketidakamanan (dalam penerimaan orang lain dan tentang nilai diri). Mereka menjadi candu pada keistimewaan (entah yang positif ataupun negatif) diri mereka, dan hal ini muncul karena ketidakmampuan mereka untuk mencintai dan dicintai dengan aman. Hal ini jugalah menjadi akar munculnya berbagai penyakit kejiwaan mulai dari kecanduan, depresi, gangguan kepribadian, gangguan kecemasan dan sebagainya.
Pertanyaannya: Bagaimana cara kita untuk pulih?
Hal mendasar yang perlu diketahui bahwa ketika manusia jatuh dalam dosa, sejak dari itu pergumulan terbesar manusia salah satunya adalah terfokus pada diri sendiri. Coba perhatikan: Ketika Allah mencari Adam….. "Adam di manakah engkau?" jawaban Adam tidak sesuai atas pertanyaan Allah "Tuhan aku takut, karena aku telanjang". Dalam hal ini kita melihat bahwa dosa membuat manusia berfokus pada diri (menutupi citra diri yang rusak), manusia kehilangan fokus utamanya yaitu Allah, sehingga manusia sepanjang hidupnya akan terus berjuang untuk keluar dari fokus diri dan kembali pada fokus utamanya, Allah. Bersyukur, Tuhan memberikan jalan keluar yang pasti, yaitu kita datang kepada-Nya maka Ia akan menolong kita untuk dapat berfokus kembali kepada Dia dan kita dapat dipulihkan dalam melihat citra diri kita. Ia berkata: "Oleh bilur-bilurNya kamu menjadi sembuh". Ya, pemulihan itu ada ketika kita datang kepada-Nya.
Selain itu untuk kembali mengubah fokus kita pada diri, kita perlu mengenali pola-pola terpusat pada diri, sehingga kita mulai menjalani hidup dengan kesadaran. Temukan dan akui hal tersebut, kemudian buatlah pola yang baru untuk menghadapi hal tersebut. Dan belajarlah untuk mengasihi diri BUKAN MENGASIHANI diri! Dengan cara menerima setiap kekosongan, luka dan kelemahan, serta temukan kekuatan diri kita serta bangunlah diri kita atas apa yang Allah kehendaki, bukan atas harapan orang lain. Terakhir, belajar untuk menghormati dan mengasihi orang lain dengan sehat.
"Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." (Mazmur 27:10 [10]) – Jika kita merasa tidak ada seorangpun yang mengasihi dan menginginkan kita, ingatlah bahwa Ia selalu siap untuk menyambut kita. Lihat, FOKUS, dan datanglah kepada-Nya! JadikanTuhan PUSAT hidup kita.
*) salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang berdomisili di Malang
Telaga Kehidupan adalah pusat konseling yang bernaung dibawah Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK), memberikan layanan konseling secara online maupun onsite kepada individu dari latar belakang usia dan permasalahan yang beragam. Kami percaya bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki hidup dan kondisi emosi yang sempurna. Semua orang pernah terluka, tetapi bukan berarti kita harus terjebak dan menjadi tidak berdaya di dalam luka dan ketidaksempurnaan diri.
Sesungguhnya, ketidaksempurnaan menyediakan sebuah ruang bagi pertumbuhan (Yoh. 15:1-8 [11]) dan luka batin membuka sebuah ruang untuk pemulihan (Yes 42:3 [12]).
Di Telaga Kehidupan, kami percaya setiap orang layak diberi kesempatan untuk pulih dan difasilitasi untuk bertumbuh. Telaga Kehidupan hadir sebagai rekan seperjalanan yang hendak menemani dan mendampingi Anda untuk mencapai pemulihan dan pertumbuhan melalui proses konseling.
Biaya Konseling
Kami tidak menetapkan tarif tetap pada layanan konseling di Telaga Kehidupan. Hal ini dikarenakan kami rindu setiap orang dapat memperoleh kesempatan mendapatkan pertolongan dan pemulihan melalui layanan konseling.
Mari mendukung pelayanan ini agar Telaga Kehidupan dapat menolong dan menjangkau lebih banyak orang yang memerlukan layanan konseling. Dukungan persembahan Anda sangat berarti dan akan digunakan sepenuhnya untuk mendukung keperluan operasional pelayanan Pusat Konseling Telaga Kehidupan. Anda dapat memberikan persembahan kasih kepada rekening Telaga Kehidupan BCA 0183028208 a.n Anita Sieria.
Links
[1] https://alkitab.mobi/tb/Mzm/92/14/
[2] https://telaga.org/audio/pernikahan_dibangun_di_atas_pertumbuhan_bukan_hanya_kerukunan
[3] http://www.telaga.org
[4] https://alkitab.mobi/tb/Kej/2/18/
[5] https://alkitab.mobi/tb/3Yo/1/2/
[6] https://telaga.org/Ef.%204%3A31
[7] https://alkitab.mobi/tb/Mat/6/12/
[8] https://alkitab.mobi/tb/1Sa/1/
[9] https://alkitab.mobi/tb/Rom/15/13/
[10] https://alkitab.mobi/tb/Mzm/27/10/
[11] https://alkitab.mobi/tb/passage/yoh+15%3A1-8
[12] https://alkitab.mobi/tb/Yes/42/3/
[13] mailto:telagakehidupan.sda@gmail.com