Salah satu ketakutan orangtua dewasa ini adalah pertemanan yang dijalin anak secara on-line. Lain dengan teman sekolah atau teman gereja yang dapat dikenal secara langsung, teman yang diperoleh secara on-line benar-benar berada di luar jangkauan kita, orangtua. Ketakutan ini beralasan. Sebagian teman yang dikenal lewat on-line adalah anak remaja biasa yang hanya memunyai satu keinginan—berteman. Masalahnya adalah sebagian lagi bukan remaja biasa; mereka adalah remaja bermasalah. Dan, sebagian lagi adalah orang dewasa yang jauh lebih tua. Singkat kata mereka adalah pemangsa yang mencari mangsa dan mangsanya adalah anak-anak kita yang lugu. Berikut akan dipaparkan apa yang mesti kita perbuat sebagai orangtua.
Amsal 12:26 [1] menyediakan sebuah panduan yang mesti kita sampaikan kepada anak-anak kita, yaitu:
"Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri". Orang benar berhati-hati dalam berkawan. Teman yang baik akan menjadi berkat, sedangkan teman yang tidak baik akan menjadi kutuk untuk kita. Begitu banyak masalah muncul akibat kesalahan kita memilih teman, apalagi jika pertemanan ini berkembang menjadi relasi romantis dan berakhir di pelaminan. Inilah pelajaran yang kita perlu tanamkan kepada anak berulang kali. Berhati-hatilah dalam memilih kawan apalagi pasangan hidup.
Ringkasan T 502A [2]
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Simak judul-judul kategori "PENGEMBANGAN DIRI" lainnya
di www.telaga.org [3]
Saya ingin konseling dengan Bapak atau Ibu tentang beberapa hal di rumah tangga saya. Saya, V.C. berusia 33 tahun, sedang mengandung anak pertama. Ternyata ibu mertua saya mengidap skizophrenia dan juga kakak ipar perempuan skizoactive disorder (Sebelum menikah saya tidak tahu dan hal ini ditutupi secara sengaja). Mereka berdua berusaha mencampuri urusan rumah tangga saya. Baik secara pikiran maupun ekonomi dengan jumlah belasan juta rupiah tiap bulan.
Keberadaan bapak mertua yang tinggal dengan kakak ipar yang tidak menikah (karena mertua sudah puluhan tahun bercerai) dan bapak mertua tidak berdaya menghadapi anaknya yang skizoactive.
Karena keterbatasan dana dan keterbatasan waktu untuk merawat karena harus bekerja di luar Indonesia (karena besarnya kebutuhan untuk obat dan semua keinginannya) kami memutuskan untuk memasukkan ibu mertua ke Panti Rehabilitasi Mental Kristen dengan fasilitas ada psikoloog dan dokter secara rutin. Karena kondisi terakhir delusional dan tanda skizonya semakin nyata. Kami memunyai keterbatasan waktu cuti untuk bolak balik ke Indonesia.
Karena tidak ada saudara yang mau tinggal dengan ibu mertua (karena tidak cocok), jadi pilihan adalah Panti dan ini adalah Panti yang kesekian karena ibu mertua selalu merasa tidak betah dan lain-lain dengan berbagai alasan. Hal ini selalu dijadikan tameng oleh bapak mertua dan kakak ipar untuk selalu dijadikan bahan untuk mengeluarkan ibu mertua dari Panti. Ibu mertua dan kakak ipar juga tidak cocok dan sering ribut sampai akhirnya ibu mertua diusir.
Saya bingung dan merasa frustrasi menghadapi mereka. Sudah merasa tidak sanggup harus selalu mengalah dalam waktu dan uang dalam jumlah banyak sedangkan saya dan calon anak juga membutuhkan.
Salam : Ibu V.C.
Ibu V.C.,
Pertama-tama maaf karena kesibukan, baru sempat menanggapi email yang Ibu sampaikan. Saya turut merasa sedih dengan keadaan rumah tangga Ibu saat ini. Pasti sangat tidak mudah kalau keluarga memiliki masalah gangguan jiwa, apalagi ada juga kaitan dengan pengeluaran yang tidak sedikit dan masalah dengan anggota keluarga lainnya.
Maaf, kalau boleh tahu, bagaimana peran suami Ibu dalam hal mamanya yang sakit? Apakah dia ada pendapat tertentu? Apakah ada kesamaan pandang antara dia dengan Ibu? Apakah dia punya saran tertentu? Ibu mengatakan demi ibu mertua jadi terpaksa bekerja di luar negeri. Berarti suami juga berjuang keras untuk bisa membiayai perawatan mamanya ya, Bu? Tampaknya tidak ada solusi yang dapat sekaligus menyelesaikan semua masalah saat ini. Kalau bapak mertua yang membuat ibu mertua tidak bisa dirawat, apakah memungkinkan bila kepada bapak mertua diberikan batas peraturan, misalnya tidak lagi memberi kiriman tunjangan perawatan ibu mertua atau transfer langsung ke Panti bila nanti berganti Panti lagi? Mungkin juga melakukan transfer langsung ke Panti untuk pembiayaannya. Atau apakah ada yang dapat membantu menjaga atau menengok ibu mertua sehingga bapak mertua tidak perlu mengurus ibu mertua lagi, sebab bukankah mereka sudah bercerai? Saya menyadari mengurus mereka yang menderita schizophrenia sangat tidak mudah. Kalau saja ada rumah perawatan yang lebih manusiawi dan tidak tinggi biayanya, semoga hal itu dapat menjadi alternatif. Tapi memang banyak tempat perawatan yang mewajibkan bayaran cukup tinggi, ada yang untuk subsidi mereka yang kurang mampu. Tapi, kembali lagi, perlu ada orang lain diluar bapak mertua untuk dapat menampung ibu mertua kalau dia selesai menjalani masa perawatannya di Panti. Apakah ada anggota keluarga yang lain selain bapak mertua dan kakak ipar yang mungkin dapat menampung ibu mertua? Kalau boleh tahu, panti apa yang pernah diminta untuk merawat ibu mertua? Apakah cara penanganan mereka cukup baik? Setahu saya, perawatan tidak boleh terlalu singkat waktunya, misalnya perlu setengah tahun hingga setahun paling sedikit. Dan perawatan yang baik harus melibatkan keluarga, sebab banyak kemungkinan pola didalam keluarga perlu diubah agar dapat mencegah atau memperlambat berulangnya gejala yang muncul. Saya khawatir dengan diusirnya ibu mertua dari rumah, ini akan menambah beban sehingga mempersulit ibu mertua untuk pulih. Itu sebabnya ada baiknya bila setelah ini ada pihak lain yang bisa menanggung ibu mertua setelah dia keluar dari Panti.
Maaf, saya mengusulkan kemungkinan-kemungkinan karena pengambilan keputusannya nanti adalah yang diharapkan paling realistis untuk dipertimbangkan. Saya sungguh berharap Ibu V.C. nantinya dapat mengasuh buah hati dengan kondisi yang baik, dipenuhi sukacita dan relatif tanpa beban yang membelit. Demikian tanggapan yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan bisa menolong.
SAYA MAU MENJADI SEPERTI BUS
"Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya"
(Pengkhotbah 3:11 [4])
Oleh:
Lidanial, S.Th., M.K., M.Pd. *)
Kalimat yang mengundang pertanyaan dan penuh makna di atas ditulis oleh salah seorang anak Sekolah Minggu, berusia 8 tahun, ketika beberapa minggu lalu saya mengajar mereka berdasarkan kisah Ester (Ester 1-2) dengan ayat hafalan dari Pengkhotbah 3:11, "Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya". Ester seorang gadis yatim piatu yang diasuh oleh Mordekhai, anak saudara ayahnya, dan hidup sebagai seorang asing di Persia, dapat terpilih menjadi ratu merupakan sesuatu yang pasti tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun sebelumnya, termasuk oleh Ester sendiri. Bukan hanya sekadar menjadi ratu, tetapi melalui kedudukannya itu, di dalam rencana kekal dan kedaulatan-Nya, Allah dengan caranya yang ajaib, menjadikan Ester sebagai penyelamat bangsanya dari tragedi pembunuhan orang-orang Yahudi yang sangat mengerikan di seluruh daerah kekuasaan Raja Ahasyweros (Ester 3-8 [5]). Sebagai seorang gadis buangan yang sudah tidak berayah ibu, apakah baginya ada yang disebut dengan masa depan yang indah? Apakah ada sesuatu atau seseorang yang dapat menjadi tempat baginya untuk bergantung dan berharap? Apakah masuk akal (make sense) kalau dalam kondisi hidupnya yang sedemikian "tidak beruntungnya," Ester masih memiliki impian terjadinya suatu perubahan dalam hidupnya?
"Saya percaya bahwa Tuhan dapat melakukan apa pun untuk membuat istri atau suami atau papa atau mama atau anak saya mau berubah, Pak; saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyadarkannya, tetapi saya yakin, Pak. Tuhan punya seribu satu macam cara untuk membuatnya sadar dan mau berubah; Tuhan bisa saja memakai orang lain atau peristiwa apa saja untuk membuat kondisi ini berubah, saya yakin itu, Pak". Pernyataan-pernyataan seperti ini telah berulang kali membuat saya tertegun dan terharu ketika mendengarnya keluar dari mulut beberapa klien yang sudah menjalani serangkaian sesi konseling untuk berbagai kasus yang cukup berat, baik anak, remaja, pasangan suami istri maupun lansia. Sebuah pernyataan iman yang lahir dari hati yang sungguh serius bergumul bersama dengan Tuhan dan meyakini kedaulatan-Nya dalam menjalani realitas kehidupan yang sangat tidak mudah dan penuh perjuangan. Keyakinan itulah yang menguatkan dan memampukan klien-klien tersebut untuk tetap berjuang menjalani proses panjang dan "turun naik" pembentukan Tuhan melalui pergumulan yang berat itu. Sampai suatu saat, di dalam waktu Tuhan, mereka melihat keindahan tujuan Tuhan dibalik semua proses itu. Tentunya, di dalam ketaatan untuk mengikuti tuntunan firman-Nya. Bagi saya, itulah "bonus" dari Tuhan bagi seorang konselor, yaitu ketika dianugerahkan kesempatan untuk ikut menyaksikan dan mendengar perubahan yang dirindukan oleh klien akhirnya dapat dialami.
Dalam kelas Sekolah Minggu pada waktu itu, sebagai refleksi atas firmanTuhan, saya meminta ke-13 anak yang hadir (kelas 2 - 5 SD) untuk menggambar sesuatu yang menjadi harapan mereka di masa depan dan menuliskan doa mereka terkait dengan harapan tersebut. Di samping gambar sebuah bus yang dibuatnya, anak Sekolah Minggu tadi menuliskan doanya, "Tuhan, saya mau menjadi seperti bus supaya saya bisa membantu orang-orang yang susah, yang tidak bisa berjalan dan lain-lain. Terimakasih Tuhan. Amin." Seorang anak perempuan, berusia 10 tahun menggambar sebuah pelangi dan menuliskan doanya, "Tuhan Yesus, saya ingin hidup seperti pelangi karena pelangi bisa mewarnai hidup. Amin." Di samping gambar beberapa lembar uang kertas, Ari (bukan nama sebenarnya) yang berusia 9 tahun, menuliskan doanya, "Ya Tuhan, Ari ingin menjadi kaya untuk menabung dan menghidupi rumah. Dalam nama Tuhan Yesus, Ari berdoa. Haleluya. Amin." Seorang anak laki-laki, berusia 10 tahun menggambar sebuah bulan sabit dan menuliskan doanya, "Ya Tuhan, nanti besar saya mau jadi bulan agar bisa menerangi malam."
Catatan: Kutipan dari kisah Ester diambil dari: (More than entertaining reading, it is a story of the profound interplay of God’s sovereignty and human will. God prepared the place and the opportunity, and his people, Esther and Mordecai, chose to act (Beers, Ronald E. gen. ed. 1997. Life Application Study Bible: NIV. Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, p. 821)
*) Salah seorang konselor PKTK Sidoarjo yang berdomisili di Bengkayang, Kalimantan Barat
Links
[1] https://alkitab.mobi/tb/Ams/12/26/
[2] https://telaga.org/audio/bahaya_pertemanan_online
[3] http://www.telaga.org
[4] https://alkitab.mobi/tb/Pkh/3/11/
[5] https://alkitab.mobi/tb/passage/Ester+3-8
[6] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga