PEKERJAAN DAN PELAYANAN
Kita telah membahas tiga sumber tekanan yang menuntut waktu: pekerjaan, pelayanan, dan keluarga. Kita pun telah mendengar nasihat bahwa seyogianyalah kita mengutamakan keluarga di atas pekerjaan dan pelayanan. Sekarang marilah kita lihat dengan lebih saksama alasan dibalik mengapa selayaknyalah kita mengutamakan keluarga di atas pekerjaan dan pelayanan. Kita pun akan membahas secara lebih konkret bagaimana menerapkannya. Ada empat masukan yang ingin saya bagikan :
PERTAMA, JANGAN MERASA BERSALAH SEWAKTU KITA TIDAK MENEMPATKAN PELAYANAN DI ATAS PEKERJAAN DAN KELUARGA.
Ingat, walaupun pelayanan adalah untuk Tuhan, pelayanan BUKANLAH Tuhan; pada dasarnya pelayanan adalah aktivitas yang kita lakukan UNTUK Tuhan. Jika kita setuju dengan pengertian ini, maka kita dapat berkata bahwa—sama seperti pelayanan—pekerjaan dan keluarga juga dapat untuk Tuhan. Kolose 3:23 [1] menegaskan, -Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.- Dari ayat ini dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya apa pun—pekerjaan, pelayanan, atau keluarga—bisa menjadi PERSEMBAHAN kita kepada Tuhan. Menurut saya, inilah paradigma atau cara pandang yang tepat, yaitu melihat apa pun yang kita lakukan sebagai persembahan UNTUK Tuhan. Cara pandang yang menyamakan pelayanan dengan Tuhan sendiri atau satu-satunya wujud persembahan untuk Tuhan tidaklah tepat. Cara pandang yang tidak tepat inilah yang dengan mudah dapat membuat kita merasa bersalah bila kita tidak mengutamakan pelayanan di atas segalanya.
KEDUA, KITA MESTI SIAP MEMBAYAR HARGA TATKALA MENETAPKAN KELUARGA DI ATAS PEKERJAAN.
Sebagaimana telah dibahas, untuk dapat naik tangga karier kita mesti bersedia menyediakan lebih banyak waktu. Kita akan harus pulang lebih malam dan tidak jarang, malah tidak pulang karena harus travel ke luar kota. Bila kita tidak bersedia melakukannya, maka kita mesti siap menanggung risiko yaitu karier kita akan mandeg. Jika kita setuju bahwa pada masa anak kecil kita harus mengutamakan keluarga di atas pekerjaan dan pelayanan, maka selayaknyalah kita bersedia untuk melepaskan kesempatan naik tangga karier pula. Singkat kata, selama kebutuhan keluarga terpenuhi, kita rela untuk tidak naik pangkat sampai nanti waktunya lebih mengizinkan. Sudah tentu pilihan ini mengharuskan kita—suami dan istri—sehati sepikir. Ini tidak mudah dan kerap menjadi sumber pertikaian. Mungkin kita bersedia melepaskan kesempatan naik tangga karier, tetapi pasangan tidak bersedia. Atau sebaliknya. Kita tidak bersedia melepaskan kesempatan naik tangga karier sedang pasangan bersedia dan terus mendesak kita untuk melakukannya. Jadi, langkah pertama adalah kita mesti sepakat terlebih dahulu. Bila kita tidak dapat sampai pada kesepakatan, mungkin ada baiknya kita mencari pertolongan dari seorang hamba Tuhan atau konselor. Salah satu penyebab mengapa sulit untuk menyelaraskan pendapat adalah karena sering kali kita berbeda pandang akan apa yang menjadi kebutuhan. Mungkin buat kita—yang bersedia melepaskan kesempatan naik tangga karier—menyekolahkan anak di sekolah biasa yang tidak ternama tidak apa. Namun bagi pasangan, itu adalah suatu kesalahan. Mungkin baginya, kewajiban orangtua adalah memberi yang terbaik kepada anak dan menyekolahkan anak di sekolah yang ternama (yang biasanya bermutu baik) adalah bagian dari memberi yang terbaik kepada anak. Atau, bagi pasangan tidak apa kita tinggal di rumah yang kecil dan hidup irit asal masih berkecukupan. Sedang bagi kita, tidak ada salahnya beli rumah yang lebih besar supaya kita lebih dapat menikmati hidup. Memang tidak mudah untuk menyatukan pandangan. Pertanyaannya adalah, apakah yang mesti kita perbuat bila kita tidak berhasil mencapai kesepakatan? Pada akhirnya salah satu pihak mesti mengalah namun secara berkala masalah ini mesti diangkat kembali. Dengan kata lain, kita setuju untuk mengikuti kehendak pasangan dengan catatan masalah ini dikaji ulang, misalkan dalam waktu setahun. Sepanjang waktu itu dengan hati terbuka kita pun terus berdoa meminta pimpinan Roh Kudus. Bila pada akhirnya kita sehati-sepikir untuk rela kehilangan kesempatan naik tangga karier, kita mesti mengambil keputusan ini atas dasar iman—bahwa Tuhan akan tetap memelihara hidup kita dan bahwa Ia dapat menggantikan kehilangan itu. Pada waktu-Nya, Tuhan sanggup membuka pintu kesempatan dan memberikan kepada kita jauh melampaui harapan. Kita tahu bahwa keputusan ini benar dan bijak, dan bahwa jika kita memaksakan kehendak, kalaupun kita terus naik tangga karier, keputusan ini akan merugikan, bahkan mungkin, menimbulkan bencana yang besar buat keluarga di kemudian hari.
KETIGA, WALAU KITA TIDAK DAPAT SECARA AKTIF TERLIBAT DALAM PELAYANAN GEREJAWI, KITA TETAP DAPAT TERLIBAT DALAM PELAYANAN DI LUAR GEREJA, YAKNI MELAYANI SESAMA KITA MANUSIA.
Mungkin kita dapat berkawan dengan rekan sepekerjaan dan lewat pertemanan ini Tuhan memakai kita untuk menjadi duta-Nya kepada mereka. Atau, mungkin kita bisa menolong sanak saudara atau kerabat yang sedang mengalami masalah. Sebagaimana dapat kita lihat ada begitu banyak hal yang dapat kita lakukan di luar gereja untuk menjadi saluran berkat dan kasih karunia Yesus Tuhan Kita. Pada saatnya bila anak-anak sudah lebih besar, barulah kita mulai melibatkan diri di dalam pelayanan gerejawi.
KEEMPAT DAN TERAKHIR, SEBAGAI PASANGAN MUDA KITA PERLU MEMUPUK RELASI PERNIKAHAN DAN HARUS GIAT MENGHILANGKAN -- HAMA -- YANG MERUSAK RELASI, DAN ITU HANYA DIMUNGKINKAN BILA KITA MEMBERI WAKTU UNTUK KELUARGA.
Relasi—secara tepatnya keharmonisan—menuntut waktu yang tidak sedikit; kita tidak dapat membangun keharmonisan—apalagi keintiman—dalam waktu sekejap. Itu sebab, kita harus menyediakan waktu yang cukup. Bila kita terlalu sibuk dalam pekerjaan dan pelayanan, kita tidak akan bisa membangun relasi yang kokoh.
Selain itu, pelayanan atau lebih tepatnya, posisi dalam pelayanan, akan menyulitkan kita menghadapi dan menyelesaikan masalah karena kita telanjur sudah dikenal sebagai pemimpin dalam pelayanan. Ya, posisi sebagai pemimpin rohani dan dikenal sebagai orang yang rohani akan mengikat dan mengurangi kebebasan kita menjadi diri apa adanya—dalam hal ini, sebagai pasangan yang tidak sempurna. Sebaliknya, kita akan merasakan tuntutan untuk menjadi pasangan yang sempurna. Ini berbahaya sebab kita tidak sempurna dan sebagai pasangan muda, kita justru memunyai banyak pekerjaan rumah. Sebagai orang muda kita terbiasa hidup di bawah dan dikejar target; sebagai anak Tuhan kita pun tidak ingin hidup sia-sia. Itu sebabnya kita memutuskan melakukan sebanyak-banyaknya. Namun Pengkhotbah 3:1 [2] mengingatkan, -Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.- Prioritas kita sebagai pasangan muda adalah memupuk yang di dalam; inilah masanya. Akan tiba waktunya untuk kita memupuk yang di luar—pekerjaan dan pelayanan. Kita mesti bersabar dan tidak boleh memaksakan diri. Jangan sampai pekerjaan dan pelayanan terbangun tetapi keluarga terpuruk.
Ringkasan T554B
Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi
Artikel ini merupakan lanjutan dari T554A
yang telah ada di Buletin Telaga Kehidupan edisi ke-26/Oktober 2021
Audio dan transkrip judul-judul lainnya secara lengkap di www.telaga.org [3]
PERTANYAAN :
Syalom,
Saya ingin sharing, pada saat ada acara di gereja saya mendapatkan ayat dari I Korintus 15:58 [4], -Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia-. Saya meminta tolong kepada Telaga untuk menjelaskan maksud dari ayat di atas karena pada saat ini saya sedang diguncang dengan berbagai masalah baik dalam keluarga dan pekerjaan (hampir 2 tahun saya tidak bekerja). Saya juga memohon kepada Telaga untuk mendoakan saya agar saya dilepaskan dari beban dan masalah yang melingkupi hidup saya.
Terima kasih, Tuhan memberkati !!
Salam: MM
JAWABAN :
Saudara MM dalam kasih Kristus,
Setelah membaca surat Anda maka saya dapat memahami betapa tertekan hati Anda. Saya berharap tak ada yang menyalahkan Anda sebab Anda terus berusaha untuk mencari pekerjaan. Saya dari jauh hanya dapat menyarankan agar Anda mengoreksi diri, misalnya dalam membuat Surat Lamaran, sikap dalam wawancara dan lain-lain. Selaku anak Tuhan, memohon campur tangan Tuhan, lebih bersungguh-sungguh, jangan -- Pokoknya saya sudah berdoa-, apalagi sudah mulai kurang yakin adanya peranan Tuhan. Jauhkan suasana hati marah karena tak kunjung beroleh pekerjaan. Jauhkan rasa kurang percaya diri. Jangan terlalu menanggapi -- serangan -- keluarga atau calon istri. Pahamilah perasaan mereka yang merasa panik juga melihat Anda belum berhasil. Upayakan agar Anda bisa santai tapi serius atau merasa enak tapi tidak seenaknya sendiri. Saya tidak mengetahui apakah dimungkinkan Anda bisa bekerja di luar kota atau di tempat yang agak jauh dari kota Anda? Kalau ya, berarti kesempatan akan lebih luas. Sebetulnya ada beberapa pekerjaan untuk Anda, hanya Anda belum menemukannya. Ayo dicoba lagi dengan semangat yang baru, penampilan yang baru, sikap yang baru. Saya akan membantu dengan doa-doa saya. Saya pernah membantu beberapa pasangan suami istri yang lama tidak dikaruniai anak. Kini masing-masing memiliki 2 orang anak. Anda akan mendapat pekerjaan karena perkenan dan campur tangan Tuhan. Tidak perlu merasa panik. Pernikahan jangan dibicarakan dulu kalau Anda belum memperoleh pekerjaan. Cobalah Anda, calon istri dan keluarga bergandengan tangan memanjatkan doa untuk masalah yang sangat penting ini. Ikut sertakan mereka, agar masalah ini menjadi masalah milik bersama. Ajaklah mereka untuk mengganti sikap -- menyerang -- dengan keprihatinan dan semangat yang tak kunjung padam. Oh, iya kalau sudah berhasil tolong saya dikabari supaya saya tidak terus berdoa untuk persoalan yang sudah terselesaikan. Tuhan tidak tidur. Jangan memaksa Tuhan, tapi juga jangan memandang ringan peranan-Nya.
Rasanya kurang lengkap jika saya tidak menyinggung Firman Tuhan yang khusus dan penting itu bagi kebutuhan rohaniah Anda saat ini, yaitu I Korintus 15:58 [4]. Beberapa poin Firman Tuhan menasihati Anda :
Saudara MM, Tuhan pasti menolong dan memberkatimu !
Salam damai: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Aku dan Ingatan Traumaku
Kebanyakan orang setidaknya memiliki satu ingatan traumatis yang tertanam dalam otak kita. Salah satu yang bergema dalam ingatan saya adalah ketika saya kehilangan teman saya di masa SMP karena saya dan keluarga pindah tempat tinggal. Sejak saat itu saya jadi takut memiliki persahabatan yang dalam karena saya takut mengalami kehilangan yang sama. Padahal saya tahu bahwa situasi tidaklah sama. Jika mesti berpisah pun sudah ada alat komunikasi untuk tetap berhubungan. Namun ingatan tersebut tetap membuat saya merasa sedih dan cemas ketika saya akan memiliki relasi atau ketika akan berpisah dengan teman atau orang dekat.
Beberapa dari kita mungkin memiliki kenangan dari peristiwa traumatis lainnya seperti, pengabaian, kekerasan, bullying, pelecehan seksual, kecelakaan, bencana alam, atau bahkan kehilangan anggota keluarga dan lainnya. Memang untuk beberapa orang kenangan ini tidak selalu menjadi PTSD(Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pasca trauma), tetapi bagi sebagian orang ini menjadi satu kenangan buruk yang susah untuk dilupakan. Persoalan lainnya otak kita lebih mudah merekam ingatan negatif dari pada ingatan positif yang kita alami. Kabar baiknya ingatan ini tidaklah bersifat permanen tapi dapat kita modifikasi dengan me -- re-frame -- ingatan tersebut. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk menghadapi ingatan trauma tersebut. Walau memang ini tidak mudah tapi ini menjadi satu cara untuk kita pulih dari trauma yang kita miliki.
Beberapa gejala yang dapat muncul karena ingatan trauma dapat berbeda pada tiap orang. Tapi pada umumnya gejala yang dapat muncul, seperti: rasa cemas, takut, sulittidur, marah, menghindari atau menjauh dari relasi, dan lainnya. Tidak jarang bagi beberapa orang akhirnya membawa pada depresi atau gangguan kesehatan mental lainnya.
Persoalan terburuknya ketika trauma kita tidak terurus maka ini dapat memberi dampak pada relasi kita dengan orang terdekat, bahkan memberi dampak pada kualitas hidup dan spiritual kita. Oleh karena itu pentingnya kita untuk menghadapi trauma yang kita miliki, walau memang menghadapi trauma tidak mudah dan tidaklah menyenangkan. Namun bukan berarti ini tidak dapat pulih.
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menghadapi ingatan trauma tersebut, yaitu:
Ingatan kenangan atau ingatan tentang pengalaman traumatis kita memang tidak menyenangkan tetapi Yesus Kristus kita tetap memegang kendali atas hidup kita. Sebagaimana Ia memegang kendali atas alam semesta ketika Ia meneduhkan angin ribut yang akan menenggelamkan kapal yang Ia tumpangi bersama para murid (Markus 4:35-41 [5]). Jika Ia sanggup meneduhkan angin ribut, maka Ia pun sanggup meneduhkan ketakutan yang kita alami. Percayalah kepada-Nya! Ketika rasa takut dan cemas muncul, mintalah Ia untuk meneduhkannya.
Artikel dibuat oleh :
Ev.Grasia M.Tampubolon, M.Th.
(Salah seorang konselor yang membantu di PKTK Sidoarjo)
Links
[1] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Kol+3:23
[2] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Pkh+3:1
[3] http://www.telaga.org
[4] https://alkitab.mobi/ayt/passage/1Ko+15:58
[5] https://alkitab.mobi/ayt/passage/Mrk+4:35-41
[6] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga