Download PDF: http://bit.ly/Buletin_Telaga-Januari_2020 [1]
Raja Daud adalah figur yang menarik untuk dipelajari. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita petik lewat kehidupannya. Berikut adalah beberapa di antaranya yang bisa kita pelajari :
Di akhir hidupnya Daud bersaksi, "Apabila seorang meme rintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah. Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah?"
(2 Samuel 23:3-5 [2])Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Ringkasan audio T 242 A+ [3]B [4]
Simak : www.telaga.org [5]
Saya dan suami samasama bekerja. Karena alasan ekonomi, saya belum dapat berhenti bekerja. Sebelumnya saya telah membicarakan hal tersebut kepada suami dan ia menyetujui untuk saya tetap bekerja di tempat sekarang sampai masa kontrak saya selesai.
Saya tidak mengerti kenapa akhirakhir ini perlakuannya berbeda, saat saya menghubungi dia selalu beralasan sibuk. Saya bertanya mengapa seperti menghindar dari saya, dia kembali membentak dan marah. Tatkala saya menemukan dia menggunakan aplikasi yang berhubungan dengan wanita lain, dia berucap bahwa saya tidak berhak melarangnya untuk melakukan hal tersebut. Saya benarbenar bingung, ini baru saja awal pernikahan kami. Apakah secepat itu suami saya kehilangan cintanya? Apa yang akan terjadi dengan pernikahan saya selanjutnya?
Salam: Ibu JKami turut sedih dengan kondisi relasi ibu dengan suami. Sekalipun nampaknya ibu masih punya harapan dengan pernikahan ibu, tapi secara realitas sama sekali belum ada perubahan dari pihak suami. Perilaku ‘bebas’ untuk dekat dengan wanita lain sudah dia lakukan beberapa kali sejak dia masih pacaran dengan ibu dan masih terus dilakukan hingga sudah menikah, bahkan ketika hal ini diketahui dan sudah ditegur oleh ibu. Permintaan maaf berkalikali juga tidak diikuti dengan perubahan yang nyata.
Sekalipun ini sangat berat, nampaknya ibu harus menghadapi kenyataan bahwa ibu menikah dengan seseorang yang tidak memiliki keseriusan dan komitmen pernikahan, merasa bahwa sekalipun sudah menikah tetap boleh bebas dengan wanita lain dan istri tidak berhak mengatur hidupnya.
Ia tidak menghargai ibu dan tidak menghargai pernikahan. Juga tidak ada "trust" dalam pernikahan ibu. Kepindahan ibu ke kota suami bulan depan, apakah ini atas permintaan suami atau karena desakan dari pihak ibu? Kalau ini lebih pada keinginan ibu, mungkin ibu perlu mempertimbangkan kembali karena secara realitas, suami ibu tidak serius dengan pernikahan ini.
Jika ibu tetap pindah dengan kehilangan pekerjaan/penghasilan pribadi dan tetapi menghadapi relasi yang seperti ini, apakah hal ini tidak makin mempersulit ibu? Apakah masih memungkinkan pengajuan ‘resign’ dicabut kembali? Jika kepindahan ibu atas permintaan suami, maka sebaiknya ibu membicarakan lebih tegas relasi seperti apa yang hendak dijalani ke depan. Apa gambaran dia sebenarnya tentang pernikahan, tentang istri, batasan relasi dengan wanita lain? Dari situ ibu perlu jeli dan menilai apakah ibu siap hidup bersama suami seperti ini.
Jadi intinya ibu perlu realistik melihat situasi ini dan keberanian untuk mengambil langkah sekalipun tidak sesuai dengan harapan ibu. Jika ibu tidak bisa menyelamatkan pernikahan, paling tidak ibu perlu menyelamatkan diri sendiri, baik secara jiwa maupun finansial. Jangan keliru lagi mengambil keputusan hanya karena situasi yang sudah telanjur.
Apakah ibu mempunyai saudara atau teman baik yang bisa dipercaya atau pembimbing rohani? Carilah dukungan dalam situasi seperti ini karena ibu membutuhkan teman untuk berbagi dan membantu mengambil keputusan ter baik. Sangat berat jika ibu terus menutupi realitas ini dan menghadapinya sendiri.
Situasi ibu benarbenar membuat ibu bingung dan sedih. Memang hal ini tidak bisa dibiarkan berlarutlarut. Kalau ibu merasa suami selalu menghindar jika dihubungi dan rasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan relasi ini, mungkin memang ibu harus berusaha mengambil waktu untuk bertemu tatap muka. Berbicaralah dengan baikbaik untuk meminta kejelasan kepada suami, bagaimana keseriusan dia terhadap pernikahan ini, mau dijalani seperti apa pernikahan ini?
Sebenarnya ibu sudah mengetahui perilaku suami yang beberapa kali berhubungan dengan perempuan lain (sementara berpacaran dengan ibu) sejak sebelum menikah, apa yang membuat ibu tetap memutuskan untuk menikah? Apakah ibu tidak menangkap tandatanda "warning" dalam relasi ibu? Apakah sejak awal memang nilai/pandangan ibu dan suami tentang pernikahan dan batasanbatasannya memang sudah berbeda?
Demikian tanggapan dan juga pertanyaan yang dapat kami sampaikan.
Salam : Stefani S.
(Bersambung di Buletin Telaga Kehidupan edisi 6 / Pebruari 2020)
Pada hari Senin, 27 Januari 2020, Sdri. Tjoa Lie Bing telah pindah dari Jember ke Sidoarjo dan menempati rumah yang dikontrak untuk Pusat Bina Konseling di Mutiara Regency Blok A2 no.20. Dalam bulan ini dan bulan Pebruari 2020, diharapkan cukup persiapan untuk rencana mengadakan Seminar yang akan dpo. Pdt.Dr. Paul Gunadi sekaligus meresmikan Pusat Bina Konseling dalam bulan Maret 2020.
Beberapa hal lain yang perlu didoakan adalah sebagai berikut :
Links
[1] http://bit.ly/Buletin_Telaga-Januari_2020
[2] https://alkitab.mobi/tb/passage/2+samuel+23%3A3-5
[3] http://media.sabda.org/telaga/mp3/T242A.MP3
[4] http://media.sabda.org/telaga/mp3/T242B.MP3
[5] http://www.telaga.org
[6] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga