Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah pemakaman seorang hamba Tuhan. Lebih dari seribu orang yang datang melayat. Satu hal yang menarik adalah si hamba Tuhan bukanlah gembala sidang dari sebuah gereja yang besar. Dan, sepanjang saya mengenalnya, ia pun bukanlah seorang pengkhotbah dan pengajar bertalenta besar. Ia seorang yang bersahaja namun ia dikasihi oleh begitu banyak orang dan mempunyai begitu banyak sahabat.
Marilah kita melihat Firman Tuhan dan memetik beberapa pelajaran yang dapat kita terapkan dalam membangun persahabatan.
PERTAMA DAN MUNGKIN TERUTAMA ADALAH KITA HARUS BERHATI-HATI MEMILIH SAHABAT.
Amsal 12:26 [1]. "A righteous man is cautious in friendship but the way of the wicked leads them astray." Tuhan tidak memerintahkan kita untuk bersahabat dengan siapa saja. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan di dalam takut akan Tuhan kita menjauhi dosa. Jadi dari sini kita bisa memetik satu pelajaran yang penting: di dalam menjalin persahabatan, kita memunyai hak dan kewajiban untuk memilih. Kita tidak harus selalu menerima uluran tangan orang untuk bersahabat dengan kita. Paulus dengan tegas mengingatkan bahwa teman yang tidak baik dapat merusak karakter kita yang baik (1 Korintus 15:33 [2]).
KEDUA, OLEH KARENA PERSAHABATAN DIDIRIKAN DI ATAS KESETIAAN, MAKA KITA PUN HARUS MENGEMBANGKAN SIFAT SETIA.
Amsal 20:6 [3] "Banyak orang menyebut diri baik hati tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?" Orang yang tidak setia mungkin tidak berniat atau berbuat jahat kepada sahabatnya. Namun yang pasti adalah orang yang tidak setia menempatkan kepentingan diri di atas kepentingan orang lain. Jadi, dari sini kita dapat menyimpulkan jika kita ingin membangun karakter setia, terlebih dahulu kita harus mengikis sifat egois. Sifat egois berarti selama menguntungkan, kita akan terus berteman. Bila tidak, kita pun dengan cepat meninggalkannya. Jika kita adalah orang yang berego besar, hampir dapat dipastikan pada akhirnya kita tidak mempunyai sahabat.
KETIGA, BANYAK PERSAHABATAN RETAK BUKAN KARENA PERBUATAN JAHAT MELAINKAN KARENA OMONGAN YANG TIDAK TEPAT. ITU SEBABNYA FIRMAN TUHAN MENGAJARKAN KITA UNTUK BERHATI-HATI DENGAN PERKATAAN.
Amsal 17:27 [4]. "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin". Jangan sembarang menegur atau mengeluarkan perkataan yang tidak bijak. Jangan beranggapan bahwa oleh karena ia adalah sahabat maka ia akan mengerti isi hati kita—bahwa kita tidak berniat buruk. Jangan bicara sembarangan dan seenaknya kepadanya atau tentang dirinya kepada orang lain.
KEEMPAT, PERSAHABATAN DIDIRIKAN DI ATAS KESEDIAAN UNTUK MENDAHULUKAN KEPENTINGAN SATU SAMA LAIN DAN ITU HANYA DAPAT TERJADI BILA KITA RENDAH HATI.
Amsal 18:12 [5]. "Tinggi hati mendahului kehancuran tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan". Banyak persahabatan diawali dengan kesiapan untuk mendahulukan satu sama lain. Namun seiring dengan berjalannya waktu masing-masing mulai menaruh kepentingan pribadi di atas kepentingan yang lain. Jika kita ingin melanggengkan persahabatan, kita harus mendahulukan kepentingan sahabat dan menomorduakan kepentingan sendiri. Salah satu alasan mengapa pada akhirnya kita mendahulukan kepentingan sendiri adalah karena kita merasa telah berjasa. Orang yang dicintai sahabat adalah orang yang tidak menghitung pengorbanan dan bersedia untuk memberi lebih besar kepada temannya. Oleh karena ia rendah hati, ia bersedia untuk mengedepankan kepentingan temannya. Ia melihat temannya penting dan memerlakukannya sebagai orang yang penting.
KELIMA, UJIAN PERSAHABATAN ADALAH KESUKARAN.
KEENAM, ORANG YANG MURAH HATI.
Amsal 11:25 [7] "Siapa banyak memberi berkat diberi kelimpahan, siapa memberi minum ia sendiri akan diberi minum". Ciri ini berbeda dari kesediaan memberi pertolongan kepada teman dalam kesusahan. Dengan kata lain, ia siap dan senang memberi. Ia memberi bukan hanya karena diminta bantuannya; ia memberi oleh karena itulah sifat utamanya. Dan, sewaktu memberi, ia pun memberi dengan berkelimpahan. Orang yang kikir mungkin masih bersedia memberi tetapi kalaupun ia memberi itu dikarenakan ia terpaksa memberi. Selain dari itu orang yang kikir memberi ala kadarnya. Ia memberi hanya untuk menunjukkan ia telah memberi, tidak peduli apakah pemberiannya mencukupi kebutuhan atau tidak. Sebaliknya dengan orang yang murah hati—ia memberi bukan karena TERPAKSA namun karena TERGERAK. Ia memberi bukan untuk memenuhi persyaratan atau tuntutan tetapi karena ia bergembira dapat membagi berkat dengan sesama. Orang yang murah hati akan dikelilingi oleh sahabat. Ia tidak takut kehilangan teman sebab pada kenyataannya temanlah yang takut kehilangan dirinya. Itu sebabnya Firman Tuhan berkata, "siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum."KETUJUH, SALAH SATU KARAKTERISTIK YANG DICARI ORANG DALAM PERSAHABATAN ADALAH RAJIN.
Amsal 10:4 [8] "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." Persahabatan dibangun di atas inisiatif kedua belah pihak. Ibarat roda, persahabatan tidak berputar dengan sendirinya; kita mesti memutarnya—bersama-sama. Itu sebabnya kedua belah pihak rajin-rajin memelihara komunikasi, rajin-rajin memperhatikan keadaan dan kebutuhan satu sama, dan rajin-rajin mencari kesempatan untuk berbagi suka dan duka bersama.KESIMPULAN
Amsal 11:3 [9] berkata, "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." Kata jujur yang digunakan di sini merujuk kepada integritas yang mengandung makna jujur dan tulus. Orang yang berintegritas bukan saja berarti apa adanya dalam dan luar, tetapi juga berakhlak tinggi. Jika kita ingin dicari orang sebagai seorang sahabat kita pun mesti memiliki karakter integritas ini. Kata yang digunakan dalam ayat ini, "pengkhianat" sebagai lawan dari kata "jujur" sebenarnya berarti "bermuka dua." Benar sekali firman Tuhan sebab memang bukankah kebohongan dan akhirnya pengkhianatan diawali oleh "bermuka dua"?
Kita tidak bisa menjadi sahabat baik kalau kita bermuka dua. Kita harus bersikap jujur kepadanya sebab kejujuran adalah landasan kepercayaan. Tanpa kejujuran, tidak akan ada kepercayaan. Dan, tanpa kepercayaan tidak akan ada persahabatan. Namun, di samping kejujuran, kita pun harus memelihara akhlak yang tinggi yaitu akhlak yang menyerupai karakter Kristus—penuh kasih dan penyayang serta berani menegakkan kebenaran dan keadilan.
Oleh: Pdt. Dr. Paul GunadiKutipan dari Parakaleo Vol. VIII/No. 2/Edisi April-Juni 2001
Pertanyaan :Kedua anak kami sudah di SMU. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk sekolah di Amerika. Suami saya sibuk dengan usahanya sehingga sulit untuk diajak bicara; saya sendiri akhir-akhir ini rasanya tegang sekali, dan kadang-kdang muncul pertanyaan dan keraguan, apakah saya sudah memilih jalan yang tepat untuk mereka?
Mengamati tingkah laku anak-anak rasanya mereka tidak atau belum siapuntuk mandiri; dalam banyak hal mereka kelihatannya masih sangat kekanak-kanakan dari mengatur kamar sendiri, makan, tidur, pemakaian uang, mengisi waktu libur masih harus disupervisi. Juga sangat mencemaskan pergaulan dengan teman-teman mereka. Sulit dinasehati, bahkan seringkali tidak suka kalau saya bertanya darimana atau mau kemana dengan siapa. Saya juga baru sadar, pengenalan mereka tentang Tuhan minim sekali.
Saya bingung, apa yang saya harus lakukan karena saya sangat mencintai mereka, menunda keberangkatan? Saya tidak tega. Sedangkan melepaskannya saya juga tidak berani.
Jawaban :Sikap orangtua memang sangat menentukan pembentukan konsep dari anak tentang dirinya, tentang hidup dan tentunya tentang Tuhan. Sistem yang sudah terbentuk memang sulit diubah, terutama disini anda kelihatannya mendidik sendiri, suami kurang terlibat dan mungkin tidak mendapat tempat; hal ini menjadi lebih jelas pada saat anda ragu-ragu dan kuatir suami kurang peduli. Ketika anda gelisah seperti ini rasanya semua yang kurang terbentang di pelupuk mata Anda, tanggung jawab, pergaulan bahkan hubungan mereka dengan Tuhan. Ada beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan:
Links
[1] http://alkitab.mobi/tb/Ams/12/26/
[2] http://alkitab.mobi/tb/1Ko/15/33/
[3] http://alkitab.mobi/tb/Ams/20/6/
[4] http://alkitab.mobi/tb/Ams/17/27/
[5] http://alkitab.mobi/tb/Ams/18/12/
[6] http://alkitab.mobi/tb/Ams/17/17/
[7] http://alkitab.mobi/tb/Ams/11/25/
[8] http://alkitab.mobi/tb/Ams/10/4/
[9] http://alkitab.mobi/tb/Ams/11/3/
[10] http://www.telaga.org
[11] https://telaga.org/audio/hikmat_dalam_bersahabat_i
[12] https://telaga.org/audio/hikmat_dalam_bersahabat_ii
[13] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga