Berita Telaga Edisi No. 154 /Tahun XIV/September 2017
Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645
Email: telagatelaga.org
Website: http://www.telaga.org [1] Pelaksana: Melany N.T., Rr. Fradiani Eka Y.
Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon
Keluarga dan Pelayanan
Apa artinya keluarga yang melayani?
Perspektif Alkitab tentang keluarga:
Pertanyaan:
Kondisi untuk bisa melayani:
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Audio dan transkrip secara lengkap bisa didapatkan melalui situs www.telaga.org [1] dengan kode T186 A [9] dan B [10].
TELAGA MENJAWAB
TANYA
Shalom,
Suami saya seorang aktivis gereja. Beberapa waktu ini pak pendeta menugaskan suami saya untuk membimbing seorang perempuan dalam tugasnya sehari-hari. Setiap hari mereka berkomunikasi lewat telepon – sejauh yang saya tahu mereka membicarakan pekerjaan, kendalanya, solusinya, dan seterusnya. Apakah dalam pelayanan semacam ini bisa menimbulkan ruang kenikmatan walaupun tidak saling membicarakan masalah pribadi, Pak?
Bagaimana mengenai prioritas pekerjaan, pelayanan (gereja dan keluarga besar) dan keluarga inti, Pak? Suami berprinsip kita harus mendahulukan orang lain, maka jika kita harus memilih, kita harus memprioritaskan gereja, keluarga besar, pekerjaan, barulah keluarga kami. Misal saya katakan padanya saya kurang nyaman dengan pelayanannya membimbing perempuan itu dan menyarankannya memilih pelayanan yang lain, dia bilang ini bukan kemauan dia melainkan tugas dari pendeta yang merasa dia satu-satunya orang yang bisa membimbing perempuan itu, maka demi pekerjaan Tuhan, saya harus mengalah. Demikian juga terhadap orangtuanya, teman pelayanan, saudara dan pekerjaannya.
Saya serba salah. Saya sudah mengikuti dan mengalah, tapi bukannya terpuaskan malah tambah lama tuntutan dari semua pihak malah bertambah. Dari gereja diberikan pelayanan lebih banyak, tuntutan dari keluarga besar juga bertambah, pekerjaan juga demikian. Bukan hanya uang dan waktu tapi juga pikiran, suami semakin sibuk, semakin banyak beban yang "dioper" atau "otomatis teroper" ke saya. Saya merasa porsi saya sebagai istri pelan-pelan tergeser oleh semua "pekerjaan Tuhan" ini. Akhirnya porsi untuk anak-anak juga berkurang, walaupun secara materi terpenuhi.
Mau berbicara dengan suami, saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya sudah bisa menebak dia akan berkata demi Tuhan kita berkorban atau itu memang tanggungjawabnya. Alkitab tidak berkata urus dirimu dan keluargamu dulu tapi Alkitab menyuruh kita mendahulukan orang lain. Kalau dia sudah bilang begitu, saya tidak bisa jawab.
Jadi, bagaimana menangani semuanya ini keluarga – pelayanan - pekerjaan? Terima kasih.
JAWAB
Shalom, Ibu yang dikasihi Tuhan
Dalam menghadapi suami Ibu, penting sekali bagi Ibu untuk melakukan dua hal. Yang pertama adalah memberinya penghargaan atas kasih dan pengabdiannya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Katakan bahawa Ibu bangga padanya dan bahwa Ibu terus mendoakannya agar Tuhan memakainya sebagai berkat. Yang kedua, pada waktu yang tepat, Ibu dapat mengajaknya berbicara dan memulainya dengan, "Tanpa mengurangi rasa hormat kepadamu, saya ingin membagikan isi hati saya yang terdalam….." Kemudian silakan Ibu membagikan semua yang Ibu ceritakan kepada saya lewat e-mail ini, bahwa semakin hari Ibu semakin merasa terjepit, dihimpit oleh pelayanan, keluarga besar dan rasa bersalah. Katakan bahwa Ibu makin terjepit dan Ibu kuatir tidak kuat menahan semua ini, maka Ibu membutuhkan bantuannya sebab Ibu tidak bisa menghadapi semua ini sendiri.
Nah, kalau dia berkata bahwa ia hanya melakukan kehendak Tuhan, Ibu bisa minta dia membaca 1 Timotius 3:4-5 dan 12 [11]. Tuhan meminta kita melayani namun DIA tidak minta kita melupakan tanggung jawab kita pada keluarga. Itu sebab tanggung jawab dalam keluarga disebut sebagai persyaratan menjadi diaken. Setelah itu katakan kepadanya bahwa Ibu tidak mengharapkan ia berhenti melayani. Ibu ingin ia terus melayani dan minta dia membagi waktu dan menjaga keseimbangan.
Tentang relasi dengan perempuan yang dia layani melalui telepon setiap hari, sudah tentu ini melewati batas kewajaran. Apakah ia menghabiskan waktu yang sama berbicara dengan setiap rekan kerjanya? Tidak ada pelayanan yang mengharuskan kita berbicara hampir setiap hari. Jadi, silakan Ibu bersikap lebih tegas dalam hal ini. Pasti dia tidak senang namun jelaskan kepadanya bahwa ini sudah tidak sehat. Kalau dia pikir Ibu cemburu, mohon lihat ‘track record’, apakah selama ini Ibu seorang istri yang cemburuan.
Mudah-mudahan tanggapan ini membantu Ibu. Saya mendoakan Ibu dan suami.
Salam : Paul Gunadi
Mengenal Lebih Dekat
Bersyukur atas kunjungan Bp. Heri dari Radio Streaming Grace Alone Surabaya di Booth Telaga tgl 21 September 2017 lalu. Kabar baik dari Bp. Heri, Program TELAGA kini disiarkan di RADIO SUARA SORONG 101.6 FM, menjangkau wilayah Sorong Selatan (Papua Barat) dan sekitarnya, setiap hari pk 7 pagi, 1 siang, dan 5 sore WIT.
Mari kita doakan rekan-rekan yang terlibat di Radio Suara Sorong 101,6 FM supaya Tuhan memberkati pelayanan mereka, memakai radio ini untuk menjangkau jiwa bagi Kristus.
DOAKANLAH
Links
[1] http://www.telaga.org
[2] http://alkitab.mobi/tb/passage/lukas+8%3A19-21
[3] http://alkitab.mobi/tb/passage/matius+8%3A21-22
[4] http://alkitab.mobi/tb/passage/yohanes+19%3A26-27
[5] http://alkitab.mobi/tb/1Ti/3/5/
[6] http://alkitab.mobi/tb/1Ti/3/12/
[7] http://alkitab.mobi/tb/Kol/3/23/
[8] http://alkitab.mobi/tb/passage/1+timotius+3%3A5%2C12
[9] https://telaga.org/audio/keluarga_dan_pelayanan_1
[10] https://telaga.org/audio/keluarga_dan_pelayanan_2
[11] http://alkitab.mobi/tb/passage/1+timotius+3%3A4-5%2C+12
[12] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga