Berita Telaga Edisi No. 128 /Tahun XI/Juli 2015
Diterbitkan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK)
Sekretariat: Jl.Cimanuk 56 Malang 65122 Telp.: 0341-408579, Fax.:0341-493645
Email: telagatelaga.org
Website: http://www.telaga.org [1] Pelaksana: Melany N.T., Rr. Fradiani Eka Y.
Bank Account: BCA Cab. Malang No. 011.1658225 a.n. Melany E. Simon
Faktor-faktor yang paling umum menjadi penyebab orang hidup sendiri lagi:
Semua faktor di atas memang tidak bisa dielakkan, karena itu adalah realita hidup. Tapi sebenarnya kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal itu.
Beberapa hal yang akan dirasakan oleh orang yang terpaksa hidup sendiri lagi:
Ada satu lagi yang juga sering dikaitkan dengan rasa penyesalan, yaitu kita merasa bersalah sebab kita pernah atau mungkin secara periodik berpikir dan berharap bahwa dia itu akan mati. Contoh ini sering terjadi pada orang yang harus merawat pasangan hidupnya yang sakit menahun. Dalam keletihan yang amat sangat dan tuntutan yang begitu berat yang dibebankan oleh pasangan yang sakit itu, akan terbersit suatu pikiran: “Kapan sih penderitaan saya berakhir, kenapa dia tidak cepat pergi, kenapa dia tidak meninggal dengan segera ?” Ini perlu kita sadari dan maklumi bahwa dalam keadaan capek dan letih memikul beban yang berat, kita ingin lepas dari beban itu, bukannya kita menginginkan dia sungguh-sungguh meninggal dunia. Saya katakan itu pikiran yang alamiah yang tidak menjadikan seseorang itu jahat atau buruk, jadi anggaplah ini suatu bagian kehidupannya, dalam keadaan yang sakit kita kadang-kadang berpikiran seperti itu.
Ada juga yang menyesal karena merasa salah pilih pasangan, dia merasa wah sebenarnya saya ini tidak boleh menikah dengannya. Misalnya dengan seorang salesman yang memang pekerjaannya keliling terus, atau mengatakan ini salah kawin sama pendeta, pendeta ‘kan juga sering sibuk ke luar rumah. Saya kira adakalanya itu dirasakan oleh pasangan yang terus-menerus ditinggalkan, akan ada penyesalan meskipun dia sudah mengerti inilah tuntutan pekerjaan pasangannya. Hilangnya penyesalan itu bergantung kepada apakah hidupnya setelah perpisahan tersebut menjadi lebih baik atau tidak. Kalau hidupnya tidak lebih baik dia akan makin dirundung oleh penyesalan atau rasa bersalah. Tapi kalau banyak yang positif dialaminya dia akan mudah untuk mengatasi penyesalannya itu.
Yosua 1 : 5, “Seperti aku menyertai Musa demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”
[3]
Musa sangat berpengaruh pada kehidupan Yosua, kehilangan Musa adalah kehilangan yang sangat besar bagi Yosua. Tapi Tuhan mengingatkan, jangan bergantung pada Musa, pada-Kulah engkau harus bergantung. Itulah yang dapat kita lakukan, bergantung pada Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita.
Tetap Bermakna dalam Kesendirian
Sebagai manusia, kita cenderung mempersiapkan diri untuk hidup berdua, tapi kita kurang mempersiapkan diri untuk hidup sendiri.
Selain rasa bersalah, rasa marah ternyata juga sering muncul pada diri yang ditinggalkan. Ada beberapa sumber kemarahannya:
Beberapa saran yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut:
Pemulihan terhadap diri sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Kalau lingkungannya menerima dia apa adanya dia bisa lebih cepat pulih. Kita harus selalu ingat, orang yang baru sendirian seringkali lebih peka. Kita justru harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik mereka kembali ke dalam persekutuan kita. Kalau kita diamkan kecenderungannya adalah mereka bisa hilang.
Dalam bagian firman Tuhan di Yosua 1 ada nasihat Tuhan kepada Yosua;
“Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati, sesuai dengan seluruh hukum yang diperintahkan kepadamu oleh hambaku Musa, janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri supaya engkau beruntung kemanapun engkau pergi”.
Dan pada akhir nasihatnya Tuhan berkata : “Janganlah kecut dan tawar hati sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.”
Meskipun tekanan hidup lebih besar, tetaplah hati-hati, jangan berdosa.
Oleh : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Audio dan transkrip secara lengkap bisa didapatkan melalui situs TELAGA dengan kode T58 A [5] dan T58 B [6].
Doakanlah
001 - Rp 100.000.-
006 - Rp. 300.000,- untuk 4 bulan
011 - Rp 150.000,-
Telaga Menjawab
Tanya?
Salam sejahtera,
Saya ingin berbagi pengalaman hidup dengan TELAGA. Saya seorang wanita penderita penyakit kanker selama tiga tahun ini dan sudah mendapatkan perawatan. Setahun yang lalu suami yang saya kasihi kembali ke Rumah Bapa dan meninggalkan saya sendirian (karena selama 18 tahun pernikahan kami tidak dikaruniai anak). Belum hilang rasa duka, satu-satunya keponakan saya meninggal karena kecelakaan. Keponakan ini satu-satunya keluarga saya yang percaya kepada Tuhan Yesus. Seolah menyusul, seminggu kemudian kakak saya meninggal!
Saya merasa benar-benar ditinggal sendirian. Padahal saya rajin beribadah ke gereja, bersekutu dengan Tuhan dalam doa dan membaca Alkitab, tapi kenapa rasanya Tuhan menjauh dari saya?
Saya tetap menjaga persekutuan dengan Tuhan. Saya tetap ke gereja walaupun jauh dan sendirian, membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, serta mendengarkan siaran radio rohani. Begitulah saya mengisi hari-hari.
Saya menunggu nasehat dari Pak Paul Gunadi. Terima kasih banyak, Tuhan memberkati.
Jawab
Ibu yang dikasihi Tuhan,
Terima kasih Ibu bersedia berbagi pengalaman hidup dengan kami, khususnya tiga tahun terakhir dengan kepahitan bertubi-tubi. Kami yakin selama ini Ibu sudah dikuatkan oleh firman Tuhan dan doa-doa yang Ibu panjatkan, juga melalui siaran radio yang Ibu dengar setiap hari.
Sesuatu yang wajar bila Ibu merasa sendirian, merasa kesepian, bahkan merasa Tuhan itu jauh. Dalam Kitab Ayub di Perjanjian Lama, kita baca bagaimana Ayub bertubi-tubi menerima kabar tentang musnahnya harta benda serta kekayaannya, kemudian semua anak-anaknya meninggal dunia., ditambah lagi Ayub ditimpa penyakit mulai dari ujung rambut hingga seluruh tubuhnya. Dalam Kitab Rut, dikisahkan bahwa Naomi juga mengalamai kepahitan dalam hidupnya. Suami dan kedua anak laki-lakinya meninggal.
[7]Setelah kita mengalami kepahitan, tentu saja kita membutuhkan waktu untuk bisa mengatasinya. Tidak bisa hilang begitu saja dalam hitungan bulan, kadang-kadang perlu waktu yang lama. Nasehat yang dapat kami sampaikan adalah carilah sahabat atau teman yang seiman, dimana Ibu dapat berbicara dari hati ke hati (curhat). Apabila Ibu menyukai pekerjaan tangan atau keterampilan tertentu, hal itu juga akan menolong dalam masa kesepian dan kesendirian ini.
Yakinlah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sekalipun orang-orang yang kita kasihi telah dipanggil mendahului kita. Firman Tuhan dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. Dan silakan Ibu membaca Mazmur 121 [8]. Tuhan memberkati Ibu!
Salam dan doa: Pengasuh Program Telaga
Links
[1] http://www.telaga.org
[2] http://static.sabda.org/bt_jul_2015_1.jpg
[3] http://static.sabda.org/telaga/berita/bt_jul_2015_2.jpg
[4] http://static.sabda.org/telaga/berita/bt_jul_2015_3.jpg
[5] http://telaga.org/audio/hidup_sendiri_lagi
[6] http://telaga.org/audio/tetap_bermakna_dalam_kesendirian
[7] http://static.sabda.org/telaga/berita/bt_jul_2015_4.jpg
[8] http://alkitab.mobi/tb/Mzm/121/
[9] https://telaga.org/jenis_bahan/berita_telaga
[10] https://telaga.org/kode_kaset/t158a
[11] https://telaga.org/kode_kaset/t158b