Skip to main content

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Tuntutan Yang Menghimpit Anak I

Ibarat tanaman, anak pun membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Tugas orang tua adalah mengawasi dan merawat pertumbuhan anak agar sesuai dengan arah yang diinginkan orang tua. Masalah timbul bila selain dari mengawasi dan merawat, orang tua pun membebani anak dengan tanggung jawab yang melebihi usia dan kemampuannya. Ibarat tanaman yang terhimpit beban, pertumbuhan anak akhirnya tersendat dan melenceng dari jalur semula. 5 beban yang kadang keliru diembankan pada anak yaitu tuntutan sebagai anak sulung, tuntutan sebagai anak perempuan, tuntutan sebagai anak kesayangan, tuntutan sebagai anak terpandai dan tuntutan sebagai anak rohani.

Laki-Laki Idaman Allah

Kelemahan utama laki-laki terletak pada keangkuhannya. Itu sebabnya satu karakteristik yang perlu ditumbuhkembangkan adalah kerendahan hati. Laki-laki yang rendah hati adalah laki-laki idaman Allah. Karena kerendahan hati itu sulit, maka akan dipaparkan penerapan kerendahan hati di dalam keunikan laki-laki.

Keunikan Laki-Laki

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, sebagaimana tercatat di Kejadian 1:27. Kenyataan Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan memunyai keunikan masing-masing. Namun secara khusus di sini dibahas mengenai keunikan yang dimiliki laki-laki yaitu bertanggung jawab, berguna, tertutup, dan mandiri namun berpotensi besar menciptakan keangkuhan.

Kesengsaraan dan Karakter II

Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan—sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif. Namun sebuah karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Ada 6 hal yang akan diuraikan untuk proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.

Kesengsaraan dan Karakter I

Tidak ada yang senang dengan kesusahan. Sedapatnya kita berupaya untuk menghindar dari kesusahan. Bagi kita kesusahan identik dengan kesengsaraan dan kesengsaraan identik dengan kemunduran yang berakhir dengan keputusasaan—sebuah cara pandang yang pesimistik dan negatif. Namun sebuah karakter yang dihasilkan kesengsaraan adalah karakter yang bergantung penuh pada Tuhan. Ada 6 hal yang akan diuraikan untuk proses pembentukan karakter yang melibatkan kesusahan dan kesengsaraan.

Sabat dan Kesehatan Rohani

Lihatlah sekeliling kita pada bangsa dan budaya yang tidak tersentuh oleh Alkitab. Saya kira kita akan terkejut menemukan bahwa konsep Sabat—berhenti bekerja—merupakan sesuatu yang asing di telinga mereka. Jelas terlihat bahwa nilai alkitabiah telah mewarnai budaya Barat sedemikian rupa sehingga kebanyakan orang di belahan dunia itu mengenal dan menjalankan sekurangnya satu hari istirahat. Orang yang tidak menjalankannya hanyalah orang yang mendewakan kerja di atas segalanya. Di sini akan diuraikan latar belakang Sabat dan tujuan dari Sabat.

Sabat dan Kesehatan Jiwa

Ada banyak alasan mengapa tidak selalu kita berhasil menjalankan hidup yang memancarkan Kristus. Salah satunya adalah karena tidak selalu kita berhasil menjalankan kehidupan yang berimbang. Sabat adalah hari di mana Tuhan memerintahkan kita untuk berhenti bekerja dan mengingat Tuhan. Sewaktu berhenti bekerja dan mengingat Tuhan, kita pun diajak untuk menjalani sebuah kehidupan yang sehat. Sabat yang bagaimana yang membuat jiwa kita sehat?

Mengasihi Anak Lebih Dari Tuhan

Pernahkah kita sebagai orang tua mengasihi anak kita melebihi dari kita mengasihi Tuhan? Kebanyakan kita sebagai orang tua pasti pernah mengalaminya. Sebenarnya kita tahu kalau hal itu salah karena kita menomor duakan Tuhan. Satu contoh dari Alkitab yaitu Imam Eli, Imam Eli mengasihi anaknya melebihi Tuhan sehingga yang didapatnya adalah hukuman. Mari kita belajar dari Imam Eli, agar ini menjadi lampu kuning bagi kita sebagai orang tua dalam mengasihi anak-anak kita.

Tuhan Di Tengah Keluarga

Tujuan hidup adalah memuliakan Tuhan dan salah satu cara memuliakan Tuhan adalah lewat keluarga. Keluarga yang memuliakan Tuhan memunyai dampak besar terhadap orang di sekitar dan generasi berikutnya. Dua contoh keluarga yang memuliakan Tuhan dan telah memberi dampak besar bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu keluarga dari Dr.James Dobson dan Pdt. Jonathan Edward. Mereka melakukan hal-hal yang sederhana namun memberi dampak yang luar biasa dan memberkati.

Iman Dalam Krisis Keluarga

Kita adalah orang beriman namun kadang kita tidak tahu bagaimana menerapkan iman dalam situasi tertentu, misalnya dalam krisis keluarga. Iman bukanlah sekadar sarana untuk memperoleh keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Iman juga adalah sarana yang mutlak diperlukan untuk tetap hidup di dalam pimpinan-Nya. Secara spesifik, iman dibutuhkan dalam menghadapi krisis yang melanda keluarga agar kita dapat melewatinya dengan benar-sesuai kehendak Tuhan.