Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya, Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Terjepit Di Antara Dua Anak Yang Bertikai". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
GS : Pak Paul, kebahagiaan orangtua kalau punya anak lebih dari satu tentu lebih berbahagia daripada cuma punya anak tunggal, karena itu yang diidam-idamkan. Tetapi semakin mereka dewasa, semakin banyak masalah yang timbul. Lebih-lebih kalau sampai terjadi pertengkaran atau perseteruan di antara mereka, itu akan sangat menjadi beban berat bagi orangtua. Ini yang kita coba angkat, tema "Terjepit diantara dua anak yang bertikai." Ini kalau dua, Pak. Biasanya bisa lebih dari dua. Kalau anaknya 4-5 bisa tambah ramai. Bagaimana, Pak Paul ?
PG : Iya. Sudah tentu kerinduan kita sebagai orangtua adalah melihat anak tumbuh dewasa dan hidup rukun satu dengan yang lain. Sayangnya kerinduan itu tidak selalu dapat terwujud, Pak Gunawan. Salah satu kenyataan pahit yang kadang mesti kita hadapi adalah melihat dua anak kita yang sudah akil balik bertikai. Oleh karena berbagai sebab mereka bermusuhan dan akhirnya menolak untuk berkomunikasi. Sebagai orangtua kita sedih namun lebih dari sedih, kita susah. Susah hati karena permusuhan mereka membuat kita terjepit di tengah. Pertanyaannya adalah apa yang mesti kita perbuat bila kita berada di dalam posisi itu. Ini yang akan kita angkat, kita coba memberikan beberapa pemahanan serta saran.
GS : Ya. Memang yang kita mau coba cari ini bagaimana, karena ini kenyataan yang banyak dialami oleh keluarga-keluarga yang anaknya lebih dari satu kemudian setelah dewasa timbul pertengkaran. Bagaimana, Pak Paul ?
PG : Yang pertama adalah kita harus menyadari dan menerima fakta bahwa setelah besar anak menjadi pribadi yang terpisah dari diri kita. Sudah tentu kita berharap anak akan memeluk nilai-nilai moral yang kita anut. Tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Pada masa dewasa, anak menyerap nilai-nilai moral bukan saja dari dalam rumah tetapi juga dari luar. Kadang mereka malah mengadopsi nilai moral yang tidak sehat dan itulah yang menjadi pemandu hidup mereka. Meski kita tidak menyetujuinya, anak tetap berpegang pada nilai-nilai moralnya. Ada banyak nilai moral tidak sehat yang dapat diserap anak. Salah satunya adalah sikap mementingkan diri sendiri, Pak Gunawan. Biasanya kita mulai melihat sikap itu bertunas pada diri anak setelah anak bekerja dan menikah. Singkat kata sikap itu mulai menampakkan diri tatkala anak sudah memunyai uang dan kepentingan sendiri. Sikap itu belum terlihat pada masa kecil sebab pada masa itu anak masih bergantung pada kita orangtuanya. Dimana uang adalah uang kita dan semua kebutuhannya kita penuhi. Itu sebab sikap mementingkan diri belum muncul secara jelas. Namun begitu anak bekerja dan memeroleh uang, ditambah dengan adanya keperluan setelah menikah, barulah sikap mementingkan diri itu muncul.
GS : Iya. Tetapi orangtua seringkali justru menyalahkan dirinya sendiri seolah-olah mereka gagal menanamkan nilai-nilai moral yang baik atau gagal mendidik anak-anaknya dengan baik sehingga timbul pertengkaran setelah dewasa. Bagaimana cara mengatasi perasaan bersalah orangtua ini, Pak Paul ?
PG : Saya sudah tentu sebagai orangtua harus mengaku bahwa saya dan kita semua tidak sempurna. Mungkin ada hal-hal yang kita lakukan, ada nilai-nilai yang tidak kita sadari tapi kita teruskan kepada anak-anak. Ya kita semua tidak sempurna, kita semua manusia berdosa. Tapi kalau sampai ada sikap-sikap yang memang begitu jelas nampak bukanlah sikap kita, bukanlah nilai kita, kita memang mesti mengakui bahwa nilai ini datang bukan dari kita tapi dari luar. Kalau kita bertanya mengapa bisa ya, bukankah di rumah sudah kita ajarkan ? Saling tolong, saling mengalah, jangan mementingkan diri sendiri, sekarang mengapa anak itu bisa begini ? Jawabannya adalah karena anak itu akhirnya terjun ke masyarakat, bergaul dengan berbagai macam orang dan nilai-nilai dari luar yang diserapnya menjadi nilainya. Nanti setelah dia menikah atau memunyai keluarga sendiri, sudah memunyai pekerjaan sendiri, tidak bergantung pada kita secara finansial, di saat itulah kita baru bisa melihat seperti apakah anak kita yang sesungguhnya. Karena pada saat itulah dia telah dewasa dan nilai-nilai hidupnya telah terkumpul dan menjadi masak. Disitulah kita melihat bentuk akhir anak kita. Kadang kita kaget, Pak Gunawan. Kita berkata ini bukan anak yang saya besarkan, bukan nilai yang saya tanamkan, tapi menjadi begini. Ya karena dalam perjalanannya si anak akan menyerap nilai-nilai dari luar.
GS : Biasanya itu ketika mereka dewasa ya. Biasanya masalah itu muncul karena salah satu atau bersamaan semua anak ini menjadi bermasalah, Pak Paul ?
PG : Biasanya pertikaian itu memang muncul tatkala ada kebutuhan, Pak Gunawan. Misalnya salah satu anak sedang ada masalah, kesulitan, atau apa. Dia berharap kakak atau adiknya bisa membantu, dia meminta memohon bantuan dari kakak atau adiknya tapi kok mereka tidak mau memberikan bantuan. Atau yang satu marah karena dia merasa dia saja yang peduli dengan orangtua, saudaranya kok tidak peduli dengan orangtua. Dia merasa yang lain itu keterlaluan akhirnya dia marah pada yang lainnya. Jadi, ada begitu banyak masalah yang bisa muncul, belum lagi masalah seperti melindungi pasangan dan anak-anaknya sehingga siapa pun tidak boleh berkata apa pun yang dianggapnya menyinggung perasaan pasangan atau anaknya. Misalnya si kakak berkata kepada si adik, "Anakmu tambah gemuk ?" Wah, dia bisa marah. Atau, "Mengapa istrimu tidak datang pada pertemuan keluarga ?" Marah, "Kamu menyinggung istri saya ?" Jadi, ada banyak hal yang bisa membuat dua anak atau bahkan lebih dari dua anak bertengkar. Tapi, sekali lagi saya mau angkat penyebab utamanya, seringkali kalau anak itu begitu mudah tersinggung adalah karena adanya sikap mementingkan diri, Pak Gunawan. Sikap mementingkan diri membuat orang mudah bersyak wasangka (berprasangka). Terus salah paham sehingga akhirnya seringkali timbul konflik.
GS : Iya. Misalkan tadi tentang merawat orangtua, mengapa hanya dia saja yang merawat. Sebagai orangtua kita merasa ‘saya yang menyebabkan pertikaian ini, bisa timbul perasaan seperti itu, Pak Paul.
PG : Bisa. Makin hari kita makin tua jadi kita bisa mengerti perasaan-perasaan seperti ini. Saya kira kebanyakan orangtua tidak mau menjadi beban bagi anak-anak. Berapa banyak orangtua yang berkata, "Saya berharap Tuhan panggil saya dengan cara yang paling cepat, jangan sampai berlama-lama sehingga membebankan anak." Ini perkataan-perkataan yang berkali-kali saya dengar. Memang bisa jadi orangtua merasa bersalah. "Gara-gara kami, kalian bertengkar." Mungkin mereka meminta kedua belah pihak agar tidak bertengkar tapi sudah terlanjur saling marah, saling melontarkan kata-kata yang tidak enak sehingga mereka tidak saling berkomunikasi.
GS : Iya. Seringkali juga pertengkaran itu timbul karena ada pihak yang merasa haknya direbut oleh saudaranya, Pak Paul. Entah itu materi atau hak-hak yang lain, karena merasa haknya direbut makanya dia marah.
PG : Iya. Ini memang keluar dari satu akar yang sama yaitu mementingkan diri. Saya yakin bukan saja kita disini, tapi para pendengar kita juga tahu betapa banyaknya kasus dimana kakak dan adik berkelahi gara-gara warisan. Yang satu menempati rumah si orangtua, tidak mau keluar-keluar dan berjanji, awalnya, oke nanti rumah dijual, uang dibagi rata, tapi tidak akan dijual, terus ditempati. Yang satu minta, yang satu mohon, ini rumah dijual, ini rumah orangtua, tetap tidak mau. Begitu banyak masalah yang berkaitan dengan warisan, muncul dan menimbulkan pertengkaran. Akarnya apa ? Sama, mementingkan diri sendiri. Ini sifat yang akhirnya diadopsi oleh anak-anak kita setelah dewasa.
GS : Tapi apakah hanya sifat mementingkan diri sendiri ini yang menimbulkan konflik di antara saudara-saudara ini, Pak Paul ? Apakah ada alasan lain ?
PG : Sudah tentu ada alasan-alasan lain, Pak Gunawan. Misalnya anak-anak ini setelah dewasa memunyai masalah yang berat. Di dalam permasalahannya yang berat itu mereka bisa saja secara terpaksa, bukan secara sengaja, merugikan orangtua atau merugikan saudara-saudaranya yang lain. Akhirnya tidak bisa tidak, muncul lagi masalah di antara mereka. Memang ada begitu banyak masalah yang bisa terjadi. Jadi, apa yang harus kita sadari sewaktu anak-anak kita mulai bertengkar adalah ini. Sewaktu dua orang yang dekat dengan kita bertikai, sangatlah sulit buat kita berdiri di tengah. Ini mesti kita sadari. Walau kita berusaha bersikap netral besar kemungkinan salah satu akan merasa bahwa kita berat sebelah. Itulah kodrat dari pertengkaran, Pak Gunawan. Dua orang yang berkonflik selalu berusaha menarik simpati dan pembelaan dari orang ketiga. Orang yang bertikai ingin dibenarkan dan dibela. Itu sebab bukan saja mereka berupaya keras untuk menjadikan kita sekutunya, mereka pun menuntut kita berada sekubu dengannya. Sewaktu mereka melihat kita tidak secara terang-terangan bersekutu atau berpihak dengannya, mereka langsung menyimpulkan bahwa kita tidak berada di pihaknya. Tidak heran pada akhirnya orang ketiga, dalam hal ini kita, yang tadinya berusaha netral dan mau mendamaikan kedua pihak yang bertikai malah dimusuhi, setidaknya dijauhi dan disalah mengerti oleh kedua belah pihak. Itu sebab sebagai orangtua kita hanya punya dua pilihan, Pak Gunawan. Pilihan pertama adalah kita sama sekali menolak untuk terlibat. Pada waktu anak datang bercerita tentang keburukan kakaknya atau adiknya, kita langsung berkata kita tidak mau ikut campur. Kita berkata bahwa kita berharap mereka dapat menyelesaikan masalah itu sendiri. Pilihan kedua adalah kita mengambil sikap yang jelas dimanakah kita berdiri. Pada umumnya kita perlu melakukan hal ini bila salah satu pihak memang jelas salah dan bermasalah. Jadi, daripada bersikap netral akhirnya dibenci oleh kedua belah pihak, lebih baik kita bersikap jelas. Kita menegur pihak yang kita anggap bersalah dan kita menunjukkan pembelaan dan dukungan kepada pihak yang kita anggap benar. Memang kita akan kehilangan satu anak. Dia mungkin marah pada kita, tapi setidaknya kita tidak kehilangan dua anak.
GS : Iya. Tetapi pilihan yang kedua ini lebih banyak diambil orang daripada yang pertama, Pak Paul. Yang pertama itu, masakan kita sebagai orangtua kita diam saja. Nanti orang-orang di sekitar kita, keluarga kita juga akan memberikan penilaian seolah-olah kita itu tidak mau tanggung jawab, mau lepas tangan, padahal konflik itu terbaca atau terdengar dimana-mana. Tapi kalau yang kedua, memang bisa menimbulkan yang satu tidak senang dengan kita.
PG : Soalnya pilihan kita memang tidak banyak, Pak Gunawan. Kalau kita misalnya mencoba terlibat, mendamaikan kedua belah pihak, akhirnya kita itu disalahkan oleh kedua belah pihak. Saya sudah terlalu sering melihat ini, Pak Gunawan. Yang bertikai itu menyalahkan orangtuanya mengapa membela yang satunya, eh anak yang satu juga memarahi orangtuanya, papa mama mengapa membela adik atau kakak. Akhirnya serba salah. Orangtua berusaha berkata ‘saya tidak bela siapa-siapa, kalian berdua anak saya’, tetap saja disalahkan. Disalahkan juga, misalnya, "Papa seharusnya menegur dia, mama seharusnya marahi dia, mengapa tidak begitu ?" Anak yang satu juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya yang di tengah adalah orangtua, yang terhantam juga orangtua.
GS : Iya. Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, apa yang harus kita lakukan, Pak Paul ?
GS : Misalnya kita berada pada situasi seperti ini, tidak bisa tidak, kita harus sering-sering berdoa bagi anak-anak kita. Sudah tentu kita mulai berdoa buat mereka jauh hari sebelumnya bukan setelah mereka bertikai. Apalagi dalam situasi seperti ini, kita memang harus sering-sering berdoa buat mereka. Kita juga perlu men