Skip to main content

Ketika Pasangan Tidak Bisa Melepaskan Selingkuhannya

Abstrak
Salah satu masalah terbesar yang kadang mesti kita hadapi adalah perselingkuhan. Ibarat batu besar jatuh menimpa atap rumah, demikianlah perasaan korban selingkuh. Secara tiba-tiba hidup hancur dan kita mungkin tidak tahu lagi apakah kita akan dapat membangun kembali rumah tangga yang telah hancur. Jika saja pasangan yang selingkuh bersedia untuk memutuskan tali asmaranya, mungkin akan sedikit lebih mudah buat kita melanjutkan hidup. Masalahnya adalah tidak semua bersedia melakukannya. Ada yang terus menjalin relasi asmaranya. Apakah yang mesti kita perbuat bila pasangan tidak bersedia melepas kekasihnya?
Transkrip

Saudara–saudara pendengar yang kami kasihi dimanapun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Ketika Pasangan Tidak Bisa Melepaskan Selingkuhannya". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Pak Paul, seperti jerat, seseorang yang terjerat di dalam perselingkuhan, memang rasanya mustahil untuk keluar dari jeratan itu. Setidaknya dia akan mengalami banyak kesulitan di dalam melepaskan diri dari selingkuhannya, Pak Paul. Bagaimana terjadinya, Pak Paul? Bagaimana efeknya terhadap pasangannya?

PG : Salah satu masalah terbesar yang kadang mesti dihadapi adalah perselingkuhan, Pak Gunawan. Saya ibaratkan itu seperti batu besar yang jatuh menimpa atap rumah. Jadi seperti itulah perasaan korban selingkuh. Secara tiba-tiba hidup hancur dan kita tidak tahu lagi apakah kita akan bisa membangun kembali rumah tangga yang telah hancur itu. Jika saja pasangan yang berselingkuh itu bersedia untuk memutuskan tali asmaranya, mungkin akan sedikit lebih mudah bagi kita untuk melanjutkan hidup. Masalahnya tidak semua bersedia melakukannya. Ada yang terus menjalin relasi asmaranya. Inilah yang akan kita bahas, Pak Gunawan. Apa yang harus kita perbuat bila pasangan kita tidak bersedia melepaskan selingkuhannya.

GS : Memang itu seperti tali yang mengikat seseorang, Pak Paul. Makin lama dia melakukan perselingkuhan itu, makin banyak tali yang mengikatnya, sehingga makin susah pula dia melepaskan dirinya.

PG : Betul, Pak Gunawan. Dalam pengalaman, ini yang saya perhatikan. Dari tidak mau lepas, sampai mau lepas, itu susah dan memakan waktu. Dari berkata, "saya mau lepas" hingga benar-benar melepaskan itu juga susah dan memakan waktu. Seperti yang Pak Gunawan katakan, memang seperti disedot oleh lumpur. Makin hari semakin disedot kedalam dan makin susah untuk keluar. Apalagi kalau sudah sampai memunyai anak, akan jauh lebih rumit. Maka akan kita coba fokuskan pada apa yang bisa dilakukan oleh korban selingkuhnya itu.

GS : Pada dasarnya apa yang bisa dilakukan oleh pasangan yang menjadi korban selingkuhan, Pak Paul?

PG : Sebetulnya pilihannya hanya dua. Pilihan untuk bertahan atau pilihan untuk bercerai. Dengan keputusan yang memilih untuk meneruskan relasi selingkuhnya, menurut saya orang tersebut telah memilih untuk hidup dalam dosa perzinahan. Lewat perzinahan dia sudah menghancurkan pernikahannya dan secara de facto dia sudah menceraikan kita, karena dia sudah memilih untuk memunyai orang lain dalam hidupnya. Tidak heran Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 16:9, "Barangsiapa menceraikan istrinya kecuali karena zinah lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Dengan kata lain Tuhan mengerti betapa beratnya pukulan dan dampak dari perzinahan ini, sehingga Tuhan pun mengakui dalam kasus seperti itu secara tidak langsung orang yang telah berzinah dan meneruskan perzinahannya tidak mau melepaskan hubungannya, dia sudah sama dengan telah menceraikan kita sebagai pasangannya yang sah. Ada alternatif untuk bercerai, Pak Gunawan. Namun saya ingatkan jangan sampai kita bertindak gegabah. Saya menyarankan sebaiknya kita mengambil langkah untuk bertahan terlebih dahulu, setidaknya memberi kesempatan kepada pasangan untuk bertobat.

GS : Tapi biasanya justru yang berselingkuh itu yang tidak mau menceraikan pasangannya, Pak Paul.

PG : Kadang ada orang yang memilih dua-duanya. Jadi di satu pihak kita bisa berkata, "Enak sekali. Kamu sudah begitu kejam melukai hati pasanganmu, sekarang kamu bersama orang lain, tapi juga tidak mau melepaskan. Kamu kok mau dua-duanya, mau enak dua-duanya?" Di satu pihak kita bisa berkata seolah-olah dia mau enak dua-duanya dan sudah tentu ada orang yang seperti itu, orang yang mau enak dua-duanya! Tapi dalam pengalaman, saya menemukan kebanyakan, apalagi kalau mereka adalah anak-anak Tuhan yang jatuh ke dalam dosa perselingkuhan ini, ternyata mayoritas tidak suka, tidak senang, tidak bahagia! Tapi memang tidak bisa melepaskan selingkuhannya. Karena dengan berbagai alasan, karena sudah terlalu dalam,