Pengaruh Teknologi Informasi Pada Relasi Pernikahan

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T553A
Nara Sumber: 
Pdt. Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Penggunaan smartphone yang berlebihan akan berpotensi: merenggangkan relasi pernikahan, member kesempatan untuk berelasi dengan orang lain secara rahasia, interaksi dengan anak berkurang dan menciptakan relasi yang sangat dangkal, dan bahkan kecanduan smartphone tidak dapat dihindari.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

Bila pada masa lalu surat kabar adalah salah pengganggu relasi pernikahan, maka pada masa kini smart phone adalah salah satu pengganggu relasi pernikahan. Di mana pun kita pergi kita kerap melihat pemandangan seperti ini: Suami-istri duduk berhadapan di meja makan, tetapi kedua pasang mata mereka tidak tertuju pada satu sama lain melainkan pada smart phone yang ada di tangan. Ada yang sibuk membaca dan menanggapi berita, tetapi ada pula yang sibuk browsing, alias sibuk mencari-cari berita. Berikut akan dibahas pengaruh perilaku ini pada relasi pernikahan dan keluarga.


  1. TANPA KITA MENYADARINYA PENGGUNAAN SMART PHONE YANG BERLEBIHAN BERPOTENSI MERENGGANGKAN RELASI.
    Mungkin gara-gara kita sibuk dengan media sosial, kita menjadi tidak sering bertengkar, tetapi masalahnya adalah relasi pernikahan makin hari makin merenggang. Pada akhirnya kita lebih menyatu dengan teman-teman di media sosial ketimbang pasangan sendiri. Makin hari makin jarang kita berbagi rasa dan pikiran dengan pasangan, sebaliknya, kita makin sering berbagi rasa dan duka dengan teman-teman di media sosial. Pemakaian teknologi informasi yang berlebihan membuka pintu masuknya orang lain kedalam kehidupan kita, dan mengeluarkan pasangan dari kehidupan kita. Akhirnya orang terdekat bukanlah orang yang berada di samping kita tetapi orang yang berada di dalam smart phone kita. Tidak heran, ada yang jatuh kedalam dosa perzinahan oleh karena kedekatan yang berlebihan itu. Itu sebab kita perlu mewaspadai bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan smart phone yang berlebihan yaitu tanpa disadari, benda elektronik ini telah merenggangkan relasi pernikahan.
  2. PENGGUNAAN SMART PHONE YANG BERLEBIHAN JUGA AKAN MENGURANGI INTERAKSI DENGAN ANAK SEKALIGUS MENCIPTAKAN POLA RELASI YANG DANGKAL DALAM KELUARGA.
    Sewaktu pergi bersama, masing-masing sibuk dengan smart phone sehingga percakapan di antara keluarga menjadi ala kadarnya. Akhirnya makin hari anak makin tidak nyaman berbagi pengalaman hidupnya dengan kita dan cenderung menutup diri. Jika ini berkelanjutan, jangan terkejut bila pada akhirnya kita tidak tahu apa-apa lagi tentang dirinya dan kita kehilangan kendali atas hidupnya. Ibarat menanam pohon di mana kita perlu menggali dan menyiapkan lahan yang luas untuk menanam pohon yang besar, kita pun perlu menggali dan menyiapkan lahan interaksi yang luas untuk menanam dan menumbuhkan relasi dengan anak yang kuat dan mengakar. Kita tidak dapat memulai relasi dengan anak di saat ia sudah menginjak remaja dan mengharapkan relasi itu berkembang menjadi relasi yang dalam. Nah, jangan sampai relasi dengan anak terganggu gara-gara kita dikuasai oleh smart phone.
  3. PENGGUNAAN SMART PHONE YANG BERLEBIHAN BERPOTENSI MENUTUPI MASALAH, DAN SAMA SEKALI TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH.
    Pada akhirnya kita tidak menyelesaikan masalah bukan saja karena terbatasnya waktu, tetapi juga karena surutnya minat untuk membahas dan menyelesaikan masalah. Karena, desakan untuk menyelesaikan masalah menjadi berkurang sebab kita sudah terhibur oleh apa yang tertayang dan terbaca di layar smart phone. Masalahnya adalah, problem yang tak terselesaikan hanya terkubur sementara; bak bom waktu suatu hari pasti meledak. Bila itu terjadi, kita tahu betapa tidak mudahnya mengurai simpul masalah yang berumur panjang. Pertumbuhan—baik relasi maupun jiwa—baru terjadi tatkala kita berhadapan dengan masalah dan berupaya menyelesaikannya. Sebaliknya, makin sering kita menghindar dari masalah, makin kecil pertumbuhan terjadi. Tidak heran, bila kita terikat pada smart phone, pada akhirnya kita berhenti bertumbuh. Kita menjadi tidak terbiasa menghadapi masalah dan makin cepat memilih jalan pintas. Seperti alkohol atau obat lainnya, smart phone berfungsi sebagai tempat pelarian dari problem.
  4. PEMAKAIAN SMART PHONE YANG BERLEBIHAN PADA AKHIRNYA MEMBUAT KITA KECANDUAN.
    Ya, sama seperti obat terlarang, smart phone berpotensi menimbulkan kecanduan. Kita tidak bisa hidup tanpa smart phone meski hanya sebentar; kita terus tergelitik untuk mengecek smart phone, baik untuk menjawab atau mencari berita baru. Bila kita berpisah dari smart phone kita resah dan kehilangan konsentrasi. Gejala ini tidak sehat sebab ini berarti kita telah bergantung pada smart phone; tanpa smart phone, kita tidak bisa berfungsi. Sesungguhnya ada banyak orang yang sudah mengembangkan kecanduan pada smart phone; kita hanya tidak mau mengakuinya. Jika kita tidak yakin, coba pisahkan diri dari smart phone selama sehari saja. Rasakan dan perhatikan gejolak yang terjadi di dalam diri kita. Saya yakin akan ada banyak orang yang merasa tidak nyaman, resah, dan sulit berkonsentrasi tanpa smart phone di dekatnya. Inilah gejala kecanduan. Tanpa pengendalian, smart phone berpotensi menyita aktivitas waktu kita bahkan sampai jauh malam. Bahkan ada yang terus melihat-lihat dan mengetik-ngetik smart phone sampai subuh.
  5. Penggunaan smart phone yang berlebihan berpotensi membuka pintu relasi yang intim dengan orang lain sekaligus merahasiakannya. Tidak ada alat komunikasi lain yang lebih mempermudah arus berita dari pada smart phone. Masalahnya adalah, bukan hanya mempermudah tetapi juga menambah kerahasiaan. Bayangkan, dengan dalih melihat-lihat berita, kita dapat menjalin relasi yang akrab dengan orang lain. Dan, satu lagi, kita pun dapat menjalinnya secara rahasia sehingga pasangan tidak mudah mendeteksinya. Itu sebab banyak relasi di luar nikah dijalin lewat media komunikasi ini. Singkat kata, meski benda adalah sesuatu yang bersifat netral namun di tangan orang yang salah, benda dapat menjadi alat berdosa. Bukan saja menjadi alat berdosa, alat komunikasi ini bisa menjadi alat untuk memperbanyak dan memperparah dosa. Kita mesti mewaspadai gejala yang buruk ini dan mencegah agar tidak terjerumus kedalam dosa perzinahan lewat media komunikasi ini. Dan, cara untuk mencegahnya adalah dengan membatasi pemakaiannya. Kita gunakan barang elektronik ini untuk keperluannya yang utama yakni berkomunikasi dan mengetahui berita. Selain itu kita pun mengurangi frekuensi arus bolak-balik komunikasi supaya komunikasi tidak mudah berkembang dan menjadi intens. FirmanTuhan di Amsal 13:3 mengingatkan, "Siapa menjaga mulutnya memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan." Meski media komunikasi modern tidak menggunakan mulut—melainkan jari—tetapi tujuannya sama yakni berkomunikasi. Tuhan menghendaki kita untuk menjaga apa yang kita komunikasikan kepada orang; Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang lebar bibir alias tidak dapat menjaga apa yang keluar dari hati dan pikiran. Barangsiapa menjaga, ia memeroleh hidup; barangsiapa tidak menjaga, ia akan menuai kebinasaan alias ditimpa musibah. Untuk dapat menjaga mulut kita, langkah pertama adalah bersikap jujur dengan diri sendiri. Jangan mendustai diri bahwa ini adalah pertemanan, jangan ! Inilah awal dari perjalanan menuju dosa. Akuilah dan berhentilah.