oleh Ev. Sindunata Kurniawan.
Kata kunci: Kita perlu berelasi dengan orang lain tanpa kehilangan identitas dan kedirian kita. Menjadi diri sendiri dan diri yang diharapkan. Ikatan yang sehat menolong rasa solidaritas. Batasan membangun keintiman sejati.
TELAGA 2019
Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Yosie, akan berbincang-bincang dengan Bapak Ev. Sindunata Kurniawan, MK. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini tentang "Batasan Yang Sehat". Kami percaya acara ini bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.
Y : Pak Sindu, silakan disampaikan tentang apa yang dimaksud dengan "Batasan yang Sehat", tentunya dalam kaitannya dengan relasi ya Pak, dengan siapa dan hal-hal yang lainnya.
SK : Terima kasih, Bu Yosie. Orang yang sehat hidupnya memiliki ikatan dan batasan. Dalam kesempatan yang lalu kita pernah membahas tentang "Ikatan Sehat dalam Relasi" dan itu memang satu hal penting. Sejalan dengan itu kita juga perlu membangun batasan dengan orang lain. Jadi kata batasan ini berasal dari bahasa Inggris ‘boundary’ yang artinya kemampuan untuk memisahkan diri dan menjaga jarak yang sehat dengan orang lain.
Y : Berarti dalam ikatan yang sehat ada batasan yang sehat juga ya, Pak?
SK : Iya. Artinya dua hal itu perlu dihadirkan sekaligus. Coba saya akan memberikan contoh nyata secara konkret fisik tentang batasan. Kita mengenal lintasan jalan raya, bukan? Jadi jalan aspal, misalnya di perkotaan bahkan di desa-desa sudah ada jalan aspal. Kalau kita mau aman kita akan berkendaraan di dalam batas jalan raya itu.
Y : Lintasan tadi yang sudah disediakan.
SK : Itulah juga dalam relasi kita dengan orang lain. Kalau kita mau sehat dan selamat kita perlu berelasi dalam batas-batas tertentu. Sebagaimana juga kita didalam memiliki atau bertempat tinggal di sebuah rumah, umumnya kita memiliki yang namanya pagar rumah. Jadi pagar ini adalah batas yang menegaskan ini adalah bagian saya, milik saya, ruang privasi saya. Di luar pagar adalah....
Y : Tetangga saya.
SK : Iya, orang lain. Dengan adanya pagar rumah, ketika kita ada di dalam rumah yang berpagar ini, memastikan kita bisa merasa aman. Kita bisa melakukan sesuatu dengan leluasa karena ada punya ruang pribadi, privasi. Dan pagar ini juga menegaskan orang lain kamu jangan melampaui pagar, kamu tidak boleh masuk ke rumah saya begitu saja tanpa permisi.
Y : Apalagi menjemur cucian di pagar kita ya, Pak?
SK : Iya. Jadi dengan adanya pagar menolong orang lain menghargai kepemilikan kita, properti kita, menghargai diri kita. Demikian juga didalam kehidupan kita sebagai manusia, kita memiliki bagian tubuh terluar yaitu kulit. Kulit ini adalah batas kita. Jadi diri kita yang sehat tidak akan membiarkan siapapun menyentuh kulit kita.
Y : Sembarangan begitu ya, Pak?
SK : Iya. Menyentuh atau pun misalnya meraba kulit kita. Dan diri kita yang sehat pun akan melindungi batas kulit ini supaya tidak tergores, terluka, berdarah. Kita akan melindungi batas fisik kita yaitu kulit kita. Demikian juga didalam kita berhubungan dengan orang lain secara fisik, kita punya namanya jarak psikologis.
Y : Oh, oke.
SK : Ketika dua orang berhadapan, rata-rata dia akan berdiri kurang lebih jarak 1-1,5 meter. Ketika orang yang kita merasa tidak cukup kenal mendekati kita....
Y : Tiba-tiba terlalu dekat di tempat umum.
SK : Iya. Apa yang terjadi, Bu Yosie?
Y : Saya langsung kaget lihat siapa dia ?
SK : Dan ketika dia masuk mendekat.
Y : Saya mundur untuk mengambil jarak.
SK : Tepat. Itulah, Ibu Yosie yang sehat. Diri kita yang sehat akan punya jarak psikologis berhadapan dengan orang lain. Kita akan menjaga jarak yang aman. Kalau orang itu kita rasakan mencurigakan dan bahasa tubuhnya atau tampilannya ....
Y : Membahayakan.
SK : Membahayakan. Kita bukan hanya satu meter, mungkin dua sampai tiga meter.
Y : Bisa lari.
SK : Bahkan lari. Itulah diri yang sehat. Sementara kalau kita merasa dekat, jaraknya bisa kurang dari 1 meter. Bahkan ketika bersentuhan kita oke karena kita merasa aman. Tapi tidak sembarang orang, kita akan pilah pilih.
Y : Sesuai dengan kedekatan relasi kita tentunya ya, Pak?
SK : Iya dan rasa aman kita. Nah, hal-hal inilah ibu Yosie yang menggambarkan juga kita perlu batasan, kita perlu pagar, kita perlu jalur yang melindungi kita secara mental, secara psikologis sebagai diri yang sehat.
Y : Jadi kalau fisik saja memunyai batasan yang sehat, apalagi mental ya, Pak. Yang walaupun tidak kelihatan tetapi kesehatan mental ini yang menentukan pribadi kita didalam berfungsi sebagai pekerja, sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami-istri begitu ya, Pak?
SK : Tepat. Jadi dalam hal ini supaya lebih konkret kita perlu jelas: mana yang menjadi tanggungjawab saya, mana yang menjadi tanggungjawab orang lain, mana yang menjadi pekerjaan saya, mana yang menjadi pekerjaan orang lain, mana yang menjadi tugas saya, mana yang menjadi kepemilikan saya, mana yang menjadi tugas dan kepemilikan orang lain. Kita perlu punya batas yang jelas dan kita perlu untuk melindungi apa yang menjadi milik kita dan kita perlu untuk melakukan apa yang menjadi tanggungjawab kita. Dalam hal ini saya mau mengutip dari pernyataannya Henry Cloud dan John Townsend dari buku "Bounderies" dan buku ini sudah ada dalam bahasa Indonesia, dikatakan problem dalam batasan adalah mencakup segala kebingungan tentang tanggungjawab dan kepemilikan dalam kehidupan kita.
Y : Jadi sebetulnya batasan itu dari penjelasan Bapak sepertinya berkenaan dengan identitas kita, jati diri kita: apa yang saya suka, apa yang tidak saya suka, apa yang menjadi tanggungjawab saya dan apa yang bukan, apa yang saya inginkan dan tidak. Sedangkan saya menganggap selama ini batasan itu berkaitan bukan tentang diri kita tetapi dengan orang lain. Maksudnya bagaimana menjelaskannya itu, Pak?
SK : Kedua-duanya.
Y : Oh, oke.
SK : Jadi, supaya makin konkret lagi bahwa didalam misalnya ketika seorang suami dia pemabuk alkohol. Kemudian dia tidak bertanggungjawab, dia tidak bekerja, kemudian dia berjudi dan berutang. Dan kemudian apa yang terjadi, dalam beberapa kasus karena sang keluarga sering didatangi penagih utang maka akhirnya sang istri yang mengambil tanggungjawab, yang bekerja supaya bisa membayar utang.
Y : Paling tidak membayar anak-anaknya sekolah, biaya kehidupan sehari-hari, Pak. Banyak terjadi kasus-kasus seperti itu.
SK : Iya. Dan kemudian dalam beberapa peristiwa sang istri tetap bekerja, tetap membiarkan suaminya mabuk-mabukan, berjudi dan berhutang. Dan istri yang terus bekerja menjadi soko guru ekonomi keluarga dan anak-anak termasuk di dalamnya, sekaligus membayar utang yang berkepanjangan. Nah, disinilah sebuah situasi yang menunjukkan sang istri tidak menegakkan batasan yang sehat.
Y : Sebab dia memikul tanggungjawab yang bukan miliknya, yang seharusnya suaminya pikul.
SK : Iya. Dan sang suami melanggar batas yang sehat. Maka dalam konteks ini sesuai dengan bahasan kita, batasan yang sehat dalam hal ini sang istri perlu menegakkan ketika sang suami menerobos pagar hidupnya. Memang dua menjadi satu.
Y : Iya, maksudnya dalam ikatan pernikahan benar-benar dua menjadi satu sebenarnya.
SK : Ada ikatan, sekaligus ada batasan. Pernikahan tidak meniadakan batasan. Dua menjadi satu ada ikatan tetapi sekaligus diri yang sehat, pernikahan yang sehat membutuhkan batasan antara suami dan istri. Maka apa yang bisa dilakukan dalam hal ini, sang istri bisa berkata, "Suamiku kamu tidak bisa terus-menerus begini. Kalau kamu terus mabuk, berjudi, berutang, tidak bertanggungjawab maka saya akan meninggalkan kamu. Saya akan bawa anak-anak pergi ke rumah yang lain atau kota lain. Kamu jalani hidupmu sendiri. Kamu yang berani berbuat, kamu berani menanggung konsekuensinya. Kamu berani berutang kamu berani membayar utang itu, bukan lagi saya." Disini saya tidak berbicara perceraian, tidak. Tapi saya berkata berpisah demi menyehatkan sang suami. Karena kalau suaminya mabuk, berutang dan terus dirawat berarti......
Y : Merawat kebiasaan buruknya juga.
SK : Iya, sang istri yang menyuburkan perilaku buruk sang suaminya. Sang istri justru bersalah. Jadi dia menarik batas, pergi dengan anak-anak dia bekerja demi anak-anak dan demi dirinya, dia mencari dukungan emosional, spiritual dari tubuh Kristus di kota yang lain. Sementara biarkan suaminya menjalani prosesnya.
Y : Iya. Bagaimana Pak kalau kasus-kasus suaminya marah, mengamuk lalu KDRT, mengancam?
SK : Iya. Disinilah kembali batasan perlu ditegakkan, "Kamu marah karena kamu hendak mengambil kepemilikan orang lain yang bukan hakmu. Kamu marah karena kamu melemparkan tanggung jawab. Jadi maaf, kamu marah silakan marah tapi saya tidak bertanggungjawab terhadap kemarahanmu. Kemarahanmu lahir dari cara pandang yang keliru, sikap egoistik. Kamu sedang menjajah batasan orang lain, kamu sedang melampaui wilayah kesejahteraan istri, wilayah kesejahteraan anak-anak. Anak-anak butuh sejahtera, butuh dilindungi tapi kamu merambah menjadikan anak-anak telantar yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu. Kamu malah meminta anak-anak melayanimu yang seharusnya kamu melayani dan melindungi anak-anak. Saya yang waras, saya yang sehat menegakkan batasan yang sehat. Kamu tidak bisa demikian." Kalau